Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Tukang kepo


__ADS_3

"Mau ketemu siapa loh, Sa? Kenapa, Fahri jadi marah?" tanya, Viona


"Tau tuh orang. Ngga jelas banget" gerutu, Risa ketika sudah tidak melihat, Fahri


"Loh mau ketemu siapa?" tanya ulang, Syifa


"Dika?" jawab, Risa dengan pelan


"Dika?" ulang, Luthfi


"Mantan loh itu?" tanya, Vigo


Risa tersenyum kecut dan mengangguk. Sejujurnya ia sudah tidak mau lagi bertemu dengan mantan kekasihnya itu. Namun, Dika tetap memaksa, Risa untuk bertemu dengannya


"Dia datang?, Syifa terkejut mendengarnya


Risa mengangguk, "Dia datang tadi pagi. Sore udah mau pulang lagi. Katanya pengen ketemu gue. Mau ngomong hal penting"


Syifa tertawa sekilas, "Pantesan" ucapnya


"Apa?" tanya, Luthfi


"Ngga ada", Syifa menggeleng. "Ayo pulang" ajaknya. "Terus loh gimana, Sa? Mau dianterin dulu ngga?"


"Ngga usah deh. Kalian duluan aja. Nanti, Dika jemput gue" tolak, Risa


"Ya udah. Kita pulang yah? Kalau ada apa-apa jangan lupa telpon kami" ujar, Luthfi


"Ia. Jaga teman dan ponakan gue" sahut, Risa


"Jaga diri baik-baik loh, Sa. Jangan gampang terpengaruh" peringat, Viona


"Ia bawel. Sana pulang" usir, Risa


"Dasar loh. Ayo" seru, Vigo


Setelah mengucapkan salam perpisahan. Mereka meninggalkan, Risa yang akan bertemu dengan, Dika. Mantan kekasihnya dulu


Dddrrrttttt dddrrrtttt


Deringan ponsel milik, Risa bergetar hebat hingga membuatnya terkejut. Nama yang tertera di layar ponselnya dengan cepat membuatnya menggeser tombol hijau


***


"Si, Winda itu benaran suka sama, Fahri?" tanya, Syifa yang ketika mereka berada di mobil, Vigo


"Setau gue sih dulu iah. Ngga tau sekarang" jawab, Viona yang menoleh ke belakang. "Kenapa, Fa?" tanyanya kemudian


"Ngga apa-apa. Tapi, Fahri gimana? Suka juga ngga sama tuh cewek?", Syifa benar-benar mengorek tentang sih, Winda itu


"Fahri kan dulu sukanya sama, Dini" seru, Vigo


"Kok jadi kepo sama masalah orang? Biasanya ngga peduli? Kenapa sekarang jadi mau tau urusan orang lain?" tanya, Luthfi dengan lembut


"Ini kan menyangkut masalah, Risa. Jadi aku harus tau" jawab, Syifa


"Tapi ngga semuanya kan harus kamu tau?", Luthfi dengan sabar membelai kepala, Syifa


"Tadi kamu ngga lihat? Ekspresi, Fahri pass tau kalau ternyata, Risa mau ketemu sama, Dika?" tanya, Syifa yang menghadapkan tubuhnya ke, Luthfi


"Eh ia. Gue baru nyadar itu" cetus, Vigo


"Fahri kan emang suka sama, Risa" sahut, Luthfi


"Tau dari mana, Fi?" tanya, Viona yang menghadap ke belakang


"Gimana, Go?", Luthfi malah bertanya pada, Vigo


"Fahri kan masih sakit hati sama, Dini. Jadi belum bisa memperlihatkan isi hatinya sama, Risa" ujar, Vigo

__ADS_1


"Tapi gue rasa ini bagus sih buat mereka" cetus, Syifa yang tiba-tiba tersenyum penuh maksud


"Maksudnya apa?", Luthfi gagal mencerna ucapan istrinya


"Maksudnya gimana, Fa?" tanya, Viona


"Jangan setengah-setengah dong, Fa ngomongnya" timpal, Vigo


"Ya bagus. Tadi, Risa sempat cemburu gara-gara sih, Winda itu. Sekarang, Fahri yang cemburu karna, Risa mau ketemu sama mantannya" jelas, Syifa


"Apanya yang bagus? Justru malah buat hubungan mereka jadi jauh" protes, Luthfi


"Tau nih, Syifa. Si, Risa tuh punya sifat yang kek loh dikit. Gengsinya parah. Dan, Fahri? Tipikal yang ngga akan mau ngomong" tutur, Viona


"Gue kayaknya sedikit ngerti maksud, Syifa" sahut, Vigo


"Mereka berdua nih loading. Maksud gue. Biar mereka bisa saling ngerti. Kalau rasa diantara mereka tuh benar-benar kuat. Makanya bisa saling cemburu. Padahal ngga pernah saling memiliki" jelas, Syifa


"Oh gitu? Maaf" ucap, Luthfi memeluk gemas istrinya yang kini berubah menjadi 'tukang kepo' urusan orang lain semenjak masa kehamilannya


"Dari awal dong ngomongnya" ketus, Viona. "Tapi gue setuju sih. Ini bahan yang bagus buat mereka" lanjutnya


"Gue ada ide" seru, Syifa


"Jangan aneh-aneh. Kamu lagi hamil" tegur, Luthfi


"Ngga aneh-aneh" gerutu, Syifa


"Kamu mau anak kita nantinya jadi tukang gosip?" tanya, Luthfi yang menahan rasa kesalnya


Syifa mengerucutkan bibirnya. Sementara, Viona dan Vigo menertawakan keduanya


***


"Gue senang banget dengar loh ngga punya pacar" seru, Winda yang duduk bersebelahan dengan, Fahri. Sementara, Melda duduk di kursi belakang


"Fahri?" panggil, Winda yang menoleh pada, Fahri. Namun pria itu seperti tidak mendengarnya berbicara hingga membuat, Winda kesal


"Fahri?" seru, Winda dengan kesal


"Ia? Kenapa?", Fahri tersadar dari lamunannya


"Dari tadi gue ngomong? Tapi ternyata loh ngga dengar?" kesal, Winda


"Sorry. kepala gue lagi pusing. Dan gue ngga suka ngobrol kalau lagi nyetir. Bisa bahaya" sahut, Fahri yang itu bukanlah kebenarannya


"Hmmm", Winda mendesah keras


"Fahri? Gue boleh tanya sesuatu ngga?" cetus, Melda dari belakang


"Loh ngga dengar, Fahri tadi barusan bilang apa? Dia ngga suka diajak ngobrol kalau lagi nyetir" tegur, Winda yang menoleh pada, Melda


"Gue cuma mau nanya, Win" ketus, Melda


"Mau nanya apa?" tanya, Fahri


"Tentang teman loh yang udah beristri itu" jawab, Melda tanpa keraguan


Fahri mengerutkan keningnya, "Maksud loh, Luthfi?" tanyanya yang melirik spion tengah


"Ia" jawab, Melda singkat


"Kenapa sama, Luthfi?" tanya, Fahri dengan kening yang masih berkerut


"Jangan bilang loh suka sama dia?", Winda menerka-nerka


"Kenapa? Ngga boleh?" tantang, Melda


"Loh gila? Dia udah punya istri" seru, Winda

__ADS_1


"Kita ngga akan pernah tau bakal punya rasa ke siapa" tukas, Melda


"Loh suka sama, Luthfi?", Fahri terkejut mendengar pengakuan, Melda


"Gue suka sikap dia yang manjain istrinya" ucap, Melda dengan santai


"Gila loh, Mel. Loh suka pria beristri" hardik, Winda


"Emang loh pikir, Fahri jomblo? Fahri juga udah punya cewek kali" tukas, Melda


Fahri tidak menjawab. Ia menaikkan sebelah alisnya yang melirik, Melda dari balik spion


"Apa maksud loh?" tanya, Winda


"Harusnya loh nanya itu ke, Fahri. Bukan ke gue" seru, Melda


"Fahri? Maksud, Melda apa?" tanya, Winda yang kini menoleh pada, Fahri


"Harusnya loh nanya ke, Melda. Bukan ke gue. Kan bukan gue yang ngomong. Jadi gue ngga tau maksud, Melda apaan" sahut, Fahri


"Malas ah sama kalian", Winda melipat kedua tangannya di atas perut lalu menyandarkan punggungnya menatap ke depan dengan kesal


***


Pintu rumah baru saja terbuka dan membuat yang berada di dalamnya terkejut. Risa masuk ke dalam rumah dan kembali menutup pintu


"Udah pulang, Sa?" sapa, Syifa yang melihat, Risa baru saja masuk


"Ia. Gue ke kamar dulu" jawab, Risa dalam keadaan sedang menangis


"Loh kenapa, Sa?" panik, Viona yang melihat, Risa pulang dalam keadaan menangis


"Dika ngapain loh?" seru, Luthfi


"Bilang sama kita, Sa" cetus, Vigo


"Ngga. Dia ngga ngapa-ngapain gue" jawabnya dengan terisak, "Gue mau ke kamar dulu" ia berlalu menuju kamarnya tanpa menghiraukan panggilan teman-temannya


"Dia kenapa sih? Teman kamu tuh ngapain teman aku sampai nangis?", Syifa malah menyalahkan suaminya karna berteman dengan mantan kekasih, Risa


"Kok jadi nyalahin aku?", Luthfi terlihat kesal


"Siapa yang nyalahin kamu? Aku nanya sama kamu" seru, Syifa dengan kesal


"Astaga", Luthfi berdecak kesal


"Loh tuh kenapa sih? Kenapa loh jadi nyalahin, Luthfi?" sergah, Viona


"Karna dia temannya si, Dika kurang ajar itu" seru, Syifa


"Fa? Berteman bukan berarti loh harus nyalahin temannya juga" tegur, Vigo


"Sama aja" seru, Syifa yang tidak ingin kalah


"Biarin ajalah" ketus, Luthfi yang sudah pasrah


"Apa? Mau bilang aku salah?" seru, Syifa pada, Luthfi yang mendesah


"Tuhan" geram, Luthfi yang membatin


*


*


*


*


Btw. Kemarin tuh aku cuma bercanda doang buat ngasih ucapan selamat. Eh tapi beneran dikasih 🤭 Terhura loh aku ❤ Tengkiyu semuanya para readersku, terutama para penggemar, Fahrisa yang nyerang aku terus 😅 Padahal aku udah siapin suprise nantinya 🤭 Jangan lupa like dan votenya yah 😊 terima kasih untuk yang sudah mendukung 🤗

__ADS_1


__ADS_2