
"Tapi kan ngga mungkin mereka semua tau? Ngga semua teman kelas kita ngefollow sosmednya, Viona kan?", Syifa masih bisa berpikir positif
"Loh ngga buka sosmed, Vio? Sudah di share 70x" seru, Vigo
Yang lainnya begitu terkejut. Bahkan, Viona pun ikut terkejut dibuatnya. Ia bahkan tidak tau apa-apa. Dan ia belum sempat melihat postingannya di sosial media miliknya
"Masa sih? Kok gue ngga tau? Bentar. Gue cek dulu", Viona dengan cepat meraih ponselnya lalu membuka sosial media miliknya. Viona menatap tidak percaya pada angka yang tertera disana
"Di share sebanyak 94x" teriak, Viona dengan heboh
"Hah?"
"Gue baru ngelihat itu pass gue kesini. Sekarang makin bertambah" cetus, Vigo
"Dan gue baru sadar. Sepopuler itukah kalian berdua?", Risa sampai melongo dibuatnya
"Trending ini mah dikalangan kampus kita. Besok siap-siap aja kalian. Dan kita juga bakal siap-siap" peringat, Fahri
"Ngga apa-apa. Tenang saja. Besok akan baik-baik saja" ucap, Luthfi yang menenangkan, Syifa
"Tapi aku takut" ucap, Syifa dengan pelan
"Ngga usah takut. Mereka akan mengira kita sedang pacaran. Jangan berpikir yang jauh-jauh. Nanti kamu sakit" ujar, Luthfi dengan lembut
Keempat temannya hanya tersenyum melihat sepasang suami istri itu saling menyemangati satu sama lain.
"Tapi bentar deh. Kok gue ngerasa kayak ada yang janggal dengan mereka?" seru, Viona
"Janggal?" tanya, Vigo yang mengerutkan dahinya. Viona hanya mengangguk.
"Janggal apaan?" tanya, Risa
"Sekarang, Luthfi sama Syifa manggilnya udah 'aku-kamu?', bkn 'loh-gue?'" tanya, Viona
"Ya elah. Gue kira apaan" sahut, Risa
"Gue juga baru mikir. Ia yah? Sejak kapan?" tanya, Fahri yang mulai berpikir
"Paksaan dari Mommy lah" sahut, Risa
"Sebenarnya tanpa Mommy nyuruh, gue sama Syifa emang harus merubah panggilan. Cuma belum sempat berpikir kesana, Mommy sudah mengingatkan duluan" jawab, Luthfi dengan santai
"Benar tuh. Jangan asal nuduh" timpal, Syifa
"Ngegas luh" seru, Risa
"Biarin" ketus, Syifa
Viona kemudian mengajak teman-temannya untuk menikmati makanan yang sudah sempat ia beli tadi sebelum ke rumah, Risa.
Mereka menikmati makanan masing-masing. Setelah selesai. Risa dan Viona mencuci piring. Sedangkan, Syifa membuatkan minuman untuk teman-temannya dan tak lupa menyuguhi makanan ringan
"Kalian akan nginap disini?" tanya, Luthfi kepada ketiga temannya itu
"Gimana, Vio? Ri?" tanya, Vigo
"Gue sih ngga masalah" sahut, Fahri
"Gue juga ngga. Kan gue tinggal sendiri. Jadi bebas" sahut, Viona
"Ok. Kami bertiga nginap" jawab, Vigo
"Tapi BTW, gue baru ingat sesuatu. Kenapa loh ngga tinggal aja disini? Sekarang kan, Risa tinggal sendiri. Loh juga sendiri. Loh bisa pakai kamar gue disini" tawar, Syifa kepada, Viona
__ADS_1
"Gue setuju. Seenggaknya, gue bisa jamin, Vio baik-baik aja disini" seru, Vigo
"Lebih tepatnya. Biar, Vigo ngga bolak-balik ngantar luh pulang" cetus, Fahri dan membuat, Vigo tertawa
"Gue juga baru ingat. Ia, Viona. Loh tinggal disini aja deh sama gue. Kita kan sekarang sama-sama tinggal sendiri. Kamar, Syifa juga bakal kosong. Meskipun bakal kesini terus sih. Tapi kan ngga mungkin dia nginap tiap hari" ujar, Risa yang kembali menawarkan, Viona untuk tinggal bersama
"Biar lebih terjamin juga. Kalau kalian ada apa-apa kan tinggal hubungi kami" cetus, Luthfi
"Gue sih ngga masalah. Terus kalau misalkan, Syifa nginap disini gimana? Otomatis kan dia tidurnya sama, Luthfi. Ngga sama kita lagi" jawab, Viona
"Kamar gue kan ada. Loh bisa tidur di kamar gue. Ntar sama, Syifa sama Luthfi tidur di kamar loh. Jangan kayak orang susah deh, Vi" seru, Risa
"Viona kan nanya. Loh kenapa jadi nyolot" tegur, Fahri
"Sejak kapan, Risa pernah ngomong lembut" ledek, Vigo menahan tawanya
"Pernah lah. Sama mantannya dulu" goda, Syifa
"Siapa? Dika?" tanya, Luthfi dengan serius
"Harus banget loh nyebut merek, Fi?" ujar, Viona lalu tertawa
"Gue kan ngga tau mantan, Risa ada berapa" tukas, Luthfi
"Mantan, Risa mah cuma, Dika doang" jawab, Syifa
Risa mencibirkan bibirnya. Memilih tidak menanggapi ocehan teman-temannya, sebab akan berujung pada status jomblonya yang akan dibawa-bawa
Mereka terus saja mengobrol hingga jam hampir menunjukkam tengah malam. Bahkan, Syifa yang tidak terbiasa tidur larut, harus bersandar di pundak, Luthfi hingga matanya terpejam tanpa disadari oleh pemilik pundak tersebut
"Luthfi? Syifa tidur", Viona menunjuk, Syifa yang sudah tertidur di pundak, Luthfi
Luthfi menoleh pada, Syifa. Ia kemudian merangkul pundak, Syifa agar tidak terjatuh ke belakang
"Bawa ke kamar aja. Kasian, dia ngga tahan tidur malam banget" seru, Risa
Mereka hanya mengangguk. Luthfi mengangkat tubuh, Syifa menuju kamarnya. sedangkan, Risa dan Viona membantu menyiapkan tempat tidur untuk, Fahri dan juga Vigo
Ketika, Luthfi sudah berada di dalam kamar. Ia merebahkan tubuh, Syifa dengan pelan di tempat tidur. Lalu mengunci pintu kamarnya. Setelah itu, ia berbaring di samping, Syifa. Menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dari angin malam. Mereka hanya berpelukan lalu tidur bersama
***
"Kok gue jadi deg-deg-an yah?" ucap, Syifa setelah baru saja mereka sarapan dan hendak menuju kampus menggunakan mobil, Fahri
"Ngga apa-apa. Ayo", Luthfi menggenggam tangan, Syifa dan membiarkannya masuk ke dalam mobil, Fahri terlebih dahulu
"Bersikap biasa aja, Fa. Ngga usah tegang banget. Kek loh mau ngadepin dosen killer aja" seru, Risa ketika mereka sudah berada di mobil, Fahri
"Loh kan ngga di posisi, Syifa. Jadi loh ngomongnya gampang" cetus, Fahri yang berada di depan kemudi
"Dih? Santai yah. Gue juga pasti bakal kena rumor. Dan digosipin pacaran sama loh. Tapi gue biasa aja tuh" sahut, Risa
"Itu karna loh suka sama gue" titah, Fahri
"PD banget luh" kesal, Risa
"Fahri ngebalikin kata-kata loh" seru, Vigo
"Udah-udah. Ntar lagi sampai" sergah, Viona
Dan tak butuh waktu lama. Mereke kini sudah memasuki parkiran fakultas mereka. Meskipun, Syifa nampak ragu, namun teman-temannya berhasil membujuknya. Lebih baik dikira pacaran, daripada dikira sudah menikah, meskipun itu adalah faktanya
"Eh, Itu bukan sih? Mereka yang kemarin viral di Fakultas kita"
__ADS_1
"Ia benar"
"Serasi banget sih menurut gue"
"Loh benar. Cowoknya ganteng, ceweknya cantik"
"Gue jadi iri"
Baru saja mereka melewati beberapa ruangan yang ada di Fakultas mereka. Mereka sudah mendengar orang-orang membicarakan, Luthfi dan Syifa.
Syifa menundukkan wajahnya karna malu, dan akhirnya terjadi, pikirnya. Namun, Luthfi malah menggenggam tangannya dan menggeleng. Hingga, Syifa terpaksa harus berjalan dengan wajah yang terus menatap ke depan hingga mereka sampi di kelasnya
"Eh itu, Luthfi sama Syifa"
"Cieee... Pasangan baru"
"Kapan jadiannya?"
"Gue udah ramal mereka bakal jadian saat OSPEK dulu"
"Gue kira, Syifa bakal jadian sama Reza"
"Luthfi juga gue kira bakal jadian sama Marcelia"
"Tapi mereka juga serasi berdua"
Syifa tidak kuat lagi untuk mengangkat kepalanya. Ia berjalan mengikuti teman-temannya mencari tempat duduk yang kosong.
Baru saja mereka mendaratkan bokongnya. Mereka berdua sudah dikerubuni oleh teman-teman kelasnya yang meminta penjelasan terkait hubungan mereka berdua saat ini
"Teman-teman? Tolong dong hargai privasi mereka. Emang ngga boleh mereka jadian?" seru, Risa yang menghalangi teman-teman kelasnya
"Mereka jadian atau ngga. Itu hak mereka" timpal, Viona
"Apa yang salah kalau kami nanya"
"Ia. Kita-kita kan cuma mau tau"
"Ia benar tuh
"Apa kalian ngga punya kerjaan lain? Mau gue kasih kerjaan?" cetus, Fahri dengan dingin
"Apaan sih. Kita kan cuma mau tau"
"Tau nih. Udah ayo bubar"
Mereka pun bubar dengan sendirinya. Syifa akhirnya bisa bernapas lega. Meski sesekali ia masih dirundung ke was-was-an.
"Jangan takut. Kamu ngga sendiri", Luthfi menggenggam tangan, Syifa yang berada di atas meja dengan lembut
Salah satu dari teman kelas mereka memperhatikannya. "Luthfi so sweet banget" serunya
Wajah, Syifa memerah karna malu. Sedangkan, Luthfi tidak mempedulikan ocehan teman-teman kelasnya yang menurutnya, itu tidaklah penting
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
Jangan lupa like dan beri vote 😊 Terima kasih atas dukungannya 🤗