Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Ngidam dipeluk


__ADS_3

Berulang kali, Luthfi menyuruh, Syifa untuk beristirahat saja di rumah. Sebab usia kandungan, Syifa kini sudah memasuki bulan ketiga. Bahkan orangtua mereka juga menyarankan, Syifa untuk pulang saja. Namun, Luthfi tidak mengizinkannya. Terlebih, Syifa yang masih ingin melanjutkan pendidikannya sebelum perutnya membesar dan terpaksa harus mengambil cuti


"Kan kamu udah setuju dulu. Kalau aku hamil, aku masih bisa ke kampus. Sampai perut aku udah besar, baru aku boleh ngambil cuti" seru, Syifa yang ngotot tidak ingin tinggal di rumah


Luthfi hanya mengehal napas, "Tapi kalau perut kamu sakit. Langsung bilang ke aku. Jangan kamu tahan kayak kemarin. Kalau kamu ngelakuin itu lagi, kamu ngga usah ke kampus selamanya" ancamnya


Beberap hari yang lalu. Syifa menahan sakit perutnya karna tidak mau, Luthfi menyuruhnya pulang dari kampus dan membiarkannya tingga di rumah. Untung saja, ia hanya mengalami kram pada perutnya. Namun tentu saja akan berbahaya jika tidak segera di tangani. Itu sebabnya, Luthfi sempat menyuruhnya untuk mengambil cuti lebih cepat


"Janji. Aku janji, benaran ini. Kalau perut aku sakit nantinya, aku pasti bakal ngomong ke kamu"


"Kalau sampai kamu bohong?"


"Aku akan ambil cuti kuliah"


"Beneran yah. Awas kalau kamu bohong"


"Beneran. Marah-marah mulu", Syifa yang mengerucutkan bibirnya lebih memilih memeluk tubuh suaminya.


Selama proses kehamilannya. Syifa sering sekali memeluk suaminya. Bahkan jika bersama teman-temannya sekalipun. Hingga selalu membuat, Risa menegurnya. Seperti kejadian hari ini, saat mereka berada di rumah milik, Risa yang sudah dihuni pula oleh, Viona. Syifa lebih memilih memeluk, Luthfi daripada harus makan


"Fa? Bisa ngga sih loh berenti dulu pelukannya? Ponakan gue juga butuh makan. Bukan modal pelukan doang" seru, Risa yang jengah


"Loh tuh kenapa sih? Ngomel-ngomel terus. Sana peluk, Fahri. Biar hati loh adem dan ngga panas" sahut, Syifa yang sudah malas mendengar teguran, Risa yang hampir tiap saat ia ucapkan


"Loh kenapa jadi bawa-bawa, Fahri sih? Dikit-dikit nyebut, Fahri. Dikit-dikit nyebut nama, Fahri. Emang hidup gue cuma ada, Fahri doang apa" seru, Risa yang mencibirkan bibirnya


"Itu karna mereka tau loh sayang sama gue" cetus, Fahri dengan santai


"Ngga yah. Yang ada, loh yang sayang sama gue" protes, Risa yang tidak ingin kalah


"Saling sayang aja kenapa sih? Susah banget" seru, Viona yang memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan memakai sendok


"Gengsi mereka mah" tukas, Vigo


"Sifat gengsinya, Syifa nular ke, Risa" cetus, Luthfi yang disambut cubitan di perutnya


"Kapan aku pernah gengsi?", Syifa tidak terima


"Dan sifat cueknya, Luthfi nular ke, Fahri" cetus, Vigo yang menimpali ucapan, Luthfi


"Eh. Kapan gue cuek?" protes, Fahri


"Yah emang luh cuek" seru, Risa


"Loh sendiri nularnya gengsi dari, Syifa" tukas, Fahri yang tidak ingin kalah


"Kenapa jadi gue?" kesal, Risa


"Kenapa jadi berantem" tegur, Syifa


"Tau nih. Gitu aja diributin. Dulu emang, Syifa gengsi banget tentang perasaannya sama, Luthfi. Dan, Luthfi, cuek banget tentang perasaannya ke, Syifa. Dan sekarang? Kalian berdua pengen warisi sifat mereka itu?" seru, Viona yang menggelengkan kepala


"Sejak kapan gue cuek?" tanya, Luthfi

__ADS_1


"Loh emang cuek dulunya" cetus, Fahri


"Dan sekarang loh yang warisi" tukas, Risa


"Udah stop. Apaan sih kalian? Jadi bahas hal ngga penting" tegur, Syifa


"Ini penting, Fa" sahut, Vigo


"Tau nih, Syifa. Loh kan tau sendiri. Loh berdua aja hampir ngga bisa bersatu, kalau aja gengsi dan cueknya kalian ngga dikesampingkan" ujar, Viona. "Yakali itu juga nular ke, Fahri sama Risa. Kapan jadiannya mereka kalau gitu"


"Fahri selalu nasehatin gue. Tapi nasehatin dirinya sendiri ngga bisa" timpal, Luthfi


"Emang, Fahri dulu suka nasehatin kamu?" tanya, Syifa yang mendongak


"Sering banget. Sama, Vigo juga dulu. Tapi kan kalau, Vigo udah dapetin, Viona. Beda sama, Fahri yang ngga bisa dapetin hatinya, Risa" ledek, Luthfi


"Pencitraan doang si, Fahri mah" cetus, Risa


"Kode, Ri" seru, Viona dan Vigo bersamaan


"Berisik loh berdua" seru, Risa


"Gendang telinga gue rasanya pengen hancur" ujar, Fahri mengusap telinganya


"Namanya juga jomblo" ledek, Syifa


"Kalau aja loh ngga hamil, Fa. Pengen banget gue getok pala loh" seru, Risa dengan kesal


Mereka hanya tertawa mendengar celotehan, Risa. Syifa yang masih tidak ingin memakan apapun. Ia hanya mau terus dipeluk dan memeluk suaminya


"Eh? Apaan loh? Kalau anak gue lapar. Yah gue juga pasti lapar. Bilang aja loh iri" sahut, Syifa yang masih setia memeluk suaminya


"Udah sih, Sa. Biarin aja. Itu artinya, Syifa lagi ngidam dipeluk, Luthfi. Loh juga kalau ngidam dipeluk, Fahri tinggal bilang aja apa susahnya. Daripada loh ngomel mulu" tegur, Viona


"Eh. Gue ngekhawatirin ponakan gue yah" kesal, Risa yang terima


"Mending sini aja deh loh. Ribet banget", Fahri menarik tangan, Risa untuk duduk di sampingnya


"Bilang aja loh pengen dekat-dekat sama gue. Ia kan?" seru, Risa di telinga, Fahri


"Loh jadi cewek cerewet banget sih", Fahri menutup mulut, Risa dengan telapak tangannya hingga membuat gadis itu berteriak namun, Fahri tetap membekap mulutnya


"Udah tuh, Ri kasian" ujar, Luthfi


Fahri akhirnya melepaskan tangannya. Tatapan, Risa menatap tajam dirinya


"Ya ialah gue cerewet. Gue kan cewek. Yang salah tuh kalau cowok yang mulutnya lemes" ujar, Risa dengan nada yang sewot


"Baru aja gue lepas kan? Benar-benar nih orang. Bikin kepala gue pusing", Fahri memijat pelipisnya


"Ayo loh, Sa. Kepala, Fahri pusing karna loh" goda, Vigo yang menaikkan aslinya


"Kenapa jadi nyalahin gue?" ketus, Risa

__ADS_1


"Udah ah. Aku lapar" sergah, Syifa


"Kamu lapar? Ayo makan dulu", Luthfi yang senang mendengar istrinya lapar langsung mengambil makanan yang ada di meja


"Sini", Syifa meminta makanan yang dipegang oleh, Luthfi


"Ngga usah. Biar aku suapin kamu" tolak, Luthfi dan mulai menyuapi, Syifa


"Akhirnya loh makan, Fa. Pusing gue lihat loh nolak makanan mulu" seru, Risa


"Anak gue ngalah dengar omelan loh" sahut, Syifa yang membuat semuanya tertawa


"Ayo makan lagi", Luthfi terus menyuapi, Syifa dengan sabar


"Habis ini kita pulang kan?" tanya, Syifa di sela-sela memakannya


"Ia. Nanti sore kita pulang" jawab, Luthfi yang masih menyuapi, Syifa


"Nginap aja lah, Fa. Ngapain sih pulang-pulang" cemberut, Risa


"Ia, Fa nginap aja. Udah lama juga kan loh ngga nginap disini" cetus, Viona


"Ngga bisa. Gue ngga bawa vitamin yang harus, Syifa minum sebelum tidur" sahut, Luthfi


"Kan loh bisa tinggal pulang ngambil, Fi" tukas, Vigo


"Sekalian loh ambilin baju ganti buat, Syifa" timpal, Fahri


"Kamu mau nginap disini?" tanya, Luthfi pada, Syifa


"Yah mau lah, Fi. Ngga usah ditanya" seru, Risa


"Loh diam dulu bisa ngga sih", Fahri yang jengah menyentil kening, Risa


"Fahri sakit!" teriak, Risa hingga membuat semua yang ada disana harus menutup telinga


*


*


*


*


*


*


Aku mau cerita dikit 🤭


Jadi, aku lagi buat novel baru yang bahasanya berbanding terbalik dari bahasa novel ini. Kadang pikiranku suka ketukar gara2 bahasanya beda 😅 Kalau novel ini kan lebih ke anak muda banget jaman now yang gaul bahasanya. Sedangkan novel baru ku, penataan bahasanya, itu baku banget 🤭 Bayangin mikir dua novel yang alur bahasanya beda tuh gimana yah 😅


Sekalian teman2 mungkin bisa mampir juga di novel barunya aku, "Autumn In March"

__ADS_1


Dan. Jangan lupa like dan beri tipnya yah 😊 Terima kasih untuk yang sudah mendukung 🤗


__ADS_2