
Celia yang tersentak karna seruan, Syifa kepadanya menjadi tidak terima. "Siapa loh berani nyuruh gue diam?"
Syifa yang hendak membalas di dahului oleh, Luthfi. "Bisa ngga sih loh ngga nyari ribut" cetus, Luthfi yang manatap tajam, Celia.
"Dia yang mulai, Fi. Bukan gue. Loh liat sendiri kan dia ngebentak gue", Celia berusaha membela dirinya di hadapan, Luthfi.
"Jelas-jelas loh yang duluan. Orang, Syifa tadi ngomong sama gue" saut, Fahri yang malah membela, Syifa bukan, Celia.
"Gue ngga minta pendapat loh tuh" seru, Celia yang menatap sinis, Fahri.
Syifa yang kesal dengan pertengkaran kelompoknya, menaruh dos nasinya dengan sangat keras ke tanah dan beranjak pergi dari sana. Kekesalan di wajahnya semakin terlihat tatkala, Celia yang tersenyum sinis kepadanya. Luthfi dan Fahri memanggil-manggil, Syifa namun gadis itu tidak menghiraukannya sama sekali.
"Fi. Kejar, Syifa" perintah, Fahri kepada, Luthfi yang tidak bergeming di tempatnya.
"Syifa kalau marah bahaya" saut, Luthfi dengan pelan.
"Lebih bahaya mana kalau dia sampai kenapa-kenapa disana" ucapan, Fahri sukses membuat, Luthfi berpikir keras dan membenarkan kata-kata, Fahri
"Kenapa ngga loh aja yang ngejar dia? Kenapa loh harus nyuruh, Luthfi" ketus, Celia kepada, Fahri yang terus menyuruh, Luthfi untuk mengejar, Syifa.
"Itu bukan urusan loh" hardik, Fahri hingga membuat, Celia tak berkutik dengan wajah kesalnya.
Marcelia belum pernah dibentak atau diperlakukan seperti ini sebelummya. Ia sangat disukai oleh teman-temannya yang lain karna kecantikannya dan juga sangat kaya. Meskipun teman-teman yang lain tetap memuja kecantikan, Celia. Namun ia masih belum puas jika, Luthfi dan temannya yang lain tidak mengakui akan hal itu. Padahal, ia sudah berusaha keras untuk mendapatkan hati, Luthfi, namun sering kali digagalkan oleh teman-teman, Luthfi.
__ADS_1
***/
"Kesal banget", Syifa meraih ranting kayu dan menghempaskannya. Ia kemudian duduk dibawah salah satu pohon besar yang ada di sekitar tempat mereka membangun tenda. "Tunggu? Kok gue bisa ada dsini?" ia segera berdiri dan mengedarkan pandangannya yang tidak ia kenal. Ia berusaha mencerna kejadian tadi hingga membuat dirinya pergi dari sana dan tidak menyadari jika ia sudah pergi terlalu jauh.
"Duhhh", Syifa memukul pelan kepalanya. "**** banget sih gue. Bisa-bisanya gue pergi dalam keadaan marah" ia terus meruntuki dirinya yang pergi dalam keadaan sedang marah.
Syifa jika sedang marah, maka ia akan pergi mengikuti arah kakinya meski ia tidak tau harus kemana dan akan bingung sendiri jika sudah sampai, ia tidak mengingat sama sekali dimana dirinya saat ini, dan itu sering membuat, Risa marah kepadanya.
"Gimana nih? Ah, **** banget sih gue", Syifa terus memukul kepalanya yang ia rasa begitu bodoh.
"Mana gue ngga bawa hp pula. Arrrrgghhh" teriak, Syifa dengan kesal hingga membuat suaranya bergema dan ia merinding sendiri mendegar raungannya.
"Kok gue jadi merinding?" guman, Syifa yang terus mengusap lengannya dan melirik ke kanan-kirinya.
"Gue harus cepat pulang nih. Udah hampir malam. Kalau gue kesasar gimana? Terus banyak Binatang buas? Fahri kan tadi bilang, disini kalau malam banyak Binatang buas" ia bergidik ngeri padahal itu adalah ucapannya sendiri
Tangan, Syifa tertarik oleh sesuatu yang mencengkeram tangannya. "Aaaaaaaaaaa" teriakan, Syifa benar-benar menggema. Namun dengan cepat tertahan oleh satu tangan yang membekap mulutnya.
"Ini gue? Loh kenapa teriak-teriak".
"Luthfi?", Syifa mengerutkan dahinya. "Ih... Loh nyebelin banget", Syifa memukul dada, Luthfi. "Loh bikin gue jantungan tau ngga" seru, Syifa dengan kesal. Ia berusaha mengatur napasnya dengan pelan
"Maaf. Loh mau kemana?" tanya, Luthfi.
__ADS_1
"Mau pulang lah. Loh pikir gue mau kemana?" jawab, Syifa dengan judes. Luthfi hanya menghela napas tanpa ingin menjawab lagi. Syifa melirik, Luthfi dan ia hendak untuk pergi.
"Mau kemana?", Luthfi menarik tangan, Syifa hingga membuat langkah, Syifa terhenti.
"Mau pulang" seru, Syifa dengan nada yang masih judes. "Gue udah bilang dari tadi mau pulang. Ngapain nahan-nahan gue".
"Hmmm. Pulang lewat sana, bukan lewat situ" saut, Luthfi yang menunjuk arah berlawanan yang hendak di pergi, Syifa. "Oh", Syifa yang malu langsung mendahului, Luthfi dan meruntuki dirinya yang benar-benar bodoh dan memalukan
Luthfi hanya menyerangai tipis lalu mengikuti, Syifa dari belakang. Beberapa kali, Syifa harus dituntun oleh, Luthfi karna terus salah jalan. Sudah bisa dipastikan, jika pulang dengan sendiri, maka ia akan tersesat dan akan terus mutar-mutar yang memakan waktu hingga malam menjelang. Beruntung, Luthfi segera mengejarnya tadi saat, Fahri terus memperingatkannya.
Saat mereka berdua sudah sampai di depan tenda. Celia menatap, Syifa dengan tatapan tidak sukanya kepada gadis tersebut. Namun, Syifa hanya mengabaikannya. Takut emosinya kembali mencuat dan akan pergi lagi dari sana yang akan membuatnya menyesali perbuatannya kembali.
"Syifa ngga ngamuk kan, Fi?" tanya, Fahri yang bermaksud menggoda, Syifa.
"Loh pikir gue Binatang?" seru, Syifa yang cemberut.
"Ngga. Cuma salah jalan doang" saut, Luthfi melirik, Syifa.
"Jangan bikin gue kesal" gerutu, Syifa yang memalingkan wajahnya.
"Loh aja sih yang baperan" cetus, Celia tiba-tiba.
"Loh masih mau di kelompok ini kan?", Luthfi memberi peringatan kepada, Celia. Syifa dan Fahri yang mendengarnya hanya terkekeh melihat tingkah, Celia yang langsung bungkam bila, Luthfi menegurnya
__ADS_1
"Jadi batu" seru, Fahri yang menunjuk, Syifa padahal jelas-jelas kata-katanya ia tunjukkan kepada, Celia. Celia yang hendak membalas, namun melihat tatapan, Luthfi yang dingin membuat nyalinya ciut dan memilih untuk diam meski ia terus menyumpah serapahi, Syifa dan Fahri yang berani menertawakan dirinya
"Awas kalian berdua" ucap, Celia namun hanya dengan sorotan matanya, bukan mulutnya