Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Extra Part 7 (Cukup manis)


__ADS_3

"Terus, Gibran gimana nanti kalau kamu kuliah?" Luthfi dan Syifa masih terus memperdebatkan hal itu sejak beberapa saat lalu


"Gibran kan nanti bisa dijagain sama Bi Anis" jawab, Syifa yang bersikukuh ingin melanjutkan kuliahnya


"Aku cuma ngingetin. Nanti kamu nyesel kalau, Gibran udah besar dan kamu ngeluh karna harus ninggalin, Gibran untuk kuliah" tukas, Luthfi


"Kuliahnya kan cuma bentar. Lagian, aku ngga akan nelantarin, Gibran" cetus, Syifa


"Aku juga ngga ngomong kamu nelantarin, Gibran. Aku cuma ngingetin sebelum nanti pass, Gibran dewasa kamu jadi nyesel" ujar, Luthfi


"Terserah kamulah mau ngomong apa" Syifa keluar dari kamar setelah menidurkan, Gibran di tempat tidurnya


Luthfi mendesah dan membaringkan tubuhnya di atas kasur yang begitu empuk sambil menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru putih sesuai permintaan sang istri


***


"Kak, Luthfi mana?" seru, Syafa ketika hanya melihat kakaknya yang menghampirinya dan Bian di ruang keluarga sambil menonton televisi tanpa terlihat kakak iparnya menyusul


"Ada tuh di kamar" jawab, Syifa dengan malas dan langsung duduk di samping adiknya lalu menarik satu bantal sofa dan menaruhnya di pangkuannya


"Kakak ngambek sama Kak Luthfi?" tanya, Syafa yang melihat kakaknya terlihat kesal


"Sembarangan" ketus, Syifa melirik tajam adiknya


"Kan Syafa cuma nanya kak. Biasa aja kali, ngeliriknya" tukas, Syafa yang berpindah posisi ke samping, Bian karna merasa tidak aman dengan kakaknya yang tengah kesal


"Ngapain loh?" Bian merasa risih dengan, Syafa yang tiba-tiba duduk di sampingnya


"Santuy dong. Tuh liat kakak gue" bisik, Syafa pada, Bian dan menunjuk kakaknya, "Kalau mukanya dah kek gitu, artinya Serigalanya lagi keluar. Dan gue malas mau ladeni dia"


Bian menoleh pada kakak iparnya yang masih menggerutu kesal entah apa yang sedang digerutukan oleh istri dari kakaknya itu


"Apa dia lagi berantem sama Kak Luthfi?" bisik, Bian pada Syafa


"Ngga tau. Tapi kayaknya sih ia" bisik balik, Syafa


"Ngapain kalian berdua bisik-bisik?" tegur, Syifa dengan ketusnya pada kedua adiknya itu


"Kepo banget sih kak. Aku sama Bian tuh ada rahasia juga tau" sahut, Syafa, "Ia kan, Bian?" tanyanya pada, Bian


Bian terpaksa mengangguk dan memaksakan senyumnya, "Ia kak"

__ADS_1


"Tunggu" Syifa dengan antusiasnya terlihat semangat, "Kalian berdua ngga pacaran kan?" selidiknya


"Apa?" Syafa dan Bian menjadi terkesiap dan saling memandang satu sama lain


"Ih" Syafa seketika berdiri dan menjauh dari, Bian, "Please yah Kak. Kalau ngomong tuh juga dipikir dulu. Yakali gue mau pacaran sama, Bian? Bisa makan hati gue tiap hari" tunjuknya pada, Bian


"Emang gue mau? Ngga usah GR loh. Yang ada, tiap hari kuping gue malah makin tuli" tukas, Bian


Syifa terkekeh melihat pertengkaran keduanya yang begitu lucu, "Cinta sama benci itu beda tipis loh"


"Ngga lucu" ketus, Syafa yang duduk di samping kakaknya


"Ada apa ini ribut-ribut?" cetus, Luthfi yang keluar dari kamarnya dan melihat, Bian juga Syafa saling serang serang dengan tatapan


"Biasa. Bian sama Syafa lagi berusaha menutup hati" ledek, Syifa


"Kakak" seru, Syafa dengan kesal


"Dengar kan kak? Dia ini suka banget teriak-teriak. Cerewet pula" adu, Bian pada kedua kakaknya


"Apa loh bilang?" seru, Syafa dengan geramnya pada, Bian, "Ngga usah lempar batu sembunyi tangan ya loh" tunjuknya pada, Bian, "Daripada loh loh. Diajak ngomong kek orang bisu aja"


"Gue hemat bicara. Ngga kayak loh, ngomel mulu, mana panjang pula kek kereta api" tukas, Bian


***


"Ini" Reza memberikan sebuah album foto kepada, Vigo saat mereka bertemu di kafe bersama, Viona


"Apa ini?" tanya, Vigo lalu menarik album foto tersebut


"Untuk, Syifa" sahut, Reza. "Gue bikin album foto ini dari pertama kali lihat, Syifa. Dan sampai kemarin gue tau dia udah nikah sama, Luthfi" imbuhnya


"Sabar aja, Za. Gue yakin kok, loh bakal dapat pengganti, Syifa. Adiknya mungkin" cetus, Viona


"Adiknya?" kening, Reza berkerut dalam


"Syafa" sahut, Vigo


"Oh" tukas, Reza yang sekelebat mengingat nama itu. Karna hampir sama dengan nama, Syifa


"Dia naksir berat sama loh, Za" ujar, Viona

__ADS_1


Reza hanya tersenyum menganggap itu lelucon, "Dia kan masih kecil"


"Siapa yang kecil? Syafa juga udah kuliah tahun ini kali" sahut, Viona


"Oh ia? Gue pikir masih SMA" tukas, Reza


"Tahun ini udah kuliah. Bareng, Bian. Adiknya Luthfi" cetus, Vigo


"Adiknya Luthfi juga?" tanya, Reza


"Ia. Namanya, Bian" jawab, Vigo


"Hmm" Reza hanya mengangguk-angguk


"Loh sekarang punya doi, Za?" tanya, Viona


Reza tersenyum, "Maksud loh, Syifa?" ledeknya


"Move on dong, Za" ketus, Viona


"Perasaan itu ngga bisa hilang begitu aja, Vio" ujar, Vigo yang mengacak rambut, Viona


"Tapi beneran deh, Za. Syafa ngga kalah cantik kok dari, Syifa. Dan pastinya, dia naksir berat sama loh" cetus, Viona dengan antusias


Reza tertawa pelan, "Dia belum kenal gue dengan baik, Vi"


"Gue setuju sama, Reza. Lagian, Syafa kan sekarang lagi bareng-bareng terus sama, Bian" sahut, Vigo


"Apaan kalau kerjaannya berantem terus" tukas, Viona


"Adiknya Syifa sama adiknya Luthfi sering berantem?" tanya, Reza


"Jangan bilang, Za. Lebih parah dari, Fahri sama Risa kalau udah berantem" heboh, Viona


"Langsung ribut jadinya" timpal, Vigo


"Dia cukup manis" ucap, Reza yang membuat, Viona terbelakak menatap, Vigo yang tampak biasa saja


*


*

__ADS_1


*


Tetap doain aku yah biar cpt sembuh. ini sebenarnya udah aku tulis dari kmrin2, tpi aku cicil2. kepalaku pening dan susah nyari inspirasi. Doain biar sehat supaya bisa nulis tiap hari kek dulu lagi 😍


__ADS_2