
Luthfi tertawa pelan lalu mengikuti, Syifa yang tertidur dengan membalutkan selimut keseluruh tubuhnya. Luthfi tidur menghadap, Syifa yang membelakanginya.
"Beneran ngga mau tau?" goda, Luthfi yang menahan senyumnya dibalik badan, Syifa
Syifa menggeleng dengan cepat, "Ngga mau" ucapnya dengan tubuh yang gemetar
"Tapi gue mau nanya sesuatu boleh ngga?" ujar, Luthfi dengan suara yang serius.
Syifa yang merasa, Luthfi serius ingin mengatakan sesuatu, membalikkan tubuhnya hingga kini saling berhadapan
"Mau tanya apa?" jawabnya setelah berhasil menguasai dirinya yang belum terbiasa
"Emang loh pernah dekat sama Abangnya, Risa?" tanya, Luthfi dengan serius
"Sampai sekarang juga gue masih dekat sama Abang" ucap, Syifa dengan polosnya
"Bukan dekat itu maksud gue. Loh pernah suka sama Abangnya, Risa?", Luthfi menatap dalam mata, Syifa
"Gue kan ngga pernah benci sama orang, Fi. Yah jelas lah gue suka sama Abang. Lagian, gue kan ngga punya kakak. Jadi Abang udah gue anggap sebagai kakak sendiri" jelasnya kepada, Luthfi
"Loh ngga ngerti pertanyaan gue yah?", Luthfi mencubit gemas pipi, Syifa yang sangat polos
"Kenapa?" tanya, Syifa dengan wajah memerah
"Maksud gue. Loh ngga pernah ada rasa sama Abangnya, Risa. Kayak loh pengen jadi pacarnya atau pengen nikah sama dia", Luthfi memperjelas pertanyaannya
"Oh itu", Syifa menjadi malu sendiri, "Ya ngga lah. Mana mungkin gue suka sama, Abang" ucapnya
"Beneran?", Luthfi menaikkan kedua alisnya
"Beneran, Fi. Lagian Abang juga punya pacar kok", Syifa berusaha meyakinkan, Luthfi
"Tapi kok, tadi Abang bilang loh punya rahasia sama dia?", Luthfi mulai memancing, Syifa
"Karna emang Abang salah satu tempat curhat gue dulu" tukas, Syifa yang menjelaskan
"Tapi harusnya loh cerita apapun sama gue sekarang. Gue kan lebih berhak tau" ketus, Luthfi
"Emang loh mau tau apa?" goda, Syifa yang tertawa
"Semua tentang loh" jawab, Luthfi dengan serius
"Gue bakal cerita, kalau loh juga mau cerita apapun tentang loh ke gue" senyum, Syifa mengembang
"Selalu ada syaratnya" ketus, Luthfi yang jengah
Syifa tertawa, "Harus lah. Loh aja punya syarat. Masa gue ngga boleh"
"Terserah loh", Luthfi menghadap keatas dan menatap langit-langit kamar tersebut
Syifa tertawa pelan, "Kok jadi lucu yah. Loh yang biasanya dingin bisa ngambek juga ternyata" ucapnya yang menaruh tangannya di pipi yang ia tiduri
"Siapa yang ngambek?", Syifa melirik, Syifa
__ADS_1
"Loh. Masa gue" ujarnya
"Gue mau tidur", Luthfi memejamkan matanya
"Ya udah" ucap, Syifa yang menaikkan kedua bahunya lalu mengganti posisinya membelakangi, Luthfi
"Boleh peluk kan?", Luthfi memeluk, Syifa dari belakang
"Ngapain nanya kalau langsung meluk gue" ketus, Syifa
Luthfi hanya terkekeh mendengar ocehan, Syifa yang menyebalkan sekaligus menggemaskan
***
"Gue jadi kangen pengantin baru kita nih. Biasanya tiap malam gini. Kita pasti selalu main bareng sebelum tidur" seru, Risa yang menonton televisi bersama teman-temannya serta Abangnya. Mamanya sedang keluar mengunjungi saudaranya
"Ia sih. Padahal baru tadi kita pisah. Tapi udah kangen aja gue" timpal, Viona yang merenung
"Untung-untung juga kalau mereka ingat kita" cetus, Fahri yang menatap layar televisi
"Palingan mereka lagi bikin ponakan" sahut, Vigo lalu tertawa bersama, Fahri dan Abang, Risa
"Otak loh mesum banget, Vigo" teriak, Risa setengah kesal kepada, Vigo
"Tau loh. Ngeselin banget. Temenan sama siapa loh sampai otak loh geser gitu?" tanya, Viona yang kesal kepada kekasinya
"Kita kan tiap hari bareng ber-enam, Vio. Gimana sih", Vigo berusaha membujuk,Viona yang sudah kesal
"Abang!" seru, Risa menatap tajam Abangnya
Fahri, Vigo dan Viona seketika langsung tertawa begitu keras dengan perkataan Abangnya Risa
"Oh ia Bang. kita belum kenalan yah", Fahri mengulurkan tangannya, "Gue, Fahri"
"Calon adik ipar Abang" sambung, Viona yang tertawa
"Viona" tegur, Fahri. "Bercanda Bang" imbuhnya
"Gue tau kok. Gue, Rasya. Abangnya, Risa" jelasnya
"Gue, Vigo Bang", Vigo, pun mengulurkan tangannya, "Dan ini cewek gue Bang, Viona" ujarnya yang memperkenalkan kekasinya dan tidak perlu bersalaman dengan Abang Rasya
"Takut banget cewek loh diembat sama Abang gue, Go" ledek, Risa yang yang tertawa
"Namanya juga udah sayang, Sa" jawab, Vigo dengan santai tanpa terbebani dengan ledekan, Risa
Viona hanya tersenyum menanggapinya meski hatinya sudah meleleh dibuatnya
"Bentar lagi nih kalian nyusul, Luthfi sama Syifa" seru, Fahri yang memperhatikan kedua sahabatnya itu
"Doain, Ri. Ntar gue juga doain loh nyusul sama, Risa" goda, Vigo yang disambut tawa, Viona dan Rasya
"Ngga usah sok-sok'an mau ngedoain gue loh, Go. Loh aja belum tentu bakal nikahnya sama, Viona" ujar, Risa yang memancing amarah, Vigo
__ADS_1
"Ngga usah mancing loh, Sa. Ntar loh kena batunya sendiri loh" tegur, Viona yang tertawa
"Abang sih setuju-setuju aja yah kalau adek gue ini dijaga sama, Fahri", Rasya merangkul, Risa
"Abang ngomong apa sih? Jangan ikut-ikutan mereka deh" seru, Risa yang memukul tangan Abangnya di pundaknya
"Jangan galak-galak loh dek. Ntar, Fahri jadi eneg sama loh" jelas, Rasya yang membuat semuanya tertawa terutama, Fahri
"Apaan sih. Senang banget bikin gue kesal" gerutu, Risa yang melihat kedua tangannya di atas perut lalu menyandarkan punggungnya di sofa
"Jangan cemberut dong adiknya Abang. Nanti kalau muka loh jelek, Fahri malah makin ngga mau" ledek Abangnya yang berlari hingga membuat, Risa semakin murka
"Abangggggggg!" teriak, Risa yang mengejar Abangnya seperti anak kecil. Ketiga temannya yang melihat tingkah kedua kakak beradik itu malah tertawa puas dibuatnya
***
"Luthfi? Loh masih mandi? Buruan dong. Gue udah kebelet nih" seru, Syifa yang menggedor pintu kamar mandi
ceklek
Luthfi keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk di pinggangnya hingga membuat, Syifa memalingkan wajahnya yang bersemu merah
"Katanya kebelet, tapi masih berdiri disini" tegur, Luthfi yang membuyarkan lamunan, Syifa
"Eh? Oh ia", Syifa yang gugup langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya dengan rapat
"Astaga jantung gue", Syifa berdiri dibalik pintu seraya memegang dadanya, "Masih aja berdebar. Dan nantinya juga pasti tiap hari gue bakal lihat dia yang kek gitu. Aaaaa, gue belum siap" gumannya
Syifa segera membersihkan badannya dan lagi-lagi dirinya lupa mengambil pakaian ganti karna terburu-buru ingin buang air kecil tadi
Ia membuka sedikit pintu dan mengintip. Saat ia tidak melihat, Luthfi disana. Ia segera keluar dengan bermodalkan handuk yang melilit ditubuh mungilnya
Ia kemudian membuka lemari dan mengambil pakaian di dalamnya. Dengan cepat ia memakai pakaiannya, bersamaan dengan, Luthfi yang masuk ke dalam kamar.
Tatapannya mengarah ke, Syifa yang masih memakai pakaiannya. Syifa membulatkan kedua matanya dan lagi-lagi hendak ingin berteriak namun, Luthfi dengan cepat membekap mulutnya
"Mau teriak lagi?"
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa untuk like, komen dan Votenya yah teman2. Terima kasih 🙏🏻
__ADS_1