Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Truth Or Dare?


__ADS_3

Saat, Luthfi hendak membuka knop pintu, Viona terlebih dulu mendorong pintu itu masuk hingga membuat, Luthfi mundur ke belakang


"Mau kemana?" tanya, Vigo kepada, Luthfi yang datang bersama, Viona dan Fahri


"Pulang" sahut, Luthfi tanpa menoleh


"Gue baru datang udah mau pulang aja loh" seru, Vigo yang menarik, Luthfi kembali masuk. "Pulangnya ntar aja" kemudian ia duduk di sofa


"Gue udah lama disini" tukas, Luthfi


"Bentar aja", Fahri mendudukkan, Luthfi di sofa dekat, Vigo


"Lagian mau ngapain disini" cetus, Luthfi saat dirinya sudah duduk di sofa


"Main" jawab, Viona


"Mau main apa loh? Jgn kayak anak kecil deh" sahut, Syifa


"Sok dewasa loh mah" tukas, Risa kepada, Syifa


Syifa hanya mencibir tanpa melawan ucapan, Risa. Luthfi terpaksa harus tinggal atas permintaan kedua temannya


"Loh pikir gue kesini ngga main? Cuma numpang duduk doang? Hah", Viona menepuk pelan jidatnya sambil menggeleng


"Terserah loh deh" pasrah, Syifa memutar malas bola matanya


"Jadi loh mau main apa numpang duduk doang?" seru, Risa


"Bisa ngga sih lo ngomongnya biasa aja?" gerutu, Syifa


Risa hanya mendengus. Sedangkan ketiga pria tersebut hanya menggeleng karna kelakuan ketiga gadis ini yang jika bertemu pasti akan ada perdebatan dan keributan. Walau begitu, mereka tampak senang akan hal itu, bahkan menjadi bumbu pertemanan mereka menjadi lebih berwarna


"Truth Or Dare yuk?" cetus, Fahri disela-sela keributan kecil ketiga gadis itu


"Boleh tuh", Vigo menimpali dengan telunjuknya mengarah ke, Fahri


"Gue ngga mau ikut" sahut, Luthfi yang masih menampakkan wajah cueknya


"Ngga asik loh" seru, Viona


"Kenapa harus maksa coba kalau orangnya ngga mau" tukas, Syifa


"Dih. Dibelain" cetus, Risa


"Loh juga kalau misalkan ngga mau, ngga bakal gue maksa" ketus, Syifa


"Udah-udah. Ngga boleh ada yang ngga main. Semua harus main" perintah, Vigo


"Setuju" semua menjawab kecuali, Syifa dan Luthfi


"Kalian para cewek, ambil tikar yah, biar kita bisa melantai duduknya" perintah, Vigo kembali


"Ngapain suruh ngambil tikar kalau duduknya pengen dilantai" protes, Risa dengan polos


Kedua pelipis, Risa kena toyoran dari, Syifa dan Viona. Sedangkan ketiga pria itu, hanya tersenyum melihat tingkah, Risa


"Auuuhh. Kenapa kalian noyor gue?" marah, Risa sambil mengelus kedua pelipisnya


"Duduk melantai bukan berarti harus benar-benar duduk dilantai tanpa pengalas juga kali" ujar, Viona dengan malas


"Ya ampun. Benar-benar deh. Ngga kuat gue" timpal, Syifa yang jengah dengan tingkah, Risa

__ADS_1


"Jadi? Kalian masih mau ribut disitu atau mau ngambil tikar nih?" tanya, Luthfi menghentikan keributan mereka yang tidak akan berhenti bila tidak ada yang melerai


"Ayo", Syifa menarik tangan, Risa dan Viona masuk ke dalam kamar mengambil tikar yang lumayan besar disana


Syifa dan Viona membawa tikar tersebut ke ruang tamu, tepatnya depan TV, karna disana lebih luas. Ketiga pria tersebut menggeser kursi agar lebih leluasa. Sedang, Risa mengambil beberapa cemilan dan minuman di dalam kulkas yang baru mereka beli kemarin


Saat semua sudah siap, Syifa ke dapur mengambil botol kaca kosong untuk mereka gunakan bermain dengan cara memutar botol tersebut. Mereka duduk dengan melingkar, Syifa duduk diapit oleh, Viona dan Risa. Sedang disamping, Viona ada Vigo, dan disamping, Risa ada Fahri, Luthfi duduk ditengah hingga berhadapan dengan, Syifa


"Kita mulai yah. Biar gue yang mutar botolnya" seru, Fahri


"Jangan sengaja loh arahin ke gue yah botolnya" cetus, Risa


"PD banget loh" jengan, Syifa


"Berharap sih sebenarnya dia, Fa" ledek, Viona


"Oh ia", Syifa tersenyum mangguk-mangguk


"Mulai deh kalian ngegosip" ketus, Risa dengan malas


"Udah. Belum main aja udah ribut lagi" sergah, Vigo


"Pusing gue" guman, Luthfi sambil menggaruk pelipisnya


"Ayo putar, Ri" seru, Viona dengan semangat


Fahri mulai memutar botol tersebut hingga bibir botol tersebut mengarah kepada, Vigo


"Vigo" semua bahkan berteriak menyebut nama, Vigo kecuali, Luthfi


"Biasa aja dong" sahut, Vigo


"Pilih dulu, Truth or Dare" tukas, Syifa


"Oh ia. Truth Or Dare nih?" tanya, Fahri


"Truth dong. Gue mah berani" jawab, Vigo dengan sombong


"Songong amat loh" cetus, Luthfi dengan menahan senyumnya


"Ia dong. Gue kan berani. Gentleman gue mah" lagi-lagi, Vigo menampakkan kesombongannya


"Gue dong mau nanya" cetus, Viona


"Yang susah, Vi" seru, Risa


"Sampai, Vigo ngga bisa jawab" timpal, Syifa


"Kalau perlu sampai, Vigo ngga bisa bernafas" ledek, Fahri


"Mati dong gue" tukas, Vigo


Semuanya bahkan tertawa padahal belum ada pertanyaan yang dikeluarkan oleh, Viona


"Apa pertanyaannya?" tanya, Luthfi kepada, Viona


"Hmmm", Viona sedikit berfikir. "Kalau, Lury datang kembali, apa yang bakal loh lakuin?" pertanyaan, Viona membuat, Vigo sedikit terkejut, yang tentu saja mengundang gelak tawa dari keempat teman lainnya


"Hayoloh jawab. Tadi katanya berani" goda, Luthfi yang menyenggol lengan, Vigo


"Ngga ada yang lebih susah lagi pertanyaannya?" seru, Vigo dengan kesal

__ADS_1


"Oh? Jadi itu susah?" sahut, Viona yang makin membuat, Vigo frustasi


"Ngga, Vio. Bukan itu maksud gue", Vigo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"Terus apa? Jawab dong", Viona sudah mulai kesal


"Nah loh. Viona mulai kesal nih pemirsa" tawa, Risa meledak


"Ssstttt", Syifa menyenggol lengan, Risa


"Jawab, Go" seru, Fahri


"Gue belum tau apa yang bakal gue lakuin ke dia kalau emang misalkan dia kembali nanti. Tapi satu yang pasti, gue bakal tanyain ke dia, kenapa dia bisa ngehianatin gue dengan ngomong ke, Vio kalau gue sama dia udah pacaran. Udah, itu aja" ujar, Vigo


"Alasannya udah jelas dia suka sama loh" seru, Viona dengan malas


"Kita kan ngga pernah tau. Siapa tau ada hal lain lagi kan?" sahut, Vigo


"Udah stop. Satu pertanyaan lagi untuk, Vigo. Jadi dua pertanyaan aja" tukas, Syifa


"Gue mau nanya", Fahri mengangkat tangannya


"Jangan aneh-aneh loh" ketus, Vigo


"Tadi katanya berani" goda, Luthfi


"Berani sih berani. Tapi ngga gini juga" gerutu, Vigo


Yang lain hanya tertawa tanpa memperdulikan raut wajah kesal, Vigo yang sudah mulai memerah. Salah sendiri, dengan bangganya tadi memilih, truth lalu menyombongkan dirinya berani. Sekarang baru tau bagaimana rasanya di jahilin teman sendiri


"Pertanyaan loh apa, Ri?" tanya, Risa


"Kalau loh disuruh milih antara sahabat cewek loh sih, Lury itu atau pacar loh, Viona. Loh lebih pilih siapa?" tanya, Fahri yang berusaha menahan tawanya


"Benar-benar loh yah. Ngga ada bagus-bagusnya jadi teman. Bukannya nolongin, malah tambah nenggelamin gue" gerutu, Vigo dengan sangat kesal. Lagi-lagi membuat mereka semua tertawa


"Fahri tuh definisi teman yang 'menenggelamkan temannya" sahut, Syifa


"Jawab aja kenapa sih? Banyak protes banget deh" ucap, Viona yang sudah tidak sabaran


"Sabar kali, Vi" cetus, Risa


"Semoga tidak terjadi apa-apa setelah ini" ujar, Luthfi


"Loh ngedoain gue yang ngga baik?" kesal, Vigo


"Justru gue ngedoain loh yang baik-baik" ujar, Luthfi yang menahan tawanya


"Jawab jawab jawab jawab" mereka kompak meneriakkan kata ' jawab'


"Ia ia gue jawab. Gue milih, Viona. Puas loh?" seru, Vigo kepada, Fahri


"Kok kayak ngga ikhlas" ledek, Fahri


"Loh pengen liat gue mati?" gerutu, Vigo dengan penuh penekanan


Tanpa perduli ocehan, Vigo. Kelimanya malah asyik tertawa terbahak


"Ayo mulai lagi. Giliran gue yang putar botolnya" perintah, Vigo sambil memutar botol tersebut


"Syifa" semua berteriak kecuali, Luthfi lagi-lagi, saat bibir botol tersebut mengarah kepadanya

__ADS_1


__ADS_2