Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Dia kembali cuek


__ADS_3

"Tadi gue nyariin loh di dalam", Celia berjalan menghampiri, Luthfi dan Syifa


"Ada apa?", Luthfi bertanya ulang sangat dingin


"Ngga apa-apa. Mau ngajakin kamu masuk aja" saut, Celia


"Gue masuk duluan yah" pamit, Syifa yang langsung mendahului mereka berdua


Luthfi menghela napas kasar.


"Nih cewek ganggu banget sih" umpat, Luthfi yang langsung mengikuti, Syifa tanpa menghiraukan, Celia


" Dia kembali cuek. Padahal kemarin udah minta maaf ke gue" guman, Celia dengan sinis


Syifa sudah kembali bergabung dengan, Risa serta teman-teman kelompoknya yang lain. Sedangkan, Luthfi juga kembali bergabung dengan Viona dan yang lainnya. Semua orang sudah bergabung kembali dengan kelompok seni teater mereka


"Bagaimana waktu istirahatnya anak-anak?" tanya dosen tersebut setelah mengambil alih mikrofon


"Puas" jawab mereka kompak


"Ibu tidak menyangka jika pertunjukan kalian tadi itu sangat luar biasa. Ibu sampai terkagum-kagum dengan akting natural kalian semua. Terkhusus untuk, Arsyifa. Ibu tidak tau, apa yang sedang dia pikirkan, hingga dia bisa mengeluarkan air mata yang seperti dia benar-benar sangat takut ditinggalkan" ujar dosen tersebut


Sontak semua orang menatap, Syifa. Syifa begitu malu dan salah tingkah hingga ia terus menunduk. Wajahnya kian memerah


"Sudah. Jangan melihat, Arsyifa terus. Ibu sangat mengapresiasi karya kalian semua dalam mensukseskan pertunjukan ini. Ibu juga ingin setiap perwakilan kelompok tadi yang memerankan toko utamanya segera menghadap ke Ibu setelah ini" tutur dosen tersebut


"Baik bu"


"Kalian boleh makan atau minum sambil istirahat di dalam kelas yah. Yang Ibu tadi panggil untuk perwakilan kelompok segera temui Ibu" lanjut dosen seni teater tersebut


"Loh aja yah, Za perwakilan kita" cetus, Syifa


"Gue belum makan, Fa" saut, Reza yang meneguk minumannya


"Terus?", Syifa sudah antisipasi kalau dirinya yang akan menjadi perwakilan


"Loh aja yah? Gue lapar. Tadi gue ngga sempat makan" tukas, Reza


Syifa menghela napas.


"Loh aja, Fa. Hitung-hitung pengalaman" seru, Risa


"Loh aja sana" gerutu, Syifa


"Kan bukan gue pemeran utamanya" saut, Risa yang mencibir


"Cepat, Syifa. Nanti perwakilan kelompok kita gugur" seru, Fahri yang terpaksa membuat, Syifa berdiri dan berjalan lemas menuju dosen seni teater


***/


"Cepat, Fi. Loh aja sana", Viona menarik-narik tangan, Luthfi setelah perdebatan panjang sedari tadi


"Ngebet banget sih, Vio" ujar, Vigo yang langsung diberi kode oleh, Viona


"Biar gue aja kalau, Luthfi ngga mau" saut, Celia


"Ngga usah. Luthfi aja. Ayo, Fi cepetan", Viona terus menarik-narik tangan, Luthfi


"Gue ngga mau" saut, Luthfi cuek


Viona menghela napas lalu membisikkan sesuatu di telinga, Luthfi. Luthfi kemudian bangkit setelah, Viona membisikkan sesuatu. Ia pun berjalan menuju dosen seni teater tanpa pamit. Viona tersenyum dengan penuh kemenangan


"Loh bisikin apa ke, Luthfi?", Vigo terlihat cemburu


"Ngga usah cemburu", Viona tersenyum kearah, Vigo lalu membisikkan sesuatu pun di telinganya


"Ohhh. Gue kira apa" lega, Vigo saat, Viona sudah selesai membisikkan sesuatu


"Loh bisikin apa ke, Luthfi?" tanya, Celia dengan curiga

__ADS_1


"Marcelia. Apapun yang gue bisikin ke, Luthfi. Itu ngga ada hubungannya sama loh" seru, Viona


"Terus kenapa, Luthfi bisa langsung mau? Padahal tadinya dia ngga mau" tukas, Celia yang masih tidak ingin kalah


"Urus urasan loh sendiri deh. Ngga usah sibuk ngurusin urusan orang lain" saut, Viona yang membuat, Celia bungkan namun dengan tatapan wajahnya menandakan tidak suka kepada, Viona


***/


"Apa kalian tau kenapa Ibu memanggil kalian semua kemari?" tanya dosen tersebut saat semua perwakilan kelompok sudah berkumpul bersamanya


"Tidak bu"


"Baik. Jadi, Ibu akan memberikan kejutan kepada teman-teman kalian yang lain, dengan pertunjukan yang akan dimainkan oleh kalian ini" ujarnya


"Terus hadiah kita yang memberikan pertunjukan ke mereka apa bu? Masa kita ngga dapat hadiah apa-apa" seru salah satu dari mereka


"Benar tuh bu" timpal salah satu dari mereka


"Tenang. Ibu akan memberikan kalian hadiah juga setelah pertunjukan ini benar-benar sukses" jelas dosen tersebut


"Wah. Apa itu bu' hadiahnya?"


"Kalian ngga perlu tau. Karna hadiah kalian akan istimewa" dosen tersebut membuat mereka lebih bersemangat


"Ibu mau, Arsyifa dan Gioluthfi yang jadi toko utama dalam pertunjukan ini" lanjutnya


"Apa?", Syifa dan Luthfi kompak bersuara


"Iah. Ibu ingin kalian berdua yang menjadi toko utamanya. Bisa kan?" tanya dosen tersebut dengan penuh harap


Syifa dan Luthfi saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya mereka menganggukkan kepala yang disambut semangat oleh dosen mereka. Pembagian part pun dimulai, satu persatu dari mereka diberi naskah untuk langsung menghapal dan mempelajarinya serta langsung mempraktekannya


"Waktu kalian tidak banyak. Ibu ingin pertunjukan ini berjalan sukses. Mengerti semuanya?" seru dosen itu


"Mengerti bu"


Mereka mencoba memulai adegan sesuai dengan naskah mereka. Ini lumayan cukup mudah, karna hanya ada empat orang. Perwakilan dari kelompok satu, kelompok dua, kelompok tiga, dan kelompok empat. Luthfi harus mengatur intonasi suaranya sebagai pria lembut penuh kasih sayang. Sedangkan, Syifa harus siap mengeluarkan nada-nada manjanya serta mempelajari beberapa sifat sebagai wanita yang sangat manja, mudah ngambek, dan mudah luluh


***/


"Mungkin ada hal penting" saut, Fahri yang bermain game tanpa melihat, Risa


"Ajakin gue ngobrol kek. Ini malah main game. Udah tau, Syifa ngga ada disini" gerutu, Risa kepada, Fahri yang sedari tadi mengabaikannya karna sibuk bermain game


"Gue ngga tau mau ngomongin apa sama loh" tukas, Fahri yang masih setiap menatap layar ponselnya


"Ngeselin" rajuk, Risa yang memajukan bibirnya


"Nanti juga, Syifa kembali. Tungguin aja", Reza terlihat tenang dan berusaha menenangkan, Risa


"Ini nih yang namanya teman" saut, Risa dengan penuh penekanan untuk menyindir, Fahri


Reza hanya tersenyum. Sedangkan, Fahri hanya melirik dan malas membalas. Ia sudah tau bagaimana kedepannya jika ia membalas ocehan, Risa yang akan terjadi perdebatan berkepanjangan


"Terbaik deh emang loh, Za", Risa terus mengoceh mengacungkan jempolnya kepada, Reza. Fahri hanya menghela napas


"Kalian berdua kenapa? Berantem?" tanya, Reza setelah melihat tingkah keduanya


"Biasa dia. Cewek" seru, Fahri yang juga menyindir, Risa


"Loh nyindir gue?" seru, Risa dengan kesal menatap tajam, Fahri


"Mata loh biasa aja dong", Fahri mengusap wajah, Risa hingga membuat gadis itu geram


"Fahri!!!!! Muka gue" teriak, Risa yang membuat, Reza, Fahri dan beberapa teman kelompok mereka yang berada disana menutup kuping


***/


"Kok mereka lama banget sih? Tau gitu mending gue ikut, Luthfi tadi" gerutu, Celia yang membuat, Viona dan Vigo yang tadinya asik berbincang teralihkan

__ADS_1


"Kenapa loh? Duduk diam disitu aja susah banget" tegur, Viona menatap, Celia dengan sinis


"Gue ngga ngomong sama loh yah" seru, Celia dengan kesal


"Ya udah", Viona memalingkan wajahnya dengan menaikkan kedua bahunya


"Ngga usah perduliin dia" ujar, Viona kepada, Vigo


"Ia", Vigo tersenyum mengusap lembut kepala, Viona


"Ngga usah pacaran disini juga kali" seru, Celia yang sewot


"Dih. Biasa yah, jomblo mah suka sirik" tukas, Viona yang memang sengaja membuat suasana hati, Celia buruk


"Ngapain gue sirik sama loh? Kurang kerjaan banget gue" saut, Celia dengan gaya tidak sukanya


"Ngakuin juga kalau emang kurang kerjaan. Sirik sih emang suka gitu yah, Vigo" ujar, Viona yang membuat, Vigo tidak tahan untuk tidak tersenyum


"Udah yah, Vio. Jangan diladenin lagi", Vigo mencubit gemas pipi, Viona


"Dasar ngga tau diri" gerutu, Celia yang jijik melihat tingkah pacaran keduanya


"Dasar jomblo ngga tau diri" balas, Viona yang membuat teman-teman kelompok mereka tertawa kecuali, Celia


***/


"Aku haus" ujar, Syifa dengan manja yang bergelantung di lengan, Luthfi


"Kamu haus?" tanya, Luthfi yang diangguki oleh, Syifa. Luthfi tersenyum lalu menarik tangan, Syifa untuk duduk. "Kamu tunggu aku disini yah? Aku mau beliin kamu minum dulu" ujar, Luthfi. Syifa hanya mengangguk pelan dengan gemas


"Ok cut. Ini sudah bagus. Siapkan diri kalian, sebentar lagi kita akan keluar dan melakukan pertunjukan ini" seru dosen tersebut hingga membuat, Luthfi dan Syifa bergabung kembali dengan mereka


"Akting loh keren, Fi" perwakilan dari kelompok satu menepuk pundak, Luthfi dan mengacungkan jempolnya


"Benar-benar berubah dari sifat, Luthfi yang sebenarnya. Biasanya, Luthfi suka cuek dan dingin. Tapi tadi aktingnya benar-benar bagus banget" ujar wanita yang menjadi perwakilan kelompok empat


"Tapi, Syifa juga ngga kalah keren" saut perwakilan dari kelompok satu


"Kalian berdua juga ngga kalah bagus" tukas, Syifa yang terlihat kelelahan karna harus beberapa kali mengulang adegan bertatapan dengan, Luthfi


"Kalian semua keren" ujar dosen mereka dengan senyum penuh semangat


"Ayo. Bersiap-siap" lanjutnya


"Ayo" seru keempat orang tersebut


***/


"Cek-cek. Halo anak-anak" dosen tersebut mengambil alih mikrofon dan semua mata fokus menatap dirinya. "Ibu akan memberikan kalian semua sebuah kejutan" ucapnya dengan semangat. "Apa kalian semua sudah siap dengan kejutannya?" teriaknya


"Siap!!!!!"


"Baik. Mari kita lihat bersama apa hadiah untuk kalian semua" teriak dosen tersebut dengan penuh semangat sebelum menghilang dari atas panggung


Semua lampu yang ada di dalam ruangan tersebut menjadi padam tanpa pencahayaan sama sekali. Beberapa teriakan para gadis terdengar


"Kok lampunya mati?"


"Jadi horor nih"


"Gue ngga bisa ngeliat"


"Ini kok lampunya bisa mati?", Risa meraba-raba apa yang ada di sekelilingnya


"Tangan gue, Sa" tegur, Fahri yang tangannya diraba-raba oleh, Risa


"Sorry, Fahri. Tapi gue benar-benar ngga lihat apa-apa" saut, Risa


Satu cahaya mengarah ke panggung yang sudah diisi oleh keempat perwakilan kelompok mereka tadi. Semua orang ternganga dan saling bertanya satu sama lain

__ADS_1


"Loh? Mereka kok bisa ada di panggung?" seru, Viona yang melihat, Luthfi dan Syifa berpegangan tangan di atas panggung


__ADS_2