Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Tahan hati


__ADS_3

Malam yang begitu sunyi dengan desiran angin yang berhembus cepat membuat semua penghuni tenda semakin meringsut dengan dinginnya malam. Perkiraan tentang cuaca yang dingin benar-benar terjadi malam itu.


Jaket serta selimut tebal menghiasi mereka semua, sekedar menghangatkan tubuh mereka yang sudah menggigil hingga mentari pagi nampak muncul yang dibalik awan cerah namun bercampur gelap.


Bilasan cahaya mengenai wajah, Syifa yang nampak tertidur nyenyak. Namun ia langsung mengerjap dan menyadari bahwa hari sudah pagi. Ia hendak bangun namun seketika tertarik kembali, ia baru menyadari jika tangannya masih berada dalam genggaman tangan, Luthfi. Pelan-pelan ia meraih tangannya agar tidak membangunkan, Luthfi. Namun nyatanya pria tersebut malah terbangun.


"Sudah pagi yah" Ucap, Luthfi dengan suara serak khas bangun tidur, ia mendudukkan tubuhnya dan mengucek pelan matanya.


"Ia. Tapi ngga usah bangunin mereka berdua dulu" saut, Syifa yang melihat, Fahri dan Celia masih tertidur dalam balutan selimut tebalnya.


"Jam berapa sekarang?" tanya, Luthfi yang kesadarannya belum sepenuhnya kembali.


Syifa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Baru jam enam pagi".


Luthfi hendak membaringkan tubuhnya kembali, "Mau tidur lagi?", Syifa mengerutkan keningnya hingga, Luthti kembali terduduk


"Ini masih pagi banget. Lagian kita ngga akan kemana-kemana juga" jawab, Luthfi yang beberapa kali menguap diserang kantuk.


"Kalau udah bangun tuh ngga usah tidur lagi" tegur, Syifa, Luthfi hanya mangguk-mangguk dan menggaruk kepalanya untuk menghindari perdebatan di pagi hari.


"Pinggang loh gimana?", Luthfi menunjuk pinggang, Syifa yang sempat cedera kemarin.


"Udah lumayan kok. Ngga terlalu sakit lagi" ucap, Syifa yang memegang pinggangnya dan memastikan sudah lebih baik dari kemarin.


"Udah. bisa berdiri belum?" tanya, Luthfi untuk memastikan kondisi, Syifa.


"Ngga tau. Belum nyoba sih. Bentar, gue coba dulu", Syifa pelan-pelan menggerakkan kakinya untuk ditumpu dan mencoba untuk berdiri. Karna tidak ada pegangan bisa ia gunakan, ia menjadi sedikit kesusah untuk berdiri. Luthfi pun berdiri menghampiri, Syifa.


"Butuh bantuan ngga?", Luthfi menawarkan diri.


Syifa mengangguk malas, "Kayaknya gue belum bisa berdiri tanpa pegangan" ucapnya. Luthfi hendak membantu, Syifa untuk berdiri


"Eh, mau ngapain?", Syifa bingung dengan, Luthfi yang tiba-tiba seperti hendak memeluknya hingga kedua tangan, Syifa berada diatas lengan, Luthfi.


"Mau bantuin loh berdiri" ujar, Luthfi yang mengernyit.


"Harus banget gini?", Syifa melihat tangan, Luthfi yang melingkar di punggungnya dan melihat tangannya yang berada diantara lengan dan bahu, Syifa.


"Terus maunya gimana?" tanya, Luthfi itu cukup membuat, Syifa berpikir keras. "Ia juga sih" ia sendiri menjadi salah tingkah


"Ayo", Luthfi mengeratkan kedua tangannya yang berada di punggung, Syifa untuk membantunya berdiri. Sedang, Syifa mau tidak mau juga harus mengaitkan kedua tangannya di leher, Luthfi untuk bisa ia jadikan pegangan agar bisa berdiri.


"Tahan hati, tahan. Jangan cepat-cepat kalian di dalam. Malu sendiri gue jadinya kalau ketahuan debar-debar gini nih jantung", Syifa terus berdoa dalam hati


"Pelan-pelan yah" ujar, Luthfi saat, Syifa sudah berdiri sempurna. kGue lepasin tangan gue pelan-pelan yah" lanjutnya dan, Syifa pun mengangguk cepat.

__ADS_1


"Satu.... Dua..... Tiga", Luthfi perlahan melepas tangannya dan, Syifa pun sudah melepas tangannya dari leher, Luthfi.


"Udah bisa" seru, Syifa dengan senang namun, Luthfi tiba-tiba membekap mulutnya, "Jangan ribut, mereka masih tidur" mata, Luthfi dan Syifa langsung mengarah ke dua orang yang masih terlelap. Luthfi melepas tangannya.


"Maaf. Gue lupa" Syifa menggaruk pelipisnya sambil nyengir.


Syifa baru berjalan selangkah, tubuhnya sudah goyah, untung saja, Luthfi segera menangkapnya.


"Gue nyuruh loh berdiri. Bukan jalan" tegur, Luthfi yang membantu, Syifa untuk kembali duduk.


"Yah kan gue juga pengen bisa jalan lagi" protes, Syifa yang mensesuaikan duduknya.


"Pelan-pelan. Kan ngga harus langsung" ujar, Luthfi yang duduk di sampingnya.


***/


"Bangun", Risa menggoyangkan tubuh, Viona yang enggan terbangun. Ia malah semakin merapatkan selimutnya. Keributan, Risa yang berusaha membangunkan, Viona tersentak di telinga, Reza.


"Risa? Masih pagi udah ribut" tegur, Reza yang terbangun dan mengagetkan, Risa.


"Reza? Loh bikin gue jantungan" ucap, Risa yang memegang jantungnya. Bukannya kesal, Reza malah terkekeh, "Kenapa sih ribut-ribut?" tanyanya.


"Nih, Viona. Dibangunin ngga mau bangun-bangun juga", Risa menunjuk, Viona dengan kesal.


"Cowoknya juga nih", Reza menunjuk, Vigo dengan ekor matanya.


"Loh ngga mau siap-siap? Ini sudah setengah tujuh", Reza melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Makanya itu, Za. Gue ngebangunin mau siap-siap. Di kamar mandi kan pasti antri. Yakali gue harus ikut anti panjang kek kereta api gitu" celetuk, Risa panjang kali lebar hingga, Reza hanya tertawa dibuatnya.


"Loh sendiri ngga mau siap-siap?" tanya, Risa balik.


"Mau. Bentar, gue bangunin, Vigo dulu", Reza berusaha membangunkan, Vigo. Setelah beberapa menit akhirnya terbangun juga yang bersamaan dengan, Viona


"Masih ingat cara bangun juga kalian ternyata yah" seru, Risa saat kedua pasangan tersebut sudah bangun.


"Apaan sih, masih pagi udah ngerocol aja loh kayak emak-emak" kesal, Viona yang setengah sadar.


"Malah ngegas lagi nih anak" protes, Risa. "Udah woy, masih pagi" teriak, Vigo yang juga masih setengah sadar.


"Tau nih, Risa. Masih pagi aja udah ngajak ribut", Viona menyalahkan, Risa.


"Enak aja loh main salah-salahin gue. Kalian berdua tuh, bangunnya lama banget kek orang mati tau ngga" jengah, Risa hingga membuat, Reza harus terbiasa dengan perdebatan mereka.


Viona yang hendak menyauti namun, Reza terlebih dahulu menegur mereka, "Teman-teman, tolong hargai tetangga tenda kita. Mereka akan terganggu karna keributan kalian. Dan jangan ada lagi yang saling menyalahkan. Ayo cepat, siap-siap untuk penelitian kedua kita". Setelah perintah, Reza, ketiganya pun tanpa membantah langsung bersiap-siap sesuai arahan, Reza

__ADS_1


***


***


"Semangat yah", Syifa memberi semangat kepada kedua temannya yang mewakili untuk penelitian kedua karna ia belum bisa berjalan dengan baik dan, Luthfi harus menemaninya, "Maaf, gue ngga bisa gabung sama kalian" imbuhnya dengan nada nenyesal


"Ngga apa-apa. Cukup doain tim kita biar bisa menang lagi" ucap, Fahri untuk menyemangati, Syifa.


"Loh tenang aja. Tanpa bantuan loh kali ini, tim kita bakal menang dengan tangan gue sendiri" ujar, Celia dengan penuh keyakinan menyombongkan dirinya.


"Kita cuma perlu bukti, bukan omong kosong" saut, Fahri tanpa menoleh kepada, Celia


"Gue bisa buktiin kok. Lihat aja nanti. Tim kita bakal diurutan pertama" ucapnya dengan bangga.


"Ngga usah banyak omong kalian. Sana pergi" perintah, Luthfi. "Kok loh ngusir kita berdua sih, Fi?" ketus, Celia.


"Loh mau ngedrama apa mau ikut meneliti?" cetus, Fahri. "Loh tuh kenapa sih? Selalu aja nyaut-nyaut. Gue ngga ngomong tuh sama loh" bentah, Celia.


"Udah ah. Ribut deh kalian. Udah kayak, Risa sama Viona aja" tegur, Syifa melerai keributan keduanya


"Teman loh nih, nyari gara-gara mulu sama gue" geram, Celia yang menunjuk, Fahri dengan kesal.


"Yang ada loh yang nyari ribut" bantah, Fahri.


"Udah-udah. Masih aja ribut" lerai, Syifa yang pusing.


"Pergi sana. Dan menangkan penelitiannya" perintah, Luthfi. "Pasti" jawab, Celia dan Fahri, kemudian keduanya saling menatap dan langsung membuang muka dengan jijik


"Kompak" ucap, Syifa dan Luthfi yang juga keduanya bersamaan berucap hingga saling beradu pandang


"Tahan hati. Jangan goyah" pinta, Syifa dala hati saat bertatapan dengan, Luthfi


**


**


**


**


**


**


**

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote yah teman-teman. 🤗


__ADS_2