Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Dalam masalah


__ADS_3

"Risa? Jantung loh masih normal kan?" ledek, Vigo


Fahri hanya tertawa mendengar godaan, Vigo. Yah seperti biasanya, Fahri lebih memilih tertawa. Namun tidak dengan, Dini yang merasa kesal dengan kehadiran, Risa di kehidupannya dengan, Fahri


"Udah sih. Ngapain ngegodain gue mulu" seru, Risa yang sudah terlihat santai


"Ayo mulai main" ajak, Syifa untuk menetralkan suasana yang sudah mulai tegang


"Putar botolnya" cetus, Lury dengan semangat


"Cari muka banget sih" gerutu batin, Viona yang menatap sinis pada, Lury


Syifa memengang tangan, Viona yang berada di sampingnya lalu menggeleng pelan. Viona menarik napas pelan lalu tersenyum pada, Syifa kemudian mengangguk


"Kalian ngapain sih? Rahasia berdua aja? Ngga ngajak-ngajak gue" seru, Risa yang melihat kedua sahabatnya saling tersenyum dan menggeleng


"Nanti beb" sahut, Syifa yang menaikkan jempolnya


"Beneran yah? Awas kalau ngga" ancam, Risa yang menunjuk, Syifa dan Viona


"Ayo main. Kenapa lama banget" gerutu, Dinar


Luthfi melirik sinis, Dinar yang berceloteh di sampingnya. Ingin sekali ia pindah posisi. Namun ia juga tidak ingin berpisah dari, Syifa


"Kenapa?" tanya, Syifa ketika, Luthfi terlihat gusar


"Ngga apa-apa kok" sahut, Luthfi yang tersenyum


"Ok. Ayo mulai main", Dini meraih botol yang dipegang, Fahri. Bahkan dengan sengaja ia memegang tangan, Fahri hingga pria itu menjauhkan tangannya


"Ayo putar dek" seru, Dinar dengan semangat


Dini mulai memutar botol tersebut. Botol pun berputar dengan beberapa kali putaran hingga terhenti tepat di depan, Lury


"Lury" teriak, Dini dan Dinar dengan semangat


"Kok di gue" ujar, Lury yang menutup muka dengan kedua telapak tangannya karna malu


"*Centil banget sih*" batin, Viona


"Pilih Truth or Dare?" tanya, Syifa dengan ramah


"Truth-nya apa dulu?" tanya, Lury dengan malu


"Apa yang loh bilang ke, Viona dulu ketika kita perpisahan waktu sekolah?" cetus, Fahri dan sontak membuat, Lury gelagap


"Hmmm", Syifa berdehem. "Ia. Itu truth-nya"


"Hmmm. Kalau dare-nya?", Lury ingin menghindar dari pertanyaan, Fahri


"Kenapa? Ngga bisa jawab yah?" ujar, Viona yang melihat kedua tangannya di atas perut


"Ngga usah dipaksa, Vi. Ayo, dare-nya apa nih? Udah fixed pilih dare yah?" cetus, Risa di tengah ketegangan


"Minta maaf sama, Viona" seru, Fahri. Ingin sekali ia melihat, Lury meminta maaf kepada, Viona tentang kesalahannya dulu


"Sebenarnya loh punya dendam apa sih sama gue?" kesal, Lury yang ia tunjukkan pada, Fahri


"Kenapa jadi marah?" tantang, Fahri


"Lury?" tegur, Dini yang tidak suka, Lury berbicara kasar pada, Fahri


"Ini kan cuma permainan" ujar, Syifa. "Jadi loh harus ngelakuin itu. Loh pilih dare kan? Berarti loh harus minta maaf sama, Viona" imbuhnya


"Minta maaf aja" perintah, Dini


"Cepetan dek. Biar selesai dan mereka puas" seru, Dinar dengan penuh penekanan


"Apa maksud loh dengan 'puas'?", Luthfi menoleh pada, Dinar yang berada di sampingnya


Dinar tidak menjawab. Ia melihat raut wajah, Luthfi yang tidak bersahabat. Dan memang tidak pernah menatapnya dengan bersahabat


"Mungkin maksud Kak Dinar biar cepat selesai dan kita bisa lanjut lagi permainannya" sahut, Syifa dengan cepat ketika menyadari, Luthfi sedang jengah


"Udah. Minta maaf aja sama, Vio" perintah, Vigo kepada, Lury yang masih diam saja


"Ayo minta maaf" timpal, Risa


Lury menghembuskan napasnya dengan kasar lalu mengulurkan tangannya kepada, Viona. "Gue minta maaf" ucapnya dengan tidak ramah


"Gue belum pernah lihat orang minta maaf dengan cara itu. Ngga ada tulus-tulusnya" cetus, Luthfi dengan nada dingin dan terlihat cuek


"Setuju. Yang tulus kalau mau minta maaf", Fahri menimpali perkataan, Luthfi

__ADS_1


"Cepetan, Lury. Ngga usah lama" tegur, Dini


"Gue minta maaf" ucap, Lury dengan nada lembut yang benar-benar ia paksakan. Viona pun hanya membalas uluran tangan gadis itu dengan singkat


"Ok udah. Ayo lanjut. Kamu mau putar botolnya ngga?" tanya, Syifa kepada, Luthfi


"Kasih, Vigo aja" sahut, Luthfi. Syifa pun hanya mengangguk dan memberikan botol itu kepada, Vigo


Vigo perlahan memutar botol itu hingga terputar beberapa kali sebelum akhirnya berhenti tepat di hadapan, Fahri


"Fahri" teriak yang lainnya kecuali, Dinar yang tidak mengenal pria itu


"Sengaja nih, Vigo" ucap, Fahri yang menunjuk, Vigo lalu tertawa


"Ngga. Loh lihat sendiri gue mutar botolnya asal-asalan" sahut, Vigo membela dirinya


"Ok ok. Truth-nya apa?" pasrah, Fahri


"Loh masih sayang ngga sama gue?" tanya, Dini yang mengambil kesempatan itu


Fahri menatap, Dini dengan wajah penuh harap akan dijawab olehnya. "Gue pilih dare" ujar, Fahri


Seketika raut wajah, Dini yang tadinya mekar menjadi layu karna, Fahri yang tidak berniat menjawab pertanyaannya itu. Padahal ia sudah menunggu momen-momen itu


"Cium, Risa" teriak, Viona dengan girang


"What? Jangan gila deh, Vi" seru, Risa yang tidak terima dengan dare yang diberikan, Viona kepada, Fahri


"Kenapa?" tanya, Luthfi dengan serius


"Gue belum pernah yah dicium sama sekali. Meskipun sebelumnya gue pernah pacaran sama orang lain. Tapi gue ngga pernah dicium" celoteh, Risa


"Uuuuuuu. Sayang" ledek, Syifa yang memang mengetahui, Risa tidak pernah sekalipun memberikan wajahnya dicium oleh siapapun termasuk, Dika. Mantannya


"Beneran, Sa?" tanya, Vigo dengan tidak percaya


"Bukannya loh berdua pacaran?" tanya, Dinar


"Ia. Apa yang salah?" timpal, Lury


"Fahri. Loh ngga.... " ucapa, Dini terhenti ketika, Fahri menatap dirinya tidak suka


"Ngga. Gue ngga mau. Enak aja. Cuma suami gue yang boleh cium gue nanti. Ngga mau gue dici.... " celotehan, Risa terhenti ketika sebuah bibir menabrak pipinya


Kelima temannya tertawa bersama. Kecuali ketiga gadis itu yang tidak menyukai adegan itu. Terlebih, Dini yang langsung merasa sesak melihatnya


"Ngga apa-apa. Jadinya kan gue yang pertama" ujar, Fahri di sela-sela tawanya


"Loh enak. Tapi gue? Loh pasti udah sering nyium cewek lain. Gue ngga mau" rengek, Risa


"Loh juga yang pertama yang gue cium" ucap, Fahri dengan santai


"Beneran?" wajah, Risa tiba-tiba menjadi serius


"Cieeee. First kiss" ledek, Syifa


"First kiss apaan? Fahri kan cuma nyium gue di pipi. Bukan di bibir" ujar, Risa. Ia merasa bahwa First kiss adalah ciuman di bibir. Bukan di lainnya


"Ya udah ayo" goda, Fahri yang mulai mendekatkan wajahnya ke wajah, Risa sembari menahan tawa


"Fahri!!!!" teriak, Risa yang mendorong bahu, Fahri. "Jangan gila bisa ngga sih?" serunya karna begitu malu


"Cieee, Risa. Dapat first kiss, Fahri" goda, Viona yang sengaja melakukannya untuk membuat, Dini tidak lagi menganggu, Fahri


"Udah ah. Kesal gue. Sia-sia selama ini gue ngejaga wajah gue. Ujung-ujungnya sebelum nikah udah dicoba juga sama yang bukan suami gue" gerutu, Risa


Lagi-lagi temannya tertawa mendengar ocehan, Risa yang selalu terdengar lucu di telinga mereka


"Fahri kan calon suami loh" seru, Vigo


"Diam loh, Go" seru, Risa dengan kesal


"Udah belum sih ketawanya? Mau lanjut atau ngga?" tanya, Dinar yang merasa diasingkan oleh mereka


"Putar aja kak botolnya" seru, Syifa yang berusaha untuk menahan tawanya


Dinar dengan semangat memutar botolnya hingga bibir botol itu tepat mengarah di hadapan, Syifa


"Syifa?" teriak yang lainnya


"Kesempatan, Fi" cetus, Vigo lalu tertawa


"Gunain sebaik mungkin" timpal, Fahri

__ADS_1


"Ayo mau nanya apa?" usul, Viona


"Siapa yang mau bertanya?" tanya, Dinar


"Gue dong", Risa mengangkat tangannya


"Jangan aneh-aneh loh, Sa" ancam, Syifa


"Tanyain yang aneh-aneh, Sa" goda, Luthfi


"Luthfi!!!" rengek, Syifa dengan begitu manjanya


"Ngga apa-apa. Kan cuma permainan", Luthfi mengusap lembut kepala, Syifa


"Muka kalian mirip dikit yah?" ucap, Dini yang baru memperhatikan wajah keduanya sedikit mirip


"Hidungnya" timpal, Lury


"Dek?" tegur, Dinar yang menggeleng


"Mirip banget malah. Muka jodoh emang" cetus, Viona yang ingin melihat, Dinar kesal


"Udah ah. Truth-nya apa?" tanya, Syifa yang melerai sebelum berkepanjangan


"Kalau misalnya nih yah. Kalian udah nikah. Terus, Luthfi minta nikah lagi yang kedua kalinya. Loh ngebolehin ngga?" tanya, Risa yang menggodanya


Syifa menatap tajam, Risa setelah pertanyaan konyol sahabanya itu terlontar. Bahkan semuanya menjadi tertawa terutama, Dinar


"Ayo, Fa. Jawab" goda, Viona


"Gue ngga yakin nih" timpal, Fahri


"Perang dunia nih" tukas, Vigo


"Bukan aku yang ngomong" ujar, Luthfi setelah pandangan, Syifa mengarah padanya


"Jawab" perintah, Dinar yang sudah sangat penasaran dengan jawaban, Syifa. Merasa masih punya kesempatan untuk mendekati, Fahri


"Gue pilih dare" seru, Syifa yang tidak ingin mengambil resiko dengan menjawab pertanyaan konyol itu


"Yah. Ngga seru" ujar, Lury


"Suka-suka dia dong" sahut, Viona


"Udah", Dini menatap, Lury lalu menggeleng


"Ok. Dare-nya apa, Go?", Fahri sengaja meminta, Vigo yang memilih, dare-nya. Karna ia tau, Vigo bisa diandalkan dalam hal seperti ini


"Jangan aneh-aneh, Go" cetus, Luthfi lalu tertawa karna ia sudah bisa menebak dimana arah pikiran, Vigo


"Biarin aja aneh-aneh, Go" tukas, Risa


"Vio? Loh dukung gue kan saat ini?" tanya, Vigo yang mengedipkan matanya pada, Viona


"Gue dukung" sahut, Viona karna sudah mengerti


"Jangan aneh-aneh, Go" ancam, Syifa yang sudah mulai was-was karna tau pikiran, Vigo yang paling kurang waras diantara ketiga pria itu


"Dare nya adalah........ Malam ini....... Loh harus tidur berdua sama, Luthfi" seru, Vigo


Mata, Syifa membulat sempurna mendengar tantangan yang diberikan, Vigo. Mata, Syifa menoleh pada ketiga gadis itu yang juga sama terkejutnya dengannya.


"Vigo!!!!!! Loh benar-benar bikin gue dalam masalah"


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Oh ia. Jadi, karna ini adalah karya pertama aku, aku mohon maaf sebelumnya jika terdapat banyak kesalahan. Apalagi sering typo di masalah nama. Koreksi aja kalau kalian lihat ada yang janggal. Karna aku pribadi masih dalam proses menulis yang lebih baik lagi kedepannya.

__ADS_1


Dan. Jangan lupa like dan votenya yah 😊 Terima kasih untuk yang sudah mendukung 🤗


__ADS_2