Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Jangan pacaran mulu


__ADS_3

"Masa mau berdebat disini? Ini udah ada tiketnya", Fahri datang menyudahi perdebatan mereka


"tempatnya yang biasa kan?" tanya, Vigo


"Tentu. Ini deh kalian masing-masing pegang sendiri ", Fahri membagikan tiket satu persatu


"Kenapa ngga sekalian aja sih?", Viona menerima tiket tersebut


"Ngga apa-apa. Biar nyari kursinya jadi gampang" sahut, Fahri. "Ayo masuk. Bentar lagi filmnya mulai" ajak, Fahri sambil melihat jam yang melingkar di tangannya


Mereka akhirnya memasuki studio yang akan menampilkan film yang sudah dipilih oleh, Fahri. Fahri memilih kursi kedua dari atas dan memilih kursi bagian tengah. Kursi berjejer dimulai dari nomor, Vigo, Viona, Risa, Syifa, Luthfi dan Fahri. Tentu saja, Fahri sudah mengaturnya


"Gue ditengah berasa benar-benar jadi nyamuk yah" gerutu, Risa saat sudah menduduki tempatnya


"Ya udah sini tukaran sama gue" saut, Syifa yang jengkel dengan, Risa


"Idih. Lebih-lebih ngga mau gue" seru, Risa kesal


"Ya udah diam aja kalau gitu. Ribet deh loh" tukas, Viona yang juga berada disampingnya


"Kesal gue lama-lama. Awas loh, Fa kalau nanti teriak-teriak di kuping gue. Gue seret luh keluar" ancam, Risa sambil menunjuk, Syifa


"Santai dong loh", Syifa menepis telunjuk, Risa yang mengarah padanya. "Ngga akan gue teriak di kuping loh. Paling gue cuma bakal teriak-teriak depan muka loh" ucap, Syifa yang terkekeh


"Ngga ada yah kek gitu. Gue dorong muka loh langsung" ancam, Risa


"Sadis amat loh jadi teman" cetus, Fahri yang berada di ujung


"Loh ngga tau aja gimana kalau nih anak udah nonton film horor" jengah, Risa


"Suka meluk loh ngga?" tanya, Vigo kepada, Risa


"Bukan meluk gue lagi. Sambil nangis malah nih anak" ketus, Risa melirik ke, Syifa dengan malas


"Nanti loh dorong aja dia ke, Luthfi kalau udah mulai ada tanda-tanda" ucap, Viona dengan menahan tawanya


"Malas banget gue", Syifa menyandarkan punggungnya lalu melipat kedua tangannya di atas perut dengan mencibir


"Udah mulai" seru, Luthfi menyudahi perdebatan mereka


Saat film tersebut baru saja dimulai, terdengar suara teriakan hingga membuat beberapa penonton langsung histeris terutama, Syifa yang berteriak sangat keras sambil menutup wajahnya yang disambut kesal oleh, Risa


"Baru aja mau mulai ih" kesal, Risa membuka wajah, Syifa yang ditutupi oleh tangannya


"Loh ngga dengar apa ada suara orang nangis" rengek, Syifa


"Jangan kayak anak kecil deh, Fa" tegur, Viona


"Ngga usah perduliin, Syifa. Ada, Luthfi yang bisa jaga dia" ujar, Vigo


"Jahat banget loh, Go" rengek, Syifa dengan memelas


Tak ada yang mau membalas rengekan, Syifa. Mereka semua fokus ke layar dengan menahan senyum mereka. Syifa akhirnya kesal dan hanya terus mencibir. Beberapa kali dirinya terus berteriak ketika ada suara yang menangis atau tiba-tiba penampakan muncul di layar tersebut. Ia bahkan sontak memegang lengan, Risa ketika penampakan mulai mendekat ke layar


"Fa. Jangan gangguin gue ih", Risa melepas tangan, Syifa dari lengannya


"Loh jahat banget sih. Gue takut, Sa" rengek, Syifa yang sudah hampir ingin menangis


"Please, Fa. Jangan bikin malu deh", Risa terus menatap layar tanpa memperdulikan, Syifa lagi


Syifa akhirnya menyerah. Ia kembali ke posisinya semula. Saat, penampakan tiba-tiba berada di depan kamera layar, ia sontak berteriak bersamaan dengan teriakan beberapa penonton lainnya. Risa hanya menutup sebelah kupingnya yang dekat dengan, Syifa namun pandangannya tidak lepas dari layar, sama seperti, Viona, Vigo, Luthfi dan Fahri yang serius menonton. Syifa menyeka air matanya yang keluar karna takut sampai sebuah tangan mengusap lembut kepalanya. Syifa mendongak dan mendapati, Luthfi yang sedang menatapnya. Luthfi meraih kepala, Syifa lalu menyandarkan di bahunya sambil terus mengusap kepala, Syifa yang sedang menangis


"Tutup mata loh kalau takut" bisik, Luthfi di kepala, Syifa. Syifa hanya mengangguk lemas dan beberapa kali menyeka air matanya


Luthfi mencoba melihat wajah, Syifa. Saat melihat wajah, Syifa yang basah, ia mengelus pelan pipi tersebut lalu kembali menatap layar. Tak satupun dari mereka kecuali, Fahri yang memperhatikan tingkah keduanya karna fokus dengan layar di depannya. Fahri hanya tersenyum lalu kembali menatap layar. Beberapa kali, Syifa terus berteriak dan menutup wajahnya hingga, Luthfi sendiri tidak bisa fokus menatap layar dan hanya sibuk menenangkan, Syifa meski matanya harus bergantian menatap Layar dan juga, Syifa

__ADS_1


Usapan di kepala, Syifa masih terus, Luthfi lakukan bahkan beberapa kali menyeka air mata, Syifa yang membanjiri kedua pipi gadis tersebut. Luthfi menyuruh, Syifa untuk tidak lagi menonton, dan membiarkan, Syifa untuk tidur saja. Ia akan membangunkannya ketika film tersebut sudah selesai diputar. Syifa hanya mengiakan karna memang dirinya terlalu takut untuk menonton


Syifa akhirnya benar-benar tertidur di bahu, Luthfi dengan belaian pada kepalanya yang lembut. Serta sesekali tangan, Luthfi mengelus pipinya untuk menyeka air matanya yang terus menetes hingga film itu berakhir. Hampir sejam lebih, Syifa tertidur. Hingga pada menit-menit terakhir film tersebut. Luthfi membangunkan, Syifa dengan menepuk-nepuk pipinya. Ia membangunkan, Syifa lebih awal agar tidak disadari oleh yang lainnya


Syifa mengerjap lalu mendongak kearah, Luthfi. "Udah selesai?" tanyanya dengan pelan


"Kurang dari sepuluh menit lagi" ucap, Luthfi pelan sambil melihat jam yang melingkar di tangannya


Syifa akhirnya memperbaiki posisi duduknya kembali hingga, Luthfi menarik tangannya dari menyangga kepala, Syifa tadi. Dan film tersebut akhirnya benar-benar selesai diputar. Mereka pun keluar dari studio tersebut.


"Gila. Filmnya keren banget" puji, Risa yang tidak berhenti mengoceh


"Yup. Benar banget. Keren banget proses pengambilan gambarnya" timpal, Viona


"Setannyan kayak nyata yah. Make upnya bagus" cetus, Vigo


"Ngga tau lagi deh gue mau ngomong apa. Keren banget pokoknya" seru, Risa


"Gimana?", Tanya, Fahri menepuk pelan pundah, Luthfi


"Bagus" jawab, Luthfi dengan santai


"Keren ngga, Fa?" tanya, Fahri kepada, Syifa


"Ngga tau", Syifa mengangat kedua bahunya. "Gue kan tidur" jawabnya enteng


"Loh tidur?" tanya, Viona dan Risa kompak. Dan, Syifa mengiakan


"Gila loh. Film sekeren itu tayang tapi loh cuma tidur doang?", Viona menggeleng sambil menepuk jidatnya


"Emang benar-benar yah loh", Risa berkacak pinggang sambil menggeleng


"Sampai segitu ngga sukanya loh film horor, Fa?" tanya, Vigo menaikkan kedua alisnya. Dan lagi-lagi, Syifa hanya mengangguk


"Mau langsung pulang atau makan dulu nih" tawar, Fahri sambil terus berjalan mengikuti yang lainnya


"Gimana ngga lapar kalau loh cuma tidur doang" ketus, Risa


"Bodo amat yah. Tidur juga butuh tenaga" seru, Syifa


"Ok. Makan, ayo" ajak, Luthfi sebelum perdebatan mereka berkepanjangan


Akhirnya mereka memilih restoran dengan pengunjung yang tidak terlalu ramai. Saat pelayan datang, mereka menyebutkan pesanan mereka masing-masing. Tidak beberapa lama pesanan mereka sudah datang


"Selamat makan" ucapan itu terlontar dari mereka satu persatu kecuali, Luthfi


Mereka memakan dengan sangat lahap. Sesekali dari mereka mengeluarkan gurauan untuk mengusir rasa sepi di meja makan. Kini, makanan mereka sudah tidak ada yang tersisa lagi.


"Kenyang gue" ucap, Viona sambil mengelus-elus perutnya


"Ngga boleh gitu", Vigo menarik tangan, Viona dari perutnya


"Kenapa?", Viona mengernyit heran


"Kalau kenyang tuh cukup bersyukur" saut, Fahri


"Oh sorry", Viona terkekeh sendiri


"Pulang yuk" ajak, Syifa


"Ayo".


Kali ini, Vigo yang membayar semua makanan meski yang lainnya bersikukuh ingin membayar sendiri. Namun, Vigo juga tidak mau mengalah hingga, Vigo lah yang membayar makanan tersebut.


"Tidurnya cukup ngga?" tanya, Luthfi kepada, Syifa saat mereka sudah berjalan keluar dari mall tersebut dengan, Luthfi dan Syifa berjalan paling belakang

__ADS_1


Syifa mengagguk dengan semangat. "Makasih" ucapnya dengan senyum tulus


Luthfi hanya membalas senyum, Syifa dengan mengelus kepalanya lalu tersenyum.


'Dia ternyata bisa senyum lebih manis juga yah' - batin, Syifa yang sudah mulai merona wajahnya


"Eh kalian berdua. Jangan pacaran mulu deh di belakang. Lelet jalannya" tegur, Risa yang menoleh ke arah, Syifa dan Luthfi


"Loh kalau ngomong tuh yang benar bisa ngga sih? Ini yang pacaran siapa coba? Tuh di samping loh ada mereka yang pacaran, malah negurnya ke gue" bantah, Syifa yang jengkel menunjuk, Viona dan Vigo


"Idih. Seenggaknya jalan gue ngga lelet yah kayak loh" sahut, Viona yang tidak kalah


"Terserah loh deh" pasrah, Syifa dengan malas


Karna tidak ingin mendengar perdebatan para gadis yang akan membuat kepalanya pusing. Luthfi memilih berjalan lebih cepat bahkan mendahului mereka hingga, Syifa merasa bahwa, Luthfi sedang marah


"Risa tuh. Luthfi jadi marah", Syifa melirik, Risa sinis


"Yang ada loh yang bikin dia marah. Kenapa jadi nyalah-nyalahin gue coba" sewot, Risa


"Tau ngga kenapa, Luthfi jalan duluan?" pertanyaan, Fahri sukses membuat, Syifa dan Risa menoleh kearahnya


"Kenapa emang?" tanya, Syifa


"Karna kalian ribut mulu jadi cewek" ucap, Fahri sambil berlalu menuju, Luthfi


"Sialan emang loh, Fahri" teriak, Risa saat, Fahri sudah menjauh


"Jangan malu-maluih deh, Sa. Loh teriak-teriak ngatain, Fahri sialan kayak loh habis dikhianati aja" seru, Viona karena beberapa orang tengah melihat kearah mereka saat ini dengan tatapan aneh


"Gara-gara loh nih kita diliatin banyak orang" timpal, Syifa yang juga kesal kepada, Risa karna sudah berteriak padahal mereka masih diarea mall


"Pusing gue. Gue duluan yah, Vio. Mau nyusul, Fahri sama Luthfi" ujar, Vigo lalu berlalu meninggalkan ketiga gadis tersebut


"Ya ampun. Kita ditinggal para cowok masa", Risa menatap kepergian ketiga lelaki tersebut


"Loh sih bikin malu" saut, Viona jengkel


"Teriak-teriak ngga jelas" timpal, Syifa


"Gue lagi" ketus, Risa


Viona dan Syifa hanya melirik, Risa malas. Mereka bertiga terus berjalan menuju lobby dimana mobil, Fahri terparkir. Saat melihat mobil, Fahri yang sudah menyala mesinnya. Para gadis masuk ke dalam mobil tersebut dimana para lelaki sudah berada disana menunggu mereka


"Lama banget kalian" cetus, Fahri saat para gadis sudah berada di mobil


"Loh pikir kita robot bisa jalan cepat" kesal, Risa yang duduk di samping kemudi, Fahri


"Ribet banget deh", Fahri hanya menggeleng enggan membalas


"Ayo jalan. Kenapa diam aja" seru, Viona yang berada di belakang


"Sabar bu'. Astaga", Fahri mulai melajukan kendaraan tersebut


Syifa menoleh kearah, Luthfi. Luthfi melihat, Syifa yang hanya menatapnya namun tidak bersuara. Luthfi menaikkan alisnya seperti bertanya ada apa. Namun, Syifa hanya menggeleng dan kembali meluruskan pandangannya


'Jadi dia benar ngga marah? Dia jalan duluan tadi karna ngga mau ngeliat gue sama Risa ribut? Haaa..." - batin, Syifa yang menghela napas


"Kenapa?" tanya, Luthfi pelan saat, Syifa menghela napas


Syifa menggeleng "Ngga apa-apa"


"Ngomongin apa sih kalian berdua di belakang? Ajakin gue juga dong? Udah kalian ngeasining gue ke depan, masa ia kalian juga cuekin gue juga? Kan ngga lucu" gerutu, Risa saat melihat, Syifa dan Luthfi berbincang


"Loh pikir cuma loh doang? Gue yang di sampingnya mereka aja, ngga tau mereka ngomongin apaan" protes, Viona

__ADS_1


"Ribet deh kalian ah. Orang ngga ngomongin apa-apa juga" kesal, Syifa kepada, Viona dan Risa


__ADS_2