
"Tenang aja. Biar gue yang ngomong sama dia", Luthfi menenangkan, Syifa dan terus menggenggam tangannya dalam saku jaketnya. Syifa hanya mengangguk dan tersenyum kepadanya.
Syifa memalingkan wajahnya keluar jendela karna takut, Luthfi melihat wajahnya yang kini memerah serta debaran jantungnya yang semakin menjadi-jadi.
Perjalanan yang ditempuh selama hampir satu jam, kini mereka telah tiba di penginapan mereka sebelumnya. Satu persatu keluar dari Bus tersebut dan kembali berkumpul untuk mendengarkan arahan para pembina mereka sebelum mereka beristirahat.
Pembina pun hanya menyampaikan untuk berkumpul jam 8 pagi dan tidak boleh ada yang terlambat. Setelah itu, mereka dibubarkan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
"Kok aneh banget yah kita disuruh pulang cepat? Terus sampai sini juga ngga ada kegiatan apapun malam ini", Viona melampirkan handuk di bahunya dan menghampiri, Syifa dan Risa yang membaringkan tubuh mereka di atas tempat tidur.
"Sejujurnya sih, gue juga ngerasa aneh. Tapi yah, bagus sih. Daripada kita lama-lama disana, kan mending kita balik kesini" saut, Risa yang menggeser posisinya untuk memberi ruang, Viona duduk.
"Loh bukannya mau mandi? Sana mandi dulu. Ngga usah ngomongin yang aneh-aneh" cetus, Syifa yang tidak bergeming dari posisinya.
"Gue kan cuma penasaran" tukas, Viona. "Ya udah deh. Gue yang mandi duluan. Kalian berdua terusin aja ngobrol ngga jelasnya", Syifa melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi meski, Viona sudah berteriak padanya.
"Kan gue duluan yang mau mandi. kenapa dia jadi ngeduluin gue coba sih" gerutu, Viona yang terpaksa kembali ke tempat tidur setelah langkahnya kalah cekat dari langkah, Syifa.
"Udahlah. Biarin aja. Lagian, dia emang ngga suka dengar cerita horor. Makanya dia selalu kabur kalau udah ada sinyal-sinyal bakal mengarah kesana pembicaraan kita" ujar, Risa dan Viona mengangguk mengerti setelahnya.
Syifa memang tidak suka mendengar orang-orang berbicara hantu dan sejenisnya. Pikirannya akan melayang sehingga dia akan takut sendiri nantinya. Dan itu sebabnya, Risa tidak pernah bicara hal-hal seperti itu jika hanya ada mereka berdua saja di rumah.
Viona dan Risa melanjutkan mengobrol namun membahas hal lain. Sampai, Syifa keluar dari kamar mandi yang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil ditangannya.
"Enak loh yah. Gue yang mau mandi duluan, kenapa malah loh yang ngeduluin gue" omel, Viona saat melihat, Syifa keluar dari kamar mandi dan menghampiri mereka di tempat tidur.
"Yah habisnya loh kebanyakan ngomong. Ya udah, daripada kamar mandi nganggur kan biar gue pake dulu" jawab, Syifa dengan santainya lalu duduk diantara, Risa dan Viona.
"Udah ah. Gue mau mandi dulu", Viona melangkah masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan, Syifa dan Risa disana.
"Loh ngga mau mandi, Sa?" tanya, Syifa tanya melihat, Risa. Ia hanya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecilnya.
__ADS_1
"Gila kali loh. Ya mau lah. Yakali gue ngga mandi sekarang. Selama di tenda aja gue cuma mandi sekali sehari. Badan gue rasanya benar-benar lengket banget", Risa memegang kulitnya yang mengering.
"Lebay loh ah", Syifa melempar handuk yang ia pake untuk mengeringkan rambutnya, ia lempar ke wajah, Risa hingga gadis tersebut mengerang kesal.
Ting
Risa yang melotot tajam kepada, Syifa menjadi terlihkan ke benda kecil di atas meja tersebut.
"Tuh, ada yang ngirim pesan di ponsel loh", Risa menyerahkan ponsel, Syifa kepada pemiliknya karna dia tidak jauh dari meja tersebut. Syifa meraih ponselnya dan membuka pesan yang baru saja dikirimkan oleh seseorang. Wajah, Syifa langsung mengernyit dan berkedip tidak beraturan.
"Dari siapa?" tanya, Risa setelah melihat raut wajah, Syifa yang kebingungan.
"Luthfi!" jawabnya menoleh. "Kenapa?", Risa ikut mengernyit. "Dia nyuruh gue keluar", Syifa mengangkat wajahnya melihat, Risa.
"Tumben dia nyuruh loh keluar?", Risa penasaran dengan, Luthfi yang tiba-tiba menyuruh, Syifa keluar.
"Mungkin ada yang penting", Syifa mencoba membuat, Risa, agar tidak berpikir macam-macam.
"Eh ia juga yah. Kan ngga mungkin banget juga, Luthfi minta loh, keluar kalau ngga ada yang penting. Ya udah deh, Fa. Sana loh temuin, Luthfi. Atau loh mau gue temenin?", Risa menawarkan bantuan kepada sahabatnya itu.
"Siap bos. Udah sana pergi" usir, Risa, "Pangeran loh ntar nunggu lama", Risa terkekeh sedang, Syifa hanya mencibir dan pergi dari sana untuk menemui, Luthfi.
Saat, Syifa sudah berada diluar, ia tidak melihat siapapun berada disana. Saat hendak meraih ponselnya di saku celananya, satu tangan menariknya dari arah samping. Hampir saja, Syifa berteriak namun dengan cepat satu tangan membekap mulutnya.
"Hobi banget teriak-teriak", Luthfi melepas tangannya dari mulut, Syifa. Setelah, Syifa tau bahwa orang tersebut adalah, Luthfi, ia mencubit perut, Luthfi dengan kesal hingga pria tersebut meringis.
"Sakit", Luthfi mengusap perutnya bekas cubit, Syifa. "Biarin. Ngapain juga sih? Hobi banget bikin gue jantungan" gerutu, Syifa yang cemberut.
"Jangan marah-marah. ini", Luthfi mengeluarkan satu buah obat vitamin dan sebotol air putih lalu menyuruh, Syifa meminumnya.
"Apa ini?", Syifa meraih vitamin tersebut dari tangan, Luthfi dan memperhatikan dengan seksama, "Obat?" dahi, Syifa mengkerut
__ADS_1
"Itu vitamin" sahut, Luthfi.
"Vitamin?" ulang, Syifa dan Luthfi mengangguk.
"Vitamin buat apa? Gue kan ngga lagi sakit?"
"Itu vitamin buat penambah stamina"
"Tapi stamina gue masih bagus kok"
"Stamina loh rendah. Minum ini ", Luthfi langsung mengambil vitamin tersebut dari tangan, Syifa dan menaruh di depan mulut gadis itu. Syifa refleks membuka mulut dan vitamin tersebut masuk ke dalam mulutnya.
Lalu, Luthfi membuka penutup botol minum tersebut dan menyuruh, Syifa meminumnya. Luthfi tersenyum lega ketika vitamin tersebut sudah berhasil, Syifa telan.
"Cuaca saat ini buruk dan sangat dingin. Tapi loh kenapa keluar ngga pake jaket" Luthfi meraih tubuh, Syifa dan membenamkan ke dalam tubuhnya hingga, Luthfi meligkarkan jaketnya di punggung, Syifa yang berada dalam dekapannya.
Syifa yang terkejut dan tidak siap mendadak menjadi batu, tubuhnya kaku, seluruh tubuhnya gemetar, ia bahkan merasakan dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki semuanya adalah jantung baginya karna semuanya mendadak berdegup kencang.
"Jangan keluar malam-malam kalau ngga penting" ucap, Luthfi dan Syifa hanya mengangguk, "Jangan telat makan, karna loh punya sakit maag", Lagi-lagi, Syifa hanya mengangguk.
"Selama disini, jangan keluar tanpa memakai jaket", Syifa terus saja mengangguk tanpa mau menjawab.
"Ngerti ngga semua yang gue bilang tadi?" tanya, Luthfi karena sedari tadi, Syifa hanya mengangguk tanpa mau membalas.
"Gue dengar kok", Syifa sedikit mendongak untuk untuk membuat, Luthfi percaya bahwa ia benar-benar mendengarkan, Luthfi berbicara.
"Dan jangan dekat dengan pria manapun", Luthfi menyibakkan anak rambut yang menghalangi pandangan, gadis tersebut.
Syifa yang mendengar larangan, Luthfi langsung mengangguk dengan cepat menatap bola mata, Luthfi yang selalu membuatnya kalah.
Luthfi terkekeh saat melihat raut wajah, Syifa "Kenapa?", Syifa mengernyit.
__ADS_1
"Apa sekarang loh lagi belajar patuh sama perkataan calon suami?", Lutfi menahan tawanya. Wajah, Syifa tiba-tiba memerah dan sangat malu.
Ia lalu mendorong tubuh, Luthfi yang masih mendekapnya. Ia kemudian berlari kembali masuk ke dalam penginapan dan dan segera menuju kamarnya yang terus mengutuk kebodohannya tanpa pamit kepada, Luthfi