Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Cubitan di pipi


__ADS_3

"Ngga" sahut, Luthfi menarik pelan tangannya


"Ngga gimana? Ini tangan loh bengkak loh bilang ngga sakit" seru, Syifa saat, Luthfi menarik tangannya


"Bilang aja, Fi sakit. Biar si, Syifa ini puas" celoteh, Risa yang disamping, Syifa


"Ish. Ngaco. Ngomong tuh yang benar", Syifa memukul pelan tangan, Risa


"Yah habisnya loh ngga percaya" cetus, Risa


"Syifa sama Luthfi tuh kalau dilihat-lihat kayak orang pacaran gitu yah? Padahal engga" seru salah satu dari mereka


"Ia. Kalau bukan dari jurusan kita, udah pasti ngira mereka pacaran"


"Luthfi cuek sama orang baru, tapi care sama teman sendiri"


"Ia benar tuh. Gue jadi pengen diperhatiin, Luthfi


"Tapi kalau misalkan mereka berdua pacaran juga cocok tuh"


"Ngga mungkin deh kayaknya. Syifa kan lagi dekat sama, Reza"


"Syifa juga dekat sama, Luthfi"


"Itu karna mereka teman sekolah dari dulu"


Syifa melirik, Luthfi saat salah satu dari menyebut nama, Reza. Namun, Luthfi hanya melihat kearah lain serta enggan untuk mendengarkan ocehan teman-teman kelasnya


"Gue sama, Reza juga cuma teman kok kayak yang lain", Syifa menjelaskan kepada teman-temannya sempat bersuara tadi


"Tapi gue lihat, Reza kayaknya suka deh sama loh, Syifa"


"Ia benar. Reza emang baik sama siapa aja. Tapi cuma sama, Syifa dia bisa tersenyum manis banget kayak tadi diruang sebelah"


"Ngga kok. Kalian salah paham deh" bantah, Syifa mengayungkan tangannya


"Udah. Terima aja, Syifa. Reza baik kok"


"Jadi pasangan yang serasi juga"


Saat, Syifa hendak bersuara, ketua tingkat mereka masuk kelas dengan tergesa-gesa. Ia kemudian menarik napas lalu membuangnya.


"Santai aja. Kenapa?" tanya, Vigo


"Tau loh. Kayak diburu hantu aja" timpal, Viona


"Teman-teman. Hari ini tidak ada lagi kuliah. Dosen menyuruh semua mahasiswa untuk pulang karna tim akreditasi kampus akan datang hari ini" tutur ketua tingkat mereka setelah lebih santai


"Yeaahhhh" teriakan gembira pun tercipta


"Serius loh" girang, Risa yang sudah ingin lompat-lompat


"Dih. Kalau loh senang ngga usah nanya-nanya deh" gerutu, Syifa dengan malas


"Terserah gue dong" sewot, Risa yang tidak ingin kalah


Syifa hanya memutar malas bola matanya. Sedangkan para lelaki hanya bisa menggeleng kepala yang lagi-lagi tercipta karna perdebatan keduanya. Untung saja, Viona tidak ikut berdebat


"Jalan-jalan yuk?" usul, Fahri ditengah-tengah perdebatan kedua gadis tersebut


"Ayo" jawab, Risa, Viona dan Vigo serentak


"Mau kemana tapi?" usulan, Fahri sukses membuat, Risa meninggalkan perdebatannya dengan, Syifa


"Kemana aja" saut, Fahri menaikkan kedua bahunya


"Loh ngga mau ikut, Fi?"tanya, Vigo yang memutar badannya menghadap, Luthfi


"Ngga tau" jawab, Luthfi tanpa menoleh. Ia hanya melihat punggung tangannya


"Gue bilang juga apa. Tangan loh pasti sakit kan? Sini biar gue obatin?", Syifa hendak meraih tangan, Luthfi


"Emang loh punya obat?" pertanyaan, Risa sukses membuat, Syifa menarik kembali tangannya sebelum meraih tangan, Luthfi


"Oh ia yah. Gue kan ngga punya obat" ucap, Syifa dengan polos menggaruk pelipisnya


Luthfi hanya menatap, Syifa


"Gini aja. Ada film bagus yang tayang di bioskop hari ini. Kita nonton aja. Terus nanti di mobil, Syifa bisa ngobatin luka, Luthfi. Di mobil gue ada kotak P3K" usul, Fahri dengan tegap


"Film apa?" tanya, Viona


"Horor" saut, Fahri


"Wah. Seru tuh" seru, Risa dengan semangat


"Ayo deh kalau horor. Menantang tuh" timpal, Vigo

__ADS_1


Luthfi melirik, Syifa


"Jadi ikut kan loh, Fi?" tanya, Fahri


"Syifa ngga suka film horor" saut, Luthfi melirik, Syifa


"Loh ngga suka film horor, Fa?" tanya, Viona


"Syifa mah paling takut sama film horor. Belum apa-apa aja udah teriak duluan" cetus, Risa


"Serius, Fa?", Vigo memastikan


Syifa hanya mengangguk lemah.


"Gue lemah di film horor. Bawaannya pengen teriak mulu gue. Kalau setannya datang kan gue takut" sautnya dengan polos


"Kalau loh takut, loh bisa meluk, Luthfi" usul, Fahri yang mendapat dekikan tajam dari, Syifa


"Loh juga bisa meluk gue, Risa, Viona, Vigo. Kita kan teman" imbuhnya dengan menahan tawa


"Nah loh. Makanya jangan ge'er dulu loh" tawa, Risa pecah bersamaan dengan, Syifa mencibir


"Udah ah dramanya. Ayo jalan" ajak, Viona yang sudah bangkit dari duduknya


"Ayo. Biar gue bisa ngobatin luka loh di mobilnya, Fahri" ajak, Syifa kepada, Luthfi


"Luka hati bisa loh obatin juga ngga, Fa?" goda, Fahri yang sudah terlebih dahulu kabur sebelum, Syifa mengamuk


Yang lain hanya terkekeh dengan tingkah, Fahri dan Syifa. Akhirnya mereka keluar dari kelas dan berjalan menuju parkiran yang dimana sudah ada, Fahri di depan kemudi. Vigo dan Luthfi tidak membawa kendaraan, karna semalam mereka menginap dirumah, Vigo. Hingga pagi ini memutuskan bahwa, Fahri yang akan membawa kemudi, biar, Luthfi menyimpan mobilnya dirumah, Vigo


"Loh duduk di depan, Sa" perintah, Vigo kepada, Risa


"Kok gue", Risa menunjuk dirinya sendiri


"Terus, di belakang loh mau jadi nyamuk?" tanya, Viona namun dengan nada candaan


"Ish. Kalian mah jahat ih", Risa membuka pintu depan mobil tersebut lalu masuk dan membantingnya kembali


"Pelan-pelan, Sa. Rusak mobil gue" tegur, Fahri namun tidak diindahkan oleh, Risa


Viona dan Syifa sudah mulai memasuki mobil tersebut. Viona dan Syifa duduk ditengah. Di belakang kemudi ada, Luthfi. Dan di belakang, Risa ada, Vigo


"Muka loh kenapa? Tadi loh yang paling senang. Sekarang muka loh kayak nenek-nenek keriput tau ngga" pertanyaan sekaligus pernyataan, Fahri sukses membuat semua yang duduk di belakang terbahak


"Ih", Risa memukul lengan, Fahri. "Sembarang loh kalau ngomong. Loh ngga lihat ada yang lagi mau pacaran di belakang sampai nyuruh gue duduk di depan" sewot, Risa dengan kesal namun lagi-lagi disambut tawa oleh mereka


"Udah ah dramanya. Kotak P3K loh mana, Ri?" tanya, Syifa


Fahri membuka laci depan lalu mengeluarkan kotak P3K. "Ini", Fahri menyerahkan kotak tersebut kepada, Syifa


"Makasih", syifa meraih kotak tersebut lalu menaruhnya di pangkuannya. Syifa perlahan meraih tangan, Luthfi yang luka. Luthfi tidak membantah, ia hanya menurut


Syifa mulai mengoles obat merah pada punggung tangan, Luthfi. Tangan, Luthfi sedikit terangkat, ia pun memalingkan wajahnya keluar jendela


"Perih yah?" tanya, Syifa pelan. Luthfi hanya mengangguk. "Tahan bentar yah", Syifa kembali mengolesi obat merah meski, Luthfi beberapa kali menahan perih


"Teriak aja, Fi kalau sakit" seru, Risa menoleh kearah, Luthfi


"Gengsi lah. Dia kan cowok" saut, Viona yang juga ikut menoleh


"Loh pikir cowok bisa nahan perih?" pertanyaan, Fahri sukses membuat, Vigo dan Viona saling menatap lalu terdiam. Mereka berdua sama-sama tau bagaimana, Fahri dulu menahan perih hatinya


"Dikit lagi". Syifa mulai melilitkan perban ke tangan, Luthfi yang luka. Luthfi menatap, Syifa yang masih menunduk meniup tangannya sambil melilitkan perban


Fahri melirik dibalik spion tengah lalu menaikkan satu alisnya kepada, Luthfi saat, Luthfi menyadari, Fahri sedang memperhatikannya. Luthfi mengangkat tangannya membelai lembut kepala, Syifa. Syifa tidak bergeming sama sekali karna fokus melilitkan perban tersebut


"Lihat sini coba? Gue mau lihat mata loh", Luthfi meraih dagu, Syifa saat ia telah selesai melilitkan perban tersebut


Ketiga lainnya seketika menoleh mendengar, Luthfi yang menyuruh, Syifa melihat dirinya. Berbeda dengan, Fahri yang hanya bisa melihat dari spion karna sedang menyetir. Jantung, Syifa bahkan sudah berdetak kesana-kemari. Luthfi membelai rambut, Syifa. Lalu beralih membelai pipinya, dan berhenti tepat dengan elusan pada kelopak mata, Syifa hingga gadis tersebut harus menutup mata


"Mata loh masih sakit?" tanya, Luthfi yang membuat keempat lainnya merasakan ikut deg-degan sama seperti yang dirasakan, Syifa. Syifa menggeleng pelan


"Kirain masih sakit. Padahal ini ada obat merah buat tetesin di mata loh biar perihnya ilang" mendengar ucapan, Luthfi keempatnya langsung terbahak lalu disambut cubitan pada perut, Luthfi dari, Syifa. Mereka semua mengira, Luthfi akan mengatakan hal romantis, namun ternyata ia malah bergurau


"Loh pengen gue buta dan ngga bisa ngeliat dunia lagi?" seru, Syifa dengan kesal


"Ngakak gue. Sumpah" ujar, Viona yang tidak berhenti tertawa


"Sejak kapan loh, Fi bisa bergurau?", Risa bahkan memegang perutnya karna tidak bisa berhenti tertawa


Sedangkan, Syifa hanya menekuk wajahnya. Bersamaan dengan rona merah pada pipinya yang sudah sempat malu, namun malah dipatahkan oleh, Luthfi. Luthfi melirik, Syifa lalu berusaha menahan tawanya


"Gue berguru sama, Vigo dan Fahri" saut, Luthfi yang berusaha menahan tawanya


"Ngga sia-sia loh, Fi jadi anak murid gue" tawa, Vigo kembali meledak


"Jadi dibayar berapa nih kita" cetus, Fahri yang juga tidak bisa berhenti tertawa

__ADS_1


"Udah ah. Syifa ngambek tuh. Ayo loh, Fi tanggung jawab" seru, Viona saat, Syifa tidak bersuara sama sekali


"Wah bisa lama tuh kalau, Syifa ngambek" celoteh, Risa. Syifa mendekik tajam kepada, Risa


"Ampun datu", Risa mengatupkan kedua tangannya lalu setengah membungkuk seperti sedang meminta maaf kepada seorang ratu. Namun, Syifa tidak membalas


"Ayo loh, Fi. Ngambek tuh anak orang" seru, Vigo yang memperhatikan, Syifa yang duduk diam dengan mencibir


"Tenangin dong, Fi" timpal, Fahri yang masih fokus menyetir namun sesekali ia melirik ke spion tengah


Luthfi hendak mengangkat tangannya namun, Syifa langsung menepisnya. "Jangan sentuh gue" seru, Syifa dengan kesal. Luthfi hanya menahan senyumnya yang diikuti keempat lainnya. Mereka semua berusaha menahan tawa mereka


"Kalau tau gini. Ngga bakal mau gue ikut kalian. Mending gue dirumah aja sambil rebahan. Yang diobatin juga ngga tau terima kasih", Syifa terus mengoceh hingga mereka benar-benar harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan tawanya


"Ia maaf. Dan terima kasih", Luthfi mengusap lembut kepala, Syifa.


"Ngga usah. Udah lambat juga" cibir, Syifa meski sudah tidak menepis lagi tangan, Luthfi yang ada di kepalanya


"Lama nih ngambeknya. Lama nih" cetus, Risa yang mendapat dekikan tajam dari yang lainnya


"Jangan marah-marah terus. Nanti cepat tua", Luthfi beralih menunjuk-nunjuk pipi, Syifa dengan pelan


"Gimana ngga marah coba. Loh nyumpahin gue ngga bisa ngeliat. Kesal lah gue" kesal, Syifa setengah merengek


"Loh aja yang baperan. Tadi aja kalian ngeasining gue buat duduk di depan sini. Lebih kesal gue lah. Sakit hati gue tau ngga sama kalian" seru, Risa yang ikutan kesal


"Kenapa loh jadi ikut-ikutan kesal" saut, Viona malas


"Kenapa? Loh sakit hati?" tanya, Syifa dengan nada sewot


"Sakit hatilah gue" sewot, Risa yang tidak kalah


"Mulai deh kalian" tegur, Fahri melirik, Risa dan Syifa


"Ngga ada habis-habisnya", Vigo memijat pelipisnya


"Sini. Biar gue taburin obat merah ini ke hati loh biar perihnya ilang" ujaran, Syifa sukses membuat semuanya tertawa termasuk, Risa yang juga ikut tertawa


"Ngelawak loh, Fa?" tanya, Fahri di sela-sela tawanya


"Ngga. Bergurau aja gue" jawab, Syifa enteng yang lagi-lagi membuat semuanya tertawa puas


"Perut gue sakit sumpah", Risa terlihat memegang perutnya sambil tertawa


"Gue sampai ngeluarin air mata coba" timpal, Viona yang meyeka sudut matanya yang berair namun tawanya belum hilang


"Benar-benar menjadi hiburan" tukas, Vigo yang menggeleng dengan tawanya


"Jadi udah ngga marah lagi kan?" tanya, Luthfi dengan pelan hingga hanya, Syifa yang bisa mendengarnya


Namun, Syifa hanya melirik tanpa bersuara. Satu cubitan di pipi, Syifa sukses membuatnya merintih. "Awwww", Syifa memegang pipinya lalu menatap tajam, Luthfi. "Luthfi sakit!!!!!" teriak, Syifa yang membuat semuanya menoleh kepada mereka berdua


"Loh kenapa, Fa?" tanya, Viona saat melihat, Syifa memegang pipinya


"Pipi gue dicubit, Luthfi", Syifa mengadu kepada, Viona layaknya anak kecil


"Astaga, Fa. Loh bikin gue jantungan. Gue kira loh diapa-apain sampai teriak-teriak segala" seru, Risa dengan malas


"Loh cuma dicubit doang sampai teriak gini?" tanya, Viona lalu, Syifa mengangguk dengan polos. "Ampun deh. Punya teman gini amat", Viona menepuk jidatnya


"Ngga jelas banget sumpah" jengah, Risa menatap lurus ke depan


"Ayo, Fi. Ngapain loh nyubit-nyubit pipi, Syifa?" goda, Vigo dengan senyum jahilnya


"Gemas yah loh, Fi" timpal, Fahri dengan menahan senyumnya


"Gue nanya, tapi dia ngga mau jawab" saut, Luthfi dengan santai


Mereka hanya menggeleng dengan tingkah keduanya. Benar-benar menjadi hiburan tersendiri. Mereka kemudian sampai di salah satu mall, Fahri terlebih dahulu memarkirkan mobilnya di lobby sebelum mereka memasuki mall tersebut


"Kalian tunggu disini, biar gue yang pesan tiket" ujar, Fahri sambil berlalu


"Tuh anak mau traktir kita?" tanya, Risa saat, Fahri sudah pergi


Vigo dan Viona hanya mengangguk. "Tumben dia baik" cetus, Risa


"Ngga tau terima kasih banget loh" sindir, Syifa melirik, Risa


"Eh. Gue nanya yah. Ngga usah nyolot dong loh" seru, Risa


"Fahri emang dari dulu baik kok" potong, Vigo


"Dia juga dulu sering ngajak kita nonton yah, Go. Terus dia yang bayar tiketnya" sahut, Viona


"Makanya jangan su'udzon" cetus, Syifa


"Atau loh ke ge'eran?" goda, Luthfi lalu disambut deheman yang lainnya.

__ADS_1


"Bisa ngga sih, Fi. Loh kalau ngomong tuh yang waras dikit" gerutu, Risa


__ADS_2