
Luthfi mengajak sahabat-sahabatnya untuk berkumpul di rumah, Syifa dan Risa. Viona awalnya menolak karna ia sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Namun, Syifa berusaha membujuknya dan menyuruh gadis itu untuk menginap di rumahnya. Kini, tampak mereka duduk melantai di depan TV dengan menyandarkan punggung mereka ke sofa.
"Loh mau ngomong apaan sih, Fi? Tumben loh nyuruh kita semua kumpul. Biasanya juga loh yang paling malas ngajak anak-anak ngumpul" seru, Vigo memecah kediaman mereka beberapa detik yang lalu.
"Ia. Gue mau ngomong sesuatu. Dan itu penting bagi gue", Luthfi melirik, Syifa, "Dan juga, Syifa".
Risa dan Viona begitu terkesiap dengan perkataan Luthfi.
"Bentar-bentar. Kok bawa-bawa nama, Syifa? Ada apa ini? Apa ada sesuatu diantara kalian yang ngga gue tau?", Risa melihat, Luthfi dan Syifa secara bergantian.
"Dengerin mereka dulu, Risa" tegur, Fahri. Risa menghela napas, "Lanjutin" ucapnya.
"Bulan depan, gue sama, Syifa mau nikah" pernyataan, Luthfi membuat keempatnya terkejut bukan main. Terlebih, Risa yang sama sekali tidak menahu tentang sahabatnya yang akan menikah itu.
"Kemarin saat di tenda, gue sempat ngelamar, Syifa. Tapi, Syifa harus minta persetujuan dari orang tua dia dulu. Dan kemarin, orang tua gue datang kerumah, Syifa untuk melamarnya, dan baru hari ini diterima lamarannya. Gue harap kalian ngga berpikir macam-macam. Gue sama Syifa bukan bermaksud mau menyembunyikan ini dari kalian. Gue juga lamarnya mendadak. Gue harap kalian bisa ngerti" imbuhnya
"Gila. Ini gue benar-benar ngga percaya", Risa menghela napas dan melihat ke seluruh ruangan dengan tatapan kosong.
"Kalian lamaran dan baru ngasih tau kita sekarang?", Risa tertawa pekik.
"Risa. Bukan gitu. Kemarin gue belum bisa ngomong sama loh karna gue sendiri belum ngomong sama orang tua gue. Dan gue juga baru jawab lamarannya tadi saat di Bus. Ini mendadak banget, gue sendiri ngga nyangka" jelas, Syifa memegang tangan, Risa.
"Tapi harusnya loh ngomong sama gue" ketus, Risa.
"Risa?", Viona menggeleng. "Syifa, gue senang banget dengar ini", Viona memeluk, Syifa dengan gembira.
"Gue nyangka loh bakal nikah sama, Luthfi secepat ini".
"Loh aja ngga nyangka. Apalagi gue? Berasa ngga tau apa-apa gue. Hah" lagi-lagi, Risa menghela napas.
"Kan gue udah bilang kalau ini mendadak. Gue aja ngga tau" ujar, Syifa yang melepas pelukan, Viona.
"Emang dari kapan sih kalian jadian? Kok ngga ngasih tau gue?", Risa masih kesal karna merasa, Syifa menyembunyikan status baru mereka.
"Jadian apaan sih maksud loh?", Syifa mengerutkan dahinya. "Yah jadian loh sama, Luthfi lah" tukas, Risa.
__ADS_1
"Emang yang bilang gue jadian sama, Luthfi siapa?", Syifa mulai terlihat kesal kepada sahabatnya itu. "Tadi loh bilang udah mau nikah kan?" tanya, Risa dengan polosnya.
"Gue mau nikah bukan berarti gue harus jadian dulu kan?" seru, Syifa yang kesal.
"Jadi, kalian ngga pacaran dan langsung mau nikah?" tanya, Risa dengan hebohnya. Syifa menggetok kepala, Risa, "Otak loh ini perlu loh bersihin. Barangkali udah lumutan di dalam saking ngga pernahnya loh bersihin" omel, Syifa dengan kesal kepada, Risa
"Biasa, Fa. Risa kan jomblo", Viona terkekeh. "Mulai yah loh. Mentang-mentang ada pacar loh" gerutu, Risa yang selalu saja mendapatkan ledekan dari teman-temannya perkara kejombloannya.
"Jadi kapan kalian nikah?" tanya, Fahri.
"Bulan depan, Fahri. Tadi, Luthfi udah jawab bulan depan" bukannya, Luthfi atau Syifa yang menjawabnya, malahan yang menjawabnya, Risa.
"Emang loh tau di bulan depan mereka nikah tanggal berapa?" tanya, Fahri menatap kesal, Risa.
"Ngga", Risa menggeleng tanpa rasa bersalah.
"Ya udah makanya loh diam" perintah, Fahri
"Setelah ujian bulan depan" jawab, Luthfi sekaligus menghentikan perdebatan keduanya. "Cepat banget, Fi" cetus, Viona.
"Awalnya juga gue pengennya pass lulus kuliah aja. Tapi kata, Luthfi kelamaan. Soalnya kan kalau kita udah punya niat yang baik, harus disegerakan. Ya udah, gue ngikut aja. Mommy sama Ayah gue juga udah setuju, biar gue ada yang jagain disini" jelas, Syifa kepada teman-temannya.
"Tapi Mommy sama Ayah ngga ngomong macam-macam kan? Yah loh tau sendiri, banyak mahasiswa yang rusak setelah mereka jauh dari rumah" ujar, Risa dengan kekhawatirannya. Ia sudah terbiasa memanggil orang tua, Syifa dengan sebutan yang sama dengan yang, Syifa sebut.
"Ngga kok. Gue sendiri juga bingung. Tapi orang tua, Luthfi yang berhasil meyakinkan Mommy sama Ayah. Loh sendiri kan tau gimana Ayah kalau udah nyangkut masalah anak dan nikah" jelas, Syifa
"Makanya itu gue heran, Fa. Ayah kan pernah bilang ngga mau menikahkan anaknya kalau masih sekolah atau kuliah. Takut calonnya nanti orang yang ngga bisa nafkahin anak-anaknya. Tapi kok, sekarang Ayah malah nerima lamaran, Luthfi", Risa yang lumayan mengenal orang tua, Syifa benar-benar bingung
"Berarti orang tua, Luthfi top banget minta lamarannya" cetus, Viona memberikan jempol kepada, Luthfi.
"Sekali lamar langsung terima" timpal, Vigo yang terkekeh. "Gue sih berdoa yang terbaik buat kalian" timpal, Fahri. "Gue juga", Risa memeluk sahabatnya itu.
"Loh ngelakuin sesuatu yang benar", Vigo menepuk pundah, Luthfi, "Loh berani mengambil resiko. Semoga loh benar-benar bisa ngebahagiain, Syifa. ucapnya.
"Apapun keputusan loh, kita pasti bakal selalu ngedukung loh" timpal, Fahri.
__ADS_1
"Persahabatan cowok emang keren banget yah" cetus, Viona yang begitu takjub. "Ia benar. Keren banget" timpal, Risa yang menggelengkan kepalanya.
"Kalian ngga mau istirahat? Gue pengen istirahat dulu", Syifa meminta izin mereka. "Oh ia. Kalian cowok-cowok tidur disini aja yah. Gue, Viona, sama, Syifa tidur di kamar" perintah, Risa.
"Terserah loh", Fahri merebahkan tubuhnya, lalu diikuti, Vigo dan Luthfi. Sementara para gadis masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Syifa yang berada di tengah sudah hendak tertidur, "Fa?" panggil, Risa. "Hmm" hanya deheman yang keluar dari mulut, Syifa.
"Loh benaran ngga jadian sama, Luthfi kan selama ini?" pertanyaan, Risa membuat mata, Syifa terbuka. "Loh ngga percaya sama gue?", Syifa malah bertanya balik
"Kan gue cuma nanya" ketus, Risa. "Nanya apa nanya loh", Viona terkekeh sendiri. "Apaan sih? Emang benar kok kalau gue cuma nanya" bantah, Risa.
"Tidur aja, Sa. Besok aja loh nanyanya sama, Syifa. Ngga kasian apa loh sama, Syifa yang udah pengen banget tidur dari tadi, tapi loh aja ngobrol terus dia" ujar, Viona
Risa akhirnya berhenti dan memejamkan matanya. Viona pun mengikut. Tinggal, Syifa yang merasa kantuknya hilang setelah pertanyaan, Risa. Ia terus sibuk berperang dengan pikirannya yang sudah dihantui ketakutan-ketakutan tentang pernikahan.
Syifa bahkan bergidik ngeri ketika membayangkan ada orang ketiga diantara mereka berdua hingga pernikahan mereka mulai retak
"Bodoh. Ngapain juga gue mikirin hal-hal yang ngga penting gini" batinnya
*
*
*
*
*
*
*
Hay. Nunggu pernikahan, Luthfi sama Syifa yah? hehe, sabar yah. Mudah2an bsk bisa nikah mereka 🤭 Oh ia, aku cuma mau ngasih tau juga, kalau eps kemarin itu, udah aku up malam2 sekitar jam 9, tpi gk tau knp proses reviewnya lama banget, hingga memakan waktu hampir sehari, padahal biasanya paling lama sekitar 2/3 jam gitulah reviewnya. Tapi mungkin adminnya lagi berkunjung ke rumah keluarga kali yah 🤭 jadinya proses review dianggurin selama beberapa jam. Ini aja aku gk tau, bakal ke up malam ini atau bsk lagi 🤭 Dan teman-teman, jgn lupa yah untuk selalu like, komen dan beri tip. Tadinya aku gk minat nulis mlm ini, tapi krn lihat komen dan chat privat, jadinya aku paksain buat nulis 🤭 Terima kasih atas dukungannya
__ADS_1