Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Kalian ngga salah


__ADS_3

"Gue ikut loh dong, Fi" seru, Celia yang bergelantung di lengan, Luthfi. Luthfi melirik tajam tangan, Celia yang bergelantung di lengannya. Celia melepaskan tangannya setelah mendapat lirikan tajam dari, Luthfi


"Loh kan punya senter sendiri" ujar, Luthfi tanpa menatap, Celia. "Syifa juga punya senter sendiri", Celia menunjuk senter di tangan, Syifa. "Senter, Syifa kan mati" cetus, Fahri.


"Ya udah nih senter gue buat, Syifa aja. Biar gue ngikut di, Luthfi aja", Celia memberikan senternya kepada, Syifa. Syifa hanya menerima senter tersebut tanpa membantah namun mendongkol dalam hati


"Cari perhatian banget loh" seru, Fahri lalu mengambil ranselnya dan kembali menyenter sekitarnya yang sekira ia bisa lebih leluasa untuk meneliti.


"Biarin. Bilang aja loh cemburu" saut, Celia dengan bangga. "Ogah", Fahri mendahului mereka untuk berpindah tempat


Setelah kelompok mereka mendapatkan tempat penelitian yang tepat, mereka kemudian mulai berbagi tugas. Syifa di bagian laporan karna ia memang suka menulis dan tulisannya pun rapi. Fahri dibagian meneliti bersama, Celia. Dan, Luthfi dibagian pengontrol kelompoknya dan akan membantu jika kelompoknya jika ada yang kesusahan.


***/


"Tulis yang benar, Vi. Banyak banyak coretan salahnya" protes, Risa saat melihat banyak coretan kesalahan di laporan mereka.


"Sabar, Sa. Ntar gue nulisnya disini yang asli", Viona memperlihatkan selembar kertas lagi kepada, Risa. "Ini catatan cadangan doang"


"Oh kirain", Risa terkekeh.


"Sudah berapa kata?" tanya, Reza mendekati, Risa dan Viona.


"Hitung loh, Sa" perintah, Viona.


"Enak aja. Vigo aja nih. Hitung, Go", Risa yang disuruh, Viona malah menyuruh, Vigo pula.


"Dasar cewek" pasrah, Vigo dan mengambil catatan di tangan, Viona


"Kalau sudah bagus, salin ulang yah, Viona" perintah, Reza dengan lembut.


"Siap bos", Viona menaikkan tangannya di pelipis seperti prajurit yang sedang hormat, "Tenang aja selama gue ada disini" ucapnya dengan bangga


"Lebay loh" celetuk, Risa.


"Biarin. Wle", Viona menjulurkan lidahnya kepada, Risa.


"Jangan ribut, ntar gue lupa udah ngitung berapa" sergah, Vigo

__ADS_1


"Risa nih", Viona menunjuk, Risa.


"Kok gue? Ya eluh lah", Risa tidak ingin kalah dan menunjuk, Viona pula.


"Mulai deh mulai" kesal, Vigo


Akhirnya, Risa dan Viona bungkam namun saling mengumpat hingga membuat, Reza hanya menggeleng dan tersenyum dengan tingkah ketiga teman kelompoknya


***/


"Ayo ambil foto", Fahri yang memegang kamera segera mencari pemandangan indah di belakangnya. Kemudian disusul oleh, Luthfi, Syifa dan Celia


Cekret


Satu foto sudah berhasil diambil oleh, Fahri. Saat foto kedua kembali ingin diambil, Celia berisiatif untuk berdiri di sebelah, Luthfi karna, Luthfi berada di antara, Syifa dan Fahri. Celia kemudian menarik lengan, Syifa ke belakang dan menggeser posisinya untuk menggantikan posisi, Syifa. Namun, Syifa yang tidak siap dengan tarikan tangan, Celia membuatnya tidak bisa menjaga keseimbangan hingga akhirnya terjatuh ke belakang dengan sangat keras


"Awwwwwww" teriakan, Syifa berikan setelah bokongnya menyentuh tanah dengan sangat keras. Tangannya yang menjanggal ikut merasa ngilu akibat benturan yang mendadak baginya


"Syifa" teriak, Luthfi dan Fahri.


"Loh ngga apa-apa?" tanya, Luthfi yang panik. Sedang, Celia hanya berdiri mematung tidak tau apa yang ada di pikirannya saat ini


"Pinggang gue sakit, Fi" rintih, Syifa. "Tangan gue juga sakit", Syifa semakin merintih kesakitan. "Sini, gue bantuin berdiri. Ayo, Ri", Luthfi dan Fahri membantu, Syifa berdiri namun, Syifa malah merintih kesakitan


"Gue ngga kuat. Pinggang gue sakit, tangan gue sakit" ujar, Syifa bersamaan dengan butiran bening yang keluar dari matanya. Luthfi langung melirik, Celia "Loh sengaja kan? Ngedorong, Syifa sampai dia jatuh", Luthfi sudah berdiri di hadapan, Celia.


"Loh lagi, loh lagi", Fahri menggeleng namun tidak bergeming dari tempatnya


"Gue ngga sengaja, Fi. Beneran" jelas, Celia yang mulai gemetar. "Gue ngga ngedorong, Syifa. Gue cuma mau tukaran posisi sama dia. Sumpah, gue ngga bohong", Celia menaikkan telunjuk dan jari tengahnya yang menandakan bahwa ia tidak berbohong


"Buat apa?" rautan dingin di wajah, Luthfi sangat terlihat hingga nyali, Celia semakin ciut dibuatnya. Luthfi yang hendak membalas perkataan, Celia dihentikan oleh, Syifa


"Kok kalian malah ribut sih? Bantuin gue" rengek, Syifa yang masih belum berhenti menangis. Luthfi segera menghampiri, Syifa. "Loh bisa berdiri ngga" tanya, Luthfi dan Syifa menggeleng lemah. "Pinggang gue sakit banget, Fi", Syifa terus menangis


"Loh gendong aja deh, Syifa. Biar gue yang bawa barang-barangnya" usul, Fahri. Luthfi sejenak berpikir sebelum mengiyakan


"Bantuin, Syifa naik punggung gue, Ri" perintah, Luthfi. Fahri pun hendak mengangkat, Syifa. "Loh mau ngapain, Ri?" tanya, Syifa menepis tangan, Fahri. "Gue mau bantuin loh naik ke punggung, Luthfi" jelas, Fahri. "Kenapa?" tanya, Syifa dengan polos di sela-sela isaknya

__ADS_1


"Loh ngga mau pulang" ucapan, Fahri membuat, Syifa menggeleng. "Mau. Gue mau pulang".


"Ya udah, naik ke punggung, Luthfi. Biar, Luthfi bisa gendong loh" saut, Fahri dan, Syifa akhirnya mau


"Loh ngapain masih berdiri disitu? Bantuin, Fahri ngangkat, Syifa" perintah, Luthfi kepada, Celia. "Ehh.. I... Ia", Celia gugup segera membantu, Syifa untuk naik ke punggung, Luthfi meski ia tidak rela melakukannya


"Pelan-pelan, Fi" cetus, Fahri saat, Syifa sudah mendarat di punggung, Luthfi. Luthfi pun bangun dengan perlahan agar, Syifa tidak merasakan sakit.


"Sakit ngga", Luthfi melirik, Syifa. Syifa hanya mengangguk dengan menahan rasa sakit di pinggangnya.


"Ayo" ajak, Fahri. "Loh jalan duluan" perintah, Fahri kepada, Celia. Celia hanya menurut meski ia ingin sekali membantah, namun situasi saat ini berbeda.


"gara-gara, Syifa gue jadi gini. lebay banget sih itu anak. Bilang aja pengen digendong sama, Luthfi" umpat, Celia.


Syifa yang merasa pinggangnya semakin merasa nyeri hanya berusaha sekuat tenaga menahannya. Air matanya terus menetes di pundak, Luthfi. Ia juga semakin mengeratkan tangannya di leher dan dada, Luthfi. Luthfi yang merasakan, Syifa mengeratkan tangannya perlahan mengangkat tubuh, Syifa yang sedikit melorot dari punggungnya.


"Sakit banget yah?", Luthfi menoleh kearah, Syifa yang terpaut hanya 5 cm dari wajahnya dan, Syifa hanya mengangguk. "Tahan yah? Bentar lagi kita sampai. Syifa hanya terus mengangguk menahan rasa sakit pada pinggang dan nyeri pada tangannya. Butiran bening yang keluar dari matanya tidak berhenti sama sekali hingga jaket, Luthfi benar-benar basah dibuatnya


Syifa yang sesekali terisak membuat, Luthfi ingin segera cepat sampai ke tenda mereka. Namun, ia juga tidak bisa berjalan lebih cepat karna akan membuat, Syifa semakin merasakan sakit pada pinggangnya.


"Kalau sampai, Viona dan Risa tau ini, gue ngga tau seberapa kecewanya mereka sama kita, Fi" cetus, Fahri di belakang, Luthfi dan Syifa.


"Jangan nyalahin diri kalian. Ini bukan salah kalian kok" ujar, Syifa di sela-sela isaknya


"Gue dan Luthfi gagal ngejaga loh, Fa" seru, Fahri yang menampakkan wajah kecewanya. "Jangan ngomong gitu. Kalian ngga salah", Syifa berusaha menenangkan, Fahri dan Luthfi yang gagal menjaga dirinya.


"Fi?" panggil, Syifa dengan pelan.


Luthfi hanya berdehem tanpa menoleh kearah, Syifa.


"Gue benar-benar ngga apa-apa kok" ucapnya dengan pelan. Namun, Luthfi tidak menanggapinya. Syifa yang tidak bisa lagi membujuk kedua temannya itu akhirnya pasrah dan menaruh dagunya di pundak, Luthfi


"Bisa banget dia nyari muka" guman, Celia


***/


Hay semuanya. Terima kasih atas dukungannya. Kalau kalian suka novel ini, jangan lupa like dan vote yah. Komen juga kalau mau, ngga mau juga ngga apa2 kok. Hehe.

__ADS_1


__ADS_2