Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Calon orangtua muda


__ADS_3

Fahri melajukan kendaraannya untuk membawa, Syifa ke rumah sakit di dampingi teman-temannya yang tiba-tiba saja ia pingsan dan sempat muntah di pagi hari


"Ayo" ajak, Fahri setelah menginjak rem tepat di halaman parkiran rumah sakit


Tanpa menunggu lama. Luthfi segera mengangkat tubuh, Syifa dan segera membawanya hingga perawat membantunya yang berada di depan pintu masuk rumah sakit tersebut


***


"Ehem. Kalian masih sekolah atau?..." ucap Dokter perempuan yang baru saja memeriksa, Syifa


"Kami sudah kuliah Dok" sahut, Risa


"Apa dia juga masih kuliah?" tanya Dokter itu pelan sambil menunjuk, Syifa


"Ia Dok. Ada apa? Apa yang terjadi Dok?" desak, Luthfi yang tidak ingin lagi mendengar basa basi


"Siapa kekasihnya?" tanya Dokter itu


"Saya Dok. Kenapa?" tanya balik, Luthfi


"Seperti anda harus bertanggung jawab" tukas Dokter yang menatap iba pada, Syifa


"Maksud Dokter?", Luthfi menautkan kedua alisnya


"Dia hamil!" ucap Dokter itu


"Hamil?" teriak mereka


"Ia. Seharusnya kalian berdua tidak boleh melakukan hal diluar batas orang berpacaran. Bagaimana jika orangtua kalian tau dan malu?", Dokter itu memberi peringatan karna tidak tau jika, Luthfi saat ini ada suami dari pasiennya yang sedang hamil


"Maaf Dokter. Tapi kami tidak berpacaran. Dia istri saya" tukas, Luthfi yang sudah tau arah pembicaraan Dokter itu


"Istri? Sebaiknya anda tidak perlu berkata seperti itu. Saya sangat paham dengan pergaulan anak muda jaman sekarang. Apalagi di usia kalian yang sudah berkuliah" tutur Dokter tersebut


Luthfi berdecak kesal lalu meraih dompetnya yang berada di saku celananya. Lalu mengambil sesuatu disana sebelum memberikannya pada Dokter itu


"Ini buku pernikahan kami jika Dokter tidak percaya", Luthfi menyodorkan buku nikahnya


Dokter itu sedikit terkejut dan menerima buku nikah milik pria yang ada di depannya. Ia dengan teliti melihat tannggal, bulan dan tahun pernikahan yang tertera di buku nikah itu


"Ini sekitar dua bulan yang lalu" batin Dokter itu


"Kalian menikah terlalu muda. Maaf, saya sudah salah paham" Dokter itu menyerahkan buku pernikahan milik, Luthfi


"Mereka memang sudah menikah dua bulan yang lalu Dok" betis, Risa


"Bahkan kami saksi dari pernikahan mereka" tukas, Viona


"Jadi apa teman kami benar-benar hamil Dok?" tanya, Fahri


"Ya. Selamat. Anda sebentar lagi akan menjadi Ayah" ucap Dokter tersebut dan mengulurkan tangannya pada, Luthfi


"Terima kasih Dok" sahut, Luthfi yang tersenyum


"Selamat bro. Bentar lagi loh jadi bapak" ledek, Vigo yang merangkul pundak, Luthfi. "Ngga sia-sia loh selama ini berguru sama gue" imbuhnya hingga membuat, Luthfi dan Fahri tertawa


"Vigo" bentak, Viona


"Bercanda, Vio", Vigo tersenyum manis pada, Viona


"Saya permisi dulu" ujar Dokter itu lalu keluar meninggalkan ruangan


"Aaa. Gue senang banget" seru, Risa menghampiri, Syifa yang masih terpejam matanya


"Pelan-pelan, Sa. Syifa belum bangun" tegur, Fahri


"Syifa?" panggil lembut, Luthfi pada pipi, Syifa


"Terus gimana nanti sama kuliah, Syifa, Fi?" tanya, Viona yang baru teringat tentang itu

__ADS_1


"Ia yah. Gue baru ingat" timpal, Risa


"Gue sama Syifa udah pernah bicarain ini. Tapi gue harus tunggu dia bangun dulu dan bicara baik-baik lagi" sahut, Luthfi tanpa memindahkan tatapannya pada wajah terlelap istrinya


"Loh ngga mau nelpon orangtua loh, Fi? Mertua loh juga" ujar, Vigo


"Gue tunggu, Syifa bangun, Go" tukas, Luthfi


Mata, Syifa perlahan bergerak. Dan terbuka dengan sangat pelan hingga cahaya yang masuk harus ia sesuaikan


"Syifa"


Senyuman di bibir teman-temannya menyeringai sempurna di wajah mereka. Syifa melihat satu persatu teman-temannya dan berhenti tepat di wajah suaminya yang tersenyum tulus padanya.


Belum sempat ia berbicara, mulutnya mengembung hingga ia harus bangun dari tempat tidurnya dan kebingungan harus membuang cairan yang sudah mengembung di mulutnya itu


"Disini, Fa", Viona dengan cepat mengambil tempat sampah yang ada di dalam ruangan itu


Dan tanpa sempat protes. Syifa mengeluarkan isi cairan yang membuat perutnya begitu nyeri itu. Dokter langsung masuk ke ruangan ketika mendengar suara muntahan dari pasiennya


"Permisi! Saya akan memeriksanya dulu", Dokter itu mengambil alih dan, Syifa disuruh kembali untuk berbaring agar lebih memudahkan Dokter memeriksa kondisinya


"Ada apa dengan istri saya Dok? Kenapa dia terus muntah-muntah?" tanya, Luthfi


"Tidak apa-apa. Ini sudah biasa terjadi di awal kehamilan. Apalagi istri anda terlalu muda. Saya akan memberikan resep untuk mencegahnya mual di pagi hari. Serta makanan apa saja boleh istri anda makan disaat sedang hamil muda" tutur Dokter itu


"Apa? Hamil?" tanya, Syifa yang begitu terkejut mendengar penuturan Dokter


"Ia. Anda sedang hamil. Dan usia kandungan anda sudah memasuki minggu ketiga" ujar Dokter


"Minggu ketiga?" seru, Risa dan Viona bersamaan


"Ia. Ini sudah memasuki minggu ketiga. Saya berharap anda berhati-hati. Karna janin anda masih sangat belia" peringat Dokter


"Baik Dok. Terima kasih" ucap, Luthfi


"Anda bisa ikut saya dulu ke depan untuk menerima resepnya" ajak Dokter itu


Setelah kepergian, Luthfi yang mengikuti, Dokter. Syifa menatap tidak percaya pada kedua sahabatnya. "Gue beneran hamil?" tanyanya dengan pelan


"Ia, Fa. Loh hamil! Gue senang banget dengarnya" seru, Risa yang begitu senang


"Akhirnya kita bakal punya ponakan" tukas, Viona


Syifa masih diam tanpa ekspresi apapun di wajahnya. Matanya mengerjap menyesuaikan apa saja yang baru ia dengar


"Kenapa, Fa?" tanya, Fahri


"Loh ngga senang, Fa?" cetus, Vigo


Syifa memperhatikan temannya satu persatu, lalu ia mencoba untuk bangun dibantu oleh, Viona dan Risa. Sesaat ia mentap perutnya lalu menaruh telapak tangannya disana


"Disana ada ponakan gue, Fa" cetus, Risa dengan pelan agar, Syifa tidak terlalu tertekan


Syifa menatap, Risa dan kembali menatap perutnya. Senyuman diwajahnya mulai terlihat. "Gue beneran hamil?" tanyanya pada teman-temannya dan mereka semua mengangguk sambil tersenyum


Mata, Syifa berkaca-kaca dengan senyum yang mengembang sempurna di wajahnya. "Gue hamil? Gue senang banget" air mata bahagianya tak dapat lagi ia bendung


Risa dan Viona yang begitu terharu berhambur memeluk sahabatnya itu yang sebentar lagi akan menjadi orangtua muda


"Selamat, Fa. Sebentar lagi loh sama Luthfi akan jadi orangtua" ucapan selamat terdengar dari mulut, Fahri yang tersenyum senang padanya


"Semoga loh sama Luthfi bisa jadi orangtua yang terbaik untuk anak kalian kelak", Vigo ikut memberi ucapan pada, Syifa dengan senyum senang yang menghias wajahnya


"Selamat sayangku. Gue benar-benar senang banget dengarnya", Risa memeluk erat tubuh, Syifa


"Gue juga senang banget. Sehat-sehat selalu bumilku" ucap, Viona yang mengusap perut, Syifa


"'Bumilku' apaan?" tanya, Fahri

__ADS_1


"Ibu hamil, Fahri" cetus, Risa


"Terus "ku"-nya apa?" tanya, Vigo


"Ibu hamil ku" seru, Viona


"Astaga", Vigo dan Fahri berdecak


Ketiga gadis itu justru tertawa mendengar decakan kedua pria yang tidak tau singkatan itu. Luthfi terlihat baru saja kembali dari menemui Dokter


"Ayo pulang" ajaknya pada yang lain


"Sudah bisa pulang?" tanya, Vigo


"Mana ada pemeriksaan kandungan harus sampai nginap?" ketus, Viona


"Loh bisa tau cara bikin anak. Tapi kek gini aja loh payah" ledek, Fahri hingga membuat, Vigo dan Luthfi tertawa bersamaan


"Jangan mulai deh, Ry" tegur, Viona


"Fahri ini, mulai ikut-ikutan" ketus, Risa


"Bercanda sayang" ujar, Fahri


Wajah, Risa memerah mendengar, Fahri memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Hingga kini tawa mereka pecah karna, Risa tidak berkutik


"Ciee. Risa baper" ujar, Viona yang tertawa


"Apaan sih? Yang baper siapa coba?" bantah, Risa


"Gitu aja baper. Dasar jomblo" seru, Fahri lalu tertawa puas


"Fahri? Loh?", Risa yang geram menunjuk, Fahri


"Udah-udah. Ayo kita pulang dulu" sergah, Syifa yang tidak menyukai aroma rumah sakit sakit


"Sini", Luthfi membantu, Syifa untuk turun dari, tempat tidur


"Cieee. Calon orangtua muda yang baru" ledek, Risa


"Jangan baper luh, Sa", Fahri balik meledek, Risa


"Diam loh! Gue lagi marah sama loh. Jangan ajak gue ngomong" seru, Risa menatap tajam, Fahri


"Baperan" cetus, Fahri menahan tawa


"Udah, Sa" cegah, Viona ketika, Risa hendak membuka mulut untuk membalas


"Nanti loh bisa balas, Fahri kalau kalian udah nikah" cetus, Vigo


"Ngaco" gerutu, Risa


"Udah-udah. Ayo pulang" ajak, Luthfi. "Pelan-pelan yah", Luthfi menuntun, Syifa


Syifa merasa sangat senang karna, Luthfi semakin memperhatikan dirinya. Ia tidak menyangka akan diberi kepercayaan secepat ini. Ia benar-benar bersyukur atas kehadiran buah cintanya yang berada dalam rahimnya saat ini


"Terima kasih" ucap, Syifa pada, Luthfi dengan senyum yang tak pudar dari bibirnya


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


Maaf yah. Upnya rada kemaleman. Soalnya badan masih kurang vit 🙏🏻 Jangan lupa like dan votenya yah teman2 🤗


__ADS_2