
"Udah. Ayo" ajak, Fahri kepada, Celia.
"Ayo. Gue yakin banget bisa menang kali ini" ucap, Celia dengan penuh percaya diri.
"Dan loh jangan nyela omongan gue", Celia memperingatkan, Fahri yang memang selalu menyela perkataannya.
"Ngga usah banyak omong loh. Ayo" seru, Fahri.
"Hati-hati, dan semoga bisa menang yah" seru, Syifa kepada kedua teman kelompoknya.
"Jangan berantem mulu disana biar bisa menang" timpal, Luthfi.
"Yah kalau nih anak ngga nyari gara-gara" tukas, Fahri yang melirik, Celia.
"Yang ada juga loh yang nyari gara-gara sama gue" saut, Celia yang sewot melirik tajam, Fahri
"Udah. Sana pergi" perintah, Luthfi. Celia dan Fahri pun pergi menuju tenda pembina untuk melakukan penelitian kedua mereka. Syifa kemudian membersihkan tenda mereka tanpa bergerak dari tempatnya.
Ia hanya melipat selimut-selimut milik ketiga temannya dan juga dirinya, serta menyusun bantal yang mereka pakai semalam. Luthfi sendiri pamit ke toilet meninggalkan, Syifa sendiri disana.
"Ini, Luthfi ke toilet apa kemana sih? Lama banget. Udah tau ngga ada siapa-siapa disini. Mana sepi banget lagi" gerutu, Syifa yang berbicara dengan dirinya sendiri
Suara langkah mendekat ke tendanya. Jantung, Syifa berpacu dengan cepat seiring dengan langkah yang semakin mendekat sedang, Luthfi tidak ada sana.
Syifa berusaha mengambil napas dan berpikir positif.
Ia terus berdoa dalam hati, tubuhnya mulai bergetar dengan ketakutan-ketakutan yang berkeliaran di kepalanya. Saat suara langkah tersebut semakin mendekat, Syifa meringsut dan memejamkan matanya sampai satu tangan memegang bahunya.
"Aaaaa.... ", Syifa berteriak sangat keras dan satu tangan dengan cepat membekap mulutnya. Syifa yang masih memejamkan matanya memukul-mukul tangan yang membekap mulutnya.
"Syifa sakit" ringisnya, "ini gue, Luthfi. Loh kenapa sih?", Luthfi berusaha menenangkan, Syifa. Syifa membuka lebar matanya dan menemukan, Luthfi di hadapannya, Ia langsung memukul dada, Luthfi.
"Loh ngapain coba nakut-nakutin gue?" seru, Syifa dengan kesal yang masih memukul dada, Luthfi.
"Yang nakutin loh siapa? Gue kan ngga ngapa-ngapain", Luthfi meraih tangan, Syifa
"Badan gue sakit loh pukul" ujarnya pelan.
Syifa dengan cepat menarik tangannya
"Yah ngapain coba loh jalan ngendap-endap gitu kalau ngga nakut-nakutin gue?" seru, Syifa yang masih kesal
__ADS_1
"Suara loh bisa pelanin dikit ngga sih? Nanti orang-orang jadi salah paham" tegur, Luthfi dengan pelan.
"Ngga bisa! Kenapa emang?" sewot, Syifa yang mengembungkan sedikit pipinya.
Luthfi menghela napas dan memutar malas bola matanya, "Loh kapan ngga ngeselinnya sih", Luthfi mencubit gemas pipi, Syifa meski ia sedang menahan kesal. Wajah, Syifa langsung memerah dan malu-malu.
"Aaaaaaaa. Gue baper. Tanggung jawab dong loh" kata-kata itu hanya terucap di hati, Syifa tanpa mau mengeluarkannya.
"Ngga usah ngegodain gue", Syifa melepas tangan, Luthfi dari pipinya.
"Yang ngegodain siapa?" tanya, Luthfi yang tersenyum melihat wajah, Syifa yang memerah karna malu.
"Ngapain senyum-senyum gitu? Loh ngeledek gue yah?" sifat menyebalkan, Syifa kembali muncul.
"Jangan ngeselin kalau pipi loh ngga mau gue cubit lagi" mendengar ucapan, Luthfi, Syifa langsung memegang kedua pipinya
"Jangan coba-coba", Syifa memperingatkan.
"Ngga akan kalau loh ngga ngeselin" ucap, Luthfi dengan senyumnya yang membuat jantung, Syifa berdegup kencang. Namun ia selalu bisa menguasai raut wajahnya meski sedang berdebar.
"Gue ngeselin juga loh tetap suka sama gue" setelah ucapannya lolos dari mulutnya, ia langsung menutup mulutnya dengan keras, matanya membulat sempurna, wajah merahnya kembali menghias, beberapa kali mengutuk mulutnya yang masih sempat-sempatnya kecoplosan. Kini, ia sangat malu untuk menatap, Luthfi.
Luthfi yang mendengarnya langsung tertawa begitu keras. Syifa tertegun mendengar tawa, Luthfi. Ini pertama kali baginya mendengar, Luthfi bisa tertawa begitu keras.
"Ini loh, Fi?" tanya, Syifa dengan pelan. Luthfi menghentikan tawanya dan berdehem untuk menetralkan tawanya.
"Maaf, gue jadi ketawa" ujar, Luthfi dengan sungkang dan menggaruk kepalanya yang salah tingkah
"Gue belum pernah lihat loh ketawa lepas gitu" ucap, Syifa dengan polosnya.
"Loh ngga suka?" tanya, Luthfi. Syifa menggeleng dengan cepat, "Bukan gitu. Gue suka kok. Tapi kayaknya bakal aneh sih kalau loh ketawa gitu depan teman-teman" ujarnya.
"Jadi loh maunya gue ketawa gini depan loh aja?" ledek, Luthfi dan, Syifa mengangguk, "Ia" Jawabnya dengan polos, "Eh maksudnya bukan gitu", Syifa panik sendiri dengan ucapannya yang lagi lolos dari mulutnya. Ia memukul pelan bibirnya yang selalu saja keceplosan bila berhadapan dengan, Luthfi
Luthfi hanya terkekeh, "Ngga apa-apa. Gue ngga akan ketawa seperti tadi depan teman-teman" ucapnya.
"Ho'om. Bakal aneh sih jadinya. Loh yang terkenal cuek dingin angkuh, sombong, jarang senyum apalagi ketawa, tiba-tiba bisa ketawa lepas juga. Aneh lah", Syifa menyebut semua sifat, Luthfi di matanya dan di mata teman-temannya dengan polos.
Lagi-lagi, Luthfi terkekeh, "Seburuk itu gue di mata loh?" tanya, Luthfi yang bermaksud menggoda, Syifa.
Syifa pun mengangguk, "Tapi gue malah suka" jawabnya yang lagi-lagi keceplosan. Ia menutup rapat mulutnya dengan malu.
__ADS_1
"Sejak kapan?" tanya, Luthfi dengan serius.
"Apanya?", Syifa malah bertanya balik, tidak mengerti pertanyaan, Luthfi. "Suka sama gue. Sejak kapan?", Luthfi mengulang pertanyaannya.
"Apaan sih, Fi nanya itu", Syifa menjadi salah tingkah dan berusaha menghindari pertanyaan, Luthfi.
"Ngga mau jawab?", Luthfi memicingkan matanya kearah, Syifa. Gadis tersebut menggelang dengan keras
"Ngga mau. Loh sendiri sejak kapan suka sama gue?", Syifa malah menyerangnya dengan pertanyaan yang sama dengan, Luthfi
"Selalu saja membalikkan pertanyaannya" guman, Luthfi
"Itukan pertanyaan gue, Syifa" geram, Luthfi
"Itu juga pertanyaan gue, Luthfi", Syifa membalas tatapan geram, Syifa.
"Gue selalu kalah sama dia" guman, Luthfi
"Jadi gimana? Mau jawab apa ngga nih?" tanya, Syifa yang tidak sabar.
"Ngga" jawab, Luthfi dengan cepat.
"Kok gitu sih?" ketus, Syifa yang tidak terima.
"Loh sendiri ngga mau ngasih tau gue" saut, Luthfi dengan santai.
"Habis loh baru gue, Fi" kesal, Syifa yang menautkan kedua alisnya dengan pipi dan bibir yang sedikit mengembung
"Sekali-kali loh duluan" perintah, Luthfi.
"Ngga maulah. Gue kan cewek. Yakali gue yang ngomong duluan" tolak, Syifa dengan keras.
"Dasar gadis gengsi" guman, Luthfi dengan mendesah.
"Daripada loh Pria cuek" seru, Syifa yang mendengar ucapan, Luthfi padahal, Luthfi sudah memelankan suaranya namun masih tetap bisa di dengar oleh, Syifa
***
***
***
__ADS_1
***
Jangan lupa untuk like dan votenya yah teman-teman. Terima Kasih 🤗