Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Cewek baik-baik


__ADS_3

"Banyak banget di luar sana yang viral dimana-dimana, cuma karna ditinggal nikah doang" cetus, Risa melap ingusnya dengan tangannya


"Risa jorok" seru, Fahri yang menunjuk tangan, Risa


"Apaan sih? Ngga usah kampungan deh" gerutu, Risa


"Jorok banget sih loh, Sa. Tuh ada tissu", Syifa melemparkan sekotak tissu ke arah, Risa


"Ngga usah sok jijik deh" ketus, Risa


"Pantesan loh ditinggal nikah, Sa" cetus, Vigo


"Maksud loh apa?" sahut, Risa dengan kesal


"Loh aja jorok kek gini. Pantesan mantan loh lebih milih nikah sama cewek lain" ledek, Vigo


"Vigo" geram, Risa dengan menggertakkan giginya. Ia hendak menghampiri, Vigo namun ditahan oleh, Viona


"Jangan berani nyentuh cowok gue" ancam, Viona


"Benar-benar yah kalian" gerutu, Risa yang kembali duduk dengan kesal, "Gue lagi sedih. Bukannya dihibur kek gitu. Ini malah gue tetap aja dibully"


"Habisnya loh bucin" tukas, Fahri


"Loh juga bucin" seru, Risa


"Emang gue bucin ke siapa? Ngarang nih" cetus, Fahri menunjuk, Risa


"Sama-sama bucin harusnya saling menguatkan" ledek, Syifa


"Males banget gue" ketus, Risa yang cemberut menyilangkan tangannya


"Udah kayak bebek aja bibir loh", Fahri menarik bibir, Risa yang manyung


"Fahri sakit" teriak, Risa yang menepis kasar tangan, Fahri


"Berantem mulu. Tadi sama-ama cemburu" ledek, Luthfi yang rambut, Syifa


"Cemburu apaan coba? Siapa yang cemburu? Emang gue mau cemburu ke siapa juga" tukas, Risa


"Ngarang nih, Luthfi" timpal, Fahri


"Siapa yang ngarang. Emang benar kok. Tadi, Risa cemburu sama temannya, Viona itu. Terus, Fahri juga tadi cemburu karna, Risa mau ketemu sama, Dika. Pake acara ngambek segala lagi ngga mau datang. Giliran dengar, Risa pulang nangis-nangis, eh langsung gercep datangnya" tutur, Syifa


"Buset dah bumil. Terang-terangan" ucap, Vigo


"Sembarangan loh kalau ngomong, Fa" seru, Risa yang kini wajahnya sudah memerah


"Siapa yang cemburu? Siapa yang ngambek? Gue tadi capek. Makanya ngga niat kesini" bela, Fahri


"Alah. Pake acara ditutupin segala" tukas, Viona


"Biasa, Vi. Gengsi mendominasi" ledek, Luthfi


"Syifa kedua nih sih, Risa sifatnya" ujar, Vigo


"Apaan gue? Gue ngga gengsi yah" seru, Syifa yang tidak terima


"Vigo nih. Istri gue ngga pernah gengsi" bela, Luthfi yang memeluk istrinya, "Cuma ngga mau jujur aja sama perasaannya sendiri" lanjutnya yang membuat ke-empat temannya tertawa. Namun tidak dengan, Syifa yang mencubit perutnya hingga mendesis


"Ngomong sembarangan" kesal, Syifa


"Lama-lama daging di perut gue ilang dikit-dikit nih" cetus, Luthfi yang mengusap perutnya yang sakit akibat cubitan, Syifa


"Tuh kan ngomongnya ngawur lagi" seru, Syifa dengan manja


"Ngga. Bercanda", Luthfi kembali memeluk istrinya untuk menenangkannya


"Syifa nih makin galak aja" cetus, Risa


"Bawaan hamil, Sa" tegur, Fahri


"Nikah aja deh kalian berdua. Sini gue nikahin biar cepat. Biar bisa ngerasain hamil juga loh, Sa. Pengen lihat gue gimana kalau loh hamil nanti" kesal, Syifa yang ia tunjukkan pada, Risa


"Bumil nih marah-marah mulu" tegur, Viona


"Ngga baik loh, Fa marah-marah terus" cetus, Vigo


"Mana udah gede lagi perutnya" timpal, Fahri


"Bodo amat" guman, Syifa

__ADS_1


"Jadi gimana, Sa?" pertanyaan, Luthfi membuat, Risa mengerutkan kening


"Apa? 'Jadi' apa maksud loh?"


"Tentang, Dika. Jadi kelanjutannya gimana?", Luthfi memperjelas


"Apaan sih, Fi" gerutu, Risa yang kembali ingin menangis


"Nangis nih. Nangis" ledek, Viona


"Ditinggal nikah aja sampai nangis. Cuma ditinggal mantan juga. Coba aja loh ditinggal pacar, baru deh boleh nangis. Ini, cuma mantan doang ditangisin", Fahri menggelengkan kepalanya


"Loh ngga ngerti aja gimana rasanya jadi gue" kesal, Risa yang kembali menangis, "Coba loh bayangin, gimana kalau loh ditinggal nikah sama, Dini? Loh pasti sakit hati kan?" tanyanya


"Ngga. Gue biasa aja" sahut, Fahri


"Biasa aja, Sa. Kecuali ditinggal nikah sama loh. Baru deh, Fahri sakit hati" ledek, Syifa


"Patah hati terberat" timpal, Luthfi yang meledek keduanya


"Nangis juga ngga yah?" ledek, Viona yang menahan tawanya


"Nangis lah, Vio. Ditinggal nikah sama orang tersayang gimana ngga sakit" cetus, Vigo


"Diam kalian. Kenapa jadi ngeselin?" teriak, Risa yang terisak namun lucu


"Emang loh mau nikah? Sama siapa?" tanya, Fahri


"Sama loh" seru, Risa tanpa sadar dan hanya sekedar berucap


"Cieeeee"


"Lampu hijau, Ri" seru, Vigo


"Pepet terus" ujar, Viona


"Jantang dong loh, Ri" cetus, Syifa


"Kalau gue sih langsung nikahin" timpal, Luthfi


"Malas banget gue" ketus, Risa


"Tapi sorry, gue belum siap" ucap, Fahri lalu tertawa


"Hallah. Loh pikir gue ngga tau apa" cetus, Syifa


***


"Elus dulu perut aku" perintah, Syifa kepada, Luthfi yang tengah membaringkan tubuhnya di samping, Syifa


Kini. Mereka sudah berada di rumah. Beberapa saat yang lalu, Syifa dan Luthfi meninggalkan rumah, Risa setelah gadis itu sudah merasa lebih baik. Fahri dan Vigo pun ikut pulang. Hingga tersisa hanya, Risa dan Viona saja di rumah itu


Dengan sabar, Luthfi setiap malam harus mengelus perut, Syifa sebelum tidur. Rutinitas itu sudah setiap malam ia lakukan ketika menjelang tidur selama usia kehamilan, Syifa menginjak tiga bulan


"Jangan bosan-bosan ngelus perut aku yah" ujar, Syifa yang sebenarnya kasian. Namun ia juga tidak bisa menahan jika perutnya tidak dielus oleh suaminya


"Ngga. Aku ngga pernah ngeluh" sahut, Luthfi mencium kening, Syifa sambil tetap mengelus perut besar yang usinya kini sudah hampir memasuki bulan ke-enam


"Aku kangen kuliah" cetus, Syifa yang menghembuskan napasnya menatap langit-langit kamarnya


"Kangen kuliah atau kangen seseorang di tempat kuliah?" tanya, Luthfi


"Siapa?", Syifa malah bertanya balik dan menoleh pada, Luthfi


"Kok malah balik nanya?" sahut, Luthfi


"Yah kan aku ngga tau siapa yang kamu maksud" gerutu, Syifa


"Makanya aku nanya" tukas, Luthfi


"Emang aku mau kangen sama siapa di kampus? Orang sama teman-teman aja ketemu tiap hari" sahut, Syifa yang kembali menatap langit-langit kamarnya


"Beneran yah ngga ada?" tanya, Luthfi yang seperti sedang menyelidik


"Ngga ada. Apaan sih. Sana tidur. Besok kan kamu ada ujian. Udah terakhir juga. Nanti ajak aku jalan-jalan" perintah, Syifa yang menoleh pada, Luthfi


"Aku kan masih ngelus perut kamu" protes, Luthfi


"Ngga usah. Tidur sana", Syifa mengusap wajah, Luthfi untuk membuat mata suaminya terpejam


Luthfi berdecak kesal. Namun tidak berani membantah. Dan lebih memilih menurut daripada harus melayani ocehan, Syifa seperti malam-malam sebelumnya yang suka membicarakan hal-hal diluar kepala, Luthfi

__ADS_1


***


"Akhirnya selesai" seru, Viona dengan senang ketika ujian semester genap telah berakhir.


"Otak gue rasanya membeku" cetus, Risa yang merenggangkan otot-ototnya


"Sulit banget yah, Sa?" tanya, Vigo dengan penuh maksud


"Parah ini, Go" jawab, Risa seperti biasa


"Lebih sulit mana, jawab soal-soal yang tadi atau ditinggal nikah sama mantan" ledek, Vigo


"Vigo" geram, Risa


"Ayo pulang. Kita kan ada janji mau ngajakin, Syifa jalan-jalan setelah ini" cetus, Luthfi yang langsung teringat pada istrinya ketika ujian itu telah berakhir


"Ayo. Gue juga gerah lama-lama disini" sahut, Fahri


"Gimana ngga gerah. Orang yang diomongin tentang mantannya, Risa terus. Ya ialah gerah, cemburu" ledek, Viona


"Mulai deh, Viona" ketus, Risa


"Udah ayo" ajak, Luthfi


Kini, mereka sedang menuju parkiran. Tempat mobil, Vigo, Fahri dan Luthfi, berada. Vigo pergi bersama, Viona. Fahri dengan, Risa. Sedangkan, Luthfi hanya sendiri. Karna ketiga pria itu membawa mobil masing-masing


Setelah mereka sampai. Syifa sudah terlebih dahulu membukakan pintu dengan pakaian yang sudah sangat rapi dan wajah yang berseri-seri


"Cantik banget" puji, Luthfi yang mencium kening dan pipi, Syifa


"Mulai deh" tegur, Risa


"Tinggal tutup mata aja loh sana, Sa" cetus, Fahri


"Tau nih. Kerjaannya ngiri mulu" tukas, Viona


"Maklum. Kan baru ditinggal nikah" ledek, Vigo hingga membuat yang lainnya tertawa, kecuali, Risa


"Vigo. Geram", Risa


"Udah ayo" ajak, Fahri, "Pake mobil gue aja yah" lanjutnya


"Ayo. Gue udah siap-siap juga dari tadi" sahut, Syifa


Fahri mengambil alih kemudi, Vigo di sebelahnya seperti biasa. Sedangkan di kursi belakang dihuni oleh, Viona, Risa, Syifa dan Luthfi secara berurut


"Jadi mau kemana dulu nih?" tanya, Fahri sebelum melajukan kendaraannya


"Taman hiburan" jawab, Syifa dengan cepat


"Ok bumil" tukas, Fahri yang kini sudah melajukan kendaraannya menuju sesuai perintah, Syifa. Yaitu, taman hiburan


Sepanjang perjalanan. Ketiga gadis itu tidak berhenti mengoceh satu sama lain. Suara tawa terus terdengar dengan cerita-cerita lucu mereka. Ketiga pria itu hanya bisa menggeleng karna sudah biasa mendengar ketiganya seperti itu


"Ayo turun" perintah, Fahri setelah kendaraannya sudah terparkir dengan sempurna


"Akhirnya ke taman ini lagi" ucap, Syifa yang menghirup lekat-lekat udara yang masuk ke indra penciumannya


"Ayo", Luthfi merangkul pundak, Syifa


"Syifa?" baru saja mereka hendak melangkah, namun dikejutkan oleh suara perempuan asing di belakang mereka


"Beneran, Syifa kan? Kok bisa disini? Bukannya kata mereka" gadis itu menunjuk ke-lima teman, Syifa, "Loh lagi sakit? Tapi loh kok..... " ucapan gadis itu terhenti ketika melihat perut, Syifa yang membesar. "Loh? Loh? Loh hamil? Astaga" ucapnya dengan terkejut


Syifa menjadi gemetaran. Pasalnya, gadis di depannya ini adalah satu teman kampus mereka. Namun, Luthfi berusaha menenangkannya. Bahkan ke-empat temannya menjadi bisu


"Ada apa nih?" dua gadis ikut bergabung bersama gadis yang kini tengah terkejut melihat, Syifa


"Kalian lihat deh perut, Syifa" gadis itu menunjuk perut, Syifa yang membesar


"Astaga loh hamil, Fa?"


Keringat dingin mulai menyerang sekujur tubuh, Syifa yang membeku. Wajahnya seakan tidak dialiri darah saking pucatnya


"Gue kira loh cewek baik-baik"


*


*


*

__ADS_1


*


Jangan lupa like dan juga votenya yah 😊 Terima kasih untuk yang sudah mendukung 🤗


__ADS_2