Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Merasa diabaikan


__ADS_3

Luthfi terlebih dahulu sampai di rumah bersama, Syafa. Luthfi hendak menapaki kakinya ke tangga menuju kamarnya, namun tertahan oleh suara mertuanya


"Sudah pulang? Kok cepat sekali? Terus, Syifa mana?" wanita paruh baya itu celingak-celinguk karna tidak mendapati anak sulungnya


"Kakak... " baru saja, Syafa ingin berbicara, Syifa sudah berada di ambang pintu dengan tergesa-gesa dan napas yang naik turun karna berlari


"Loh kok?" tanya, Mommynya yang menunjuk, Syifa


"Luthfi ke kamar dulu", Luthfi berlalu menuju kamarnya tanpa melihat, Syifa disana


"Syifa juga ke kamar dulu Mom" ujar, Syifa yang masih mengatur napasnya dan berlari kecil menaiki tangga


"Ada apa ini?" Mommynya bingung melihat tingkah kedua anaknya yang sekarang menjadi suami istri tersebut


"Kayaknya Kak Luthfi marah deh Mom" ujar, Syafa yang memperhatikan kakaknya berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya


"Marah kenapa?" Mommynya semakin penasaran. Pasalnya, saat mereka pergi tadi, semuanya masih baik-baik saja


"Mommy ingat ngga sama teman kakak yang waktu itu pernah datang ke rumah bawa coklat?" tukas, Syafa yang kini sudah duduk di sofa


"Ingat. Ada apa?" Mommynya ikut mendudukkan tubuhnya di sofa dekat, Syafa


"Jadi, tadi itu kita ketemu di taman. Terus dia nanya kenapa kakak bisa sama Kak Luthfi? Ya udah, Syafa jawab kalau Kak Luthfi sekarang suaminya Kak Syifa. Terus, teman kakak itu kayak ngga terima gitu loh Mom. Malah maksa-maksa Kak Luthfi buat bicara jujur, padahal Kak Syifa udah bilang, kalau mereka udah nikah seminggu yang lalu. Eh, tapi teman kakak malah ngga mau dengar. Ya udah, Kak Luthfi marah, dan langsung balik" tutur, Syafa yang menjelaskan kronologinya


"Hmm. Ya sudah. Biarkan Kakak kamu menyelesaikan masalahnya sendiri" ucap Mommynya setelah menarik napas dan menghembuskannya pelan


***


Luthfi melepaskan jaketnya dan melemparkannya ke keranjang pakaian kotor. Syifa yang sudah ikut masuk ke dalam kamar melihat, Luthfi menghampiri lemari dan mengambil handuk disana


"Luthfi" panggil, Syifa dengan pelan karna takut


Luthfi tidak menghiraukannya. Ia berlalu masuk ke dalam kamar mandi tanpa mau mendengar dan melihat, Syifa disana


Syifa yang merasa diabaikan oleh, Luthfi harus, menahan sesak di dadanya. Namun, Syifa bukanlah orang yang mampu menahan air mata untuk tidak terjatuh. sifatnya memang gengsi, namun hatinya sangat lembut hingga mudah tersentuh


Beberapa kali ia menyeka bening kristal yang mengalir di pipinya. Ia bahkan menahan untuk tidak terisak. Namun tampaknya air matanya tidak mau bersahabat kali ini. Ia terus saja keluar tanpa permisi hingga membuat, Syifa harus selalu menyekanya


Syifa meraih ponsel di atas nakas. Ia mencari kontak, Risa. Ia tidak ingin. curhat, hanya saja ingin mendengar suara cerewet sahabatnya itu. Namun ketika hendak menekan icon hijau untuk memanggil, ia mengurungkan niatnya


"Gue harus bisa menyelesaikan masalah gue sendiri" batin, Syifa yang menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya keluar bersamaan dengan air matanya yang masih saja belum berhenti


Berulang kali, Syifa menghadapkan wajahnya ke langit-langit kamar dan menarik hembuskan napasnya serta mengipas wajahnya dengan kedua tangannya untuk menghentikan air matanya keluar


"Ngga boleh cengeng. Ngga boleh cengeng" ia terus mengucapkan itu kepada dirinya sendiri


Saat, Syifa masih melakukan aktivitasnya untuk menghentikan air matanya, pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan tubuh, Luthfi yang telanjang dada. Ia melilitkan handuk ke pinggangnya

__ADS_1


Syifa menoleh dengan cepat. Luthfi tidak sengaja melihat wajah, Syifa yang basah. Air mata, Syifa seketika kembali meleleh hanya karna melihat, Luthfi berdiri memandangnya


"Lu... Lut.. Luthfi..." dengan gugup dan berlinang air mata, Syifa menghampiri dan berusaha ingin menjelaskan semuanya kepada, Luthfi


Namun, Luthfi hanya melewatinya menuju lemari pakaian, "Mandi dulu. Badan kamu bau"


"Ha?" teriak, Syifa yang mencium kedua keteknya lalu menyeka air matanya


"Badan aku wangi kok" ucap, Syifa dengan polos


Luthfi tidak menjawab, namun malah memberinya sebuah handuk tanpa menoleh yang menandakan, Syifa harus mandi saat itu juga. Syifa menerima handuk itu dengan perasaan dongkol. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi


Ketika, Syifa sudah masuk ke dalam kamar mandi, Luthfi meliriknya sekilas. Ia lalu memejamkan matanya dan menarik napas dengan lama, lalu menghembuskannya pelan. Ia bahkan mengulangnya hingga tiga kali


Selang beberapa menit. Syifa keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk pada tubuhnya. Ia melihat, Luthfi duduk di atas tempat tidur dan menselonjorkan kakinya bermain ponsel


Syifa tidak menegurnya. Ia memilih pakaian di dalam lemarinya dan memakainya. Setelah itu, ia menghampiri, Luthfi dan duduk ditepi tempat tidur


"Luthfi? Masih marah?" tanya, Syifa dengan pelan sambil menggigit bibir bawahnya


Luthfi hanya meliriknya tanpa menjawab, membuat, Syifa menelan paksa ludahnya dan takut-takut jika, Luthfi marah padanya dan langsung memukulnya, meski itu tidak akan pernah terjadi


"Hmm.. Sebenarnya tuh, kalau ada masalah bicarain baik-baik. Jangan diam-diam gini. Kalau diam, itu ngga akan nyelesain masalah, tapi malah tambah masalah" tutur, Syifa yang sudah kehabisan kata-kata


Luthfi menaruh ponselnya di atas nakas, lalu melipat kedua tangannya dan memandang, Syifa tanpa berbicara sepatah kata pun


"Luthfi!" teriak, Syifa. "Ngomong! Kenapa gue jadi kayak orang gila gini" kesal, Syifa


"Hmm. Jelasin? Jelasin apa?" tanyanya dengan setengah gugup


"Ya udah ngga usah", Luthfi hendak meraih kembali ponselnya


"Ia ia ia" cegah, Syifa yang menarik tangan, Luthfi


Luthfi kembali memposisikan tubuhnya seperti tadi. Tangan yang terlihat di atas perut, kaki yang berselonjor, dan tatapan mengarah pada, Syifa


"Hmm. Jadi...", Syifa sedikit gugup karna tidak terlalu suka ditatap. Namun ia harus menahannya agar bisa menjelaskan semuanya pada, Luthfi


"Waktu itu emang, Riswal pernah datang kesini bawa coklat. Tapi bukan apa-apa kok. Dia cuma bawain coklat karna aku menang lagi lomba menulis. Aku ngga ketemu, Riswal di sekolah waktu itu, karna dia lagi rapat OSIS. Ya udah, dia bawain coklat itu ke rumah" lanjutnya dengan perasaan was-was


Luthfi tidak menjawab. Ia hanya terus memandang, Syifa dengan tatapan yang masih sama seperti tadi. Mambuat, Syifa kalang kabut dibuatnya


"Kok dia ngga nyahut sih? Kan gue jadi bingung mau jelasin apa lagi" batin, Syifa yang terus mengggigit bibir bawahnya


"Mau menggoda? Gigit bibir terus" ucap, Luthfi dengan santai. Syifa membulatkan kedua matanya dan berhenti menggigit bibirnya


"Kok dia malah ngomentarin itu doang sih? Terus yang gue jelasin gimana? Dia ini dengar apa ngga sih?" gerutu, Syifa yang membatin

__ADS_1


"Lanjut" perintah, Luthfi ketika, Syifa tidak lagi, melanjutkan penjelasannya


"Cuma sampai itu aja kok. Beneran", Syifa menaikkan jari telunjuk dan jari tengahnya


"Tentang dia bisa tau rumah ini?", Luthfi menaikkan alisnya memancing, Syifa


"Hmmm... Hmmm.. Di... Dia pernah ngantar aku pulang" sahut, Syifa dengan keringat dingin yang mulai bercucuran di keningnya, "Tapi waktu ngga sengaja. Gue pulang telat karna ngerjain tugas menulis, terus pass sore, hujan. Ya udah, Riswal nawarin buat nganter pulang. Jadinya aku ikut, karna udah gelap dan ngga banyak kendaraan yang lewat" jelas, Syifa dengan cepat agar, Luthfi tidak salah paham


"Sampai sedekat itu?" tanya, Luthfi


"Ngga" seru, Syifa melambaikan tangannya. "Cuma sekali aja dia pernah nganter aku. Beneran. Aku ngga bohong. Kamu bisa tanya Mommy kalau ngga percaya" imbuhnya


"Kenapa harus tanya Mommy. Aku ngga butuh penjelasan Mommy. Aku butuh penjelasan kamu" titah, Luthfi yang menatap dingin, Syifa


"Mulai deh sifat nyebelinnya keluar" umpat, Syifa


"Aku kan udah jelasin. Kamu ngga percaya sama aku?" ketus, Syifa yang hendak berdrama


Luthfi tidak menjawab. Ia justru menatap dalam kedua bola mata, Syifa hingga menbuat, Syifa berdebar pada jantungnya


"Aaaaaa. gue takut" batin, Syifa


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


Jangan lupa beri like dan votenya yah 😊 Terima kasih yang sudah mendukung 🤗


__ADS_2