
Usia kandungan, Syifa kini sudah memasuki bulan ke lima. Hingga mengharuskan dirinya terpaksa mengambil cuti kuliah. Meski dirinya tidak mau. Luthfi tetap memaksanya, bahkan teman-temannya pun ikut memkasa dirinya untuk mengambil cuti
"Ingat. Langsung pulang. Jangan keluyuran", Syifa memperingatkan, Luthfi yang sudah hendak berangkat ke kampus
"Ia. Nanti teman-teman juga datang kesini" sahut, Luthfi yang meraih kunci mobilnya
"Dan jangan genit-genit" ancam, Syifa
"Yang mau genit siapa?", Luthfi mencolek hidung, Syifa yang semakin posesif di masa kehamilannya
"Peluk dulu baru boleh pergi", Syifa sudah merentangkan kedua tangannya.
Kebiasaan baru, Syifa semenjak hamil adalah, tidak ingin jauh dari suaminya, jiwa gengsinya menghilang dan tergantikan dengan keposesifannya, dan yang paling tidak bisa ia hindari adalah, ingin terus memeluk suaminya itu
"Hmm", Luthfi hanya memeluk erat tubuh istrinya, "Kamu baik-baik di rumah sama, bibi. Ingat! Jangan kerja apapun" ujarnya
"Ia-ia udah tau", Syifa mencibikkan bibirnya karna sedari tadi, Luthfi terus mengatakan hal itu padanya hingga membuat telinganya panas
"Ya udah. Aku berangkat dulu yah", Luthfi melepaskan pelukannya dan mencium kening istrinya
"Hati-hati", Syifa melambaikan tangan. Karna, Luthfi tidak mengizinkannya untuk mengantar dirinya sampai depan pintu
Luthfi melambai dan tersenyum pada istrinya. Ia buru-buru turun dari kamarnya menuju dapur tempat asisten rumah tangganya berada
"Bi. Aku mau ke kampus dulu. Titip, Syifa" seru, Luthfi pada asisten rumah tangganya
"Ia, den"
"Aku pergi dulu", Luthfi pun berlalu setelah menitipkan istrinya ke asisten rumah tangga mereka
Luthfi melesetkan kendaraannya menuju kampus tempatnya belajar. Hari ini pertama kalinya ia ke kampus tidak bersama istrinya. Entah alasan apa yang akan ia berikan pada teman-teman kelasnya jika menanyakan keberadaan, Syifa kini
"Udah lama?" seru, Luthfi ketika baru saja ia turun dari mobilnya dan ternyata ke-empat temannya sudah menunggu dirinya di parkiran
"Ngga! Baru lima jam yang lalu kok" sahut, Risa
"Jangan mulai. Masih pagi" tegur, Viona
"Ribut mulu. Ayo masuk" ajak, Vigo
"Kalau ngga ribut, bukan, Risa sama Viona namanya" cetus, Fahri
"Udah-udah. Ayo", Luthfi berjalan mendahului ke-empat temannya itu
Teman-temannya hanya mengikut di belakang. Sepanjang perjalanan menuju kelas, ada banyak pasang mata yang mengarah pada mereka. Terlebih ketika mereka sampai di kelas. Beberapa pasang mata menyoroti mereka dengan heran
"Tumben, Syifa ngga ada"
"Ia yah? Biasanya, Syifa selalu ada"
__ADS_1
"Atau mungkin dia sakit kali. Kemarin kan wajahnya pucat banget"
"Ia sih. Luthfi? Syifa kemana?"
"Apa urusan kalian nanyain, Syifa" terdengar suara dingin, Luthfi menghentikan gosipan mereka tentang, Syifa tidak bergabung bersama mereka
"Syifa lagi sakit. Makanya dia ngga bisa ke kampus" ujar, Viona
"Kalian sendiri kemarin lihat kan? Wajah, Syifa pucat banget? Itu karna dia lagi sakit" cetus, Risa
"Bukan karena dia lagi hamil kan?", Celia tiba-tiba masuk dan duduk di salah satu kursi kosong depan, Viona
Wajah kelima orang itu mendadak bungkam dan saling bertatapan satu sama lain
"Kok pada diam?" tegur, Celia
"Kok loh mau tau urusan orang lain?" seru, Fahri
"Syifa kan teman sekelas kita. Jadi wajar dong kalau kita nanyain dia kemana" sahut, Celia
"Sejak kapan loh nganggap, Syifa teman?" tukas, Vigo yang mematahkan pembelaan, Celia
"Ia, Celia. Kok loh tiba-tiba jadi nganggap, Syifa teman? Bukannya selama ini loh itu ngga pernah aku yah sama, Syifa" seru salah satu dari mereka
"Tuh dengerin. Teman-teman aja tau loh ngga pernah akur sama, Syifa. Dan loh emang ngga pernah suka sama, Syifa. Jadi ngga usah sok peduli deh" ujar, Risa dengan lantang
"Emang apa salahnya kalau gue nanya?" ketus, Celia yang tidak mendapat dukungan dari siapapun
"Salah lah. Loh sok peduli ketika dia ngga ada. Buat apa? Biar loh punya bahan gosipin?" seru, Risa
"Risa. Ngga boleh ngomong gitu" tegur, Fahri
"Celia. Mending loh urus diri aja deh. Ngga usah sibuk gangguin urusan orang lain" cetus, Vigo
"Gue heran sama model cewek kek loh" tukas, Risa
Celia tidak lagi membalas. Hanya tatapan tajam ia layangkan kepada kelima orang tersebut. Namun tidak begitu berani jika harus menatap mata, Luthfi yang membuatnya takut
Pelajaran mereka terus saja berlanjut. Meski, Luthfi sudah ingin sekali pulang dan tidak sabar ingin bertemu istrinya itu. Setelah menghabiskan hampir separuh waktu di kampus. Mereka akhirnya bisa pulang. Luthfi mengendarai mobilnya seorang diri. Sedangkan ke-empat yang lainnya mengendarai mobil milik, Fahri
"Bi? Dimana, Syifa?" pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut, Luthfi kepada asisten rumah tangganya ketika tidak mendapati istrinya
"Di kamar, den. Baru saja dia kembali ke kamar"
"Terima kasih, bi"
Luthfi menyuruh teman-temannya duduk menunggunya di bawa dan menyuruh pelayannya membuatkan minum untuk teman-temannya. Sementara ia, berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya.
"Syifa" seru, Luthfi ketika membuka pintu kamar
__ADS_1
Syifa yang sedang berbaring langsung terbangun dan menghampiri suaminya. Senyumannya mengembang dengan sempurna
"Lama banget sih pulangnya" gerutu, Syifa yang sudah memeluk suaminya
"Ia. Ada pelajaran tambahan. Ayo turun. Ada teman-teman di bawa", Luthfi menarik pelan tangan, Syifa dan menuntunnya menuruni tangga
"Syifaaaaaa" teriak, Risa dan Viona ketika melihat, Syifa sudah berjalan menghampiri mereka
"Kangen deh sama kalian" ujar, Syifa kini tengah berpelukan dengan teman-temannya
"Ia. Gue juga. Rasanya aneh banget ngampus tapi ngga ada loh" ujar, Risa yang masih memeluk, Syifa
"Ia nih. Mungkin karna kita udah kebiasaan kali yah sama-sama. Jadi aneh rasanya kalau ada yang ngga datang" cetus, Viona
"Tadi banyak yang nanyain loh, Fa" seru, Vigo
"Sampai bingung kita mau jawab apa" timpal, Fahri
"Beneran? Terus kalian jawab apa?" sahut, Syifa
"Duduk dulu sini", Luthfi menarik tangan, Syifa untuk duduk di sampingnya
"Terus-terus? Kalian jawabnya apa?", Syifa semakin menjadi penasaran
"Mereka bilang kalau kamu lagi sakit" sahut, Luthfi
"Emang gue sakit apaan?" ketus, Syifa
"Sakit perut kan loh karna hamil" cetus, Risa
"Emang maunya aja tuh kalian ngatain gue sakit. Bilang aja ngedoain gue sakit biar beneran" celoteh, Syifa
"Bukan gitu, Fa" sergah, Fahri
"Mulai deh sensinya", Viona memutar malas bola matanya
"Maksudnya kan. Kamu lagi hamil. Biasanya emang kamu kan suka ngeluh sakit perut sama pinggang. Apalagi kalau anak kita nendang", Luthfi memberi penjelasan kepada istrinya menjadi lebih emosional setelah kehamilannya berlangsung
"Gitu aja mesti dijelasin" ketus, Risa
"Risa" tegur, Luthfi
*
*
*
Maaf, cuma bisa update segini. Hari ini benar-benar full banget pekerjaanku. Mana banyak adik2 yg sekolah online jadi harus dibantuin. Mana tadi banyak pekerjaan pula karna bentar lagi mau lebaran. Jadi persiapannya mulai dari sekarang. Maaf banget. Pikiranku lelah, mata ngantuk, jadi cuma bisa up segini aja 🙏🏻 Jangan lupa like dan votenya 😊🤗
__ADS_1