
"Udah", Syifa menggeser sedikit piring kosongnya lalu mengambil air minum dan meneguknya sampai habis. "Tunggu disini yah. Gue bawa piring kotor ini dulu ke wastafel" perintah, Syifa dan, Luthfi hanya mengangguk.
Syifa beranjak dari meja makan lalu membawa bekas piring makannya ke wastafel. Lalu segera kembali ke, Luthfi. "Ayo" ajak, Syifa mendahului, Luthfi untuk kembali bergabung bersama temannya lain. Luthfi hanya mengikut di belakang, Syifa hingga sampai bergabung kembali bersama temannya
"Udah kenyang loh?" tegur, Risa saat, Syifa duduk di sampingnya. "Kenyang dong" saut, Syifa sambil mengelus-elus perutnya yang kekenyangan. "Kenyang makan apa kenyang cinta loh" ledek, Viona yang membuat, Fahri dan Vigo terkekeh. "Bisa ngga sih loh ngga bikin keributan sama gue malam ini aja" gerutu, Syifa dengan melipat kedua tangannya di atas perut
"Ngambekkan mulu loh, Syif. PMS loh?" tanya, Fahri dengan niat hanya untuk menggoda, Syfia. "Udah tau pake nanya lagi" bentak, Syifa. "Fahri, nama gue, Syifa. Bukan, Syif" ketus, Syifa. "Waduh, PMS beneran", Fahri menepuk jidatnya, yang lain hanya tertawa. "Salah ngomong dikit, bisa fatal nih" lanjutnya. "Ia ia. Nama loh, Syifa. Ampun", Fahri mengatupkan kedua tangannya dan menaikkannya diatas kepala
Suara tawa menggelegar tatkala melihat tingkah konyol, Fahri kepada, Syifa. Syifa pun bahkan ikut tertawa dibuatnya.
"Pulang yuk. Udah malam nih", Luthfi melihat jam yang melingkar di tangannya. "Bukannya kalian mau nginap?" tanya, Syifa dengan polos. "Dapat kode, Fi", Vig menyeggol lengan, Luthfi dengan terkekeh
"Kalian kan tadi bilangnya mau nginap? Apa gue salah dengar?", Syifa masih dengan tampang polosnya menggaruk pelipisnya. "Sampai segitunya loh, Fa ngga mau jauh-jauh dari, Luthfi?", Risa memeluk, Syifa lalu merebahkan kepalanya di bahu, Syifa. "Ngaco", Syifa memukul pelan lengan, Risa. "Kali aja yang, Risa bilang itu benar" timpal, Viona yang terkekeh
__ADS_1
"Pulang deh kalian sana! Ngeselin banget" usir, Syifa namun tidak benar-benar mengusirnya. Yang diusir bahkan hanya tertawa puas dengan raut wajah, Syifa masang. "Ya udah nih kita mau pulang. Yang punya rumah udah ngusir" goda, Vigo namun tidak ditanggapi oleh, Syifa, ia hanya terus mencibir. "Udah yuk. Udah malam juga nih" saut, Fahri yang sudah bersiap-siap dengan ranselnya
"Ayo", Luthfi sudah mengenakan jaket serta ranselnya. Ia berdiri lalu diikuti, Vigo dan Fahri. "Ayo, Vio" ajak, Vigo kepada, Viona yang masih duduk ditempatnya. "Kan gue mau nginap disini" saut, Viona yang memandang, Vigo. "Udah diusir sama loh tadi", Vigo melirik, Syifa. Syifa menatap tajam, Vigo sebelum bantal sofa mengenai wajahnya akibat lemparan, Syifa.
"Udah ayo. Sebelum betina yang PMS makin ngamuk", Fahri dan Luthfi menarik tangan, Vigo dan tertawa keluar dari rumah tersebut.
"Ngeselin tuh emang laki loh" seru, Syifa yang membuat, Risa dan Viona terkekeh. "Marah-marah mulu loh, Fi. Cepat tua ntar loh" tegur, Risa di sela-sela tawanya. "Makin naik darah ntar loh, Fa" timpal, Viona yang belum juga berhenti tertawa.
Tau ah. Kalian ngeselin. Gue mau tidur" gerutu, Syifa yang sudah berlalu masuk ke dalam kamar. Risa dan Viona hanya menggeleng sebelum akhirnya mereka berdua ikut masuk ke dalam kamar dan tidur diantara, Syifa.
"Ngga terasa yah bentar lagi udah semester dua kita" seru, Viona saat mereka berada di kantin setelah jam kuliah pertama selesai. "Ia benar rasanya baru kemarin kita daftar kuliah, tapi sekarang sudah setengah tahun yah" saut, Syifa yang baru saja selesai meminum jus alpukatnya. "Kalian aja tuh. Gue mah berasa. Uang jajan gue yang paling berasa" ujar, Risa yang mendapat toyoran dari, Syifa. "Apa sih, Fa" seru, Risa mengelus-elus pelipisnya
"Berarti akan libur panjang dong" cetus, Vigo di sela-sela perdebatan kedua gadis tersebut. "Libur mulu di otak loh" cibir, Fahri yang menggeleng, sangat tau sifat sahabatnya itu. "Doyang jalan nih biasa" saut, Luthfi yang menoleh kearah, Vigo. "Yo'i dong. Anak muda" ujar, Vigo dengan bangga.
__ADS_1
"Biasa jalan kemana loh tanpa gue dulu?" pertanyaan, Viona sukses membuat, Vigo membisu sejenak. Keempat dari mereka langsung terbahak melihat perubahan wajah, Vigo setelah diserang pertanyaan oleh, Viona
"Jawab, Go", Fahri begitu semangat memanasi, Vigo dengan tawanya. "Diem luh" bentak, Vigo yang malah makin membuat, Fahri tidak tahan untuk tidak tertawa. "Jawab, Go. Jantan kan loh" timpal, Luthfi yang langsung melakukan high five bersama, Fahri sebelum keduanya terbahak
"Teman ngga guna emang berdua ini" seru, Vigo dengan kesal karna tidak mendapat pembelaan dari kedua temannya. "Ayo loh, Go jawab. Viona nungguin tuh" cetus, Risa yang semakin membuat, Vigo membisu namun terus mengumpat dengan batinnya
"Jalan-jalan itu bukannya hal biasa yah? Salahnya dimana sih coba? Mesti banget harus dipermasalahin?" pernyataan, Syifa sukses membuat mereka yang tadinya tertawa langsung menjadi diam tak berkutik
"Syifaaaaaaaa. Loh penyelamat gue" teriak, Vigo dengan penuh kemenangan. "Berisik loh" tegur, Syifa yang membuat, Vigo langsung menutup mulutnya dengan tangan. "Top banget deh loh, Fa", Vigo mengacungkan jempolnya kepada, Syifa.
"Apaan sih? Biasa aja kali. Mereka aja nih yang lebay" tegur, Syifa menunjuk keempat temannya lain dengan ekor matanya. "Syifa mah ngga seru" cetus, Fahri. "Tau tuh. Ngga peka emang" timpal, Risa yang cemberut. Sedangkan, Viona hanya memutar malas bola matanya. Luthfi menatap, Syifa tanpa ekspresi
"Kalian kenapa ngeliatin gue kek pembunuh coba?" protes, Syifa yang mendapat lirikan macam-macam dari teman-temannya.
__ADS_1
"Emang. Pembunuh kata-kata loh" seru, Risa yang menghardik, Syifa