
Disaat sedang asik-asiknya bergulat. Syifa samar-samar mendengar suara di balik pintu kamar yang kini ia dan Luthfi tumpangi menginap
"Luthfi" panggil, Syifa yang berada di atas tubuhnya
"Hmm", Luthfi hanya berdehem tanpa menghentikan aktivitasnya kini
"Luthfi. Berhenti dulu", Syifa berusaha mendorong tubuh, Luthfi
"Apa?" tanya, Luthfi yang sudah kesal karna merasa terganggu
"Kamu ngga dengar suara?" tanya, Syifa ketika suara samar-samar kembali ia dengar
"Suara?" ulang, Luthfi lalu berdiam sejenak untuk mendengar suara yang dimaksud istrinya
"Tuh kan? Kamu dengar kan? Kayaknya ada orang deh diluar" seru, Syifa dengan pelan
"Kamu tunggu disini", Luthfi hendak turun dari tempat tidur untuk memeriksa
"Mau kemana?", Syifa menahan tangan, Luthfi
"Aku mau periksa dulu"
"Kamu mau periksa keluar tanpa berpakaian?"
"Oh", Luthfi baru menyadari jika dirinya tidak memakai sehelai pakaian pun
Luthfi dan Syifa kini memakai kembali pakaian mereka dan sama-sama berjalan mendekati pintu dengan pelan. Dan tampak suara dibalik pintu itu semakin terdengar jelas
"Kayak suara Kak Dinar" bisik, Syifa yang berada di belakang, Luthfi
"Sssttt", Luthfi menaruh telunjuk jarinya di bibir
"Kita benar-benar harus cari cara buat nyingkirin tiga Tikus pengganggu yang terus ngeganggu pasangan kita" ucap, Lury yang begitu semangat ingin menghancurkan ketiga gadis yang mereka anggap saingan itu
Perkataan, Lury sangat terdengar jelas di telinga, Luthfi dan Syifa yang sedang mendengarkan percakapan ketiga gadis yang sedang berada di luar kamar menginap mereka saat ini
Luthfi dan Syifa saling menatap karna terkejut mendengarnya. Luthfi yang sudah kesal langsung membuka pintu kamar dan mendapati ketiga gadis itu terkejut karna pintu yang tiba-tiba saja terbuka lebar dan menampilkan tubuh, Luthfi dan Syifa disana
"Lut... Luth... Luthfi" ucap, Dinar dengan gugup
"Hmmm. Ha.. Hay" sapa, Dini dengan degupan jantung yang berpacu dengan cepat
"Kalian...... Hmm... Bangun?" tanya, Lury dengan raut wajah yang pucat
"Ngapain kalian disini?" tanya, Luthfi dengan raut wajah cueknya serta suara dinginnya
"Hmmmm. Kita.... Kita.... ", Dinar berusaha mencari alasan, "Hmmmm.. Kita mau ke dapur. Ia... Ke dapur. Soalnya kita lagi haus. Iah"
"Ia itu benar. Kita lagi haus. Jadi mau ke dapur" cetus, Dini yang membenarkan alasan kakak sepupunya
"Terus ngapain di depan kamar gue sama Luthfi?" tanya, Syifa yang tidak percaya karna ia sendiri sudah mendengar percakapan terakhir mereka
"Kita ngga sengaja lewatin kamar kalian" timpal, Lury
"Dapurnya kan ada di sebelah sana", Syifa menunjuk jalan menuju ke dapur yang tidak dilewati kamar mereka meski berdekatan. "Tapi kenapa kalian disini? Atau jangan-jangan kalian?...." ucapannya terhenti
"Jangan ngomong sembarangan. Kita emang ngga sengaja ngelewatin kamar loh. Ngga usah ge'er loh" potong, Dinar untuk menutupi kegugupannya
"Beneran?", Syifa melipat kedua tangannya di atas perut dan bersandar di pintu kamar
"Kita..." ucapan, Dini terhenti
__ADS_1
"Ada apa ribut-ribut?" potong, Fahri yang datang bersama yang lainnya
Kepanikan ketiga gadis itu semakin terlihat tatkala, Fahri, Risa, Vigo dan Viona berada disana dan menghampiri mereka
"Mati gue" batin, Lury yang menggigit bibir bawah
"Ngapain kalian bertiga disini?" tanya, Vigo ketika melihat ketiga gadis itu menunduk
"Gue buka pintu. Mereka tiba-tiba ada disini" sahut, Luthfi
"Kalian mau ngintip yah?" cetus, Risa
"Apa lagi kalau bukan mau ngintip" timpal, Viona
"Jaga mulut loh" seru, Lury
"Gue udah ngejelasin. Kita ngga sengaja lewat sini. Karna kita haus dan mau ke dapur" tukas, Dinar
"Jangan asal nuduh dong" timpal, Dini
"Kalian pikir kita percaya?" seru, Risa
"Terserah loh mau percaya atau ngga" ketus, Dini
"Kalian pikir gue ngga tau? Gue ngeliat kalian ngintipin gue sama, Vigo tidur. Dan gue juga dengar loh ngehina gue" tunjuk, Viona kepada, Lury. "Gue dengar loh ngehina gue seburuk itu. Dan gue juga lihat sendiri. Kalau kalian ngintip, Fahri sama Risa lagi tidur. Dan yang terakhir, gue juga lihat kalian datang kesini. Karna itu gue ngebangunin mereka buat lihat kelakuan busuk kalian bertiga" ujarnya
Wajah ketiga gadis itu semakin memucat mendengar penuturan, Viona yang ternyata mengetahui rencana mereka untuk mengintip
"Dan gue sama, Syifa juga dengar kalian rencanain sesuatu untuk menghancurkan hubungan gue, Fahri sama Vigo" seru, Luthfi yang sontak membuat semuanya terkejut kecuali, Syifa
"Luthfi dengar? Astaga, Tuhan. Gimana nih?", Dinar meremas kedua tangannya karna berkeringat
"Ia. Gue juga dengar. Bahkan mereka ngatain kita tiga Tikus pengganggu" cetus, Syifa yang menunjuk dirinya, Risa dan Viona
"Dia benar-benar dengar? Mati gue" batin, Dini
"Maksud loh apa?" kesal, Risa yang sudah hampir mendekati ketiga gadis itu namun, Fahri dengan cepat menahan tangannya
"Gue benar-benar kecewa sama loh" seru, Vigo menunjuk, Lury dengan kecewa
"Ngga, Vigo", Lury memegang tangan, Vigo
"Lepasin tangan loh dari cowok gue" seru, Viona yang menepis tangan, Lury dari tangan kekasihnya
"Siapa loh berani-beraninya sama gue" kesal, Lury karna tangannya yang ditepis keras oleh, Viona
"Kenapa? Loh ngga terima? Gue ceweknya, Vigo? Loh siapa? Bibit pelakor loh?" teriak, Viona
"Viona" seru, Syifa dan Risa yang menghampiri, Viona
"Udah sayang. Ngga usah ladeni mereka" cetus, Vigo
"Tapi, Vigo. Gue bisa ngejelasin ke loh" pinta, Lury
"Gue ngga butuh penjelasan dari loh lagi" titah, Vigo
"Fahri. Ini ngga seperti yang loh bayangin. Loh pasti salah paham sama gue", Dini kini sedang memegang lengan, Fahri
"Gue udah tau sifat loh sekarang", Fahri melepaskan tangannya, "Gue pikir loh cewek yang baik. Ternyata gue salah. Beruntung gue ngga pernah punya hubungan sama cewek kek loh" ujarnya
"Fahri! Dengerin gue dulu", Dini masih berusaha ingin meraih tangan, Fahri
__ADS_1
"Stop! Jangan sentuh gue!" seru, Fahri yang menaikkan tangannya
"Loh jadi cewek ngga ada harga dirinya banget sih? Loh tau, Fahri udah punya cewek. Masih aja loh ngeganggu" cetus, Risa
"Diam loh" bentak, Dini yang menunjuk, Risa dengan kesal dan tatapan marah
"Loh yang diam", Fahri membentak, Dini. "Berani banget loh ngebentak cewek gue" serunya
"Udahlah. Ngapain sih jadi berantem" sergah, Syifa
"Ini semua karna loh", Dinar tiba-tiba saja menunjuk kearah, Syifa
"Loh? Kok jadi gue? Kak Dinar ngapain nyalahin gue?", Syifa menunjuk dirinya sendiri
"Ia. Karna loh dan teman-teman loh itu", Dinar menunjuk, Viona dan Risa, "Udah berani main pelet, Luthfi dan teman-temannya. Padahal gue tau banget, Luthfi susah banget buat di dapetin. Tapi loh? Dengan gampangnya bisa dapetin hatinya, Luthfi. Apa namanya kalau bukan karna loh main pelet" seru, Dinar yang berapi-api mengucapkannya
"Dinar!" teriak, Luthfi yang tidak menyukai istrinya dihina seburuk itu. "Jaga ucapan loh. Loh ngga tau apa-apa tentang gue. Dan loh berani ngehina, Syifa?", Luthfi hendak melangkah mendekati, Dinar. Namun, Syifa dengan cepat menahan tubuhnya
"Luthfi jangan" sergah, Syifa yang menahan tubuh, Luthfi. Suaminya kini tengah marah besar
"Siapa loh berani-beraninya ngehina, Syifa? Dan tau apa loh tentang kehidupan gue selama ini? Apa yang loh tau dari gue?" Ngga ada" teriak, Luthfi
"Luthfi, berhenti", Syifa sekuat mungkin menahan tubuh, Luthfi. Ia bahkan mendorongnya agar tidak kembali maju
"Jangan sekali-sekali loh ngehina, Syifa di depan gue. Atau loh akan nyesal" seru, Luthfi
"Luthfi. Udah! Jangan marah-marah lagi", Syifa memeluk tubuh, Luthfi karna ia sendiri sedang takut dengan kemarahan suaminya itu
Dinar membeku dan diam seribu bahasa. Tubuhnya bergetar karna rasa takut yang bergerilya. Jantungnya semakin berpacu dengan cepat. Aliran darahnya serasa panas dingin. Bahkan, Dini dan Lury pun kini merasakannya
"Kalian ngga tau apapun tentang kehidupan kita. Jadi gue harap kalian jangan pernah ganggu kehidupan kita" Cetus, Fahri
"Dan juga. Gue, Syifa sama Viona bukan Tikus pengganggu. Karna nyatanya. Kita ngga pernah ngeganggu hubungan orang lain seperti yang kalian tuduhkan. Bahkan kalian yang ngeganggu hubungan orang lain" ujar, Risa dengan kesal
Tatapan ketiga gadis itu mengarah ke, Risa yang sedang menghina mereka dengan terang-terangan. Kilatan di mata, Dini semakin terpancar dengan merah menyala ingin mencakar wajah, Risa
"Gue yang lebih tau tentang, Vigo dari loh" seru, Lury menunjuk, Viona tiba-tiba. "Loh ngerusak hubungan gue sama, Vigo. Loh yang jadi pelakor di hubungan gue sama, Vigo. Nyadar ngga loh" serunya
Viona tidak lagi bisa menahan kekesalannya. Ia mendekati, Lury dan menarik kerah baju gadis itu tanpa mempedulikan sekelilingnya
"Viona" teriak, Syifa dan Risa namun, Viona tidak menghiraukannya
"Sayang", Vigo mencoba memegang tangan, Viona dan hendak melepaskan kerah baju, Lury
"Diam!" bentak, Viona kepada, Vigo dan menatap tajam ke arah, Vigo
Vigo menjauh dari, Viona. Tatapan, Viona sangat menakutkan bagi, Vigo saat ini. Tidak ada yang berani mendekati, Viona. Bahkan, Lury meronta untuk minta dilepaskan. Namun, Viona tidak bergeming dan semakin menajamkan tatapannya pada, Lury
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa like dan votenya yah 😊 Terima kasih yang sudah mendukung 🤗
__ADS_1