
"Kenapa emangnya? Vigo cowok gue" seru, Viona yang seketika naik pitam
"Cowok loh belum berarti dia udah jadi suami loh kan? Jaga sikap dong" sahut, Lury yang menentang
"Seenggaknya, gue udah ngejaga sikap gue buat ngasih, Vigo kesempatan, karna sahabatnya dulu pernah buat gue jauh sama, Vigo, dengan bilang ke gue, kalau mereka udah jadian. Padahal sahabatnya itu ngehalu" ujar, Viona dengan penuh penekanan
Lury menelan paksa ludahnya setelah apa yang diucapkan, Viona secara terang-terangan di hadapan, Vigo dan beberap teman mereka. Bahkan, Fahri pun mendengarnya ketika ia baru saja kembali dari toilet tadinya.
"Viona" tegur, Syifa lalu menggeleng ketika, Viona menoleh padanya
"Maksud loh apa, Vi?" tanya, Dini karena tidak mengerti sama sekali
"Gue ngga bermaksud apa-apa. Gue cuma mau ngingatin itu ke seseorang yang pernah buat gue sama, Vigo berantem dan menjauh" tutur, Viona namun tatapannya tidak beralih dari, Lury yang masih mematung disana
"Lury?", Dini memegang lengan, Lury seperti hendak menanyakan maksud dari, Viona
Suara ketukan pintu membuat semuanya terkejut. Fahri berdiri dan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Fahri kembali dan menentang beberapa kantun palstik berisi makann yang sudah mereka pesan tadi.
"Yeayyy. Makanan datang" seru, Risa dengan girang
"Giliran makanan aja" cetus, Syifa yang menggeleng
"Ayo makan dulu" ajak, Vigo yang melepaskan pelukannya pada, Viona
"Ayo", luthfi menarik tangan, Syifa untuk menuju meja dimana makanan yang sudah tertata
Semuanya sudah berkumpul di lantai untuk menikmati makanan yang sudah disiapkan bersama. Karna sebelumnya, Risa dan Viona sudah memindahkan makanan itu ke lantai untuk disantap bersama
"Enak deh dingin-dingin gini makan sop kentang ini" cetus, Syifa yang menghirup lekat-lekat aroma sop kentang pesanannya
Luthfi tersenyum dan mengusap lembut kepala, Syifa. "Ayo makan" ucapnya
"So sweet deh" tukas, Viona yang tersenyum senang
"Makan dulu deh" sergah, Dinar yang tidak suka dengan adegan kasmaran itu
"Tau nih. Mau makan aja harus buat drama dulu" ketus, Lury yang juga tidak suka
"Udah. Ayo makan" tegur, Dini yang tidak ingin mendapat usiran dari dari, Fahri
Mereka makan dengan sangat baik. Meski, Viona dan Risa masih menyempatkan ledekan untuk membuat ketiga gadis itu cemburu. Setelah mereka selesai makan. Dini dan Lury yang membawa bekas plastik makanan dan piring mereka ke dapur hingga kembali bergabung
"Kayaknya hujannya bakal lama. Hmm. Kalian bertiga masih pengen disini?" tanya, Risa yang terdengar biasa santai namun bagi, Dini itu seperti pengusiran
"Kenapa? Loh mau ngusir kita?" sahut, Dini dengan nada sewot
"Perasaan gue ngga ngomong apa-apa deh. Kan gue cuma nanya doang" tukas, Risa
"Jawab aja" cetus, Viona
"Kenapa jadi loh yang sewot?" ujar, Lury yang menatap tidak suka, Viona
"Udah dek" tegur, Dinar sebagai yang paling dewasa diantara mereka
"Hmmm. Jadi, kalian masih mau disini?", Syifa bertanya ulang namun dengan nada yang sedikit lembut agar ketiganya merasa tidak tersinggung
"Apa sekarang loh yang mau ngusir kita?" tanya, Dinar yang menyipitkan matanya. Padahal, Syifa sudah bertanya selembut mungkin
"Gue cuma nanya kak" sahut, Syifa
"Kita masih mau disini. Diluar hujan deras. Jadi ngga mungkin kita pulang dulu" cetus, Dini
"Bukannya pass kalian tadi kesini emang udah hujan deras yah?" tanya, Risa yang memang sengaja menyinggung ucapan, Dini
"Ya... Ya... Ya maksudnya emang karna semakin deras hujannya. Kita ngga mau pulang dulu. Loh sendiri kenapa belum pulang?" tanya, Dini yang untuk menutupi kegugupannya
"Mereka nginap disini malam ini" cetus, Fahri
"Nginap?" tanya, Dini, Dinar dan Lury bersamaan
"Ia. Kenapa?" sahut, Viona dengan sinis
__ADS_1
"Udah-udah. Gitu aja diributin" sergah, Syifa
"Main yuk?" usul, Vigo untuk memecahkan ketegangan yang terjadi diantara mereka
"Boleh tuh" sahut, Fahri. "Luthfi?" panggilnya
"Gue ngikut" ujar, Luthfi yang hanya mengikut saja perkataan teman-temannya
"Mau main apa nih?" tanya, Risa dengan semangat
"Truth or Dare" seru, Viona
"Perasaan itu mulu deh dari kemarin-kemarin" cetus, Syifa yang mengingat-ingat, hanya permainan itu yang sering mereka mainkan bersama
"Kebersamaannya, Fa. Bukan dari permainannya" tukas, Vigo yang menjelaskan
"Tumben otak loh jalan" tukas, Luthfi yang membuat, Vigo dan Fahri tertawa
"Biasa, Fi. Dekat, Viona" ledek, Fahri
"Jadi mau main apa nih?", Dini berusaha ikut berbaur untuk kembali mengambil simpatik, Fahri
"Kayak yang tadi gue bilang. Truth or Dare" sahut, Viona dengan tenang
"Ya udah deh. Ayo mulai" ajak, Syifa
"Mulai dari, Siapa?" tanya, Dinar
"Ia benar. Harus ada yang mulai" timpal, Lury
"Dasar cewek ngga tau diri. Pintar banget nyari perhatian, Vigo. Jangan harap" batin, Viona
"Mainnya boleh jangan disini ngga? Dingin banget. Apalagi melantai. Yah, meskipun kita pakai karpet sih. Tapi tetap aja dingin" rengek, Risa yang memang lemah dalam keadaan dingin
"Ia nih. Soalnya gue sama, Risa ngga kuat dingin" cetus, Syifa yang memang keduanya tidak kuat jika berada di area yang dingin
"Mainnya di kamar loh aja, Ri. Syifa sama Risa ngga kuat dingin" tukas, Luthfi
"Ya udah. Ayo ke kamar gue. Jangan lupa bawa selimut kalian. Ayo, Sa" ujar, Fahri yang mengajak teman-temannya untuk bermain di kamarnya saja dan membantu, Risa untuk berdiri
"Semuanya naik ke tempat tidur. Dempetan aja tapi yah. Soalnya kita banyak. Dan di kamar gue cuma punya satu tempat tidur" tutur, Fahri
"Ngga apa-apa kok" ucap, Dini dengan senyumnya yang mengembang sempurna
"Ayo", Luthfi menarik tangan, Syifa untuk mengambil posisi ternyaman baginya
Melihat itu. Dinar tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mengikuti, Luthfi dan bahkan duduk disamping pria itu yang sedang bersama istrinya
"Ngapain disini?" tanya, Luthfi dengan cuek
"Tadi teman loh bilang semuanya naik ke tempat tidur. Yah, gue cuma ngikutin apa kata dia", Dinar berkilah
"Udahlah, Fi. Ngga apa-apa" ujar, Syifa yang mengusap dada, Luthfi agar tidak marah
"Sini, vigo", Viona memanggil, Vigo untuk duduk di sampingnya. Ia sendiri duduk di samping, Syifa
Lury buru-buru ikut duduk di samping, Vigo ketika pria itu sudah mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur samping, Viona.
"Ngapain loh disitu" tegur, Viona yang tidak suka melihat, Lury duduk berdekatan dengan, Vigo
"Loh ngga dengar yang dibilang, Fahri apa?", Lury adalah gadis yang sangat pandai mengambil kesempatan dalam situasi apapun
Viona mendengus kesal. Namun, Vigo mengusap kepalanya dan tersenyum untuk menenangkan kekasihnya yang sudah cemburu itu
"Udahlah, Vi. Santai aja. Kita duduk disini" ajak, Risa kepada, Fahri yang hanya mengikut. Risa duduk di samping, Lury
"Gue disini yah. Karna yang lain udah penuh" cetus, Dini yang juga kini tengah mengambil kesempatan untuk duduk berdekatan dengan, Fahri dan berdampingan dengan, Dinar
"Bilang aja mau ngambil kesempatan. Jangan harap" gerutu batin, Risa
"Ayo mulai" ajak, Syifa yang sudah tidak sabar
__ADS_1
"Tadi katanya permainannya itu terus. Kok sekarang malah jadi yang paling semangat?" ledek, Luthfi yang menyibak anak rambut, Syifa ke belakang telinganya
Syifa hanya tersenyum malu mendengar ucapan, Luthfi. Tadinya memang dia sempat meragukan. Tapi sekarang? Dia sudah bersemangat untuk bermain
Dinar benar-benar tidak menyukai adegan itu. "Nih cewek pasti pake pelet. Ngga mungkin, Luthfi langsung bisa luluh sama dia. Gue yakin dia pake pelet" batinnya
"Bentar. Gue mau ngambil botol dulu", Fahri hendak berdiri namun, Risa menahan tangannya
"Buat apa ngambil botol?" tanya, Risa dengan polos
"Buat diputar Sayang. Bentar", Fahri berlalu keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil botol kosong
Risa tidak bergeming dari tempatnya. Matanya terus berkedip, berusaha mencerna ucapan terakhir, Fahri. Walau sebenarnya itu bukan pertama kalinya. Namun ucapannya itu sungguh berbeda
"Apa kelebihannya nih cewek dibanding gue? Fahri bukan orang yang mudah sayang sama orang. Gue yakin, ada sesuatu yang ngga benar di cewek ini" batin, Dini yang menatap tidak suka pada, Risa
"Kenapa loh, Sa? Kaget banget, Fahri manggil loh sayang. Padahal udah biasa" goda, Viona yang melihat, Risa tidak bergeming
"Santai woy", Vigo menggerakkan tangannya di depan wajah, Risa yang bengong
"Aaaa.... Risa baper" teriak, Syifa lalu tertawa
"Syifa" tegur, Luthfi namun, Syifa belum bisa menghentikan tawanya
"Gue kenal banget sama ekspresi wajah, Risa yang itu" seru, Syifa di sela-sela tawanya
"Apaan sih? Diam loh" ketus, Risa ketika kesadarannya mulai kembali normal
"Belum mau berhenti ketawa?", Luthfi menggelitik pinggang, Syifa yang masih tertawa
"Ampun, Fi. Ampun, ampun" teriak, Syifa yang merasa geli karna gelitikan, Luthfi
"Udah?" tanya, Luthfi dengan senyum manisnya
"Gimana aku mau berhenti ketawa, kalau kamu malah gelitikin aku" cetus, Syifa yang mengatur napasnya yang terasa lelah
"Apaan sih" guman, Dinar yang memutar malas bola matanya
"Lama yah nunggunya?" seru, Fahri yang sudah kembali dan membawa botol kosong
"Lama buat, Risa" sahut, Luthfi yang menutup mulutnya dengan pura-pura keceplosan
"Apaan sih, Fi. Diam deh" seru, Risa yang mulai kesal
"Biasa aja dong kalau emang ngga ada apa-apa" goda, Viona yang semakin suka melihat wajah, Risa yang linglung tidak seperti biasanya
"Ngga usah dengerin mereka" ujar, Fahri lalu mengusap kepala, Risa bahkan menciumnya sekilas
Bola mata, Risa hampir saja keluar. Bahkan, Dini terkesiap melihat adegan itu. Disusul oleh, Syifa, Luthfi, Viona, Vigo dan Lury yang terkejut menyaksikannya. Tapi terlihat biasa saja dengan, Dinar yang tidak tau. Namun mereka menganggap bahwa itu hanyalah acting belaka, Fahri karna, Dini berada disana
"Jantung gue" batin, Risa yang menahan napasnya selama beberapa detik
"Aaaaa..... Baper" seru, Syifa yang kini memeluk, Luthfi dengan erat tanpa ia sadari.
Dan tanpa ia sadari. Gadis yang berada di samping, Luthfi ingin sekali menyeretnya keluar dari pelukan, Luthfi
"Risa? Jantung loh masih normal kan?" ledek, Vigo
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
Jangan lupa like dan votenya yah 😊 Terima kasih untuk yang sudah mendukung 🤗