
"Loh ngga tau perasaan gue, Fa", Viona setengah terisak melirik, Syifa
"Ia. Gue ngerti kok", Syifa hanya mengangguk membelai pundak, Viona dengan lembut, "Tapi loh jangan kayak gini, Vi. Loh harus dengerin penjelasan, Vigo. Loh ngejauhin dia selama setahun ini tanpa loh ngasih tau kesalahan dia dimana"
"Penjelasan apa lagi yang harus gue dengar dari dia, Fa? Sahabat dia udah ngasih tau gue semuanya. Dan gue juga ngga perlu lagi ngasih tau dia alasan kenapa gue ngejauhin dia. Karna semuanya udah jelas", Viona semakin terisak
"Viona. Mungkin gue ngga tau masalah loh sama, Arvigo apa. Tapi yang bisa gue tangkap, loh harusnya bisa berkomunikasi dengan baik sama, Arvigo. Loh ngga ngejelasin alasan kenapa loh ngejauh dari dia, itu cuma bakal memperparah hubungan loh. Dan loh?", Risa menunjuk, Vigo, "Loh juga harusnya minta penjelasan ke, Viona sendiri, jangan nyuruh-nyuruh sahabat loh, karna loh ngga akan pernah tau apa yang mereka omongin"
"Gue udah sering minta penjelasan ke, Vio. Tapi, Vio ngga pernah ngerespon gue. Udah berkali-kali gue minta maaf kalau gue ada salah, tapi, Vio sama sekali ngga nanggepin gue" tutur, Vigo dengan melas
""Untuk apa? Toh, loh juga bahagia tanpa gue. Loh senang-senang aja tanpa gue. Ngga ada tampang kesedihan dimata loh untuk gue. Bahkan, loh lebih ceria tanpa gue, asal loh bisa terus bersama yang loh anggap sahabat depan gue", Viona menaikkan intonasi suaranya
"Vio. Gue ngga pernah bahagia tanpa loh. Gue nutupin semua kesedihan gue, gue cuma berusaha nutupin semuanya kalau gue baik-baik aja tanpa loh, Vio. Dan alasan kenapa gue kuliah disini, karena gue ngikutin loh. Gue mau kesalahpahaman kita berakhir. Selama setahun ini, gue ngga pernah tau alasan loh yang sebenarnya. Vio, gue ngga pernah jadian sama, Lury. Gue cuma nganggap dia sahabat, ngga lebih", Vigo menjelaskan semuanya ke, Viona
"Tapi dia ngga, Vigo. Dia ngga pernah nganggap loh sahabat. Dia suka sama loh. Dan loh malah ngebalas rasa suka dia, dengan semua perhatian dan kasih sayang loh sama yang kayak loh ngelakuin itu ke gue. Dan loh ngga peka sama perasaan gue, gimana sakit hatinya gue, ngeliat cowok gue memberikan perhatian yang sama ke sahabatnya. Gue berusaha memahaminya, tapi makin lama, kalian makin menjadi-jadi. Sampai gue dengar dari telinga gue sendiri, Lury bilang, kalau kalian udah jadian. Terus salahnya gue dimana kalau gue ngejauh dari loh? Gue ngga mau ngerusak kebahagiaan kalian" air mata, Viona semakin menderas
"Vio..", Vigo mendekat kearah, Viona. "Maaf, Vio. Selama ini gue ngga pernah tau perasaan loh. Gue juga ngga tau kalau, Lury sampai ngomong itu ke loh. Maaf, Vio", Vigo mencoba meraih tangan, Viona yang bergetar
Syifa dan Risa menjauh dari, Viona dan Vigo. Mereka kembali ketempat duduknya yang disana, Luthfi duduk tanpa mengatakan apapun sejak tadi. Ia hanya memperhatikan, Vigo dan Viona yang sedang menyelesaikan masalah mereka
"Maafin gue, Vio. Gue mungkin ngga bisa jadi pacar yang baik buat loh. Tapi gue benar-benar ngga tau tentang semua ini. Lury juga ngga pernah ngomong ini ke gue. Maafin gue, Vio" tutur, Vigo dengan lembut, tangannya terus menggenggam tangan, Viona yang tidak ditolak oleh gadis itu
Air mata, Viona tidak berhenti mengalir setelah mengeluarkan semua rasa sakit hatinya selama setahun ini. Ia juga mulai merasa bersalah karna tidak mengatakan apapun kepada, Vigo.
"Maafin gue yah", Vigo menyapu lembut air mata yang keluar dari mata, Viona yang disertai anggukan kecil, Viona
__ADS_1
"Mungkin kalian butuh waktu berdua untuk lebih bisa mengeluarkan isi hati kalian" seru, Luthfi saat keadaan sudah mulai mereda
"Hmm. Kalian bisa ngobrol ditaman belakang" timpal, Syifa yang membenarkan perkataan, Luthfi
"Ayo, sini gue antar" sahut, Risa yang kemudian diikuti oleh, Viona dan Vigo
Kini, hanya tersisa, Syifa dan Luthfi yang berada diruangan tersebut. Mereka sedikit canggung karena tak ada yang memulai percakapan diantara mereka
"Hmm.... Luthfi. Gue ke dapur dulu yah, mau buatin minum" cetus, Syifa. Luthfi hanya mengangguk
Setelah, Syifa membuatkan jus apel untuk, Luthfi. Ia segera menghampiri, Luthfi. Namun, Syifa mengedarkan pandangannya mencari, Risa. Mengapa anak itu tidak juga kembali. Tidak mungkin, Risa masih ditaman menemani, Viona dan Vigo
"Ini minumnya", Syifa menaruh gelas jus apel tersebut di meja depan, Luthfi
"Terima kasih" ucap, Luthfi
"Ada apa?", Syifa berbalik dan sedikit terkejut karna, Luthfi tiba-tiba menahan tangannya
"Tadi, Risa bilang mau ke supermarket. Dia juga pesan jaga rumah, jangan kemana-mana sebelum dia pulang" ujar, Luthfi yang menyampaikan pesan, Risa sebelum pergi
"Ohh..", Syifa membulatkan mulutnya.
'Risa pasti sengaja. Ngeselin banget sih tuh anak. Masa gue ditinggal berdua sama, Luthfi. Mau ngomong apa coba gue. Aaaaa...... Risa..... Keterlaluan banget sih loh' - gerutu, Syifa dalam hati
"Loh kayaknya dekat sama, Reza yah", Luthfi memecahkan keheningan
__ADS_1
"Ah? Ngga kok. Tadi cuma kebetulan aja" gugup, Syifa
Luthfi membuang wajahnya ke sembarang tempat, "Kebetulan yang bisa jalan bareng yah"
Syifa meraba tengkuknya yang tiba-tiba merinding
"Ngga. Bukan gitu", Syifa menggigit bibir bawahnya
"Terus?", Luthfi menoleh kearah, Syifa
Kini, Syifa yang membuang perlahan wajahnya dari bersitatap dengan, Luthfi
"Tadi dia minta tolong ke gue buat menemin dia ke mall. Tadinya gue mau nolak. Tapi, Risa sama Viona malah ngasih jalan buat dia. jadi gue ngga bisa nolak" papar, Syifa yang setengah mati mengatur nada suaranya agar terdengar biasa saja
'Aaaa..... Risa.... Loh dimana sih. Gue benar-benar ngga kuat sekarang' - batin, Syifa
Luthfi tidak lagi membalas ucapan terakhir, Syifa. Kini pandangannya tidak lagi mengarah ke, Syifa. Ia hanya memperhatikan seluruh isi ruangan tersebut
"Hmmm... Kenapa?", Syifa bertanya walau detak jantungnya tidak beraturan
"Ngga apa-apa", Luthfi tidak menatap, Syifa sama sekali. Ia meraih jus apel yang ada dihadapannya lalu meneguknya
'Dia ini kenapa lagi sih? Kan gue jadi ngga enak' - batin, Syifa yang terus meremas kedua tangannya dibawah meja
Suara pintu terbuka pelan. Syifa menoleh kearah pintu tersebut. Risa kemudian masuk dan menenteng beberapa kantung plastik berisi cemilan dan beberapa minuman. Syifa kemudian menghampiri, Risa dan membantunya membawa kantung plastik tersebut
__ADS_1
"Lama banget sih loh" gerutu, Syifa dengan pelan
"Tapi loh senang kan?" goda, Syifa