
"Nih, minum dulu", Fahri menyerahkan botol minum kepada, Syifa, Risa dan Reza
"Masih beruntung sih gue satu kelompok sama loh" seru, Syifa lalu mengambil botol minum tersebut
"Jadi maksud loh? Loh ngga beruntung gitu sekelompok sama gue?" tanya, Risa dengan sewot.
"Apaan sih. Baperan deh" saut, Syifa yang mulai meneguk botol minum tersebut
Risa memutar malas bola matanya. Fahri hanya menggeleng karna sudah terbiasa. Berbeda dengan, Reza yang menatap mereka bertiga dengan kening mengerut.
Drrrrrtttt drrtttt
Deringan ponsel milik, Fahri bergetar hingga yang punya harus merogoh ponsel tersebut di saku celananya. Ia melihat layar ponselnya kemudian tersenyum tipis sebelum menekan tombol hijau pada layar tersebut lalu menekan tombol speaker
"Halo" jawab, Fahri
"Gimana latihan kalian nih?" tanyanya diseberang sana
"Lumayan melelahkan. Eluh sendiri gimana?" tanya, Fahri
"Ya sama. Capek banget gue" ucapnya
"Itu, Vigo kan?" tanya, Risa dan, Fahri mengangguk
"Vigo? Viona mana?" seru, Syifa
"Eh, Syifa. Ada tuh. Bentar gue panggil. Vio!! Dicari sama, Syifa nih sama Risa juga" teriak, Vigo memanggil, Viona diseberang sana
"Halo, Syifa, Risa?" seru, Viona dengan semangat
"Semangat banget loh, Vi" saut, Risa
"Hehe. Gimana latihan kalian?" tanya, Viona
"Capek, pegal, lelah. Campur aduk deh. Tapi seru juga sih" jawab, Syifa
"Loh sendiri gimana?" tanya, Risa balik
"Sama. Gue juga capek banget. Cuma seru juga sih" tukas, Viona
"Luthfi mana, Vi?" tanya, Fahri
"Ada tuh. Baru istirahat dia. Kasian, partnya dia banyak karna pemeran utama" ujar, Viona
"Panggilin dong" perintah, Fahri
"Bentar, gue panggil dulu yah" saut, Viona
"Kan dia baru istirahat" tegur, Syifa kepada, Fahri
"Ngga apa-apa. Kan cuma mau ngobrol biasa" ucap, Fahri
"Luthfi jadi pemeran utamanya?" tanya, Reza yang baru mengeluarkan suaranya yang beberapa saat lalu memilih bungkam dan hanya mengamati mereka bertiga
"Ia. Luthfi yang jadi pemeran utamanya" saut, Risa
"Halo" jawab, Luthfi diseberang sana
"Halo, Fi. Sombong banget loh ngga jawab telpon gue tadi" ujar, Fahri
"Sombong darimana gue? Gue ngga jawab telpon loh tadi karna pass banget sama part gue tadi. Jadi gue ngga megang hp" bantah, Luthfi
"Gimana jadi pemeran utamanya, Fi? Seru ngga?" seru, Risa
"Capek" saut, Luthfi
"Ayo teman-teman kita latihan lagi" salah satu dari kelompok, Syifa dkk memanggil untuk latihan lagi
"Fi. Gue tutup telponnya dulu yah. Mau latihan lagi nih" pamit, Fahri
"Ia. Gue juga mau latihan lagi" jawab, Luthfi
Fahri akhirnya menyudahi sambungan telepon mereka karna harus fokus latihan seni teater, mengingat waktu mereka latihan hanya tersisa dua hari lagi.
Mereka terus latihan drama tersebut. Dimana pada kelompok dua, Luthfi dan Celia menjadi pemeran utama dalam cerita sepasang kekasih yang berjanji akan saling mencintai dan saling berjanji untuk tidak akan berpisah selamanya. Sedangkan di kelompok tiga, Syifa dan Reza lah yang menjadi pemeran utama yang menceritakan kisah sepasang kekasih yang sangat bahagia awalnya, namun harus berpisah karna sang lelaki harus melanjutkan kehidupannya di negara lain.
Mereka terus berlatih hingga waktu dua hari tersebut kini telah mereka lewati bersama. Dan kini tiba saatnya, kelompok mereka akan melakukan pertunjukan di ruang Auditorium yang sempat mereka pakai saat masa OSPEK dulu
"Gue deg-deg-an nih", Viona memegang dada sebelah kirinya yang terdapat jantungnya disana
"Tarik nafas. Terus buang perlahan", Vigo berusaha menenangkan, Viona
"Luthfi? Gue aja gugup sampai gini. Loh ngga gugup kan?" tanya, Viona kepada, Luthfi
"Biasa aja. Kan cuma akting" jawab, Luthfi dengan datar
"Kebiasaan deh loh" saut, Viona yang malas mendengar jawaban, Luthfi
"Dia kan manusia es, Vio" timpal, Vigo yang terkekeh
"Emang. Gimana, Syifa ngga kedinginan. Dia aja kayak es" seru, Viona yang terus mengoceh
Luthfi hanya melirik, Viona dan Vigo tanpa mau membalas ocehan kedua temannya itu. Ia memilih diam sambil menunggu instruksi dari dosen seni teater mereka untuk segera bersiap-siap
***/
"Loh ngga gugup kan?" tanya, Reza kepada, Syifa saat hanya ada mereka berdua di ruangan kelompok tiga
__ADS_1
"Sedikit", Syifa berusaha menetralkan rasa gugupnya
Reza meraih tangan, Syifa. "Pegang tangan gue kalau loh gugup" ucap, Reza
Syifa hanya mengangguk lalu tersenyum
"Hmm Hmm" deheman terdengar dari, Risa, Fahri serta teman-teman kelompok mereka yang lain saat memasuki ruangan tersebut
"Cieeee. Pacaran mulu"
"So sweet deh, Reza pegang-pegang tangan, Syifa"
"Coba aja drama kita kayak kelompok dua, udah bisa dipastikan nih, Syifa sama, Reza bakal top banget dalemin perannya"
Syifa menunduk malu mendapat ledekan dari teman-teman kelompoknya yang lain. Namun, Reza hanya tersenyum terus memegang tangan, Syifa
"Syifa?" panggil, Risa. "Temenin gue ke toilet dulu yuk?" ajak, Risa
"Ayo. Ehm, Reza? Gue temenin, Risa ke toilet dulu yah", Syifa menarik tangannya dari genggaman, Reza. Reza hanya mengangguk
Syifa bangkit dari duduknya menuju, Risa lalu mereka berdua keluar bersama untuk ke toilet.
"Untung loh ngajakin gue keluar. Coba kalau ngga? Bisa-bisa terbakar muka gue karna malu" ujar, Syifa saat mereka menuju toilet
"Gue tau kali. Makanya gue ngajak loh keluar" saut, Risa
"Terbaik deh emang loh, Sa", Syifa bergelantung di lengan, Risa
"Siapa dulu dong" seru, Risa dengan bangga
"Mulai deh songongnya", Syifa melepaskan tangannya. "Sana masuk. Gue tunggu disini aja" lanjutnya
"Ok. Jangan kemana-mana ingat. Tunggu gue disini", Risa memperingati, Syifa
"Ia bawel. Sana masuk", Syifa mendorong, Risa untuk, segera masuk ke dalam toilet sementara ia akan menunggunya diluar
Syifa memainkan kakinya sambil menunduk menunggu, Risa keluar dari ruangan tersebut. Luthfi yang baru saja keluar dari toilet pria melihat, Syifa berada di depan toilet wanita sedang berdiri. Luthfi pun menghampiri, Syifa
"Ngapain berdiri disini?" tanya, Luthfi
Syifa mendongak dan mendapati, Luthfi berada di hadapannya. Ia pun memperbaiki posisi berdirinya yang tadinya sibuk memainkan kakinya, kini sudah tegak kembali
"Gue nunggu, Risa di dalam" saut, Syifa yang menunjuk ke toilet wanita
"Oh" hanya itu yang diucapkan, Luthfi
"Loh sendiri darimana?" tanya, Syifa balik
"Gue dari toilet", Luthfi, menunjuk toilet pria
Luthfi menatap, Syifa tanpa berkedip hingga, Syifa menjadi salah tingkah
"Kenapa loh liatin gue gitu?" tegur, Syifa
"Ngga apa-apa. Gimana latihan loh?" tanya, Luthfi
"Hmm. Yah lumayan lancar kok. Loh sendiri gimana?" tukas, Syifa
"Lancar", Luthfi hanya mengangguk
"Gue udah selesai", Risa keluar dari toilet tanpa melihat keduanya. Ia hanya sibuk merapikan pakaiannya
"Udah?" tanya, Syifa memastikan
"Udah" jawab, Risa lalu mendongak dan melihat, Luthfi berada disana. "Eh, Luthfi? Loh disini?" lanjut, Risa yang diiakan, Luthfi
"Dia juga tadi dari toilet" saut, Syifa
"Gue tadi ngeliat, Syifa berdiri disini, jadi gue samperin" cetus, Luthfi
"Ohh gitu" ucap, Risa
"Ya udah. Kita balik duluan yah, Fi? Titip salam Sama, Viona yah" pamit, Syifa
"Ia. Nanti gue salamin" jawab, Luthfi sambil mengangguk pelan
"Duluan yah, Fi" pamit, Risa yang kemudian keduanya berlalu dari hadapan, Luthfi
***/
"Baiklah anak-anak. Pastikan kalian sudah semua berkumpul dengan kelompok masing-masing yah. Sebentar lagi, seni teater akan segera kita mulai. Sebelum kita melakukan pertunjukan, ada baiknya kita berdoa dulu dengan kepercayaan masing-masing. Doa dimulai" tutur dosen tersebut lalu menunduk seraya berdoa tanpa bersuara yang diikuti oleh mahasiswa di kelas seni teater
"Baik. Kita akan mulai. Satu perwakilan silahkan maju untuk mengambil nomor undian. Yang mendapat nomor undian pertama, maka kelompok mereka yang akan mulai tampil terlebih dahulu" papar dosen tersebut.
Masing-masing satu dari perwakilan kelompok pun maju ke depan untuk mengambil nomor undian. Setelah mengambil nomor undian lalu diberikan kembali kepada dosen mereka untuk segera mengetahui siapa penampil pertama
"Baiklah anak-anak. Untuk kelompok pertama yang akan tampil, adalah kelompok empat. Kemudian disusul kelompok satu, dilanjut oleh kelompok dua, dan yang terakhir adalah kelompok tiga"
Sorakan tepuk tangan penuh riuh terdengar menggema seisi ruangan tersebut. Teriakan semangat dari para kelompok masing-masing terdengar dimana-mana.
"Baik. Silahkan untuk penampil pertama kita, kelompok empat untuk maju ke depan. Dan inilah penampilan dari kelompok empat" seru dosen tersebut yang disambut suara tepuk tangan dan sorakan yang penuh semangat
Kelompok empat memulai pertunjukan mereka. Akting dari pemeran wanitanya sangat menjiwai hingga banyak yang terharu. Bahkan, Syifa pun ikut meneteskan air matanya tatkala sepasang kekasih tersebut harus berpisah karna tidak mendapatkan restu dari orangtua si wanita.
"Ya ampun. Sampai nangis loh, Fa?" tegur, Risa yang berada di samping, Syifa
"Sedih banget" ucap, Syifa dengan nada sedih
__ADS_1
Reza yang juga berada di samping, Syifa hanya tersenyum lalu menyeka air mata, Syifa. "Sampai harus nangis juga?" tanya, Reza dengan lembut
Syifa mengangguk. "Gue ngga bisa lihat orang nangis" saut, Syifa dengan nada sedikit manja
"Ngga apa-apa kok", Reza tersenyum memaklumi, Syifa
"Wow. Penuh dengan haru penampil pertama kita. Banyak yang jadi ikut terbawa suasana dalam ceritanya. Baik, tanpa perlu menunggu waktu lebih lama lagi. Mari kita saksikan penampilan dari kelompok satu" seru dosen yang mengambil alih tadi
Penampilan kelompok satu pun tidak kalah sedih. Sepasang kekasih yang awalnya sangat bahagia tersebut harus rela berpisah dikarenakan hubungan mereka yang tidak bisa dipertahankan lantaran jarak yang memisahkan mereka. Jika saat kelompok empat si wanita yang paling menghayati perannya, di kelompok satu, pemeran cowoknya yang paling menghayati hingga menyesakkan dada, apalagi yang melihatnya. Lagi-lagi, Syifa terus meneteskan air matanya karna tidak kuat melihat tangisan sang pria
Ting
Satu pesan masuk dari ponsel milik, Syifa. Ia meraih ponselnya yang berada ditas kecil mililnya. Sejenak melihat nama, Luthfi tampil dilayar ponselnya. Ia kemudian membuka pesan dari, Luthfi
'Jangan lihat kalau nangis terus' - Luthfi
Syifa mendongak dan mencari-cari letak tempat duduk, Luthfi. Ia tidak menemukan, Luthfi hingga ia terus celingak celinguk membuat, Reza mengerutkan kening
"Cari siapa, Fa?" tanya, Reza saat melihat, Syifa yang seperti sedang mencari-cari sesuatu
"Oh? Ngga kok. Ngga nyari siapa-siapa" jawab, Syifa dengan berbohong
Ting!
Satu pesan kembali masuk dari ponsel milik, Syifa. Syifa langsung membuka pesan tersebut dan membacanya
'Di samping kanan, bagian tengah tiang' - Luthfi
Setelah membaca isi pesan dari, Luthfi. Syifa begitu malu untuk mengangkat wajahnya. Ia kedapatan oleh, Luthfi sedang mencari-cari dirinya. Akhirnya, Syifa berusaha tenang dan memasang raut wajah sesantai mungkin lalu membalas pesan, Luthfi
'Gue ngga nyari loh tuh' - Syifa
Tak ada balasan lagi dari, Luthfi. Syifa beberapa kali melirik ponselnya namun tidak berani memegangnya. Ia takut jika, Luthfi memperhatikannya dan membuatnya malu lagi
"Sangat menyesakkan dada penampilan dari kelompok satu. Mari kita beri tepuk tangan yang meriah untuk kelompok empat dan kelompok satu yang sudah tampil" suara tepuk tangan penuh semangat mereka berikan untuk kelompok yang sudah tampil. "Dan selanjutnya, mari kita saksikan bersama penampilan dari kelompok dua" lanjutnya
Seluruh pasukan kelompok dua sudah mulai memadati panggung. "Itu dia" guman, Syifa yang melihat, Luthfi berjalan kearah panggung
Kelompok dua memulai pertunjukan mereka. Terlihat disana ada, Viona dan Vigo yang saling melepas rasa rindu karena lama tidak bertemu. Kemudan datang, Luthfi dan Celia dengan senyum mereka yang sangat mekar. Mereka berbincang layaknya sahabat yang sudah lama saling mengenal. Hingga tersisa, Luthfi dan Celia disana.
"Fikran? Kamu janji kan ngga akan ninggalin aku?" tanya, Celia kepada, Luthfi yang berperan menjadi, Fikran
"Dewi. Aku sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu apapun yang terjadi. Aku sangat mencintaimu, hari ini, esok, dan selamanya" jawab, Luthfi kepada, Celia yang berperan sebagai, Dewi. "Janji?" tanya, Celia dengan manja. "Janji", Luthfi mengulang dan mengangguk
Syifa menjadi sesak seketika. Ia tidak mengeluarkan air matanya. Namun sesak di dadanya dapat ia rasakan. Ia tidak berhenti memperhatikan, Luthfi dan Celia yang sangat menghayati peran mereka layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai dan tidak ingin berpisah
Pertunjukan dari kelompok dua pun berakhir dengan pegangan tangan serta tatapan penuh cinta dari, Luthfi serta Celia. Luthi langsung melepaskan tangannya dan kembali menjadi sosok dingin saat berakhirnya pertunjukan mereka
"Sepertinya banyak yang ikutan baper yah disini? Peran mereka sangat menjiwai seperti tidak sedang berakting. Tapi tak perlu kita berlama-lama. Mari kita sambut penampilan terakhir dari kelompok tiga" seru dosen tersebut
Semua yang terlibat di kelompok tiga bergegas menuju panggung dan segera memulai pertunjukan mereka yang tidak kalah bagus dari kelompok sebelumnya yang sudah tampil
Terlihat beberapa orang memadati panggung yang sedang melangsungkan pertunjukan mereka. Juga terlihat ada, Syifa, Reza, Risa, Fahri dan beberapa teman mereka disana. Saling menggoda, Reza dan Syifa yang sangat serasi dan tak pernah terlihat bertengkar. Reza kemudian mengajak, Syifa untuk pergi dari sana
"Ada apa, Arian?" tanya, Syifa kepada, Reza yang berperan sebagai, Arian. "Queendi. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu" saut, Reza kepada, Syifa yang berperan sebagai, Queendi. "Kamu mau ngomong apa? Kok kayaknya serius banget" tukas, Syifa yang merapikan rambut, Reza. "Aku harus pergi, Queendi" jawab, Reza. "Pergi kemana?", Syifa mulai cemas dalam perannya
"Aku akan pindah ke Eropa, dan akan menetap disana. Maaf, Queendi. Aku ngga bisa nolak permintaan mama aku buat ngga pindah kesana" ujar, Reza dalam perannya
"Jadi maksud kamu? Kamu mau ninggalin aku sendiri disini? Arian? Kamu udah ngga sayang sama aku lagi?" mata, Syifa mulai berkaca-kaca
"Aku masih sayang sama kamu, Queendi. Sayang banget. Tapi aku juga harus pindah. Dan aku..... Aku.... Ngga bisa ngelanjutin lagi hubungan kita" ucap, Reza yang membuat, Syifa menjatuhkan air matanya. Rasa sesak yang tadi ia pendam tadi saat melihat adegan, Luthfi dan Celia kembali memuncak dalam benaknya
"Maksud kamu apa, Arian?" tanya, Syifa di sela-sela air matanya yang jatuh namun belum mengeluarkan suara tangis. "Maaf, Queendi. Aku sayang sama kamu, tapi aku ngga mau kamu harus terbebani dengan aku yang jauh disana nantinya. Maafin aku, Queendi. Aku sayang sama kamu. Tapi hubungan kita hanya sampai disini. Maaf", Reza menyeka lembut air mata, Syifa lalu pergi dari sana
Air mata, Syifa berjatuhan melihat kepergian, Reza. Suara tangis yang sempat ia tahan tadi, kini ia keluarkan bersamaan dengan rasa sesak di dadanya. Ia, menangis sejadi-jadinya memanggil nama, Arian
Kelompok yang lain berdecak kagum dengan akting, Syifa yang seakan-akan nyata.
"Syifa keren banget aktingnya. Kayak beneran" kagum, Viona
"Nangisnya kayak ngga dibuat-buat yah" timpal, Vigo
"Syifa mendalami banget perannya. Tapi gue ngga suka liat dia nangis" guman, Luthfi yang tidak berhenti terus menatap, Syifa
*
*
*
*
*
***
*
*
*
*
*
Ini adalah eps terpanjang yang Queenza buat sejauh ini. Queenza mau mengucapkan terima kasih banyak kepada kalian semua yang masih setia mau meluangkan waktunya membaca novelku ini. Dan terkhusus buat kalian yang tak pernah lelah menekan tombol like, Queenza sangat berterima kasih. Alhamdulillah, viewersnya semakin bertambah meski likenya tidak seberapa. Tapi itu cukup membuat Queenza semangat. mohon maaf juga karna beberapa eps belakangan ini jadi sedikit partnya, karna ada urusan pribadi juga. Sekali lagi, terima kasih untuk kalian semua yang sudah mau membaca novelku ini, terkhusus untuk yang selalu meninggalkan likenya, terima kasih semuanya. I love U 😍💕
__ADS_1