
"Benar-benar yah loh, Sa", Viona menggelengkan kepalanya dengan singkatan yang diberikan, Risa
"Tapi cocok loh. 2V. Vigo Viona" cetus, Vigo yang setuju dengan singkatan nama mereka
"Cocok dari mananya?" guman, Lury dengan malas
"Yah cocok dong. Sama-sama huruf V awalannya. Nyambung banget yah? Aaa. Gue senang. Ok Mulai sekarang, kita 2V" seru, Viona melirik ledek, Lury
"Cieee yang senang", Risa menggoda mereka dengan ikutan senang melihatnya
"Pacarannya udah lama. Singkatan namanya baru" ledek, Fahri
"Itu namanya kekuatan kebersamaan" cetus, Luthfi
"Setuju. Dan loh berdua?", Syifa menunjuk, Fahri dan Risa. "Cocok banget namanya digabungin. Jadi 'Fahrisa'. Cocok kan?", Syifa memberi usulan
"Eh ia yah? Gue baru mikir kesana" sahut, Viona
"Cocok emang. Udah. Fixed kan" ledek, Vigo
Fahri dan Risa saling melihat dengan alis yang berkerut karna menyatu.
"Kalau dipikir-pikir ia juga yah" tukas, Risa yang masih menatap, Fahri
"Emang sejak kapan loh mikir?" tanya, Fahri yang mencolek dagu, Risa untuk menggodanya
"Loh pikir gue ngga punya otak?" kesal, Risa memukul dada, Fahri yang kini tengah tertawa
"Risa. Loh bisa nyakitin dada, Fahri" seru, Dini yang tidak rela bila, Risa memukul dada, Fahri
"Fahri kan cowok gue. Jadi terserah gue sih" ketus, Risa melirik, Dini
"Udah dek. Jangan gitu" tegur, Dinar memegang lengan adik sepupunya
"Hmmm. Gue juga mau gabungin nama, Syifa sama Luthfi" seru, Viona tiba-tiba
"Jadi apa?" tanya, Vigo yang sudah tidak sabar
"Luthsyifa" ujar, Viona dengan semangat. "Cocok kan?" tanyanya
"Cocok banget. Setuju" cetus, Risa lalu melirik, Dinar yang raut wajahnya sudah kesal
"Luthfsyifa. Keren juga" tukas, Fahri
"Gimana, Fa?" tanya, Viona
Syifa menoleh ke belakang, "Viona nanya tuh" ucapnya pada, Luthfi yang berada di belakangnya
"Aku suka" sahut, Luthfi dengan membelai lembut kepala, Syifa.
"Luthfi katanya suka" ujar, Syifa setelah mengembalikan posisinya ke semula
"Berarti. Luthsyifa, Fahrisa, dan 2V" seru, Viona yang kegirangan
"Kenapa jadi bahas hal ngga penting gini" guman, Dinar dengan kesal
"Kenapa ngga, Govio aja" cetus, Luthfi
"Govio?", Syifa mengulang dan menoleh pada, Luthfi. "Govio apaan?" tanyanya
"Vigo Viona. Disingkat jadi, Govio" sahut, Luthfi
"Masuk tuh" seru, Fahri
"Govio. Bagus. Biar gabung gitu yah" cetus, Viona
"Ya udah. Govio aja" tukas, Vigo
"Tau ngga, Vigo? Apa yang paling buat gue tetap mau bertahan sama loh?" tanya, Viona dengan wajah serius pada, Vigo
"Apa?", Vigo menyibak anak rambut, Viona yang menjutai ke dahinya
"Karna loh selalu mendahulukan kebahagiaan gue. Loh selalu berusaha buat gue senang. Loh selalu berusaha buat gue ketawa. Dan penyesalan gue selama ini? Gue menjauh dari loh dulu dan ngga mau dengerin penjelasan loh. Gue pikir, loh benar-benar ninggalin gue saat itu. Disaat gue benar-benar sayang banget sama loh" ujar, Viona yang sudah berkaca-kaca
Lury terkejut mendengar penuturan, Viona. Ia mulai merasa was-was. Bagaimana jika, Viona menceritakan apa yang sudah ia katakan kepada, Viona
"Apa, Vigo sekarang tau? jangan sampai. Gue ngga mau, Vigo jauhin, Gue" batin, Lury dengan meremas kedua tangannya
"Ngga, Vio. Gue yang salah. Loh berhak marah. Kalau gue diposisi loh. Gue juga pasti bakal marah" tutur, Vigo menggenggam erat tangan, Viona yang tersenyum padanya dengan tulus. Dan, Lury menelan paksa ludahnya mendengar ucapan, Vigo
__ADS_1
"Aaaaa..... *So sweet*" seru, Risa yang menatupkan kedua tangannya dan menaruhnya di pipi
"Gue jadi terharu. Jadi pengen nangis malah" cetus, Syifa yang sudah berkaca-kaca karna terharu dengan kedua temannya yang sempat berselisih dulu
"Gue ngga tau mau ngomong apa. Pass gue gabung, udah baikan aja ternyata" tukas, Fahri yang memang tidak melihat, Viona dan Vigo berbaikan. Karna dirinya pindah kampus tepat setelah, Vigo dan Viona baikan
"Yah. Gue, Syifa sama Risa jadi saksi pertengkaran mereka. Gue ngga bisa ngapa-ngapain waktu itu" cetus, Luthfi yang mengingat kejadian itu
"Udah dong teman-teman. Nanti gue jadi baper" ucap, Viona yang merengek seperti anak kecil
"Sayang", Vig memeluk, Viona dengan gemas
"Harusnya loh lihat kita disini juga. Jangan mesraan mulu" sindir, Lury melirik sinis, Viona
"Gue pengen nebus gimana hubungan gue dulu sama, Vigo yang jauh karna seseorang. Jadi, wajar dong kalau sekarang gue pengen mesra-mesraan sama, Vigo", Viona balas menyindir, Lury
"Udah", Dini menahan tangan, Lury ketika gadis itu hendak membuka mulut untuk membalas
"Dalam sebuah hubungan. Komunikasi itu penting. Harus saling percaya. Kalau punya masalah, langsung bilang, jangan dipendam. Apalagi kalau cuma dengar dari mulut orang. Bisa aja itu bohong. Jadi, harusnya langsung bertanya sama pasangan. Biar ngga kejadian lagi kayak dulu" seru, Syifa yang tersenyum pada, Viona
"Ia Ibu yang udah paling ngerti tentang sebuah hubungan. Uhhhh, sayang deh" ledek, Risa
Fahri langsung tertawa keras mendengarnya. Disusul tawa, Luthfi, Viona dan Vigo
"Apa yang lucu sih?" ketus, Dinar yang melihat keempat orang tertawa bersama
"Risa si tukang lawak", Fahri yang gemas mengapit kedua pipi, Risa dengan kedua telapak tangannya
"Risa mah ngeselin" cemberut, Syifa hingga membuat, Luthfi harus menenangkannya
"Udah? Puas-puasin aja lah sebelum gue pergi jauh" ujar, Risa pada, Fahri yang hanya bergurau belaka
"Mau pergi kemana?" tanya, Fahri dengan serius dan melepaskan pipi, Risa
"Yah gue mau pergi jauh. Sejauh mungkin. Sampai loh ngga bisa nemuin gue" seru, Risa yang bercanda
Fahri tidak membalas. Ia manatap, Risa dengan wajah serius. Risa menahan tawanya melihat raut wajah, Fahri yang seperti itu
"Wah wah. Ciri-ciri bakal ditinggalin nih" ledek, Vigo
"Yah jangan dong. Patah hati ntar yang ada", Viona menimpali
"Jangan gitu dong kalian" sergah, Syifa
"Fahri", Risa menyentuh tangan, Fahri karna merasa pria itu tidak berhenti menatapnya
"Ayo loh, Sa. Fahri marah" ledek, Vigo yang mengerti betul arti tatapan, Fahri itu
"Fahri marah? Marah karna mau ditinggalin sama cewek itu? gue ngga percaya ini" batin, Dini yang menggigit bibir bawahnya
"Fahri? Gue cuma bercanda" ujar, Risa yang menggoyang-goyangkan tangan, Fahri. Namun pria itu masih tidak bergeming
"Loh sih, Sa. Suka ngawur kalau ngomong" tegur, Syifa yang tidak enak melihat, Fahri menatap, Risa sedalam itu tatapannya
"Bujuk, Sa" cetus, Viona yang menyadari tatapan aneh di mata, Fahri pada, Risa
Luthfi tidak berbicara apapun. Ia mengamati ekspresi wajah, Fahri di belakang tubuh, Syifa. Ia menyipitkan matanya dan mencoba membaca raut wajah itu
"Aaaa. Fahri, jangan gini dong. Gue cuma bercanda beneran. Lagian juga gue mau kemana coba", Risa berusaha membujuk, Fahri dan menggoyang-goyangkan tangannya. "Beneran. Cuma bercanda" ia menaikkan dua jarinya
Fahri mengalihkan pandangannya namun masih belum bersuara. Raut wajahnya sulit untuk dibaca. Namun yang pasti, sangat aneh bagi, Syifa, Luthfi, Viona dan Vigo yang memandangnya
"Gue bisa ngejaga, Fahri kalau loh emang mau pergi" seru, Dini disaat suasana lagi tidak tepat
"Gue juga bisa ngejaga, Fahri" kesal, Risa yang menaikkan intonasi suaranya
"Biasa aja dong. Dini kan nawarin baik-baik. Kenapa jadi nyolot" cetus, Dinar yang membela adik sepupunya itu
"Gue juga ngomong baik-baik" sahut, Risa dengan kesal. Perasaannya sudah kacau ketika, Fahri marah padanya. Dan ditambah lagi dengan mereka
"Baik-baik tapi nyolot" sindir, Lury
"Bisa sih ngga sih loh ngga usah ikut campur?" tegur, Viona pada, Lury
"Dini teman gue? Dan gue berhak ikut campur" seru, Lury yang meninggikan suaranya
"Udah. Stop!" teriak, Syifa. "Kenapa sih kalian ini? Kenapa jadi kayak anak kecil?" serunya
"Teman loh yang mulai" seru, Dinar yang tidak kalah meninggikan suaranya
__ADS_1
"Dini ngomong baik-baik. Tapi teman loh malah nyolot. Ditambah dia juga", Seru, Lury yang menunjuk, Viona
"Apa loh nunjuk-nunjuk gue?" kesal, Viona yang sudah hendak berdiri dengan emosi namun, Vigo menahannya
"Stop!" teriak, Syifa
Fahri, Vigo dan Luthfi lebih memilih diam dengan kepala yang hampir meledak jika harus melihat para wanita sedang bertikai
"Apa loh" seru, Dinar pada, Syifa yang memang tidak menyukai gadis itu setelah tau, Luthfi lebih memilihnya dari pada dirinya
"Loh bertiga masih mau disini atau pulang?" ucapan, Fahri sontak membuat ketiga gadis itu bungkam.
"Udahlah Kak. Lury. Udah", Dini memegang tangan keduanya untuk berhenti bertengkar
"Fahri. Beneran, gue cuma bercanda tadi. Please jangan marah dong. Yah? Please. Gue cuma bercanda tadi", Risa memohon dan mengatupkan kedua tangannya di depan dagu
"Jangan ngomong pergi-pergi lagi" ujar, Fahri dengan penuh penekanan
"Janji", Risa menaikkan jari telunjuk dan jari tengahnya. "Janji ngga bakal ngomong pergi-pergi lagi" ucapnya
"Udah. Gue mau ke toilet", Fahri hendak berdiri namun, Risa menahannya
"Jangan marah dulu. Ayolah, Ri. Kan gue cuma bercanda doang" ujar, Risa sambil memegang tangan, Fahri yang hendak berdiri
"Ia. Asal loh, janji" sahut, Fahri
"Ia janji", Risa mengangguk dengan cepat
"Ya udah. Lepasin tangan gue. Gue mau ke toilet. Atau loh mau ikut?" tukas, Fahri
"Ngga", Risa dengan cepat melepaskan tangannya dan menggelang
Fahri menahan tawa dan berlalu menuju toilet. Risa akhirnya bisa bernapas lega setelah berperang dengan ketakutanya jika, Fahri benar-benar akan marah besar padanya karna candannya
"Gila. Fahri kalau marah nakutin banget" seru, Risa bersandar pada soffa
"Itu karna, Fahri sayang sama loh" sahut, Vigo dengan sungguh-sungguh
"Benar banget" timpal, Viona
"Ya ialah dia sayang sama gue. Gue kan pacarnya" ujar, Risa yang menganggap ucapan, Vigo dan Viona hanya untuk mengelabui ketiga gadis itu termasuk, Dini yang menatapnya dengan sinis
"Ngga tau diri" batin, Dini yang melirik sinis, Risa
"Tapi beneran yah? Nakutin banget si, Fahri kalau marah. Jantung gue ngga tenang" curhat, Risa
"Sama nih kek, Luthfi. Ngga berani gue ngajakin dia ngomong kalau lagi marah. Deg-degan jantung gue. Takut dipukul" cetus, Syifa menunjuk, Luthfi yang berada di belakangnya
"Kapan aku pernah marah sama kamu?", Luthfi mencolek perut, Syifa yang ia peluk dari belakang
"Yah kamu emang ngga marah sama aku. Tapi sama orang lain. Yah tetap aja aku takut" tukas, Syifa
"Tadi loh bilang apa? Takut dipukul? Yah ngga apa-apa kalau yang dipukul dibagian ba..... Auuuu" ucapan, Vigo terhenti karna, Viona sudah mencubit perutnya
Luthfi, Risa dan Syifa langsung tertawa mendengar jeritan, Vigo yang dicubit oleh, Viona pada area perutnya
"Jangan ngomong aneh-aneh" ancam, Viona menunjuk, Vigo dengan wajah kesal
"Loh nyakitin, Vigo tau ngga" seru, Lury menatap sinis pada, Viona
"Nih orang kenapa sih?" batin, Syifa
"Rasa-rasanya ngajak perang nih orang" batin, Risa
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
Jangan lupa like dan votenya yah 😊 Terima kasih untuk yang sudah mendukung 🤗