Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Extra Part 10 (Ending Part)


__ADS_3

Setelah hari-hari berlalu. Besok tiba saatnya hari masuk kuliah dimulai. Terlebih bagi, Syafa dan Bian yang masih dalam masa orientasi mahasiswa baru


"Aaaaa. Syafa senang banget deh. Besok akhirnya udah bisa mulai kuliah" seru, Syafa yang begitu kegirangan disaat semuanya tengah berkumpul di taman belakang rumah dengan mengadakan acara kecil-kecilan disana bersama kakak dan sahabat-sahabat kakaknya


"Senang aja dulu. Ntar juga lama-lama bosan" sahut, Risa


"Apaan sih Kak Risa. Ngga bisa banget liat, Syafa senang" gerutu, Syafa


"Maklumlah. Ngidam mungkin" ledek, Viona


"Sembarangan loh. Tapi Aamiin sih" tukas, Risa lalu tertawa


"Terus, Icha gimana, Sya?" tanya, Syifa yang mempertanyakan sepupunya yang juga sejurusan dengan adiknya


"Icha? Icha yah tinggal sama Kak Dewa. Soalnya Kak Dewa ngga mau kalau, Icha sampai ngekos. Takut nakal katanya" jawab, Syafa


"Yah emang ngga boleh. Icha kan juga anaknya gampang kebawa. Ngga baik ngekos sendiri" ujar, Syifa


"Kenapa Kakak ngga nawarin, Icha tinggal disini?" tanya, Syafa


"Udah kok. Kakak waktu itu nawarin, Icha. Tapi dia bilang pengen tinggal sendiri" jawab, Syifa


"Tapi ujung-ujungnya malah tinggal sama Kak Dewa. Mana bisa bebas si, Icha" sahut, Syafa lalu tertawa


"Emang disini loh bebas, Sya?" ledek, Vigo


"Bebas dong" sahut, Syafa dengan percaya diri


"Langkahin dulu tuh kakak loh kalau pengen bebas" goda, Fahri


"Kalau gue sih ngga masalah" cetus, Luthfi


"Duh. Kakak ipar gue yang paling baik deh ini mah" Syafa mengacungkan kedua jempolnya untuk kakak iparnya tersebut


"Asal selalu ditemani, Bian. Kalau ngga ada, Bian. Ngga boleh pergi-pergi" lanjut, Luthfi


"Yah kakak" ketus, Syafa yang cemberut


"Kok jadi, Bian kak? Bian ngga mau" tolak, Bian


"Emang loh pikir gue mau? Ngga usah mimpi" ujar, Syafa dengan gaya sewotnya


"Kalau gitu. Loh ngga akan bebas. Gampang kan" seru, Syifa


"Kakak mah suka gitu ah" kesal, Syafa


"Itu demi kebaikan loh juga. Ngga usah ngeyel deh kalau dibilangin" tegur, Risa


Syafa tidak membalas, ia terus mencebikkan bibirnya dengan kesal. Sedangkan, Bian menghela napas panjang karna akan menjadi penjaga anak gadis yang begitu cerewet dan manja itu


"Ingat, Bian. Temani, Syafa kemana-mana" ledek, Vigo


"Dimana ada, Syafa. Disitu ada, Bian" timpal, Fahri


Bian mendengus kesal, "Selalu aja gue"

__ADS_1


"Sya? Loh ngga manggil, Icha sama Kak Dewa kesini?" tanya, Syifa disela-sela adiknya yang tengah kesal


"Kak Dewa lagi lembur. Icha ngga dibolehin keluar rumah" sahut, Syafa


"Kan kesini doang. Ya masa ngga boleh?" tukas, Syifa


"Ngapain ngomong ke, Syafa? Ngomong sana sama Kak Dewa" ketus, Syafa


"Santai dong. Ngomong biasa aja kali, ini udah kek mau berantem aja loh berdua" sergah, Risa


"Ia nih. Ditinggal berdua bisa hancur tuh rumah" timpal, Viona


"Ngga akan mereka ditinggal berdua. Kan selalu ada, Luthfi yang nemenin, Syafa. Dan sekarang ada, Bian juga yang bakal nemenin, Syafa" ledek, Vigo


"Bisa aja loh, Go" seru, Luthfi lalu tertawa


"Bukan, Vigo namanya kalau ngga bisa ngeledek" sahut, Fahri


Ditengah keceriaan mereka menyanyi bersama. Seorang baby sitter keluar dan memanggil, Syifa karena, Gibran terus saja menangis kehausan karna persediaan ASI-nya sudah habis


"Tunggu bentar" seru, Syifa kepada yang lainnya dan mengambil alih putranya dari gendongan sang baby sitter untuk masuk ke dalam kamarnya


"Halo anak gentengnya Bunda? Lapar yah sayang?" Syifa memberikan ASI kepada putranya setelah berbaring di tempat tidurnya sambil mengajak sang anak bersenda gurau


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok, Luthfi disana yang baru saja kembali menutup pintu kamar mereka


"Kok kesini?" tanya, Syifa yang masih menyusui sang anak


"Seperti kata, Vigo tadi. Kalau aku akan selalu nemenin kamu" sahut, Luthfi yang tersenyum penuh ledekan lalu ikut berbaring di samping putranya


"Itu ngga gombal Neng. Tulus dari hati Abang ini" jawab, Luthfi yang membuat keduanya langsung tertawa


"Kok aku jadi geli yah" ucap, Syifa yang merasa geli dengan adegan keduanya tadi


"Sama. Mungkin kita emang ngga bisa romantis yah" balas, Luthfi, "Halo anak Ayah?" lanjutnya yang mengajak putranya berbicara


"Fi?" panggil, Syifa dengan pelan


"Hmm?" jawab, Luthfi yang menoleh pada istrinya


"Boleh ngga sih? Kalau, Gibran besok aku bawa ke kampus?" tanya, Syifa


"Boleh. Kalau kamu ngga malu bawa anak ke kampus" ledek, Luthfi


Syifa terkekeh, "Malu sih. Cuma kasian, Gibran kalau aku tinggal. Tapi juga aku udah terlanjur ngambil cuti cuma setahun aja" lanjutnya dengan menghela nafas berat


"Kenapa ngga ngambil cuti lima tahun?" ledek, Luthfi


"Kelamaan itu bor" sontak, Syifa memukul lengan, Luthfi. "Yakali ada cuti lima tahun. Lama amat. Itu niat belajar apa main-main doang?" lanjutnya


"Kali aja kan kamu mau" jawab, Luthfi yang sudah tertawa


"Gibran udah tidur ini", Syifa perlahan menjauhkan tubuhnya dari anaknya, "Kamu duluan aja ke teman-teman. Nanti aku nyusul. Aku mau nitipin, Gibran ke Bi Mira dulu"


"Ya udah. Aku duluan yah" sahut, Luthfi yang mengecup kening putra dan istrinya

__ADS_1


Luthfi mendahului, Syifa untuk kembali bergabung dengan teman-temannya yang ternyata sudah menyalakan kembang api di tangan masing-masing


"Wah. Baru gue tinggal bentar. Udah main kembang api aja nih" seru, Luthfi yang menghampiri mereka


"Ayo sini kak. Bian udah nyalain kembang api untuk kakak. Kak Syifa mana?" tanya, Bian


"Masih di dalam. Bentar lagi keluar" jawab, Luthfi


"Hai hai hai. Wah. Apa ini?" Syifa terkejut melihat yang lainnya memegang kembang api


"Sini. Kamu pegang ini" Luthfi memberikan satu kembang api yang sudah dinyalakan oleh, Bian


"Aku ngga suka kembang api. Aku takut" sahut, Syifa


"Ini ngga akan meletus. Ngga usah norak deh" cetus, Risa


"Apaan sih nenek tua cerewet" tukas, Syifa


"Ngga apa-apa. Pegang ini aja" Luthfi kembali menyodorkan kembang api tersebut


"Tanggung jawab yah kalau aku kenapa-kenapa" ancam, Syifa


"Ia. Ini ngga akan kenapa-kenapa. Aman kok" tukas, Luthfi


"Ayo mulai" seru, Vigo, "Untuk kebersamaan" ucapnya


"Untuk kekeluargaan" ucap, Fahri


"Untuk persahabatan" ucap, Viona


"Untuk kejujuran" ucap, Risa


"Untuk kepercayaan" ucap, Syafa


"Untuk tanggung jawab" ucap, Bian


"Untuk masa depan" ucap, Luthfi


"Dan untuk semuanya" ucap, Syifa


"Kita selamanya" seru mereka bersamaan dengan mengangkat kembang api di tangan mereka masing-masing yang penuh sorakan riuh satu sama lain.


*


*


*


Bersyukur banget punya kalian yang ngga pernah lelah untuk selalu membaca, like, komen dan memberikan tipnya untuk karya aku ini. Aku benar-benar berterimakasih sama kalian semua yang selalu ngedukung karya aku.


Dan maaf, akhir2 aku bnyk problem yang harus diselesain, jadinya nulisnya jg nunda2. Apalagi dgn aturan yg mkin ketat di negara kita


Ini adalah akhir dari perjalanan sebuah kisah persahabatan, percintaan, dan kekeluargaan mereka semua. Terima kasih sekali lagi buat teman2 yang ngga pernah berhenti memberikan dukungannya untuk aku


Oh ia. Karena "Gadis gengsi dan Pria cuek" udah selesai. Aku bakal ngeluarin novel untuk, Syafa dan Bian. Jadi jangan lewatkan semuanya yah guys. Aku bakal ngumumin disini kalau novel Syafa dan Bian keluar. Jadi jangan abaikan novel ini yah. Hehe. Karya aku yang "Autumn In March" jangan lupa untuk di baca juga yah.

__ADS_1


I Love U guys. Sampai bertemu di novel "Autumn In March" dan the next "Novel Bian dan Syafa"


__ADS_2