Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Tebar pesona


__ADS_3

"Mungkin aku bukan pria yang romantis. Aku bukan pria yang selalu bersikap manis. Dan aku akui, aku hanyalah pria yang cuek. Tapi, aku benar-benar tulus mau ngejaga kamu" ucap, Luthfi


"Hmmm. A... Aku... Minta maaf" sahut, Syifa yang kini kembali menangis


"Tadi aku bilang jangan nangis lagi kan?" ujar, Luthti membantu, Syifa menghapus air matanya


"Ya udah ngga usah ngomong itu lagi. Udah tau aku baperan. Dikasih kata-kata kek gitu siapa yang ngga nangis" tukas, Syifa


"Cuma kamu yang nangis. Kalau cewek lain, mereka akan senyum-senyum dan lompat-lompat kegirangan" kata, Luthfi yang menggoda, Syifa


"Itu mereka, bukan aku" seru, Syifa


"Suara" ucap, Luthfi dan Syifa langsung mengerti


"Ia ia. Maksud aku, jangan sama-samain aku sama mereka" tukas, Syifa dengan melunak


Luthfi hanya mengangguk hingga membuat, Syifa kesal karna menganggap, Luthfi tidak mendengarkan ocehannya itu.


***


"Kita ke kampus naik taksi?" tanya, Syifa ketika mereka hendak berangkat. Mobil, Luthfi masih berada di rumah, Risa


"Ia. Ngga apa-apa kan? Setelah pulang, baru kita ngambil mobilnya" sahut, Luthfi


"Ngga apa-apa. Ya udah, ayo. Nanti kita telat", Syifa meraih ranselnya


"Ayo", Luthfi mendahului, Syifa keluar karna, Syifa yang akan mengunci rumah tersebut


"Berarti, kita harus jalan keluar dulu dong sampai jalan raya?" tanya, Syifa karna rumah, Luthfi memang berada di area perumahan


"Hmm", Luthfi mengangguk, "Ngga apa-apa kan kita jalan dulu? Ngga sampai 100 meter" katanya


"Aku sih ngga masalah. Itung-itung jadi olahraga pagi" ucap, Syifa yang tersenyum manis


Luthfi membalas senyumnya, ia kemudian menggenggam tangan, Syifa, "Ayo"


Mereka keluar dari pagar rumah. Kemudian jalan berdua keluar dari kompleks perumahan mereka menuju jalan raya yang letaknya 100 meter dari rumah mereka.


"Itu ada taksi" tunjuk, Syifa pada taksi yang mengarah pada mereka


"Taksi", Luthfi melambaikan tangannya yang bebas


"Ayo masuk", Luthfi melepaskan tangan, Syifa dan membukakan pintu untuknya. Setelah itu, ia menyusul dan duduk di samping, Syifa


"Mau kemana dek?" tanya supir tersebut. Luthfi pun menyebutkan nama kampusnya


"Kira-kira, anak-anak udah sampai belum yah?" tanya, Syifa kepada, Luthfi


Supir taksi tersebut sontak melirik ke spion tengah ketika, Syifa menyebut 'anak-anak'


"Anak-anak siapa? Anak kita?" goda, Luthfi


"Luthfi", Syifa menajamkan matanya dan mengode, bahwa supir taksi itu sedang memperhatikan mereka


Luthfi hanya melirik sekilas ke supir taksi itu lalu kembali acuh tak acuh, "Telpon mereka kalau kamu tau" katanya


"Oh ia", Syifa baru mengingatnya, "Bentar" ia memberi isyarat kepada, Luthfi lalu ia merogoh ransel untuk mencari ponselnya


Setelah mendapatkan ponselnya, ia mengotak-atik ponsel tersebut lalu sesegera mungkin meletakkan benda pipih itu ke telinganya. Dan tak butuh waktu lama.....

__ADS_1


"Halo?" kata, Syifa


.........


"Ia. Ini gue sama, Luthfi udah berangkat. Loh bareng anak-anak yang lain?"


Dan sekali lagi supir taksi yang mereka berdua tumpangi melirik ke spion tengah ketika, Syifa menyebutkan nama 'anak-anak'


"Ok. Kita ketemu di kampus. Bentar lagi gue sama, Luthfi sampai"


............


"Ok deh. Bye"


Syifa mengakhiri sambungan teleponnya dan menoleh pada, Luthfi. "Anak-anak lagi kumpul di rumah. Tapi sebentar lagi, mereka juga udah berangkat"


"Oh"


Membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit, Syifa dan Luthfi kini sudah sampai di kampus. Mereka berinisiatif menunggu teman-temannya diparkiran yang biasa, Fahri tempati.


"Cieeee. Yang pacar baru"


"Datang berdua aja"


"So sweet banget sih"


"Luthfi ganteng banget"


"Ia. Wajahnya ganteng banget padahal ngga lagi senyum"


"Apalagi kalau udah senyum. Meleleh hati adek bang"


"Ini orang mau tebar pesona atau gimana sih? Malah diam aja pass dipuji" gerutu batin, Syifa


"Kenapa?" tanya, Luthfi ketika melihat wajah kesal, Syifa ditunjukkan padanya


"Ngga apa-apa" jawab, Syifa lalu memalingkan wajahnya


Luthfi baru saja hendak membuka mukut, namun terpaksa ia urungkan karna keempat teman yang sudah ia dan Syifa tunggu akhirnya datang


"Udah lama?" tanya, Risa menghampiri, Syifa


"Ngga kok. Baru 5 jam yang lalu" sahut, Syifa asal-asalan


"Kenapa loh? Masih pagi udah suntuk aja tuh muka" tegur, Viona


"Ngga ada. Ayo! Lama banget gue nunggu kalian", Syifa mendahului teman-temannya


"Kenapa, Syifa, Fi?" tanya, Vigo


"Ngga tau. Perasaan tadi dia ngga kenapa-napa" sahut, Luthfi yang juga heran sendiri melihat perubahan mood, Syifa


"PMS kali yah?", Fahri hanya asal menebak


"Ngga" jawab, Luthfi


"Udah. Kalau kalian ngga mau ngeladeni kemarahannya, ayo" ajak, Risa untuk menyusul, Syifa yang tidak tau ada apa dengannya


***

__ADS_1


"Syifa? Loh kenapa sih?" tanya, Viona yang menyadari, Syifa tidak banyak berbicara seperti biasanya ketika mereka sudah berada di kantin


"Ngga apa-apa" jawab, Syifa tanpa menoleh


"Ngga usah bohong loh. Loh pikir gue percaya? Cerita, loh kenapa? Loh berantem sama, Luthfi?" celetuk, Risa yang sebenarnya hanya berniat bergurau


Syifa menatap tajam, Risa, "Loh ngedoin gue berantem sama, Luthfi?" ketusnya


"Loh ngga lagi PMS kan, Fa?" tanya, Vigo


"Kenapa emang?" seru, Syifa dengan kesal


"Gue ngga suka" kata, Luthfi dan tentu saja membuat, Syifa mengerti, meski teman-teman lainnya melongo mendengar, Luthfi berbicara seperti tadi


"Gue ngga lagi PMS" suara, Syifa melunak


"Kalau loh punya masalah. Cerita sama, Luthfi" cetus, Fahri


"Fahri benar. Atau kalau loh berat buat cerita masalah loh ke, Luthfi. Loh bisa cerita ke gue sama, Risa" usul, Viona


"Benar. Loh harus cerita ke kita" timpal, Risa


"Kamu kenapa?", Luthfi meraih tangan, Syifa dan menggenggamnya dengan lembut


"Aku beneran ngga apa-apa. Cuma mood gue aja yang kayaknya tiba-tiba berubah" sahut, Syifa


"Kamu ingat semalam kan?", Luthfi sengaja memancing, Syifa agar ia mau berbicara


"Aku ingat" jawab, Syifa dengan cepat, "Tapi aku benar-benar ngga apa-apa. Aku biasanya emang gini. Tapi nanti baik lagi kok" katanya dengan tersenyum


"Beneran?", Luthfi masih belum yakin dengan alasan, Syifa. Ia berusaha mencari jawaban dari kedua bola mata itu namun tidak mendapatkan apapun


"Udah lah, Fi. Syifa mah udah biasa kek gini. Mood nya suka naik turun. Bentar-bentar baik, bentar-bentar buruk. Bentar-bentar nangis, bentar-bentar ketawa. Aneh emang nih anak" celoteh, Risa panjang kali lebar


Teman-temannya hanya tertawa menanggapi ocehan, Risa yang begitu lucu termasuk, Syifa. Namun ia memang tau sifat, Syifa yang mempunyai suasana hati gampang berubah-ubah


Fahri mengapit kedua pipi, Risa dengan gemas, "Itu juga mood loh. Bentar-bentar ngambek, bentar-bentar ketawa" ujarnya


Risa menepis tangan, Fahri, "Ia, Ri. Gue tau, gue tuh gemesin banget. Tapi loh ngga usah nyentuh-nyentuh pipi gue. Mahal!" serunya


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa like dan votenya yah 😊 terima kasih yang sudah mendukung 🤗

__ADS_1


__ADS_2