Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Demi aku


__ADS_3

"Ayo naik itu"


"Yang itu"


"Gue mau naik yang itu"


Para gadis menunjuk semua wahana permainan yang ada disana hingga membuat para pria kelelahan karna harus mengikuti mereka. Namun tetap saja membuat mereka bahagia melihat gadis-gadis mereka senang. Meskipun, Syifa sudah termasuk anak gadis karna sudah menikah, tetap saja orang-orang akan mengatakan bahwa ia masih gadis


"Gue senang banget" seru, Risa ketika mereka duduk di salah satu restoran yang disana


"Ia. Gue pokoknya senang banget" sahut, Syifa


"Saking senangnya kalian, perut gue sampai keroncongan" cetus, Viona ketika makanan yang mereka sudah pesan datang


"Cacing di perut gue rasanya memberontak dari tadi minta jatah makan", Vigo menimpalinya


"Rasanya tenaga gue hilang" tukas, Fahri


"Gue butuh tidur", Luthfi mendesah panjang


"Sampai segitunya?" tanya, Syifa kepada, Luthti


Luthfi menoleh dan mengangguk lemah. Tenaganya seperti sedang benar-benar terkuras. Mereka menikmati makanan yang telah mereka pesan masing-masing.


"Luthfi?", Luthfi menoleh kepada seseorang yang sedang memanggil dirinya yang berdiri di meja makan mereka saat ini


"Dinar?" guman, Luthfi menatap tidak percaya bisa bertemu dengan kakak kelasnya dulu


"Kak Dinar?" ucap, Risa dan Syifa bersamaan. Sedangkan, Viona, Vigo dan Fahri hanya mengerutkan kening karna tidak mengenal gadis itu


"Luthfi? Kok loh bisa ada disini?" tanya, Dinar yang merupakan kakak kelasnya dulu


"Gue lagi sama teman-teman" jawab, Luthfi yang sudah memalingkan wajahnya


Syifa menoleh kepada, Luthfi yang memalingkan wajahnya dari Dinar. Risa yang menyadarinya berusaha berpikir keras, "Hai Kak Dinar?" sapanya


"Oh? Loh adik kelas gue juga?" tanya, Dinar


"Ia kak. Gue, Syifa sama Luthfi adik kelas kakak" jawab, Risa mencairkan suasana


"Oh sorry. Gue lupa" sahut, Dinar


"Ngga apa-apa kok kak" cetus, Risa dengan senyum yang dipaksakan, "Dasar sok cantik" batinnya.


"Jadi, kenapa Kak Dinar ada disini?" tanyanya lagi


"Kebetulan gue lagi liburan sama teman-teman gue. Dan gue lihat, Luthfi disini. Awalnya gue kira salah orang, tapi ternyata benar-benar, Luthfi" ujarnya dengan tersenyum manis pada, Luthfi meski laki-laki itu tidak sedang melihatnya


"Oh" hanya itu yang keluar dari mulut, Risa


"Luthfi? Gue bisa bicara berdua sama loh ngga diluar?" tanya, Dinar yang menunjuk ke arah luar


"Bicara disini" jawab, Luthfi dengan cuek


"Bentar aja, Luthfi. Please" pinta, Dinar dengan sedikit memaksa


"Dasar cewek aneh. Gue jadi kasian sama, Syifa. Dia ini siapa sih sebenarnya?", Viona membatin dan melirik, Syifa dengan ekor matanya


Luthfi tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah, Syifa yang juga sedang menatapnya hingga membuat, Dinar melihat, Luthfi dan Syifa secara bergantian


"Hmm. Luthfi? Kok loh malah ngelihat ke dia?" tanya, Dinar menunjuk, Syifa


"Ha?", Syifa terlonjak karna terkejut


"Ngga apa-apa" jawab, Luthfi tanpa menoleh padanya


"Jadi? Loh mau kan? Cuma sebentar" ucap, Dinar yang masih belum menyerah


Luthfi melirik, Syifa. Namun, Syifa malah tidak bereaksi apa-apa hingga membuatnya kesal dan beranjak dari tempatnya, "Cepat. Gue ngga punya waktu" ucapnya dengan begitu dingin dan terkesan sangat cuek


Dinar dengan penuh semangat mengikuti, Luthfi yang berjalan keluar dari restoran tersebut. Bahkan mata kelima temannya ikut memandang, Luthfi yang semakin lama semakin menghilang.


"Dia siapa?" tanya, Viona setelah, Luthfi dan Dinar sudah tidak terlihat lagi di hadapan mereka


"Itu Kak Dinar" jawab, Risa yang mendengus


"Kakak kelas loh dulu?" tanya, Vigo


"Hmmm. Gitu deh", Risa menjawab dengan malas


"Apa hubungannya sama, Luthfi?" tanya, Fahri


"Mereka ngga punya hubungan apa-apa. Kalian ingat kan? Kalau dulu gue pernah cerita, Luthfi pernah nolak kakak kelas gue dulu?" ujar, Risa


Ketiga mengangguk, namun tidak dengan, Syifa yang terus saja memandang keluar meski ia tidak akan bisa melihat, Luthfi dan Dinar disana


"Dia orangnya. Kakak kelas yang pernah nembak, Luthfi di tengah lapangan. Tapi akhirnya ditolak sama, Luthfi" tutur, Risa


"Oh... Dia orangnya?" pekik, Viona dengan heboh, "Astaga...... Syifa... " ucapan, Viona tiba-tiba terhenti ketika melihat, Syifa melamun dan tidak berhenti menatap pintu masuk dan keluar restoran tersebut


Viona terdiam dan melihat satu persatu temannya. "Syifa?" panggil, Viona dengan pelan yang menyentuh lengan, Syifa


"Eh? Ia? Kenapa?", Syifa seperti orang linglung yang mejawab panggilan, Viona


"Loh percaya sama, Luthfi kan?" tanya, Fahri tiba-tiba yang membuat bola mata, Syifa membulat sempurna. Bahkan ketiga temannya juga sama terkejutnya dengan, Syifa saat ini


"Ri? Pertanyaan loh kenapa?" tegur, Vigo


"Gue cuma mau nanya itu ke loh. Loh percaya sama, Luthfi kan?" sekali lagi, Fahri bertanya


Meskipun, Syifa tidak mengerti arah pertanyaan, Fahri. Namun ia tetap mengangguk karna dirinya memang saat ini percaya dengan, Luthfi


"Kalau begitu, jangan khawatir" sahut, Fahri dengan tenang seolah bisa membaca pikiran, Syifa


"Fahri benar. Loh ngga perlu khawatir atau takut sekarang. Loh sama Luthfi udah nikah. Gue yakin, Luthfi ngga bakal macam-macam di belakang loh. Kalaupun dia berani macam-macam, kasih tau gue. Loh harus tau dan ingat, ada gue yang bakal beri perhitungan sama, Luthfi" celoteh, Risa

__ADS_1


"Gue juga. Kasih tau gue", Viona menimpali ucapan, Risa dengan serius


Syifa hanya tertawa kecil, "Gue ngga kenapa-kenapa. Ngga usah berlebihan" ia sekuat mungkin menahan perasaannya untuk mengelabui teman-temannya bahwa ia baik-baik saja


"Dalam hubungan, harus ada kepercayaan. Dan gue yakin, Loh sama Luthfi saling percaya" ucap, Vigo dan membuat, Syifa tersenyum menutup hatinya


"Kalian terlalu berlebihan. Gue ngga apa-apa kok. Tapi yah, terima kasih. Gue beruntung bisa kenal sama kalian semua" ujar, Syifa tersenyum penuh arti kepada teman-temannya dan ingin mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja lewat senyumnya


***


"Luthfi? Gue mohon", Dinar mengatupkan kedua tangannya seraya memohon pada, Luthfi


"Cuma itu yang mau loh omongin? Gue ngga ada waktu" sahut dengan begitu cueknya


"Loh kenapa selalu bersikap kek gini sama gue? Salah gue apa?", Dinar berseru hingga membuat, Luthfi menatapnya sinis


"Gue udah bilang. Gue ngga ada waktu" titah, Luthfi dengan rautan kesal pada wajahnya


"Loh bilang ngga ada waktu. Tapi loh punya waktu buat jalan-jalan sama teman loh" seru, Dinar


"Karna mereka teman-teman gue" jawab, Luthfi yang masih bersikap acuh tak acuh pada gadis itu


"Loh benar-benar ngga punya sedikit perasaan apapun ke gue? Luthfi! Gue benar-benar belum bisa ngelupain loh. Meski loh udah nolak gue, gue masih tetap ngga bisa ngelupain loh" ujar, Dinar dengan pelan


"Cuma itu?" ucap, Luthfi menatap tajam, Dinar


"Apa?" tanya, Dinar yang tidak mengerti


"Yang mau loh bicarain ke gue?", Luthfi memalingkan wajahnya dengan kesal


"Apa yang salah, Luthfi?", Dinar mencoba meraih tangan, Luthfi, namun laki-laki itu menjauh bahkan sebelum tangan, Dinar menyentuhnya


Luthfi berbalik dan meninggalkan, Dinar yang masih memanggil-manggil namanya. Dinar harus kembali merasakan sesak dan harus kembali merasakan sakit karna bertemu lagi dengan, Luthfi namun sikap pria tersebut masih saja cuek padanya, masih saja dingin padanya, dan masih saja acuh tak acuh padanya


***


"Udah, Fi" tanya, Vigo ketika, Luthfi sudah kembali dan bergabung dengan mereka tanpa, Dinar


"Kak Dinar mana?" tanya, Syifa yang tidak melihat, Dinar masuk padahal tadi ia keluar bersama, Luthfi


"Ngga usah ngurusin orang lain" tegur, Luthfi dengan nada tidak enak pada suaranya


"Kenapa loh jadi marah-marah sama teman gue?" gerutu, Risa yang kesal kepada, Luthfi


"Risa!" tegur, Syifa. Ia menggeleng karena tau suasana hati, Luthfi sedang tidak baik. Bahkan raut wajahnya kesal, seperti waktu itu, ia dan Luthfi bertemu dengan, Riswal di taman


Fahri hanya menepuk pundak, Luthfi tanpa berkata. Luthfi melihat tangan, Fahri yang menepuk pundaknya. Viona akhirnya mengajak mereka untuk pulang


Pada saat mereka sudah menuju parkiran, seseorang berlari kecil menghampiri mereka dengan tergesa-gesa. Ia memanggil-manggil nama, Luthfi


"Luthfi?" panggil, Dinar yang kini sedang berdiri di hadapan, Luthfi dan melewati, Syifa


"Ada apa?", Luthfi berdecak kesal ketika tau lagi-lagi gadis itu yang memanggilnya


Luthfi menatap ke belakang, Dinar. Tepat ada, Syifa disana yang mengangguk dan tersenyum ke arahnya. Luthfi memutar malas bola matanya dengan kesal. Namun, Dinar terus saja menghalanginya untuk masuk ke dalam mobil jika ia belum memberikan nomor ponselnya pada gadis itu. Luthfi yang benar-benar sudah sangat kesal, merampas ponsel milik, Dinar dan mengetik di ponsel tersebut lalu kembali memberikan posel itu dengan kesal. Tanpa menunggu lagi, Luthfi menggeser, Dinar yang sedari tadi menghalau pintu mobil tersebut.


"Terima kasih, Luthfi" teriak, Dinar ketika berhasil mendapatkan nomor ponsel laki-laki pujaannya itu


"Maaf kak. Kami harus masuk juga" seru, Risa kepada, Dinar yang menghalangi jalan mereka


"Oh. Ia", Dinar menggeser tempatnya


Syifa tidak berkata apapun dan langsung masuk ke dalam mobil, duduk di dekat, Luthfi yang sedang menyadarkan punggungnya dengan memijat pelipisnya sembari memejamkan matanya


Teman-teman yang lainnya pun ikut masuk ke dalam mobil setelah berpamitan kepada, Dinar. Meskipun mereka tidak menyukainya, setidaknya sekedar untuk menghargai gadis tersebut.


***


"Luthfi" panggil, Syifa dengan hati-hati setelah beberap saat lalu harus berperang mata bersama kedua sahabatnya untuk bertanya pada, Luthfi. Dan akhirnya, Syifa mengalah. Ia memanggil, Luthfi meski ia sedang takut untuk berbicara padanya saat ini


Luthfi membuka matanya dan menoleh pada, Syifa, "Hmm" ia hanya berdehem


"Kamu kenapa?" tanya, Syifa dengan hati-hati. Ia bahkan menggigit bibir bawahnya


Luthfi menggeleng dan tersenyum, "Aku ngga apa-apa" ia meraih kepala, Syifa dan menyandarkannya di dada miliknya


"Astaga. Masih sempat-sempatnya", Risa berdecak dan memutar bola malanya hingga membuat, Fahri tertawa dari barik spion tengah


***


"Hati-hati", Syifa dan Luthfi melambaikan tangan mereka ketika teman-temannya mengantar mereka terlebih dahulu untuk pulang


"Ayo masuk", Luthfi merangkul pundak, Syifa dan mengajaknya masuk ke dalam rumah


"Kamu beneran ngg apa-apa?" tanya, Syifa ketika ia merogoh kunci pintu rumah mereka di ranselnya


"Aku ngga apa-apa kalau ada kamu" ucap, Luthfi yang tersenyum manis pada, Syifa


Syifa hanya menganggapinya dengan tersenyum. Ia tidak membantah seperti biasa, karna ia tau, suasana hati, Luthfi sebenarnya belum baik-baik saja


"Ayo masuk" ajak, Syifa


Luthfi mengangguk dan langsung menuju kamarnya dan berencana untuk membersihkan diri. Namun ketika sampai di kamar, ia malah merebahkan dirinya dan bermalas-malasan disana di tempat tidur


Syifa yang kala itu baru masuk dan melihat, Luthfi tidur terlentang segera menghampirinya, "Kok malah tidur? Mandi dulu sana"


"Capek" sahut, Luthfi yang memejamkan matanya


Syifa merasa kasihan padanya. Wajah, Luthfi, benar-benar lelah, gusar, gelisah, dan napasnya yang naik turun membuat, Syifa tidak tahan untuk terus, melihatnya seperti itu


"Mau mandi bareng?" tawar, Syifa meski ia sedikit memaksakan dirinya untuk menawarkan, Luthfi mandi bersama. Namun mau bagaimana lagi


Luthfi sontak membuka paksa kedua matanya dan langsung mendudukkan tubuhnya, seolah pendengarannya salah tangkap suara


"Apa?" tanyanya dengan wajah serius

__ADS_1


"Aku bilang. Mau mandi bareng?", Syifa mengulang tawarannya dengan perasaan yang cemas


Bibir, Luthfi terangkat sempurna. "Ayo" ia meraih dua buah handuk dan menarik, Syifa masuk ke dalam kamar mandi


***


"Gue ngga nyangka harus kek gini. Gue berharap, ini yang pertama dan terakhir kalinya gue mandi bareng, Luthfi" batin, Syifa menggerutu setelah mereka menghabiskan mandi dengan waktu hampir satu jam.


Luthfi terus tersenyum memandang wajah, Syifa yang kesal. Berkali-kali, Syifa ingin menyudahi aktivitas yang mereka lakukan selama di kamar mandi, namun, Luthfi selalu mengatakan sebentar lagi dan akhirnya, Syifa hanya pasrah membiarkan, Luthfi melakukan apapun yang ia suka agar hatinya senang


"Ingat yah. Ngga mau lagi aku mandi berdua" seru, Syifa yang merapikan tempat tidur


"Kan kamu yang nawarin tadi" sahut, Luthfi dengan menahan tawanya


"Ia. Tapi aku ngajaknya mandi bareng. Bukan yang lain", Syifa kesal dan berbalik menatap tajam, Luthfi


"Itu juga namanya mandi bareng", Luthfi berusaha membela dirinya


"Pokoknya aku ngga mau lagi" celoteh, Syifa yang sudah merangkak ke atas tempat tidur


Luthfi tertawa dan menghampiri, Syifa yang terus saja mengoceh sepanjang malam itu. Baru saja, Luthfi hendak merangkak naik ke atas tempat tidur, suara deringan ponselnya membuatnya mengurungkan niatnya. Ia meraih ponselnya yang berada di atas nakas, keningnya berkerut karna ada panggilang masuk dengan nomor yang tidak ia kenal


"Siapa?" tanya, Syifa ketika, Luthfi hanya memandangi layar ponselnya


"Ngga tau. Nomornya ngga kenal" sahut, Luthfi


"Jawab aja. Siapa tau penting" bujuk, Syifa


Luthfi menggeser icon hijau dan tidak lupa menekan tombol speaker agar, Syifa juga bisa mendengarnya.


"Halo" ucap, Luthfi setelah menjawab panggilan itu


"Halo, Luthfi? Ini gue, Dinar"


Luthfi terkejut dan sontak menoleh ke arah, Syifa yang juga sama terkejutnya dengannya


Luthfi berdecak kesal, "Ada apa?" tanyanya dengan tidak ramahnya sama sekali


"Gue di depan rumah loh sekarang. Loh bisa keluar?"


"Apa?", Luthfi semakin terkejut.


Syifa sontak menyibak sedikit tirai yang menutup jendela kamar mereka, dan yah, benar saja, seorang gadis tengah berdiri di ambang pintu rumah mereka. Syifa menunjuk ke bawah seperti memberi kode kepada, Luthfi bahwa Dinar benar ada di bawa.


"Sial" umpat, Luthfi


"Loh tau rumah gue dari mana?" seru, Luthfi dengan air muka yang begitu marah


Syifa menghampiri, Luthfi, memegang lengannya dan menggeleng. Sejujurnya, Syifa sangat takut jika, Luthfi sedang dalam keadaan marah


"Ada apa?" suara, Luthfi sudah mulai melunak


"Please, keluar sekarang"


"Mending loh pulang. Ini udah malam" tolak, Luthfi


"Please, Luthfi. Gue mohon. Sebentar aja"


Luthfi benar-benar kesal dan langsung mematikan sambungan panggilan tersebut. Ia meremas ponselnya dan ingin melemparnya jika saja ia tidak ingat ada, Syifa disana


"Temui dia" bujuk, Syifa dengan lembut, "Dia ngga akan pulang sebelum kamu temuin dia" lanjutnya


"Aku ngga mau!" tolak, Luthfi dengan tegas


"Demi aku" ujar, Syifa


"Kenapa?", Luthfi malah menjadi kesal


"Biar kita bisa tidur lebih tenang. Tidur kita ngga akan tenang kalau dia terus ada di bawah dan nyuruh loh terus buat turun" jelas, Syifa dengan lembut


Luthfi menghela napas panjang dan sejenak memejamkan matanya. "Kamu tunggu aku disini" ucapnya pada, Syifa dengan membelai pipinya


Syifa hanya mengangguk dan tersenyum, "Ya udah, sana" ia menurunkan tangan, Luthfi dari pipinya dan mendorongnya menuju pintu kamarnya


"Aku diusir?", Luthfi mengerutkan keningnya


Syifa terkekeh, "Cepetan. Aku nunggu kamu disini"


Luthfi tersenyum dan mengangguk. Ia berlalu keluar dari kamar dan menuju, Dinar yang sedang berada di luar rumahnya saat ini. Sebenarnya, perasaan, Syifa saat ini sedang cemas. Ia tidak tau pada jantungnya yang terus saja berpacu dengan cepat. Ia begitu percaya pada, Luthfi, namun entah mengapa hatinya masih saja tidak tenang.


Ia tidak bisa terus berada di dalam kamar. Ia kemudian keluar dari kamar dan menuruni tangga perlahan. Untung saja, semua lampu yang berada di dalam rumah sudah ia matikan tadi, kecuali lampu dapur. Perlahan ia mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Matanya melebar sempurna melihat pemandangan di depannya. Ia menutup mulutnya agar tidak berteriak karna terkejut


"Luthfi. Gue mohon, beri gue kesempatan" Dinar memeluk, Luthfi dari belakang. Luthfi memegang gagang pintu seperti hendak kembali masuk ke dalam rumah.


Syifa tidak bisa menahan dirinya untuk berlam-lama disana. Ia memutuskan kembali ke kamarnya dengan air mata yang tidak ia sadari kapan jatuhnya membasahi seluruh wajahnya


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa like dan beri votenya yah 😊 Terima kasih yang sudah mendukung 🤗

__ADS_1


__ADS_2