
"Fahri. Udah ah. Perut gue sakit", Syifa memegang perutnya setelah tertawa begitu riang dengan, Fahri
"Perut loh bakalan terus sakit, karna loh tertawa di atas penderitaan orang lain" celetuk, Celia yang tersenyum sinis kepada, Syifa
"Kok loh ge'er banget sih? Kalau gue sama, Fahri ketawa karna loh?" telak, Syifa yang membuat, Celia semakin menatapnya sinis
"Mata loh biasa aja dong", Fahri mengusap mata, Celia yang terus menatap, Syifa yang seakan ingin menerkamnya hidup-hidup
"Apaan sih loh?", Celia mengusap kembali wajahnya. "Jangan pegang-pegang gue" tegas, Celia yang kini tatapan tajamnya mengarah ke, Fahri
"Nih anak sok cantik banget sih", Fahri menunjuk, Celia namun matanya kearah, Luthfi dan Syifa.
"Emang gue cantik kok" saut, Celia yang mengibaskan rambutnya ke belakang leher
"Sudah. Bereskan alat-alatnya dan masukkan kembali ke dalam tenda. Setelah ini kita harus berkumpul di depan tenda pembina" ujar, Luthfi yang menghentikan keributan dari kelompoknya sendiri
***/
"Minum dong, Vi", Risa menunjuk botol minuman yang ada di dekat, Viona. Dan, Viona pun menyerahkannya, "Nih"
"Syifa udah makan belum yah?" guman, Reza namun, Risa masih bisa mendengarnya karna berada di sampingnya
"Tenang aja. Luthfi sama Fahri ngga akan ngebiarin, Syifa kelaparan" lirik, Risa kepada, Reza. Reza yang salah tingkah mendengar jawaban, Risa yang tidak ia sangka-sangka.
"Ada apa?" tanya, Viona setelah mendengar, Risa berbicara sendiri karna ia tidak mendengar, Reza berbicara sebelumnya
"Nih sih, Reza", Risa menunjuk dengan ekor matanya. "Khawatir, Syifa belum makan. Padahal, Luthfi sama, Fahri ada sama dia"
Viona dan Vigo saling melempar pandangan sebelum akhirnya menatap, Reza, "Loh tenang aja. Selama, Luthfi dan Fahri bersama, Syifa. Dia ngga akan kenapa-kenapa apalagi kelaparan" ujar, Vigo.
"Ngga. Bukan itu maksud gue", Reza berusaha menyangkal dengan melambaikan kedua tangannya di depan dadanya. Namun tentu saja, Risa, Viona dan Vigo yang sudah tau jika, Reza memiliki perasaan kepada, Syifa tidak percaya.
"Udah. Ayo beresin dulu sebelum kita kumpul" seru, Risa yang berusaha mencairkan suasana agar, Reza merasa tidak canggung kepada mereka yang sudah tau bila dirinya menyukai, Syifa.
__ADS_1
***/
"Kalian semua sudah membaca peraturan dan penelitian apa yang kalian teliti bersama kelompok kalian kan?" seru salah satu pembina mereka.
"Sudah pak"
"Karna ini sudah menunjukkan pukul 16.00. Penelitian ini akan segera kita mulai. Ingat, teliti baik-baik, dan laporkan secara rinci setiap apa yang kalian teliti tanpa terkecuali. Minimal laporan yang akan kalian kumpulkan harus berisi seribu kata" imbuhnya
"Itu nulis laporan apa nulis novel Pak"
"Panjang banget pak"
"Bisa sampai malam nih"
Aksi protes pun dilayangkan oleh beberapa orang dari mereka. Bagaimana tidak, laporan dengan minimal tulisan seribu kata, itu bukanlah hal yang mudah. Ditambah ini sudah menuju waktu petang, yang artinya malam akan segera datang dan gelap pun akan muncul.
"Apa itu terlalu ringan? Perlu Bapak tambah lagi?" ucapan pembina tersebut membuat para mahasiswa serentak mengatakan tidak dan memohon maaf kepada pembina mereka
"Kalau begitu. Jangan protes lagi dan siapkan alat yang akan kalian bawa untuk meneliti" imbuhnya
Mereka semua kemudian berhambur kembali ke tenda setelah dibubarkan oleh pembina mereka. Mereka mempersiapkan alat dan bahan yang akan mereka teliti nantinya. Tak lupa pula memakai jaket masing-masing karna hawa dingin mulai menjalar ke tubuh mereka.
"Gila yah. Laporan dengan tulisan minimal seribu kata itu mau nyari inspirasi dari mana? Apalagi gue yang malas banget mikir cuma buat tulisan" protes, Fahri saat mereka sudah berada di tenda dan mengemasi alat yang akan kelompok mereka bawa
"Gue apalagi? Malas mikir cuma buat nulis laporan ngga jelas" celetuk, Celia yang terus menggerutu sembari memakai jaketnya
Luthfi melirik, Syifa yang seperti tidak bermasalah dengan laporan tulisan seribu kata. Ia dengan santai terus mengemasi alat-alat bawaannya. Luthfi menghampiri, Syifa, "Loh bisa kan?" cetus, Luthfi
"Doain gue bisa" senyum, Syifa Terukir di wajahnya yang manis. Luthfi ikut tersenyum melihat senyum yang menghiasi wajah, Syifa.
"Loh bisa, Fa?" tanya, Fahri yang ikut bergabung bersama, Luthfi dan Syifa.
"Doain, Ri" saut, Syifa.
__ADS_1
"Jangan sok bisa deh kalau ngga bisa" celetuk, Celia yang juga ikut bergabung.
"Loh kalau masih pengen disini diam deh" tegur, Fahri.
"Syifa suka nulis. Dia suka menuangkan pikirannya dalam tulisannya. Dan gue yakin, Syifa pasti bisa nyelesain laporan kelompok kita" ujar, Luthfi yang terus menatap, Syifa tanpa berkedip.
"Loh kenapa sih ngeliatin, Syifa kek gitu?" kesal, Celia yang melihat, Luthfi berbicara dengan menatap, Syifa tanpa berkedip.
"Sirik aja loh" tegur, Fahri.
Syifa tanpa berkata langsung beranjak dari sana dan keluar dari tenda. Ia tidak ingin kembali marah dan pergi dari sana secara tidak sadar yang akan membuatnya menyesal setelahnya.
"Jangan nyari ribut", Luthfi mengingatkan, Celia dengan nada yang tidak ramah, lalu menyusul, Syifa dan diikuti, Fahri, namun sebelum ia keluar, ia berpesan kepada, Celia. "Ingat pesan, Luthfi. Jangan macam-macam"
"Syifa" panggil, Luthfi. Syifa pun langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap, Luthfi dengan wajah cemberutnya. "Ada apa".
"Jangan marah-marah", Luthfi mengacak kepala, Syifa. "Rambut gue, Fi beratakan" gerutu, Syifa yang membenarkan posisi rambutnya yang diacak oleh, Luthfi
Namun, Luthfi hanya tersenyum. Fahri datang menyusul mereka yang diikuti oleh, Celia dengan wajah masang.
"Ayo", Luthfi menarik tangan, Syifa untuk pergi dari sana, ia tidak ingin, Celia menghancurkan mood, Syifa.
Syifa membulatkankan kedua matanya tatkala, Luthfi menarik tangannya di depan, Celia dan Fahri
"Maksud, Luthfi apa?", Celia melototkan matanya ketika melihat tangan, Luthfi yang memegang tangan, Syifa.
"Mundur" saut, Fahri tepat di telinga, Celia lalu ia terkekeh dan pergi mengikuti, Luthfi dan Syifa.
**
**
**
__ADS_1
Maaf . Aku lambat upnya. Soalnya adek aku pake hp aku ini buat kuliah online. Dan aku juga ngga bisa cepat-cepat nulis karna aku nulisnya di hp bukan di laptop. Maaf yah semuanya. Dan terima kasih buat yang selalu nanya kapan up. artinya ada yang nungguin. Oh iah, kalau kalian suka, jangan lupa like dan vote yah. Terima kasih 😍