
Viona menutup kembali pintu kamar mereka dengan keras. Lalu berlari menuruni tangga sambil berteriak dan menjetakkan kakinya dilantai ketika ia sudah tiba di ruang tamu
"Aaaa.... Mata gue.... Mata gue ternodai" teriak, Viona seperti orang yang sedang kerasukan
"Eh, kenapa loh? Kenapa jadi kayak orang kerasukan?" tanya, Risa yang menghampiri, Viona. Begitu pun dengan, Vigo dan Fahri yang panik
"Vio? Ada apa? Loh kenapa?", Vigo menarik tangan, Viona yang menutup wajahnya
"Ambil napas dulu, baru cerita" seru, Fahri
"Aaaa.. Mata gue udah ternodai" teriak, Viona wajah yang sudah memerah
"Ok. Gini deh. Loh tarik napas, terus buang", Risa menginstruksikan dan Viona mengikut
"Jadi apa yang loh lihat?" tanya, Vigo dengan tidak sabar
Viona menghela napas sebelum berbicara, "Jadi.... Tadi gue mau manggil, Syifa kan? Terus... Aaaaaa. Gue ngga kuat" serunya
"Apaan sih", Risa menarik-narik tangan, Viona. "Bikin kesal aja, cerita setengah-setengah"
"Sabar, Sa" tegur, Fahri
"Gue ngeliat mereka pelukan, Luthfi ngga pake baju cuma pake handuk, dan mereka....." lagi-lagi ucapan, Viona menggantung
"Viona!" bentak, Risa. "Mereka kenapa?" kesal, Risa
"Mereka ciuman" teriak, Viona
Bola mata, Risa seperti hampir keluar dari tempatnya. "Me.... Mereka? Ciuman?" ia seperti tidak percaya
Viona mengangguk dengan cepat, "Gue lihat sendiri. Mata gue benar-benar ternodai"
"Gue kira apaan" sahut, Fahri dengan santai
"Loh ngga ngetuk pintu?" tanya, Vigo yang menahan tawanya dengan cerita, Viona
"Ngga", Viona menggeleng, "Yah kan, gue mana tau kalau mereka bakal gitu"
"Lain kali ketuk pintu dulu" seru, Fahri
"Berarti loh ngeliat tubuh, Luthfi dong?" tanya, Risa dengan begitu antusias
"Gue mana lihat jelas, orang mereka lagi pelukan" sahut, Viona yang sudah merasa lebih baik
"Tapi pasti loh lihat kan? Gimana?", Risa masih tidak, berhenti bertanya tentang itu
"Jangan banyak tanya", Fahri mendorong kening, Risa dengan telunjuknya
"Apaan sih? Kan gue cuma nanya", Risa mengelus keninganya dengan kesal, "Lanjut dong, Vi"
"Gue mau lanjut apa? Yah habis itu gue tutup lagi pintunya, terus lari kesini" ujar, Viona
"Tapi kan pasti lo... " belum selesai kata-kata, Risa keluar, Fahri sudah menyeretnya dengan menarik pipinya untuk kembali duduk
"Fahri!" teriak, Risa mengelus pipinya, "Loh kira ini ngga sakit apa?" kesalnya
"Otak loh kenapa jadi mesum?" tanya, Fahri dengan serius membuat, Risa gelagap
"Mesum darimananya? Kan gue cuma nanya" ujar, Risa yang mengerucutkan bibirnya
__ADS_1
"Otak, Risa ini perlu dibenerin" tukas, Vigo yang kini ikut duduk bersama temannya dan Viona
"Terserah deh" kesal, Risa
***
"Viona ngeliat kita" ucap, Syifa yang kini menjadi takut juga malu
"Kenapa?", Luthfi mengerutkan keningnya
"Kok kenapa sih? Yah pasti mereka bakal ngegoda kita terus" ketus, Syifa melepas pelukannya
"Apa yang salah? Apa kita melakukan sesuatu yang salah?" tanya, Luthfi dengan serius
"Yah ngga sih. Tapi kan.."
"Udah. Ayo turun" ajak, Luthfi memotong ucapan, Syifa
"Pakai baju dulu" seru, Syifa menahan lengan, Luthfi
"Ngga apa-apa. Ngga usah pake baju"
"Ngga boleh. Harus pake baju dulu" teriak, Syifa
"Ingat pesan Mommy. Jangan teriak-teriak sama suami sendiri. Nanti kualat" goda, Luthfi
"Ngga usah aneh-aneh. Tunggu", Syifa mengambil pakaian untuk, Luthfi yang berada di belakangnya, "Pakai ini"
Luthfi hanya meraih pakaian yang diberikan, Syifa sambil terus saja tersenyum. Setelah, Luthfi memakai pakaiannya, Luthfi dan Syifa turun menuju teman-temannya yang sedang menunggu mereka
"Akhirnya muncul juga" seru, Risa lalu diikuti oleh mata teman-temannya menyaksikan sepasang suami istri itu menuruni tangga
"Gue kira loh udah kenyang berduaan mulu di kamar" ujar, Viona
"Ayo", Luthfi mendahului teman-temannya menuju meja makan
"Banyak banget makanannya" seru, Vigo, ketika ia sudah duduk dan melihat banyak makanan yang tersedia di atas meja
"Biar loh kuat" sahut, Fahri lalu tertawa bersama, Vigo dan Luthfi
"Kalian yah? Selalu aja ngomong ngga jelas, terus ketawa sama-sama lagi" gerutu, Risa
"Udah ah. Ayo makan dulu" perintah, Viona
Acara makan malam pun berlangsung seperti biasa. Banyak obrolan, basa basi, canda tawa, ledek-ledekan, dan membahas hal apapun yang menyenangkan bagi mereka lakukan ketika berkumpul.
"Jadi malam pertama loh dimana, Fa?" tanya, Risa ketika kini mereka sudah berada di ruang keluarga menonton televisi bersama
"Risa" bentak, Syifa yang kesal dengan pertanyaan konyol sahabatnya itu
"Loh nanya gitu banget sih? ngga boleh tau ngga. Itu privasi buat suami istri" tegur, Viona
"Risa mungkin kebelet" goda, Vigo
"Ajak, Fahri nikah. Biar loh tau dan ngga penasaran" sahut, Luthfi
"Ish", Syifa mencubit perut, Luthfi
"Apa yang salah? Kan gue cuma nanya" ketus, Risa yang mencibir
__ADS_1
"Nanya ngga harus kesitu? Itu urusan suami istri. Kebelet nikah luh?" ujar, Fahri
"Kenapa selalu gue yang kena" gerutu, Risa yang kini menekuk wajahnya
"Jangan polos-polos amat deh, Sa. Kayaknya loh juga harus nikah cepat-cepat biar bisa ngerti kayak, Syifa. Biar loh ngga o'on banget" tutur, Viona
"Viona? Jangan ngeracuni pikiran, Risa. Dia kek gini aja udah bikin geleng-geleng kepala" seru, Fahri
"Ajarin, Risa, Ri" ujar, Luthfi yang tertawa kecil
"Mumpung ngga ngerti dia" timpal, Vigo yang ikut tertawa bersama
"Vigo?" geram, Viona
"Bercanda, Vio", Vigo mengelus kepala, Viona
"Dasar sepasang kekasih yang lebay" teriak, Risa
"Apa luh jomblo" seru, Viona yang tidak ingin kalah
"Loh harus sering-sering terbiasa, Sa. Ntar kalau, Viona tinggal sama loh, gue pastiin, Vigo bakal sering kesana dan, yah loh harus siap-siap jadi Nyamuk" jelas, Syifa lalu tertawa
"Kan ada, Fahri" goda, Luthfi menahan senyumnya
"Ia kalau, Fahri mau datang. Kalau ngga? Bukan jadi Nyamuk lagi gue, tapi jadi cacingnya Nyamuk, biar ngga keliatan gue sekalian" kesal, Risa yang disambut tawa teman-temannya
Risa selalu mengeluarkan istilah-istilah yang tidak bisa mereka tebak sebelumnya. Ocehan, Risa selalu bisa membuat teman-temannya tertawa
"Gue udah seperti badut yang ngelawak, dan kalian ketawa. Benar-benar yah kalian" gerutu, Risa ketika teman-temannya belum juga berhenti tertawa, malah semakin menambah suara tawa mereka
"Aduh. Perut gue sakit ketawa mulu" ucap, Viona yang memegang perutnya
"Ketawa aja terus sampai perut loh beranak" kesal, Risa yang tidak tertahan
"Loh marah-marah mulu udah kek Ibu kompleks nagih iuran" tegur, Fahri yang baru saja berhenti tertawa
"Habisnya gue kesal" ketus, Risa
"Loh mah kapan ngga kesalnya. Udah ah gue ngantuk. Ayo, Fi" ajak, Syifa yang sudah berdiri mengajak, Luthfi untuk ke kamar mereka
"Baru jam 10, Fa. Masih lama paginya. Emang mau main berapa ronde sih?" goda, Vigo melihat jam yang melingkar di tangannya
Syifa melemparkan bantal sofa ke arah, Vigo dengan kesal bercampur malu. Ia menatap tajam pria itu dengan kesal. Sedangkan, Luthfi dan Fahri hanya tertawa. Bahkan, Risa dan Viona ikut tertawa meski tidak mengerti, namun lucu melihat wajah, Syifa yang kesal bercampur malu
"Loh harus sabar kalau udah nikah sama, Vigo, Vi" ujar, Luthfi kepada, Viona lalu tertawa
"Udah ayo. Ngga usah ladenin otak mesum, Vigo" ujar, Syifa lalu menarik tangan, Luthfi menuju kamarnya dilantai 2.
"Buatkan kami keponakan yang banyak" teriak, Risa sebelum, Syifa dan Luthfi menghilang
"Benar-benar gila" gerutu, Syifa
*
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like dan votenya yah teman-teman 🤠Terima kasih bagi yang selalu mendukung 🤗