Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Ceweknya Luthfi


__ADS_3

"Chattingan sama siapa loh?", Vigo mengagetkan, Luthfi yang masih menatap ponselnya.


Luthfi dan Vigo kini sudah berada dikontrakan milik, Vigo yang tidak jauh dari kampus.


"Bukan siapa-siapa" sahut, Luthfi yang menaruh ponselnya diatas meja lalu membaringkan tubuhnya di kasur


"Bukan siapa-siapa tapi bikin loh senyum-senyum" goda, Vigo


Luthfi hanya menghela napas lalu menutup matanya dengan pergelengan tangannya tanpa membalas godaan, Vigo


"Syifa yah?", Vigo menebak-nebak saat, Luthfi tak menjawab


"Sejak baikan sama, Viona. Loh tambah cerewet yah" sahut, Luthfi yang setengah duduk


"Hahaha. Bisa aja loh bro", Vigo mengganti pakaiannya dengan kaos santai


"Oh. Gue lupa. Loh yang ngasih nomor gue ke, Celia?" tanya, Luthfi saat, Vigo sudah kembali duduk disampingnya


"Ia. Dia minta ke gue. Tadinya gue ngga mau ngasih. Tapi dia bilang penting. Ya udah gue kasih. Kenapa? Dia ngehubungi loh?" tanya, Vigo heran


"Tadi dia nelpon. Tapi, Syifa yang angkat" seru, Luthfi


"Syifa? Kok bisa?" kaget, Vigo


"Tadinya gue mau diemin, karna nomornya ngga gue kenal. Tapi, Syifa maksa nyuruh angkat, takutnya penting. Tapi tetap ngga gue angkat. Terus dua orang itu berantem, akhirnya, Syifa ngalah, ya udah dia yang angkat telponnya" papar, Luthfi


"Dua orang siapa?", Vigo tidak mengerti dengan dua orang yang dimaksud, Luthfi


"Biasa. Dua cewek yang suka ribut itu", Luthfi menghela napas mengingat keributan, Syifa dan Risa tadi


"Oh, Syifa sama Risa?", Vigo menebak yang di iakan oleh, Luthfi


"Kerjaannya ribut mulu. Pusing gue", Luthfi memijat-mijat pelipisnya


"Apalagi kalau tambah, Vio. Makin ribut" timpal, Vigo dengan tawanya


"Cewek loh ngambekan" cetus, Luthfi


"Cewek loh gengsian" cetus, Vigo yang tidak ingin kalah


"Cewek gue siapa?", Luthfi mengerutkan keningnya


"Siapa lagi kalau bukan, Syifa" seru, Vigo


"Dia buka cewek gue", Luthfi memalingkan wajahnya


"Bentar lagi juga bakal jadi cewek loh" sahut, Vigo


"Terserah loh", Luthfi mengalah sebagai orang yang waras


"Haha. Kalau, Vio ngambekkan, Syifa gengsian. Terus, Risa?", Vigo sejenak berpikir


"Ribet" jawab, Luthfi dan Vigo secara kompak dengan tertawa


**


Saat suasana pagi sudah mulai memancarkan sinarnya, Syifa sudah lebih dulu bangun dari kedua temannya. Ia melihat jam yang ada di ponselnya menunjukkan pukul 05.23 pagi hari. Ia kemudian beranjak ke kamar mandi. Setelah itu ia memasak untuk sarapan. Saat semuanya sudah selesai, ia kemudian membangunkan, Risa dan Viona yang tidur dengan nyeyak

__ADS_1


"Hoooaaaammmmm", Risa merenggangkan otot-ototnya. "Jam berapa?" tanya, Risa malas efek masih ngantuk


"Setengah tujuh. Buruan gih mandi, terus sarapan" perintah, Syifa


Risa kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Syifa kembali membangungkan, Viona yang sejak tadi tidak berniat membuka matanya


"Viona bangun. Loh ngga mau ngampus? Ntar kita telat loh", Syifa terus membangunkan, Viona


"Apa sih. Masih pagi ribut banget", Viona bangun dengan malas


"Dih. Loh ngga mau kuliah? Ini udah hampir jam tujuh" seru, Syifa


"Hufth", Viona menghela napas. "Ngantuk banget gue", Viona hendak kembali tidur


"Eh eh. Mau ngapain lagi? Ngga ada yah tidur-tidur lagi. Cepat bangun. Mandi terus sarapan. Ayo, cepatan", Syifa menarik tangan, Viona untuk membawanya masuk ke dalam kamar mandi yang satunya lagi


"Ribet banget dah lu ah" kesal, Viona


"Bodo amat yah. Gue ngga mau telat gara-gara kalian" sahut, Syifa


Syifa kembali ke meja makan sambil menunggu, Risa dan Viona mandi dan berpakaian. Syifa merasa, Risa adalah temannya yang paling malas bangun pagi, tapi ternyata, Viona teman barunya lebih malas bangun pagi dari, Risa


Risa sudah bergabung di meja makan saat dirinya sudah berpakaian rapi untuk bersiap-siap ke kampus. Tak butuh waktu lama, Viona pun sudah ikut bergabung. Mereka kemudian sarapan bersama. Setelah sarapan, Risa membawa piring kotor ke wastafel lalu mencucinya sebelum pergi.


"Ayo berangkat" ajak, Syifa yang sudah mengambil tasnya


"Ayo" sahut, Risa dan Viona


Disepanjang perjalanan menuju kampus, ada saja hal yang mereka tertawakan. Mereka seperti tak pernah kehabisan bahan untuk bersenda gurau walau hanya semenit. Bahkan pejalan kaki yang lain tampak melihat kearah mereka yang tidak pernah berhenti mengoceh dan tertawa. Tapi tentu saja, Risa dan Viona tidak menghiraukannya, berbeda dengan, Syifa yang kadang masih menutup mulutnya ketika ingin tertawa keras.


"Langsung masuk kelas yuk. Nanti duduknya di belakang lagi" ajak, Risa


"Tenang. Vigo udah nyiapin tempat duduk kok" jawab, Viona enteng


"Cie.... Yang lagi berbunga-bunga hatinya" goda, Syifa dengan menyenggol lengan, Viona


"Apaan sih", Viona terlihat malu-malu


"Sok malu loh" cetus, Risa


"Mulai deh si jomblo ini, sirik" hardik, Viona dengan malas


"Jangan berantem disini. Ayo Cepat masuk kelas" perintah, Syifa


Saat, Syifa, Viona, dan, Risa sudah sampai di depan kelas. Vigo melambaikan tangannya. Terlihat ada tiga kursi kosong dekat, Vigo. Satu kursi kosong disamping, Vigo yang diapit olehnya dan Fahri, tentu saja untuk, Viona. Fahri sudah resmi pindah dan masuk ke jurusan yang sama dengan, Vigo. Dua kursi kosong didepan, tentu saja untuk, Syifa dan Risa. Namun disamping dua kursi kosong depan, Vigo, ternyata disebelahnya ada, Luthfi yang tepat depan kursi, Vigo


Viona kemudian duduk di samping, Vigo. Risa duduk tepat di depan kursi, Fahri. Dan, Syifa harus terpaksa duduk di samping, Luthfi dan Risa. Syifa berada di tengah-tengah, Luthfi dan Risa. Sedangkan, Viona yang berada di belakangnya berada di tengah-tengah. Vigo dan Fahri. Sepertinya, Vigo memang sengaja merencanakan tempat duduk tersebut


Luthfi terus menatap, Syifa hingga membuat yang ditatap merasa gelisah dan salah tingkah, takut-takut ada yang salah dengan penampilannya hari ini


"Kenapa?", Syifa memberanikan diri bertanya


"Ngga apa-apa", Luthfi memalingkan wajahnya


Terlihat, Reza baru saja masuk ke dalam kelas. Padangannya dan, Syifa tak senjaga bertemu, ia kemudian tersenyum ramah kearah, Syifa. Syifa pun membalas senyumnya. Luthfi menatap datar kepada, Reza. Saat, Syifa melirik, Luthfi, ia melihat wajah datarnya kembali lagi


" Santai bro. Dia milik loh", Vigo menepuk pelan pundak, Luthfi

__ADS_1


Luthfi tak menjawab. Ia hanya terus diam dengan wajah cuek, datar, dingin, yang tidak pernah diketahui apa maunya


Celia juga memasuki kelas. Ia mengedarkan pandangannya, saat ia melihat, Luthfi, ia segera menghampirinya


"Luthfi?" panggil, Celia yang sudah berada dihadapannya


Luthfi hanya menengok tanpa menjawab panggilan, Celia


"Kemarin gue nelpon loh. Tapi yang jawab cewek" seru, Celia


"Terus?" tanya, Luthfi dengan nada tak ramah


"Yah gue cuma mikir. Apa cewek itu ngasih tau loh kalau gue nelpon loh? Soalnya loh ngga nelpon gue balik" ujar, Celia


Luthfi melirik, Syifa sekilas


"Gue ada urusan penting kemarin" sahut, Luthfi


"Oh. Tapi cewek yang jawab telpon gue kemarin siapa?" tanya, Celia yang ingin tau


Luthfi tidak langsung menjawab. Ia mencari-cari celah untuk melirik, Syifa. Syifa sama sekali tidak menghiraukan, Luthfi. Ia berpura-pura sedang membaca buku. Vigo yang tidak enak hati karna memberikan nomor ponsel, Luthfi tiba-tiba bersuara


"Ceweknya, Luthfi" sontak satu kelas terutama para wanita termasuk, Syifa, Risa dan Viona menoleh keara, Vigo


"Ceweknya, Luthfi? Mak-maksud loh apa?" tanya, Celia dengan gelagap


"Yang jawab telpon loh kemarin ceweknya, Luthfi", Vigo memperjas


"Luthfi udah punya cewek?"


"Astaga. Gue ngga percaya ini"


"Hilang harapan gue"


"Potek hati ini"


"Beruntung banget tuh cewek"


Dan beberapa lagi reaksi para wanita yang ada dikelas tersebut. Syifa menatap tajam, Vigo. Namun, Vigo tak memperdulikannya


"Loh serius? Udah punya pacar?", Celia bertanya sekali lagi untuk memastikan


"Maksud loh apa nanya gitu? Loh ngga percaya?" kini giliran, Viona yang bersuara


"Bukan itu. Gue cuma memastikan. Apa itu benar", Celia terus bertanya kepada, Luthfi


"Apa sih yang mau loh pastiin? Luthfi udah punya cewek. Itu kebenarannya" seru, Risa yang mendapat injakan kaki dari, Syifa


"Tapi sorry. Gue ngga nanya sama kalian. Gue nanya sama, Luthfi", Celia masih tidak ingin percaya


Luthfi bungkam. Ia hanya terus melirik, Syifa. Saat, Syifa menoleh kepadanya. Saat itu juga, Luthfi mengangguk. Syifa kembali merasakan panas dingin yang menjalar keseluruh bagian tubuhnya dengan pengakuan, Luthfi. Sorakan histeris pun kembali terdengar dari para wanita di kelas tersebut, tak terkecuali, Celia yang tidak percaya hal ini


Vigo kembali menepuk-nepuk pundak, Luthfi. "Gue bangga sama loh bro. Loh gentlemen"


"Gue ngga nyangka, Luthfi punya banyak fans", Fahri terkekeh dengan ucapannya sendiri yang diikuti tawa kecil oleh, Vigo, Viona dan Risa


"Selamat beb" bisik, Risa yang menggoda, Syifa

__ADS_1


__ADS_2