Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Tidur bersama


__ADS_3

"Kenapa jadi galak?" ujar, Luthfi yang tersenyum dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya di tengah dinginnya air


"Sejak kapan dia jadi mesum? Apa karna bergaul sama, Vigo dan Fahri yah? Nyebelin" guman, Syifa yang ingin tidur-tiduran sambil menunggu, Luthfi selesai membersihkan dirinya


Tidak sampai lima menit, Luthfi sudah keluar dari kamar mandi dan melihat, Syifa yang menatap ke depan dengan tatapan kosong, bahkan tidak menyadari jika, Luthfi sudah berdiri di depannya


"Jangan suka ngelamun. Ngga baik" tegur, Luthfi. Mendengar itu, telinga, Syifa tersentak dan segera bangun kemudian dan berusaha memalingkan wajahnya dari, Luthfi yang hanya memakai handuk saja di pinggangnya


"Pakai baju, Fi" perintah, Syifa tanpa menoleh


"Ia ia" sahut, Luthfi karna ia memang sudah sangat kedinginan


"Dingin ngga?" tanya, Syifa setelah, Luthfi selesai memakai pakaiannya lengkap dengan jaket miliknya dan duduk disampingnya


"Lumayan. Mandi dulu sana. Kalau sebentar hujan, pasti ngga akan mandi" perintah, Luthfi dan membuat, Syifa menimbang sesaat


"Ia juga sih. Ya udah deh. Gue mandi dulu" seru, Syifa yang mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi


Belum sampai semenit, Syifa di dalam, teriakannya mampu membuat telinga, Luthfi menggema


"Mommyyyyy!!!!!!!! Dingin!!!!!!" teriak, Syifa dari balik kamar mandi tersebut


Luthfi hanya tertawa kecil dan meraih ponselnya di atas nakas. Terlihat beberapa kali panggilan tidak menjawab dari, Marcelia


Luthfi berdecak, "Ini orang ngapain nelpon terus"


"Luthfi!!!!" panggil, Syifa dengan menggigil yang keluar dari kamar mandi dengan membalutkan handuk kecil itu ke seluruh tubuhnya yang bergetar karna dingin


Luthfi menoleh dan menaruh ponselnya kembali lalu mendekati, Syifa yang sedang menggigil


"Kenapa?" tanya, Luthfi yang terkejut melihat wajah, Syifa pucat serta tubuhnya bergetar


"Dingin" ucap, Syifa dengan pelan karna bahkan bibirnya sudah bergetar


Luthfi memeluk tubuh, Syifa untuk memberikan kehangatan. Ia meruntuki kebodohannya karna menyuruh, Syifa mandi di tengah dingin yang bahkan airnya seakan ingin membekukan tubuhnya


"Maaf" ucap, Luthfi kemudian hendak membantu, Syifa berjalan.


Namun ketika melihat kaki, Syifa yang bahkan rambut pada kakinya pun ikut berdiri karna dingin, ia tidak lagi menunggu dan memilih untuk mengangkat tubuh, Syifa yang bergetar dan perlahan memindahkannya ke tempat tidur.


Karna handuk yang dikenakan, Syifa tidak mampu membalut seluruh bagian tubuhnya, kaki jenjangnya terlihat hingga ke setengah pahanya. Luthfi segera meraih selimut dan menutupi seluruh tubuh, Syifa


"Maaf. Harusnya gue ngga nyuruh loh buat mandi", Luthfi membelai kepala, Syifa yang masih basah


Tanpa berkata apapun, Syifa hanya mendekat dan memeluk pinggang, Luthfi dengan begitu erat. Ia merapatkan tubuhnya dengan napas yang terasa berat ia hirup. Indra penciumannya bahkan serasa tidak berfungsi dengan baik


Luthfi pun membalas pelukan, Syifa dengan sangat erat dan berkali-kali mencium puncak kepala, Syifa. Dan berkali-kali pula ia mengucapkan kata 'maaf'


"Peluk" ucap, Syifa dengan manjanya yang menggesekkan-gesekkan pipinya di dada, Luthfi


"Ini gue udah peluk" sahut, Luthfi yang semakin mengeratkan pelukannya namun heran dengan tingkah, Syifa


"Ngga kerasa" ujar, Syifa yang berusaha mengatur udara yang keluar masuk dari hidungnya yang sedikit tersumbat


"Masa? Ini udah erat banget. Kalau makin erat lagi, nanti tulang loh retak" tukas, Luthfi yang setengah bergurau. Ia merasa aneh pada, Syifa


"Ngaco", Syifa mencubit perut, Luthfi hingga membuat yang empunya meringis


"Mau ngga dingin lagi?" tanya, Luthfi yang menundukkan wajahnya untuk melihat wajah, Syifa


Syifa mendongak dan berhasil membuat hidung mereka bersentuhan. Syifa terlebih dahulu menghindar karna wajahnya yang sepertinya sudah memerah

__ADS_1


"Mau" ucap, Syifa dengan lemah tanpa kembali menatap wajah yang berada di tumpukan kepalanya


Senyum, Luthfi terbit dan berusaha menahan tawa sebelum ia mengatannya pada, Syifa


***


Suara deringan ponsel menyentak telinga, Risa yang sedang tertidur. Ia terbangun dengan mata yang menyipit. Suara tersebut masih saja berdering, namun, Risa merasa itu bukan berasal dari deringan ponsel miliknya. Setelah sedikit tersadar bahwa tidak hanya dirinya yang berada disana melainkan ada, Fahri yang juga terlelap di atas sofa yang membalutkan selimut ke seluruh tubuhnya


Risa perlahan meraih ponsel, Fahri yang berada di atas meja dekat kepala, Fahri. Risa mengernyit melihat kontak yang tertera dengan nama, Dini.


"Siapa, Dini?" guman, Risa melirik, Fahri yang masih terlelap dan tidak berniat membuka matanya


Risa menggeser icon hijau dan meletakkan benda pipih itu di telinganya, "Halo?" ucap, Risa dengan suara parau khas orang yang baru bangun tidur


"Ini siapa? Bukannya ini nomor, Fahri? Fahri mana?" bertubi-tubi pertanyaan dilontarkan oleh seseorang di seberang sana


"Fahri lagi tidur. Ini siapa? Biar nanti gue sampein kalau dia bangun" jawab, Risa yang juga masih setengah mengantuk. Bahkan ia menguap hingga terdengar suaranya oleh si penelpon


"Tidur? Loh? Loh sama Fahri tidur berdua?" tanyanya dengan pelan


"Ia" jawab, Risa yang memang menganggap bahwa, dirinya tidur berdua dengan, Fahri dalam satu kamar meski berbeda tempat tidur


"Apa? Kenapa, Fahri sekarang jadi bejat? Dan loh? Loh kan cewek, kenapa mau-mau aja tidur berdua sama, Fahri? Apa loh ngga malu? Hah?" teriaknya


Risa menjauhkan sedikit ponsel tersebut dari telinganya, "Nih cewek kenapa sih?", Risa kembali meletakkan benda pipih tersebut ke telinganya, "Maksud loh apa ngatain, Fahri bejat? Emang, Fahri punya salah apa?" kesal, Risa


"Terus apa namanya kalau bukan bejat? Dan loh juga. Dasar murahan. Cewek ngga punya harga diri"


"maksud loh apa ngatain gue cewek murahan?" teriak, Risa yang sudah kesal dan tidak terima harga dirinya diinjak-injak


Fahri terbangun akan teriakan, Risa yang berada di kepalanya. Sesaat ia melihat ponselnya berada di telinga, Risa. Fahri bangun dan mengambil alih ponselnya dari telinga, Risa


"Halo?" jawab, Fahri yang tidak lekat melihat wajah, Risa yang memerah karna amarah, namun ia tidak tau kenapa dengan gadis itu


"Halo, Fahri? Sejak kapan loh jadi bejat dengan tidur sama cewek murahan yang ngga punya harga diri itu?" teriak, Dini dengan penuh kemarahan


"Siapa yang loh maksud?", Fahri mengerutkan dahinya dan melirik ke arah, Risa yang masih mematung


"Siapa lagi kalau bukan cewek murahan loh yang jawab telpon gue tadi"


Fahri tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah, Risa yang bahkan gadis itu terlihat bergetar pada bibirnya


"Dia ngga seperti yang loh pikirin" sahut, Fahri


"Ngga usah ngebela dia. Jelas-jelas tadi dia sendiri yang bilang kalau kalian tidur bersama"


"Tidur bersama?" tanya, Fahri yang semakin mengerutkan dahinya


Risa terperanjat ke belakang mendengar, Fahri mengucapkan kata 'tidur bersama', padahal ia hanya mengulang perkataan, Dini


"Ia. Sejak kapan selera loh jadi rendahan dan jadi suka sama cewek murahan itu?"


"Dini" bentak, Fahri. "Jaga ucapan loh. Dan jangan hubungi gue lagi", Fahri menekan icon merah


Fahri menoleh ke arah, Risa yang menatap kosong ke depan. Fahri perlahan mendekat padanya namun, Risa dengan tubuh yang gemetar melangkah ke belakang.


"Jangan mendekat" Suara serak, Risa terdengar. Ia masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi padanya


"Risa", Fahri tidak peduli dan malah meraih tangan, Risa, "Ayo duduk dulu", Fahri menuntun, Risa untuk duduk di sofa


"Apa benar gue cewek murahan?" tanya, Risa dengan bibir yang bergetar menatap sendu mata, Fahri

__ADS_1


"Siapa yang bilang? Ngga ada yang bilang loh seperti itu. Kalaupun ada, loh cukup tutup telinga dan pura-pura ngga dengar" sahut, Fahri yang tenang


Air mata, Risa seketika meleleh dengan sempurna membasahi kedua pipinya. Air mata yang sempat ia tahan sedari tadi berhasil lolos dari tempatnya


"Tapi tadi dia ngatain gue cewek murahan" ucap, Risa yang sudah terisak tak mampu lagi menahan tangisnya, "Ini pertama kalinya ada yang ngatain gue cewek murahan"


Fahri mengusap air mata, Risa yang ada di pipinya, "Kan gue udah bilang jangan dengerin kalau ada ngomong itu. Lagian, dia ngga kenal sama loh"


"Tapi ini benar-benar bikin gue sakit hati. Baru kali ini ada yang ngatain gue cewek murahan. Gue ngga terima" isakan tangis, Risa makin menjadi


"Lagian loh kenapa bilang kalau kita tidur berdua?" tanya, Fahri yang masih setia mengusap air mata, Risa yang tidak berhenti mengalir


"Kan emang kita berdua disini" sahut, Risa dengan polos. "Yah masa gue bilang tidur bertiga? Jelas-jelas, kita cuma berdua doang disini" lanjutnya disela-sela tangisnya


Fahri malah terkekeh dengan penjelasan, Risa yang begitu polos. Pantas saja, Dini mengatai dirinya cewek murahan, begitu pikir, Fahri


"Loh kenapa ketawa?" kesal, Risa yang melap ingusnya melihat, Fahri malah menertawakannya


"Yah jawaban loh lucu" tawa, Fahri pun meledak karna sudah tidak kuat lagi menahan tawanya


"Fahriiiii!!!!!!!" teriak, Risa yang semakin kesal


***


"Ngapain sih senyum-senyum, Vio?" tanya, Vigo yang melihat kekasihnya terus saja tersenyum memandangi layar ponselnya


"Gue up foto-foto kita tadi di IG. Sini deh lihat dulu. Sekalian gue mau ngasih lihat sesuatu", Viona menggeser duduknya dan memberi ruang kepada, Vigo untuk duduk di sampingnya


Viona memang sengaja meng-upload foto mereka. Slide pertama menampilkan foto ber-enam mereka, slide kedua tentu saja foto berdua dirinya dan, Vigo. Slide ketiga foto berdua, Luthfi dan Syifa. Dan slide terakhir menampilkan foto berdua, Fahri dan Risa


"Kapan uploadnya" tanya, Vigo yang tidak menyadari, Viona sudah meng-upload foto-foto mereka ke akun media sosialnya


"Jadi sebelum kita kembali kesini, udah gue upload dari, tadi banget. Dan loh tau?" ucapan, Viona menggantung dan memperlihatkan sesuatu dari ponselnya ke, Vigo


"Dini like foto ini?" tanya, Vigo dengan terkejut


Viona mengangguk sempurna dan tersenyum lebar, "Gue yakin sih, setelah ini, dia pasti bakal ngehubungi, Fahri buat minta penjelasan"


"Astaga. Sejak kapan, Vio gue ini jadi cerdik banget", Vigo yang gemas langsung mencubit kedua pipi kekasihnya itu dan membuat, Viona tertawa


***


"Luthfi? Udah yah. Gue capek, ngantuk juga" pinta, Syifa dengan suara yang lemah


Luthfi menghentikan aktivitasnya dan mencium kening, Syifa sebelum berbaring di samping tubuh istrinya setelah beberapa saat lalu menindihnya


"Ayo tidur", Luthfi meraih tubuh, Syifa dan mendekapnya erat-erat.


Syifa memejamkan matanya dan memeluk pria yang berada di hadapannya saat ini. Saat kesadarannya berangsur memudar, suara deringan ponsel miliknya terdengar sangat nyaring hingga membuat matanya kembali terbuka


"Siapa yang nelpon sih? Mengganggu" gerutu, Syifa yang sudah hendak bangkit namun ditahan oleh, Luthfi


"Biar gue yang ambil", Luthfi meraih ponsel, Syifa yang berada di atas nakas. Tangannya lebih mudah menggapai benda tersebut karna tepat berada di, belakang kepalanya


"Reza?" guman, Luthfi setelah membaca nama panggilan yang sedang masuk ke ponsel, Syifa


Luthfi tidak langsung menjawab panggilan tersebut. Matanya dengan penuh selidik menatap, Syifa. Syifa menelan ludahnya dengan susah payah. Takut-takut jika, Luthfi marah padanya karna, Reza yang sedang menghubungi dirinya


"Kenapa dia selalu nelpon loh?" tanya, Luthfi dengan dingin


Glek

__ADS_1


__ADS_2