Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Seluruh tubuhnya seperti jantung


__ADS_3

"Syifa!!!!" satu suara memanggil nama, Syifa yang membuat, Syifa dan Luthfi menoleh


"Reza?" guman, Syifa saat mendapati, Reza tengah berlari kecil kearahnya. Ia sejenak melirik, Luthfi yang masih tidak bergeming ditempatnya dengan raut wajah yang sangat datar dan cuek, sangat berbeda dengan tadinya


"Hai" sapa, Reza kepada, Syifa dan Luthfi. "Hai" balas, Syifa dan Luthfi. "Mau kemana?" tanya, Reza melihat, Syifa dan Luthfi secara bergantian


"Mau ke kantin. Ada apa?" saut, Syifa yang sudah tidak ingin berbasa-basi lagi mengingat dirinya benar-benar lelah dan haus. "Ngga apa-apa. Tadi gue cuma lewat terus liat loh disini" tukas, Reza yang menggaruk tengkuknya. "Oh ia, kalian ngga mau catat keperluan untuk penelitian nanti di pulau Lombok?" lanjutnya.


"Gue malas dorong-dorongan. Nanti ajalah", Syifa mengangkat kedua bahunya.


"Oh. Ya udah, kalau gitu gue duluan yah, mau ngecatat soalnya" ujar, Reza dan, Syifa hanya mengangguk bersamaan dengan, Luthfi.


Saat, Reza sudah menghilang, Luthfi kembali mengajak, Syifa ke kantin. Syifa hanya mengikut di belakang, Luthfi. Saat mereka sampai di kantin, Luthfi membiarkan, Syifa untuk memilih tempat duduk. Dan, Syifa? Tentu saja memilih tempat duduk yang paling ujung dan jauh dari jangkauan orang-orang agar dirinya bebas dari tatapan orang-orang yang tidak ia kenal dan mengenalnya.


"Tunggu disini. Biar gue yang pesanin" ujar, Luthfi dan, Syifa hanya mengangguk karna memang dirinya benar-benar lelah padahal ia belum mendapatkan satu catatan pun akibat dorongan dari yang lainnya. Luthfi kemudian pergi menuju tempat pemesanan setelah mendapat anggukan dari, Syifa


Syifa merenggangkan otot-otot badannya yang mulai terasa pegal. Ia beberapa kali memutar ke kanan dan ke kiri kepalanya karena merasa pegal. Saat ia tidak sengaja menoleh kearah, Luthfi, pria itu dikelilingi tiga gadis yang ia tidak kenal. Syifa mengernyit dan berusaha memfokuskan matanya untuk memperhatikan setiap gadis yang berada didekat, Luthfi


"Siapa mereka?" guman, Syifa karna tidak satupun dari ketiga gadis tersebut ia kenal. "Kok, Luthfi ngga ngeladenin mereka juga? Atau mereka fans, Luthfi?", Syifa terus menerka-nerka sampai, Luthfi sudah berada di hadapannya namun tidak ia sadari

__ADS_1


"Hey", Luthfi memetikkan jarinya tepat dihadapan wajah, Syifa hingga membuat gadis itu sedikit terkejut. "Ngelamun", Luthfi memberikan, Syifa jus Alpukat dan Kentang goreng. "Ngga ngelamun kok" bantah, Syifa yang menerima jus dan kentang goreng tersebut


Luthfi hanya menyerengai tipis lalu duduk tepat dihadapan, Syifa hingga mereka duduk berhadapan. "Oh ia, tadi gue lihat ada beberapa cewek yang sama loh disana. Mereka siapa? Kok kayaknya bukan dari teman kelas kita?", Syifa bersuara saat tidak melihat ketiga gadis itu di tempat pemesanan


"Maksud loh cewek-cewek yang di belakang loh?" tukas, Luthfi dengan pelan dan melirikkan matanya ke belakang, Syifa. Syifa mengernyit dan menoleh ke belakangnya mengikuti lirikan, Luthfi. Betapa terkejutnya, Syifa mendapati ketiga gadis tersebut berada tepat di belakang dan semuanya menghadap seperti dirinya hingga bisa melihat, Luthfi


Dengan cepat, Syifa memutar kembali kepalanya seperti semula. Ia menjadi malu karna kepergok oleh ketiga gadis di belakangnya yang sedang menatap dirinya dengan tidak suka. "Mereka masih ngeliatin gue?" tanya, Syifa dengan sangat pelan hingga membuat, Luthfi ingin sekali tertawa keras. Luthfi hanya dengan santai hingga membuat, Syifa semakin salah tingkah.


"Luthfi!!!!!! Gue malu" teriak, Syifa dengan pelan yang menutup wajahnya dari samping hingga hanya, Luthfi yang bisa melihat. Luthfi terkekeh, "Kenapa harus malu", Luthfi menarik tangan, Syifa yang menutup sebagian wajahnya. "Luthfi ih. Gue malu" geram, Syifa yang masih tidak berani berteriak kencang


"Mau tukeran tempat duduk?" ujar, Luthfi dengan santai hingga mendapat tatapan tajam dari, Syifa. "Jangan bikin kesal" ketus, Syifa mendekikkan tatapannya. "Ya udah gue pindah ke samping loh aja", Luthfi benar-benar pindah ke samping, Syifa. Syifa membolakkan matanya karna terkejut. Dirinya benar-benar tidak menyangka, Luthfi bisa berbuat senekat padahal ada beberapa gadis di belakang mereka


Syifa akhirnya bisa bernapas lega dari debaran jantungnya yang tidak seirama saat wajah, Luthfi sudah menjauh dari wajahnya. Syifa sekilas melirik ke belakangnya untuk benar-benar memastikan mereka masih menatapnya. "Tapi harus banget loh bisik-bisik di telinga gue? Kalau mereka salah paham gimana?" ujar, Syifa yang mengerutkan keningnya dengan polos


"Gue lebih suka mereka salah paham biar mereka ngga ganggu gue lagi" saut, Luthfi tanpa menatap, Syifa. Ia berbicara dengan sungguh-sungguh. Mungkin dirinya sudah lelah dikejar-kejar oleh beberapa gadis bahkan bukan dari jurusan mereka. Syifa hanya mengangguk pelan dan mulai mengerti. Pasalnya, Luthfi memang bukan pria yang suka dikerubuni banyak gadis, ia tidak akan menanggapi setiap pertanyaan para gadis yang bertanya padanya. Bahkan ia sangat risih dengan gadis-gadis yang tidak tau malu meminta nomor ponselnya


"Ya udah. Minum nih, biar otak loh jernih lagi", Syifa terkekeh dengan ucapannya sendiri lalu menyodorkan minuman, Luthfi ke mulutnya. Luthfi hanya tersenyum dan meminum jus miliknya dari tangan, Syifa.


"Kok mereka lama banget yah?", Syifa telihat celingak-celinguk melihat kearah luar kantin berharap melihat keempat temannya memasuki kantin. "Kan mereka harus antri buat nyatat" saut, Luthfi yang memperhatikan tingkah, Syifa dengan polos yang tidak menyadari jika, Luthfi sedang memperhatikan dirinya.

__ADS_1


"Ia juga sih" tukas, Syifa yang mengangguk pelan dan menoleh kearah, Luthfi. Syifa terkejut mendapati, Luthfi yang tengah menatap dirinya dengan serius. "Luthfi. Kok loh natap gue gitu sih?" ujar, Syifa dengan wajah yang sedikit memerah meski ia bisa mengendalikan raut wajahnya


"Gue suka" ucap, Luthfi yang tanpa sadar membuat wajah, Syifa bertambah memerah seiring debaran jantungnya yang tidak ia tahu dimana letaknya. Seluruh tubuhnya seperti jantung rasanya, bergetar dari ujung rambut kepala sampai ujung kuku kaki


"Oh maaf", Luthfi memalingkan wajahnya saat tersadar dengan ucapannya. Aura kecanggungan mengampiri mereka berdua


"Hay. Lama yah nunggu kita" seru, Risa yang langsung duduk di hadapan, Syifa diikuti, Viona, Vigo dan Fahri.


"Syukur mereka datang tepat waktu" guman, Syifa yang bernapas lega. "Wajah loh kenapa merah, Fa?" tanya, Viona yang memperhatikan wajah merah, Syifa


"Ha? Ng... Ngga kok" jawab, Syifa dengan gugup lalu memegang kedua pipinya. "Hmmm, Syifa emang biasa gitu kalau habis desak-desakan" saut, Risa dengan cepat saat melihat tingkah, Syifa yang ia sudah ia kenal sebelumnya. "Perasaan ngga lama, Syifa desak-desakan" tukas, Fahri yang juga memperhatikan wajah, Syifa yang memerah. "Kayak habis direbus muka loh, Fa" timpal, Vigo yang menautkan kedua alisnya


"Apaan sih kalian jadi liatin muka gue gitu" ketus, Syifa yang mengubah raut wajahnya menjadi cemberut agar mereka percaya dengan perkataan, Risa.


"Minum dulu", Luthfi menyodorkan minuman kepada, Syifa dan, Syifa pun mengambil minuman tersebut lalu meminumnya. "So sweet" ucap, Viona dengan senyum manisnya melihat keromantisan mereka berdua.


"Gajelas luh" hardik, Syifa memutar malas bola matanya. "Luthfi bisa romantis juga yah ternyata" lanjut, Viona. "Bisa diem ngga sih loh" perintah, Syifa dengan kesal. "PMS loh, Fa? Marah-marah mulu" tukas, Vigo.


"Sepasang kekasih yang nyebelin" guman, Syifa dengan malas. "Loh bilang apa?" tanya, Luthfi yang mendengar, Syifa berbicara namun tidak tau apa yang, Syifa bicarakan. "Ngga ada", Syifa menggeleng dengan cepat yang menoleh kearah, Luthfi hingga tatapan mereka berdua bertemu

__ADS_1


__ADS_2