Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Menerima lamaran ku


__ADS_3

"Kalau gue tau banyak Nyamuk disini, sekalian gue pake kaos kaki, pake celana yang lebih tebal" gerutu, Risa yang tidak berhenti terus memukul kakinya yang selalu dihinggapi Nyamuk setelah mereka berkumpul di depan tenda pembina, namun pembina mereka masih belum juga keluar.


"Loh juga. Udah tau malam-malam diluar pasti banyak Nyamuk, kenapa ngga persiapin dari tadi coba" cetus, Syifa yang berada di sampingnya. Risa hanya mencibir dan terus memukul pelan kakinya yang tersa gatal


"Ini juga, lama banget sih pembina di dalam. Ngapain coba disuruh ngumpul dulu kalau belum selesai mereka diskusinya? Bikin kesal aja" ketus, Viona yang juga merasakan kelakuan nakal para Nyamuk.


"Tadi kan gue udah bilang? Pake kaos, Vio. Tapi loh ngga dengerin gue" tegur, Vigo yang berada di samping kekasihnya tersebut.


"Harusnya loh maksa gue" seru, Viona. "Loh berdua kenapa jadi berantem?" tegur, Fahri. Viona hanya memutar malas bola matanya. Sedang, Vigo hanya bisa menggeleng.


"Selalu aja ribut" lirih, Celia.


"Diam" perintah, Luthfi kepada, Celia. Karna, Celia duduk di samping, Luthfi. Sedang, Syifa diapit oleh, Risa dan juga Viona.


"Mungkin ada hal penting yang para pembina diskusikan" ucap, Reza yang menenangkan kedua gadis, tersebut.


"Rezaaaaaa..... Loh idaman banget", Risa mengatupkan kedua tangannya lalu menaruhnya di pipi yang sedikit memiringkan wajahnya.


Fahri memicingkan matanya menatap, Risa. Risa yang melihatnya langsung berdehem dan kembali memposisikan dirinya seperti semula. Viona yang melihat tingkah mereka berdua hanya terkekeh.


"Naksir beneran loh sama, Reza?" tanya, Vigo yang serius dengan pertanyaannya. Semua mata mengarah ke, Risa.


"Kalian kenapa jadi pada ngeliatin gue?", Risa yang tadinya hanya bercanda menggoda, Reza harus menjadi bahan perhatian hingga wajahnya memerah.


"Ayo jawab" kini, Reza yang berkesempatan menggoda, Risa lalu menaik turunkan alisnya dengan senyumnya yang menawan.


"Malas ah" cemberut, Risa pada akhirnya mendapat tertawaan teman-temannya.


"Ledek gue aja terus sampai kalian puas" ketusnya.


"Ngambek nih, ngambek", Syifa menyenggol lengan, Risa lalu memeluknya dan tertawa senang.


"Selamat malam anak-anak" salah satu pembina mereka bersuara hingga semua pasanga mata mengarah padanya.


"Kami minta maaf atas keterlambatan kami. Setelah melalui diskusi panjang tadi. Besok tidak ada kegiatan, dan kemungkinan malam ini kita akan berangkat kembali ke Villa untuk melanjutkan kegiatan kita selanjutnya disana. Jadi saya harap, kalian semua mempersiapkan barang-barang kalian sembari menunggu bus datang menjemput kita semua" tuturnya


"Jadi kita akan pulang malam ini pak?"

__ADS_1


"Kenapa ngga besok pagi aja pak?"


"Apa yang terjadi ini?"


Tanggapan dari beberapa mahasiswa membuat pembina mereka saling melempar pandang satu sama lain.


"Kami memiliki kendala tersendiri yang tidak bisa kami beritahu kepada kalian semua. Ini semua demi kebaikan kalian juga, dan ini sudah menjadi keputusan bersama para pembina. Saya harap kalian semua bisa mengerti. Silahkan kembali ke tenda masing-masing dan membereskan barang kalian. Jangan lupa tenda kalian juga. Jika sudah selesai, silahkan kembali kemari lagi. Terima kasih" pembina tersebut menyudahinya. Para mahasiswa pun lomba ke tenda masing-masing dengan seribu tanda tanya di kepala mereka masing-masing saat ini.


"Ada apa yah? Kok pikiran gue malah larinya kemana-mana" seru, Syifa saat mereka menuju tenda.


"Pikiran loh emang selalu horor yah. Heran gue" saut, Risa. "Yah gue kan takut", Syifa mencibir kesal.


"Di belakang loh, Fa" teriak, Risa ketika, Syifa sudah hendak masuk ke dalam tendanya. Syifa yang tidak melihat ke belakang malah langsung berteriak terkejut dan lari menuju, Luthfi yang ada di sampingnya.


Syifa terduduk dan langsung menangis. Risa tertawa setelah melihat kepanikan tergambar di wajah, Syifa.


"Ayo bangun", Luthfi berjongkok hendak membantu, Syifa berdiri. Namun, Syifa malah menepis tangannya dan terus menangis dalam kendaan menunduk menutup wajahnya dengan pergelangan tangannya.


"Risa!" tegur, Luthfi. Risa pun langsung menghampiri, Syifa.


"Eh. Kurangin dikit makanya cerita yang ngga jelas di otak loh. Udah sini", Risa membantu, Syifa berdiri. Tanpa berkata, Syifa masuk ke dalam tenda meninggalkan yang lainnya diluar.


"Nanti juga loh lihat sendiri dia gimana. Udah, ayo kita beres-beres" ajak, Risa kepada, Viona, Vigo dan Reza. Luthfi, Fahri dan Vigo menyusul, Syifa masuk ke tenda.


Semua mahasiswa saat ini tengah bersiap-siap kembali ke Villa. Tenda mulai di bongkar dan dilipat kecil. Kini, mereka kembali berkumpul di depan pembina untuk menunggu bus mereka datang.


Mereka sibuk mengobrol masing-masing sembari menunggu bus datang. Viona yang tadinya khawatir, Syifa akan menjadi diam karna marah, malah nyatanya gadis tersebut tetap ceria seperti sebelumnya.


"Ayo anak-anak. Silahkan berbaris. Bus sudah tiba. Harap tetap tenang yah. Dan tetap mematuhi peraturan yang sudah berlaku. Untuk ketua kelompok, tolong menjaga anggotanya agar tidak berpisah satu sama lain" tutur pembina mereka. Satu-satu persatu kini sudah masuk ke dalam bus.


Sama seperti sebelumnyanya, Syifa duduk berdua dengan, Luthfi. Fahri duduk dengan, Celia yang diliputi adu mulut. Viona yang tentu saja duduk bersama kekasinya. Dan Risa duduk berdua dengan, Reza


"Dingin?" tanya, Luthfi pelan kepada, Syifa sedari tadi meremas kedua tangannya. Syifa hanya mengangguk lalu tersenyum. Luthfi meraih tangan, Syifa dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya yang tebal.


Syifa sedikit terkejut namun dengan cepat ia memalingkan wajahnya keluar jendela untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karna malu. Jantungnya memompa 5 kali lebih cepat sehingga untuk menarik nafas saja, ia sampai harus kesusahan meredamnya.


"Terima kasih" ucap, Luthfi denga pelan yang membuat, Syifa menoleh kepadanya lalu mengernyit.

__ADS_1


Terima kasih?" ulangnya dan, Luthfi mengangguk.


"Terima kasih untuk apa?", Syifa benar-benar bingung dengan, Luthfi yang tiba-tiba berterima kasih padanya.


"Untuk semuanya"


"Tapi gue ngga lagi ngelakuin apa-apa sekarang?"


"Untuk menerima lamaran ku"


Ucapan terakhir, Luthfi membuat jantung, Syifa, semakin bergejolak. Rona wajahnya kembali memerah, bahkan lebih merah dari sebelumnya. Luthfi sedari tadi ingin mengatakan terima kasih setelah, Syifa selesai menghubungi orang tuanya yang mengatakan bahwa orang tua, Luthfi akan datang ke rumahnya besok.


Untung saja orang tua, Syifa tidak bertanya hal yang aneh-aneh pada putrinya. Hingga, Luthfi mengirimkan kontak orang tua, Syifa untuk lebih memudahkan mereka dalam berkomunikasi


"Besok lamaran" lanjutnya. Syifa hanya mengangguk tanpa berani berbicara. Mulutnya seperti bungkam namun sebenarnya ia juga sedang bahagia. Tapi ia tidak tau apa yang akan, Risa lakukan jika tau bahwa besok adalah hari lamaran dirinya namun tidak diberihu olehnya. Ia takut sahabatnya tersebut akan marah besar padanya.


"Ada apa?", Luthfi memperhatikan raut wajah, Syifa yang tiba-tiba murung.


"Gue takut, Risa marah"


*


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


Wah, besok udah Idul Fitri bagi yang merayakannya yah 😊? Aku sebelumnya mau minta maaf jika aku ada salah yah teman-temanπŸ™πŸ» Dan buat teman-teman yang suka novel ini, jangan lupa untuk selalu like dan beri tip yah 🀭 dan berikan komentar kesan kalian juga biar aku bisa tau πŸ˜…


__ADS_2