Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Ramalan


__ADS_3

Selama libur kuliah 2 bulan. Luthfi dan Syifa lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Baik di rumah, Luthfi maupun di rumah, Syifa. Risa pun rajin ke rumah, Syifa untuk sekadar mengobrol atau jalan-jalan bersama seperti saat, Syifa belum menikah dulu


"Ingat yah. Kalian sekarang tinggal berdua. Jangan bertengkar. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik. Jangan langsung marah. Harus dengar penjelasan dulu. Ingat itu" pesan Mommynya sebelum anak-anaknya kembali ke tempat dimana mereka kuliah


"Ia Mom. Udah ratusan kali loh Mommy bilang ini ke, Syifa sama Luthfi. Mommy ngga capek apa ngomong itu terus" gerutu, Syifa sudah berapa kali mendengar Mommynya mengatakan hal yang sama


"Itu biar loh ngga lupa" seru, Risa yang memegang kopernya menuju bagasi mobil


"Diingatin ratusan kali saja masih lupa. Apalagi ngga diingatin. Pengantin baru memang harus selalu diingatkan. Akan banyak kerikil-kerikil di depan sana yang akan menghalangi jalannya rumah tangga kita" cetus Ayahnya sebagai orang yang sudah berpengalaman dalam mengarungi rumah tangga


"Ia Ayah. Syifa ngerti" pasrah, Syifa yang sudah jengah dengan pesan orangtuanya yang sudah ratusan kali mengatakannya


"Kamu belum mengerti. Karena kamu belum merasakannya" seru, Mommynya


"Ia Mommy" ketus, Syifa dengan pasrahnya


"Kamu akan ingat pesan Mommy. Kalau kamu sudah merasakannya" ujar Mommynya


"Sebisa mungkin, Luthfi sama Syifa akan mengingat pesan Mommy. Supaya kedepannya tidak terjadi hal-hal yang akan buat Mommy sama Ayah takut" cetus, Luthfi untuk menenangkan mertuanya


"Menantu yang baik" ledek, Risa yang berada di sebelah, Syifa


"Diam loh jomblo" hardik, Syifa


"Songong luh? Mentang-mentang udah nikah" seru, Risa yang kesal jika bawa-bawa status


"Ya udah. Kami pamit dulu Momny, Ayah" pamit, Luthti yang mencium punggung tangan kedua mertuanya


"Hati-hati nak"


"Syifa juga, Mom, Yah", Syifa bahkan berpelukan kepada kedua orangtuanya


"Risa juga" pamit, Risa


"Salam buat, Syafa Mom. Kasian dia ngga lihat kami pergi" ucap, Syifa karn adiknya kini tengah pergi ke sekolah


"Ia nak. Hati-hati yah" ucap Mommy dan Ayahnya


Luthfi yang mengemudikan mobilnya. Syifa berada di sampingnya. Dan di kursi belakang terlihat, Risa duduk sendiri disana


"Gini banget nasib jomblo. Jadi Nyamuk mulu" ketus, Risa yang kini hanya duduk sendiri


"Makanya. kejar, Fahri dong" ledek, Syifa tanpa menoleh ke belakang


"Yakali gue yang harus ngejar? Gue kan cewek? Harga diri gue dimana coba?" seru, Risa


"Lebay loh", Syifa menatap, Risa ke belakang dan melemparkan sebutir kacang yang baru saja ia ambil dari pembukusnya


"Nanti gue bilang ke, Fahri kalau loh minta dikejar" cetus, Luthfi seolah-olah sedang serius mengatakannya


"Boleh tuh. Biar gue ngga jomblo lagi", Risa menerima ledekan, Luthfi padanya


"Benaran? Nanti gue kasih tau, Fahri" ujar, Luthfi


"Itu juga kalau, Fahri percaya" ucap, Risa dengan tertawa. Membuat sepasang suami istri tersebut hanya memutar malas bola matanya


Mereka membutuhkan waktu 4 jam untuk menempuh perjalanan menuju rumah, Syifa dan Risa selama mereka kuliah di kota A. Risa dan Syifa tertidur karena perjalanan yang begitu panjang.


Luthfi hanya menoleh pada, Syifa lalu tersenyum dan mengusap pelan kepala istrinya yang kini sedang tertidur. Kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke depan untuk memasuki halaman rumah, Syifa dan Risa


"Syifa? Ayo bangun? Kita sudah sampai", Luthfi menepuk pelan pipi, Syifa untuk membangunkannya


Dan tanpa butuh waktu lama, Syifa mengerjap dan menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Ia mengucek matanya dan membenarkan posisi duduknya


"Sudah sampai?" tanya, Syifa dengan suara khas bangun tidur


Luthfi mengangguk. Syifa kemudian membangunkan, Risa yang tertidur di belakang. Sementara, Luthfi sudah menurunkan koper milik, Risa di bagasi mobilnya.


Setelah, Risa terbangun. Mereka masuk ke dalam rumah yang sudah mereka tinggalkan selama 2 bulan terakhir ini.


"Kalian menginap disini aja dulu yah? Besok baru balik sepulang kuliah. Yah? Gue belum biasa sendiri" pinta, Risa yang belum terbiasa hidup sendiri


Syifa melirik, Luthfi. Luthfi pun hanya mengangguk. "Ya udah. Eh, loh belum hubungi anak-anak kalau kita sudah disini?" tanya, Syifa kepada, Risa

__ADS_1


"Eh ia, gue lupa. Bentar yah, gue telpon, Viona dulu" pamit, Risa ke belakang untuk menelpon, Viona


"Nelpon, Viona pake pergi segala" cetus, Syifa yang melihat punggung, Risa sudah menghilang


"Aku mau tidur dulu. Kamar kamu dimana?" tanya, Luthfi yang benar-benar kelelahan


"Kamu ngantuk?" tanya balik, Syifa dan Luthfi hanya mengangguk, "Ayo. Aku antar ke kamar" ajaknya. Luthfi pun hanya mengikut di belakangnya


Saat, Syifa membuka pintu kamarnya, ia mencium aroma tidak sedap pada kamarnya. Wajar saja, tidak pernah dibersihkan selama 2 bulan


"Tunggu bentar yah? Aku bersihin dulu? Bau banget. Tempat tidurnya juga kotor" seru, Syifa


"Bersihin tempat tidurnya dulu. Baru bersihin yang lain. Aku ngantuk" perintah, Luthfi


Syifa hanya mengangguk dan mulai membersihkan tempat tidurnya. Setelah dirasa sudah bersih, Luthfi langsung merebahkan tubuhnya disana, dan tidak butuh waktu lama, ia sudah berada di dalam alam mimpinya.


Sedangkan, Syifa melanjutkan pekerjaannya membersihkan kamarnya. Mulai dari menyapu, hingga mengepel lantainya dan tidak lupa menyemprotkan pewangi agar kamarnya harum


Setelah mengerjakan semuanya. Syifa menghampiri, Luthfi yang sudah terlelap sejak tadi. Namun, Syifa baru menyadarinya ketika dirinya sudah selesai membersihkan kamarnya


"Dia pasti capek. Kasian juga" guman, Syifa yang memperhatikan wajah, Luthfi


Suara gesekan pintu terbuka pelan dan membuat, Syifa menoleh ke arahnya.


"Syifa" seru, Risa ketika membuka pintu kamar, Syifa. Syifa pun seketika meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya agar, Risa berbicara pelan.


"Ops", Risa menutup mulutnya. "Gue baru bersihin kamar juga. Viona sama yang lainnya sudah dalam perjalanan kemari" ujar, Risa dengan pelan


"Suruh mereka bawa makanan. Persediaan makanan kita belum ada" sahut, Syifa dengan pelan pula


"Udah kok. Gue udah nyuruh, Viona bawa makanan. Loh belum ngambil pakaian loh dalam lemari yah?" tanya, Risa karna melihat lemari, Syifa masih terkunci.


"Ia nih belum. Ntar malam aja. Gue capek habis bersih-bersih" keluh, Syifa yang memijat pundaknya


"Ya udah. Loh tidur aja dulu bareng, Luthfi. Nanti biar gue yang ngasih tau anak-anak" ujar, Risa, "Dan jangan lupa, kunci pintu kamar loh. Tiba-tiba aja kalian tidur sambil pelukan, terus dilihat sama anak-anak kan malu sendiri loh" imbuhnya


"Ia bawel" gerutu, Risa. Bahkan, Syifa sudah malu dengan perkataan, Risa


Syifa ikut merebahkan tubuhnya di samping, Luthfi. Melihat wajah, Luthfi yang terlelap, Syifa pun kembali merasakan kantuk hingga tertidur. Padahal ia sudah tertidur di mobil selama perjalanan tadi.


Syifa yang tertidur dengan terlentang namun wajahnya menghadap ke, Luthfi. Luthfi yang juga tidur terlentang menggeser tubuhnya untuk menyamping. Namun matanya terbuka pelan karna tangannya menyentuh lengan, Syifa. Senyumnya mengembang, dan langsung memeluk, Syifa hingga kembali tertidur.


***/


"Lama amat kalian datangnya" seru, Risa ketika ketiga temannya sudah sampai di rumahnya


"Macet kali" sahut, Viona yang membawa beberapa makanan di tangannya


"Syifa sama Luthfi mana?" tanya, Fahri ketika tidak mendapati kedua temannya disana


"Oh ia. Kemana mereka?" timpal, Vigo


"Mereka tidur. Kasian, Luthfi baru bisa tidur sekarang. Kalau, Syifa kecapean habis bersih-bersih kamar. Ya udah, gue suruh tidur dia" jelas, Risa yang membantu, Viona membawa makanan tersebut masuk


"Oh"


"Mereka ngga langsung pulang ke rumah, Luthfi kan?" tanya, Viona yang memindahkan makanan tersebut ke piring dan membawanya ke meja makan


"Ngga. Gue tadi nyuruh mereka nginap disini. Besok baru boleh balik ke rumah, Luthfi. Sekalian kita bisa ikut" ujar, Risa yang sudah menyiapkan makanan


"Loh lapar?" tanya, Viona


"Ngga sih. Kenapa? Loh lapar?" tanya balik, Risa


"Gue sama yang lain udah makan tadi. Ya udah. Tunggu, Syifa sama Luthfi bangun aja baru kita makan" usul, Viona. Risa pun hanya mengangguk


Risa dan Viona menghampiri, Fahri dan Vigo yang sedang menonton TV. Mereka menghabiskan waktu selama 2 jam untuk berbincang dan bercanda bersama


"Kalian sudah lama?" terdengar suara dari arah belakang mereka


"Hai, Fa" sapa, Viona yang tersenyum melihat, Syifa berdiri bersama, Luthfi


"Udah setahun malah gue disini" racau, Vigo

__ADS_1


"Sini, duduk", Fahri berpindah ke samping, Risa dan membiarkan, Luthfi dan Syifa duduk di tempatnya semula


"Modus. Bilang aja loh mau dekat-dekat sama gue" seru, Risa yang sudah terbiasa bergurau seperti itu


"Ayo loh, Ri" sahut, Viona yang sudah tertawa


"Ia la, Risa. Gue mau duduk dekat loh. Boleh kan? Biar jiwa jomblo loh kuat dan ngga meronta-ronta pass lihat nih dua pasangan mesra-mesraan" tutur, Fahri yang membuat, Risa menatapnya tajam


Yang lainnya pun hanya tertawa dengan tingkah keduanya yang selalu saja bertengkar


"Gue punya ramalan" seru, Vigo di tengah-tengah tawa teman-temannya


"Ramalan apa? Ngga usah aneh-aneh deh" ketus, Viona padahal ia belum mendengarnya


"Dengar dulu, Vio", Vigo yang gemas mencubit pipi, Viona


"Please deh. Hargain gue disini dong" teriak, Risa


"Baru aja gue ngomong tadi", Fahri menggeleng


"Udah-udah. Jadi ramalan apa, Go" tanya, Syifa yang sudah penasaran


"Penasaran?", Luthfi melihat, Syifa. Syifa pun mengangguk. Luthfi hanya tersenyum padanya


"Oh my god. Please, help me" teriak, Risa hingga membuat, Luthfi dan Syifa menoleh padanya


"Apa sih, Risa? Teriak-teriak" seru, Syifa


"Hargain dong gue disini" sahutnya dengan sewot


"Dasar jomblo" guman, Syifa


"Ok ok. Jadi, kalian mau dengar ramalan gue apa ngga nih?" tanya kembali, Vigo


"Ramalan apa?" kini gilirian, Lutfhi yang bertanya


"Gue ramal. Besok Fakultas kita akan ramai. Terlebih orang-orang yang berada di kelas kita" jelas, Vigo yang memperhatikan temannya satu persatu


"Kenapa bisa gitu?" tanya, Syifa


"Karna banyak yang mengira kalau, Luthfi sama Syifa udah jadian" ujar, Vigo yang menatap, Luthfi dan Syifa bergantian


"Eh ia. Gue baru ingat" seru, Viona


"Gue ngga kepikiran" timpal, Fahri


"Yah ngga apa-apa sih. Mending mereka dikata pacaran daripada dikata udah nikah" cetus, Risa


"Benar sih" sahut, Viona


Luthfi dan Syifa saling menatap. Tatapan, Syifa mengisyaratkan keraguan. Namun tatapan, Luthfi mengisyaratkan tidak apa-apa


"Kalian tenang saja. Semaksimal mungkin, kita pasti akan bantu kalian" ujar, Fahri


"Udahlah santai aja. Ngga akan ada yang curiga kalau kalian udah nikah. Paling mereka mikirnya kalau kalian lagi pacaran" tutur, Syifa yang berusaha menenangkan pikiran, Syifa. Ia tau betul, sahabatnya itu selalu terbawa pikiran


"Ia, Fa tenang aja. Kan ada kita" tukas, Viona


"Loh ngga usah takut" timpal, Vigo


"Ngga akan ada yang curiga", Luthfi meraih tangan, Syifa dan mengusapnya lembut


Syifa hanya memaksakan senyumnya dan mengangguk pelan. Pikirannya masih terus saja menerawang dengan ramalan, Vigo. Bahkan ia takut untuk bertemu teman-teman kampusnya besok.


"Bagaiman ini?"


*


*


*


Jangan lupa like dan votenya yah 😊 Terima kasih yang sudah mendukung 🤗

__ADS_1


__ADS_2