Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Tak tau malu


__ADS_3

"Kamu kenapa?", Luthfi yang panik menyusul, Syifa ke kamar mandi dan memijat tengkuknya


Syifa masih belum berhenti mengeluarkan isi perutnya yang tiba-tiba saja ingin keluar pagi ini. Badannya lemas seketika dan terduduk saat ia sudah memuntahkan isi perutnya


"Kamu kenapa? Kamu sakit? Kita ke dokter sekarang?" tanya, Luthfi yang tidak tega melihat wajah pucat istrinya itu


Syifa menggeleng pelan, "Aku ngga apa-apa" jawabnya dengan lemah


"Ayo. Aku bantuin bangun", Luthfi memapah tubuh istrinya itu untuk keluar dari kamar mandi. "Kamu istirahat aja dulu. Biar makanannya nanti aku bawa kesini" imbuhnya


"Ngga usah. Aku mau makan sama teman-teman" ujar, Syifa dengan lemah


"Ya udah. Ayo", Luthfi tetap memapah, Syifa sampai keluar kamar dan bergabung dengan teman-temannya yang lain yang sudah terlebih dahulu berada disana


"Loh kenapa, Fa? Pucat banget muka loh?" tanya, Risa yang menghampiri, Syifa


"Ngga apa-apa" jawab, Syifa yang kini mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi


"Tiba-tiba dia muntah" cetus, Luthfi yang kini ikut duduk di samping istrinya


"Muntah? Kok bisa?" tanya, Viona yang menatap iba pada wajah, Syifa


"Kurang tidur kali" sahut, Fahri


"Makanya, Fi. Jangan dibikin lelah, Syifa-nya" ledek, Vigo


Syifa menajamkan tatapannya pada, Vigo. Sementara, Luthfi dan Fahri tertawa. Dan seketika itu, ketiga gadis yang dianggap perusuh oleh, Risa dan Viona datang


"Pagi" sapa mereka bertiga


"Pagi" hanya, Syifa yang membalas sapaan mereka dengan lemah. Sementara yang lainnya acuh tak acuh dan tidak mempedulikan kedatangan mereka


"Apa Maag loh kambuh yah, Fa?" tanya, Risa dan tidak menghiraukan ketiga gadis yang sedang berdiri itu


"Kayaknya sih ia" sahut, Syifa yang menyandarkan punggungnya


"Kamu makan dulu. Nanti kita ke Dokter" bujuk, Luthfi yang menyiapkan makanan untuk istrinya


"Aku ngga nafsu makan" tolak, Syifa dengan lemas


"Kamu makan dikit aja. Habis ini kita ke Dokter. Yah?", Luthfi masih berusaha membujuk, Syifa


"Emang, Syifa punya riwayat sakit Maag?" tanya, Viona yang khawatir pada temannya


"Ada. Dan dulu sering banget sakitnya itu kambuh. Pass kita kuliah aja sakitnya ngga datang. Tapi sekarang malah datang" sahut, Risa


"Habis ini kita ke Dokter nemenin, Syifa" ujar, Fahri


"Ayo makan dulu" ajak, Vigo


"Ehem", Dini berdehem cukup keras agar keberadaan mereka terlihat


"Ayo makan" ajak, Syifa pada ketiga gadis yang sedang berdiri itu


"Kita mau makan dimana?" tanya, Lury

__ADS_1


"Di rumah loh lah" cetus, Viona tanpa menoleh


"Viona ng.... " belum sempat, Syifa menyelesaikan kata-katanya, ia harus menahan mulutnya dan segera berlari menuju wastafel yang ada di dapur, lalu memuntahkan kembali isi perutnya yang lagi-lagi membuat tenggorokannya merasa nyilu


Semua yang berada di meja makan tadinya kini berhambur mengikuti, Syifa yang tiba-tiba muntah begitu saja.


"Kita ke Dokter sekarang" seru, Luthfi yang tidak lagi bisa menunggu


"Aku ngga apa-apa" sahut, Syifa yang kini tengah berbalik pada, Luthfi. "Aku beneran ngga apa-apa. Kayaknya aku cuma benar-benar butuh istirahat. Paling bentar lagi sembuh kok" ucapnya dengan lemas


"Beneran ngga apa-apa? Muka kamu pucat", Luthfi menyentuh pipi istrinya yang begitu tampak memucat, berbeda dengan warna kulit aslinya


"Apa jangan-jangan loh hamil?" cetus, Dinar yang berada di belakang. "Yah. Secara kan loh pacaran sama, Luthfi. Dan, yang gue tau loh juga tinggal serumah sama, Luthfi. Bisa aja kalian berbuat sesuatu yang diluar batas. Contohnya berhubungan layaknya sepasang suami istri" lanjutnya dengan meledek


Syifa menatap, Luthfi mendengar penuturan, Dinar. Begitupun dengan teman-temannya yang lain. Saling menatap satu sama lain


"Jangan ngomong gitu kak", Dini menyenggol, Dinar


"Gue juga mikir yang sama kayak Kak Dinar. Bisa aja emang dia", Lury menunjuk, Syifa "Hamil. Semalam aja dia tidur berdua sama dia" kemudian menunjuk, Luthfi bergantian


"Loh kalau punya mulut dijaga yah?" seru, Viona. "Kalau loh ngga tau apa-apa, mending diam aja. Sebelum mulut loh itu gue hancurin" imbuhnya dengan penuh penekanan menunjuk, Lury


Lury menjadi bungkam karena takut akan ancaman, Viona. Vigo menarik, Viona, "Udah, Vio"


"Loh beneran ngga mau ke rumah sakit?" tanya, Fahri. "Mungkin kita bisa tau alasan loh muntah"


"Ngga, Ri. Gue beneran baik-baik aja" sahut, Syifa


"Udah. Ngga usah khawatir. Syifa emang sering kek gini dari dulu. Paling bentar lagi juga sembuh. Dia cuma butuh dipijat punggungnya aja" seru, Risa


"Ia. Loh pijatin punggung, Syifa aja. Ntar baik sendiri" ujar, Risa yang sudah berpengalaman melihat sakit temannya itu tiba-tiba datang menyerang


"Tuh dengerin. Jangan asal nuduh makanya" cetus, Viona setengah kesal


"Udah-udah. Ayo kita makan dulu. Setelah ini loh sama Syifa istirahat aja dulu, Fi di kamar" tukas, Vigo


"Ia. Kalian duluan" ujar, Luthfi


Semuanya bubar dan menuju meja makan untuk meninggalkan mereka berdua disana


"Beneran kamu ngga apa-apa?", Luthfi benar-benar memastikan kondisi istrinya


"Beneran. Ayo kita kembali" ajak, Syifa


Luthfi hanya mengangguk dan membantu, Syifa berjalan dengan baik karna badannya yang masih lemas dan lemah


"Sini duduk", Risa mempersilakan, Syifa untuk duduk di sampingnya


Semuanya makan dengan baik. Kecuali, Syifa yang harus memaksakan diri untuk mengunyah makanan yang terasa hambar di lidahnya. Sementara ketiga gadis itu di beri makan namun harus makan di ruang tv. Sebab, Viona tidak ingin satu meja makan dengan mereka karna takut selera makannya menghilang


***


"Biar gue yang pijat kaki loh" seru, Risa ketika mereka ber-enam berada di kamar dan mengangkat kaki, Syifa untuk ia letakkan di pangkuannya ketika, Luthfi memijat punggung istrinya sesuai instruksi dari, Risa


"Makasih, Sa" sahut, Syifa

__ADS_1


"Loh beneran ngga mau ke rumah sakit, Fa?" tanya, Viona


"Ia. Biar bisa jelas sakit loh apa" cetus, Fahri


"Siapa tau emang loh hamil kan?" tukas, Vigo


"Ngaco" ujar, Syifa. "Gue ngga kenapa-napa. Lagian, gue udah sering banget kek gini dulu" lanjutnya


"Kesehatan ngga ada yang tau. Gimana sakitnya bisa kita tau kalau kamu ngga mau ke rumah sakit" sahut, Luthfi


"Hmm. Ya, nanti. Dimana Kak Dinar, Dini sama Lury?" tanya, Syifa yang tidak melihat keberadaan ketiga gadis itu


"Kamu ngga usah ngurusin mereka" perintah, Luthfi yang tidak suka jika istrinya terlalu baik


"Tau nih. Ngapain sih nanyain mereka? Ngga guna banget" ketus, Viona yang cemberut


"Jangan terlalu perduli sama orang lain, Fa. Apalagi kondisi loh sendiri lagi sakit sekarang" timpal, Vigo


"Paling bentar lagi juga mereka pulang" tukas, Fahri


"Kalau mereka punya malu yah pulang" ketus, Viona


Tiba-tiba semuanya tertawa kecuali, Viona. Celotehan, Viona yang tidak menyukai ketiga gadis perusuh itu benar-benar tergambar dari caranya berbicara


"Jangan dendam amat deh, Vi" tegur, Syifa


"Gue ngga dendam, Fa. Cuma gue kesal aja sama mereka. Ngga tau malu banget masih disini padahal jelas-jelas ngga ada suka sama mereka" gerutu, Viona yang meremas kedua tangannya karna kesal


"Sungguh tak tau malu", Risa mendayukan suaranya seperti orang yang sedang bernyanyi


Lagi-lagi semuanya tertawa. Syifa sebenarnya tidak bisa tertawa begitu lepas, karna badannya akan terasa sakit. Namun ia tidak bisa menahan tawanya


Preng......


Suara benturan dari luar kamar mengalihkan tawa mereka ketika mendengar bunyi yang begitu keras seperti terbanting


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Maaf yah teman2. 2 malam ini aku upnya ngga banyak banget. Karna lagi ada kendala lain. Jadinya pikiran terbagi fokusnya dan menguras tenaga. Jangan lupa like dan votenya 😊 Terima kasih untuk yang sudah mendukung 🤗

__ADS_1


__ADS_2