
"Ngapain kalian berdua disini?" suara seseorang mengangetkan, Luthfi
"Ssttt", Luthfi menempelkan telunjuknya ke bibir saat orang tersebut mendekat kearahnya
"Kalian berdua ngapain disini?" tanyanya lagi
"Syifa lagi tidur. Bantuin gue, Ri" ucapnya dengan pelan
Ternyata, Fahri lah yang datang. Luthfi sudah antisipasi ketika yang datang ternyata bukan salah satu dari temannya.
"Angkat aja, Fi" sahut, Fahri yang masih berdiri dengan posisi awalnya
"Gue takut dia bangun" tukas, Luthfi dengan pelan
"Ngga akan. Pelan-pelan aja angkatnya", Fahri setengah berjongkok membetulkan posisi tidur, Syifa diantara lengan dan bahu, Luthfi
"Angkat. Pelan-pelan" imbuhnya
Luthfi kemudian dengan hati-hati mulai mengangkat, Syifa. Syifa bergerak namun tidak membuka matanya. Luthfi memperbaiki posisi, Syifa dalam gendongannya yang dibantu oleh, Fahri. Mereka kemudian kembali masuk kedalam rumah. Saat tepat di depan pintu kamar, Syifa. Luthfi berhenti dan menoleh kearah, Fahri
"Ngga apa-apa nih kita buka pintunya? Kalau mereka bangun gimana?", Luthfi sudah mulai menerka-nerka bahaya
"Percaya sama gue. Ngga akan ada apa-apa", Fahri kemudian membuka pintu kamar tersebut dengan sangat hati-hati agar orang di dalamnya tidak terganggu dan terbangun
"Masuk", Fahri menggeser sedikit posisinya untuk memberi jalan, Luthfi agar bisa masuk.
Luthfi masuk ke dalam kamar. Perlahan-lahan, menaruh, Syifa di tepi tempat tidur samping, Risa. Untung tempat tidurnya lumayan luas jadi, Luthfi tidak terlalu kesusahan membaringkan, Syifa disana. Syifa mengerjap setengah sadar namun, Luthfi dengan lembut membelai rambut, Syifa hingga ia tertidur kembali
"Udah, Fi. Keburu orangnya bangun" ujar, Fahri dengan pelan
Luthfi akhirnya menyudahi usapannya pada kepala, Syifa. Ia bergegas pergi dari sana lalu menutup pintu kamar tersebut dengan sangat pelan. Kelegaan dalam benaknya akhirnya hilang. Ia dan, Fahri kembali ke depan TV tempat ia, Vigo dan Fahri tidur. Disana, Vigo tidur dengan sangat lelap.
"Jangan bilang ke siapa-siapa tentang kejadian ini", Luthfi menepuk pelan pundak, Fahri
"Loh tenang aja. Gue ngga bakalan ngasih tau ke siapa-siapa", Fahri pun ikut menepuk pelan pundak, Luthfi
"Thanks" ucap, Luthfi yang sudah hendak merebahkan tubuhnya
"Tapi gue mau nanya. Kalian berdua ngapain disana?" tanya, Fahri memicingkan matanya
"Tadi gue ngga bisa tidur, terus gue jalan-jalan. Ngga sengaja ketemu, Syifa di dapur. Dia lagi minum, kebetulan juga dia ngga bisa tidur. Terus gue ngobrol sama dia di belakang. Tapi dia malah ketiduran" ujar, Luthfi yang sudah merebahkan tubuhnya
"Oh. Gue kirain kalian mau pacaran di belakang" goda, Fahri
"Loh sendiri kenapa bangun?" tanya, Luthfi
"Gue kebelet pipis. Habis gue dari toilet, gue ngga lihat loh disini, ya udah gue cari loh. Ternyata ada di belakang" ucap, Fahri
"Oh. ayo tidur" ajak, Luthfi. Fahri hanya mengiakan
***/***
Sinar mentari pagi tampak menembus gorden kamar, Syifa. Ia kemudian mengerjap, lalu duduk merenggangkan otot-ototnya. Saat, Syifa sedang senam tangan diatas tempat tidur, ia kemudian tersadar, lalu melihat-lihat sekitarnya. Ia mengernyitkan dahinya sambil menggaruk kepalanya
"Perasaan semalam gue sama, Luthfi deh di belakang? Kok gue bisa ada dikamar? Apa gue jalan sendiri? Tapi kok gue ngga ingat kalau gue jalan? Atau jangan-jangan, Luthfi malah gendong gue kesini?", Syifa membulatkan matanya menerka-nerka alasan dia bisa berada di dalam kamar
Syifa melihat, Risa dan Viona masih terlelap dalam tidurnya, padahal matahari sedang menyinari wajah mereka. Namun mereka tidak memperdulikannya. Syifa hendak membangunkan mereka, namun ia juga merasa kasian. Ia kemudian membiarkan mereka tetap tidur, mengingat hari ini mereka sedang tidak memiliki kuliah
Syifa turun dari tempat tidur lalu keluar dari kamar hendak menuju dapur. Namun langkahnya terhenti tepat di ruang TV yang menampilkan, Luthfi, Vigo dan Fahri sedang terlelap disana dengan nyenyak.
"Luthfi ada disana? Terus gimana caranya gue bisa sampai ke kamar? Masa ia gue ngigo sambil jalan?" gumannya selama perjalanan menuju dapur
Syifa membuang jauh pikiran-pikiran yang membuatnya tidak fokus. Ia kemudian membuka lemari pendingin yang ada di dapur, lalu mengambil beberapa bahan untuk ia masak
"Bahan makanan tinggal ini? Ah sudahlah. Nanti sore aja belinya sama, Risa" gumannya
Syifa terlebih dahulu menanak nasi menggunakan 'Rice Cooker' sebelum mengerjakan yang lainnya
Syifa kemudian mulai memotong-motong kacang panjang, kol, lalu mengupas kentang dan wortel. Tak lupa ia mengiris tipis daun sop, bawang putih/merah, serta daun bawang. Ia kemudian mengambil panci lalu mengisinya dengan sedikit minyak, ia memasukkan bawang merah dan putih yang sudah ia iris kedalam panci. Setelah aroma dari bawang tersebut mulai tercium harum dan menguning, ia lalu mengisi air ke dalam panci tersebut dengan hati-hati agar tidak terpecik minyak, kemudian dengan pelan mulai memasukkan kentang dan wortel ke dalam panci tersebut. Saat sudah hampir mendidih dengan sempurna, ia memasukkan potongan kol dan dua butir telur lalu diaduk dengan rata, tidak lupa menaburkan daun sop dan daun bawang ke dalamnya untuk menambah cita rasa yang harusnya 'Sup Ayam' menjadi 'Sup Telur' tersebut
Karna persediaan makanan, Syifa minim, ia lupa membeli bahan makanan. Terpaksa, Syifa hanya memotong tempe dan tahu, mengingat ia kehabisan persediaan Ikan dan Ayam. Ia hanya menggoreng tempe dan tahu tersebut lalu menumisnya. Tak lupa, ia menggoreng telur mata sapi agar lauknya terlihat banyak.
__ADS_1
Ditengah-tengah kesibukannya menggoreng telur mata sapi, seseorang dari belakang, Syifa menaruh telapak tangannya diatas kepala, Syifa hingga wajah orang tersebut tepat berada di samping wajah, Syifa. Syifa hendak berteriak namun lagi-lagi mulutnya dibekap
"Jangan berisik. Yang lain masih tidur" ucapnya lalu melepaskan tangannya
"Loh mah. Ngagetin lagi ih. Ngga semalam, ngga sekarang, sama aja" gerutu, Syifa sambil memegang spatula yang hendak ia jatuhkan tadi
Ternyata ia adalah, Luthfi. Ia terbangun karna mendengar suara spatula yang tergores oleh wajan. Saat ia bangun, ia langsung menuju dapur dan melihat, Syifa sedang berada disana
"Maaf", Luthfi mengusap lembut kepala, Syifa lalu menurunkan tangannya
"Kok sendirian? Risa sama Viona belum bangun?" tanya, Luthfi yang diiakan oleh, Syifa
"Perlu bantuan?" tanyanya lagi
Syifa menggeleng dengan cepat. "Sudah selesai. Lambat sih bangunnya" ucapnya
Luthfi hanya menyerangai tipis, hingga deheman seseorang dibalik mereka mengangetkan keduanya
"Hmm Hmm" suara seseorang berada di belakang mereka dengan bersandar di tembok melipat kedua tangannya di atas perut
Syifa telonjak dan menjauhkan diri dari, Luthfi
"Santai aja kali, Fa. Semalam aja gue lihat yang lebih manis dari ini" seru, Fahri yang makin membuat, Syifa mengernyit
"Maksud loh apa?" tanya, Syifa heran
"Nanti aja ceritanya. Kalian masih mau berdiri disana? Atau nunggu kepergok sama yang lain?" goda, Fahri yang masih tidak bergeming dari tempatnya
"Emang kita ngapain?" wajah polos, Syifa sukses membuat, Luthfi dan Fahri saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya mereka tersenyum
"Makanannya sudah siap kan?", Luthfi memperhatikan makanan yang masih tersusun di meja dapur
"Udah" jawab, Syifa dengan polos
"Ayo, Ri. Bantuin bawa ke meja" perintah, Luthfi yang diikuti oleh, Fahri
Mereka bertiga menata makanan tersebut diatas meja dengan rapi. Syifa pun membersihkan peralatan kotor yang ia tempati memasak tadi. Semuanya ia bawa ke wastafel untuk dikumpulkan
Luthfi melirik, Syifa saat, Syifa menghampirinya. Fahri dan Luthfi pun berdiri bersamaan. Fahri dengan senyumnya yang tulus, serta, Luthfi dengan wajah santainya. Fahri menoleh kearah, Luthfi yang dijawab dengan anggukan pelan, Luthfi. Syifa terlihat bingung dengan tingkah keduanya.
Luthfi kemudian mengusap pelan kepala, Syifa dengan lembut. Syifa membulatkan matanya dan langsung menoleh kearah, Fahri. Fahri hanya tersenyum.
"Gue bangunin, Vigo dulu yah? Kalian jangan lama-lama disini. Dan jangan lupa, Syifa. Bangunin, Risa sama Viona" ucap, Fahri sambil berlalu
Syifa mendongak menatap, Luthfi. "Ada apa?" keningnya berkerut. "Kok tingkah kalian jadi aneh?" imbuhnya
"Ngga apa-apa. Sana, bangunin, Risa sama Viona" perintah, Luthfi dengan lembut. Syifa pun menurut walau ia masih dilanda kebingungan
Fahri membangunkan, Vigo. Sedang, Syifa membangunkan, Risa dan Viona. Saat mereka sudah berkumpul di meja makan. Mereka takjub dengan makanan yang dihidangkan
"Ini loh yang masak semua, Fa?" tanya, Risa dengan memperhatikan semua makanan tersebut
Syifa hanya mengangguk. "Tapi cuma ini bisa gue masak. Persediaan bahan makanan kita habis. Maaf yah semuanya", Syifa menjadi tidak enak karna menjamu tamu mereka dengan tidak mewah
"Bukan itu, Fa. Maksud gue, kok loh ngga bangunin gue? Kan loh jadi masak ini sendiri" ujar, Risa dengan tidak enak hati kepada, Syifa
"He'em. Kenapa ngga bangunin gue juga coba? Masa ia gue disini cuma numpang tidur makan doang" timpal, Viona
"Udah ngga apa-apa. Kalian tidurnya nyenyak banget, ngga tega gue bangunin. Lagian, ini ngga seberapa kok", Syifa menenangkan, Risa dan Viona dari rasa bersalah mereka
"Makanya, Vio. Rajin-rajin bangun pagi" cetus, Vigo dengan lembut
"Ayo makan" seru, Luthfi menyudahi perdebatan mereka dipagi buta
Mereka semua akhirnya makan bersama dengan ala kadarnya. Namun itu membuat mereka memuji masakan, Syifa yang sangat pass di lidah mereka. Seusai makan, Risa dan Viona membersihkan piring kotor lalu membawanya ke wastafel. Syifa ingin ikut membantu, namun tidak diizinkan oleh, Risa karna, Syifa sudah memasak semua makanan dengan sendiri. Risa menyuruh, Syifa untuk beristirahat
Diruang tamu, Syifa, Luthfi, Vigo dan Fahri tengah bersantai sambil berbincang dengan ringan. Syifa yang duduk menyandarkan tubuhnya di sofa samping, Luthfi sesekali terlihat menguap hingga membuat matanya berair
"Ngantuk?" tanya, Luthfi dengan lembut
Syifa hanya mengangguk dengan pelan tanpa menoleh. Hingga terlihat lagi ia menguap berusaha menahan dan melawan kantuknya
__ADS_1
"Tidur lagi aja, Fa. Loh emang kurang tidur semalam" seru, Fahri
"Tau amat loh, Syifa kurang tidur?", Vigo menaikkan alisnya
Fahri tidak menjawab, ia hanya melihat kearah, Luthfi.
"Mau tidur lagi?" tanya, Luthfi yang mengusap lembut kepala, Syifa
Syifa menggeleng dengan pelan. "Masih pagi. Masa mau tidur lagi" ucap, Syifa dengan manja melihat, Luthfi
"Gue ketinggalan?" tanya, Vigo yang tidak mengerti apa-apa
"Nanti" jawab, Fahri mengedipkan matanya
"Ya sudah. Benerin posisi duduk dulu, baru sandar lagi" perintah, Luthfi. Syifa hanya mengangguk
Luthfi kemudian kembali berbincang dengan, Vigo dan Fahri. Sesekali matanya melirik, Syifa yang entah sudah berapa kali menguap. Saat lelah dan ngantuk menghampirinya, ia tidak lagi bisa melawan hingga dirinya benar-benar tertidur
"Syifa tidur" ucap, Vigo dengan pelan sambil menunjuk, Syifa
Luthfi dan Fahri langsung melihat kearah, Syifa yang benar-benar terlelap. Luthfi mengangkat tangannya mengusap kepala, Syifa pelan.
"Bawa ke kamar, Fi. Dia butuh tidur" perintah, Fahri
Luthfi kemudian mengangkat, Syifa dengan hati-hati. Vigo dan Fahri membantunya. Saat, Luthfi hendak berjalan menuju kamar, Risa dan Viona menghampiri mereka. Risa dan Viona dibuat terkejut dengan pemandangan dihadapan mereka. Saat mereka hendak berteriak, Vigo dan Fahri langsung membekap mulut mereka
"Jangan ribut. Syifa lagi tidur. Dia butuh istirahat" ujar, Fahri lalu dijawab anggukan oleh, Risa. Saat itu juga ia melepaskan tangannya, begitu juga dengan, Vigo
"Gue kaget astaga" ucap, Risa menutup mulutnya dengan tangan
"Sama. Gue kira, Syifa kenapa-kenapa" timpal, Viona dengan lega
"Ingat! Kalian jangan ribut. Nanti, Syifa bangun" perintah, Vigo menunjuk, Risa dan Viona
"Biar, Luthfi yang nemenin, Syifa" tukas, Fahri yang kembali ke sofa
Risa dan Viona ingin sekali menemani, Syifa di kamar. Namun, Fahri melarang keras mereka untuk masuk. Risa bahkan beberapa kali merengek
"Loh ngga percaya sama, Luthfi?" tanya, Fahri kepada, Risa
"Bukan itu maksud gue. Gue cuma pengen nemenin, Syifa doang kok" seru, Risa
"Diam disini. Atau kalian mau keluar jalan-jalan?" tawar, Fahri agar mereka tidak membuat keributan
"Mau" jawab, Risa dan Viona kompak
"Ajak mereka jalan, Go", Fahri melemparkan kunci mobilnya kearah, Vigo
"Ngga usah", Vigo melempar balik kunci mobil milik, Fahri. "Gue pake mobil gue aja", Fahri hanya mengangguk
"Loh ngga ikut?" tanya, Risa kepada, Fahri
"Ngga. Gue disini jagain mereka" jawab, Fahri
Risa hanya mengangguk. Mereka bertiga akhirnya keluar untuk jalan-jalan. Kini, tinggal, Luthfi, Fahri dan Syifa di rumah. Fahri kemudian berjalan menuju kamar, ia mengetuk pintu sebelum masuk, disana, Luthfi terlihat sedang menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Sedang, Syifa, ia terlelap dengan memegang tangan, Luthfi
"Mereka dimana?" tanya, Luthfi saat, Fahri masuk ke kamar sendiri
"Gue nyuruh, Vigo buat ngajakin, Risa Sama Viona jalan-jalan" sahut, Fahri yang mendekati, Luthfi
"Thanks" ucap, Luthfi
Fahri hanya mengangguk. "Loh juga butuh tidur", Fahri menepuk pelan pundak, Luthfi. Luthfi hanya mengangguk
"Loh juga butuh tidur" tukas, Luthfi menyentuh lengan, Fahri
"Gue tidur diluar. Loh panggil gue aja kalau ada apa-apa. Gue di sofa. Nanti kalau mereka udah balik, gue kabarin loh" ujar, Fahri
Luthfi hanya mengangguk "Istirahat" imbuhnya
Saat, Fahri sudah keluar dari kamar. Luthfi kembali membelai rambut, Syifa dengan tangan satunya lagi yang menganggur. Ia terus menatap dalam wajah, Syifa yang sedang terlelap dalam tidurnya
__ADS_1
"Jangan sakit" gumannya yang terus membelai rambut, Syifa