Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Extra Part 5 (Suami kejam)


__ADS_3

"Kak Reza ngga datang ke kampus" seru, Syafa dengan malas yang duduk di sofa ketika mereka telah kembali


"Kan masih masa libur. Ngapain juga ke kampus" sahut, Syifa


"Tapi kan tadi loh senang juga diajak keliling Fakultas" cetus, Risa


"Ia nih. Tadi kan loh senang" ujar, Viona


"Tapi ngga ketemu sama doi" ledek, Vigo


"Doi yang mana dulu nih" timpal, Fahri


"Emangnya, Syafa punya berapa doi?" tanya, Luthfi


"Kok kakak malah nanya ke, Syafa?" ketus, Syafa


"Udah-udah. Oh ia, Sa. Dua hari lagi, Dika nikah kan? Loh mau datang ngga?" tanya, Syifa yang mengingatkan


"Oh ia. Hampir lupa gue. Harus datanglah. Kan gue juga udah nikah sebelum dia" jawab, Risa dengan bangga


"Jangan songong loh" seru, Fahri


"Siapa yang songong? Kan emang fakta gue udah nikah" sahut, Risa


"Nikah sama siapa?" ledek, Fahri


"Sama loh lah. Sok-soak'an pake nanya" seru, Risa


"Biasa. Pengen diakuin secara langsung" goda, Luthfi


"Nanti kita datang yah?" ajak, Risa


"Siap bos" sahut, Fahri


"Oh ia. Sampai lupa gue nanyain ini. Jadi, Syafa sama Bian mau ngambil jurusan apa?" tanya, Syifa


"Kimia" jawab, Bian dan Syafa bersamaan


"Cieee. Samaan jawabnya" ledek, Viona


"Jodoh emang ngga kemana" timpal, Vigo


"Bian kan dari awal emang milih Kimia" sahut, Bian


"Syafa juga. Cuma tadinya bingung antara milih Kimia atau Biologi" cetus, Syafa


"Itu kan sama aja gue yang duluan" ujar, Bian


"Ngga. Ngga sama dong" sergah, Syafa yang tidak ingin kalah


"Terserah loh deh" pasrah, Bian


Vigo dan Viona berpamitan pulang. Begitu pun dengan Risa dan Fahri yang sudah berpamitan pulang


***


"Ayo, Fahri. Lama banget sih" seru, Risa yang sejak beberapa menit tadi menunggu, Fahri di mobil


"Sabar Nenek cerewet" sahut, Fahri yang masuk ke dalam mobil


"Ngatain gue nenek cerewet. Senang istri loh dikata nenek-nenek? Bangga banget loh nikah sama nenek-nenek" cercah, Risa

__ADS_1


Fahri terkekeh, "Ya habisnya loh cerewet banget"


"Gue cerewet gini juga tetap aja loh suka. Buktinya loh mau nikahin gue" sahut, Risa dengan bangga


"Kan kepaksa" ledek, Fahri


"Apa?" teriak, Risa


"Bercanda. Ngga usah teriak-teriak" sergah, Fahri sebelum, Risa mengomel seharian


***


"Oh ia, Go. Risa sama Syifa bilang. Kita tinggal dirumah, Risa aja. Soalnya rumah itu kan nantinya kosong. Risa bakal pindah ke rumah, Fahri. Kata, Syifa, daripada kita harus ngontrak rumah kan" ujar, Viona yang menikmati cemilan di tempat tidur bersama suaminya


"Terserah, Vio aja. Gue ngikut. Bentar lagi juga ini waktu pembayaran kontrakan" sahut, Vigo yang tadinya berbaring di kasur, kini memindahkan kepalanya ke paha, Viona


"Besok kita pindah yah? Nanti gue kabarin, Syifa sama Risa" cetus, Viona


"Ia sayang" jawab, Vigo


"Oh ia hampir lupa. Tadi, Syifa juga bilang. Temuin, Reza. Soalnya dia mau ngomong sesuatu" ujar, Viona


"Sama gue? Tumben" Vigo mengerutkan alisnya


"Ngga. Sebenarnya, Reza mau ketemunya sama, Syifa. Tapi dilarang sama Luthfi. Kalau, Risa kan sekarang pasti udah pergi sama Fahri ke nikahan mantannya. Mau nyuruh, Syafa sama Bian juga ngga mungkin mereka kan belum tau tempat-tempat disini. Makanya, Syifa minta tolong sama kita" jelas, Viona


"Pantesan. Ketemunya jam berapa? Dimana?" Tanya, Vigo


"Reza nanti ngehubungi loh kata, Syifa" tukas, Viona


"Ok"


***


"Ia nih. Tapi aku senang juga kok. Bisa ngurus, Gibran" sahut, Syifa yang tersenyum senang


"Nanti malam biar aku yang jagain, Gibran kalau dia nangis" cetus, Luthfi


"Yakin bisa nenangin, Gibran?" tanya, Syifa


"Yakin. Aku kan Ayahnya" tukas, Luthfi yang masih terus memijat istrinya


"Gibran kan mana tau Ayahnya yang mana" ujar, Syifa


"Syifa tau ngga? Manusia itu punya naluri loh? Termasuk, Gibran. Jadi, Gibran itu bisa ngerasain Ayahnya yang mana" ujar, Luthfi


"Sifat sok tau kamu kapan timbulnya? Kok aku baru tau sih?" ketus, Syifa


"Itu bukan sifat sok tau. Itu emang benar. Jangan-jangan kamu ngga pernah tau yah? Wah. Parah sih" ledek, Luthfi


"Keluar sana. Aku mau tidur" usir, Syifa yang menepis tangan, Luthfi di bahunya


"Kalau mau tidur yah tidur aja. Kenapa harus nyuruh aku keluar" sergah, Luthfi


"Habisnya ngeselin" gerutu, Syifa yang memanyukangkan bibirnya


"Jangan ngambek dong" Luthfi membujuk, Syifa


"Sana ah" usir, Syifa


"Wah. Istriku kalau ngambek gemes banget yah" Luthfi memeluk, Syifa dengan gemas

__ADS_1


***


"Bian? Ngapain disini?" seru, Syafa ketika melihat, Bian menghampirinya di halaman belakang rumah


"Mau ngapain lagi emang?" tukas, Bian tanpa menoleh dan langsung duduk di salah satu kursi yang berseberangan dengan, Syafa


"Santai aja kali. Kan gue cuma nanya" ketus, Syafa


"Gue bosan di dalam. Gibran juga udah tidur" sahut, Bian dengan menaikkan salah satu kakinya


"Emang loh pikir gue ngapain disini? Gue juga bosan" tukas, Syafa, "Eh tapi, Bian. Jalan-jalan yuk? Daripada kita bosan kan?" ajaknya


"Ngga ah. Malas" tolak, Bian tanpa menoleh


"Dih. Loh kan juga bosan. Kalau ngga mau ya udah. Tinggal bilang aja. Ngga usah nyolot" seru, Syafa


"Ini gue udah bilang ngga mau. Lagian juga mau jalan kemana? Loh mau kesasar?" tukas, Bian


"Jangan kayak anak kecil deh. Terus apa gunanya petunjuk arah diciptakan?" seru, Syafa dengan sewot


"Ngomong pelan-pelan aja. Ngga usah sewot" cetus, Bian


"Suka-suka gue dong. Kan gue yang ngomong. Mulut juga mulut gue. Jadi loh ngga berhak larang-larang gue" ujar, Syafa


"Cerewet" ketus, Bian yang meninggalkan, Syafa yang masih berceloteh panjang lebar hingga membuat telinga, Bian seakan panas dibuatnya


***


"Udah cantik belum?" Risa berulang kali menata ulang riasannya di dalam mobil depan kaca kecil yang selalu ia bawa sebelum mereka keluar dan siap menemui pemgantinnya


"Risa. Udah ribuan kali gue dengar ini. Lagian apa pentingnya loh terlihat cantik di depan mantan loh itu atau ngga? Toh loh udah ditinggal nikah juga" tutur, Fahri yang setengah kesal pada istrinya itu


"Jaga yah mulut loh" ucap, Risa yang menunjuk kesal, Fahri, "Gue yang lebih dulu nikah daripada dia"


"Sekarang gue tanya sama loh" cetus, Fahri dengan serius menghadapkan tubuhnya ke arah, Risa, "Loh masih suka sama mantan loh itu?"


"Nggalah. Ngapain. Buang-buang waktu gue aja harus repot-repot suka sama mantan" seru, Risa


"Terus loh ngapain pengen terlihat cantik di depan dia?" kesal, Fahri


"Loh ngga ngerti apa? Gue harus terlihat cantik di depan dia. Biar dia tau, gue bahagia tanpa dia. Dan gue dandan gini juga buat loh. Biar loh ngga malu datang bareng gue kesini. Peka dong, Ri. Peka" seru, Risa yang menaikkan intonasi suaranya


"Awas kalau sampai disana loh ganjen yah. Gue seret loh pulang langsung" ancam, Fahri menunjuk, Risa


"Berani loh nyeret gue?" tantang, Risa


"Berani. Siapa yang lebih berhak atas loh daripada gue? Jangan macam-macam depan mantan loh itu. Gue seret kerumah Mama. Biar Mama, Papa sama Abang bisa tau kelakuan loh yang masih ganjen sama mantan" ancam, Fahri dengan tegas


"Loh jadi suami kejam banget yah" gerutu, Risa


"Biarin. Biar loh ngga berani macam-macam" tukas, Fahri, "Udah sana turun" perintahnya


"Ngeselin" gerutu, Risa yang keluar dari mobil


*


*


*


Tetap doain author biar sehat yah. Jgn lupa like dan votenya yah 🤗

__ADS_1


__ADS_2