Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Bikin galau hati


__ADS_3

Fahri pun menceritakan semua yang ia lihat semalam saat, Luthfi dan Syifa berada di belakang rumah. Tak lupa pula, Fahri menceritakan bagaimana, Luthfi memperlakukan, Syifa saat membawanya ke tempat tidur. Usapan lembut di kepala, Syifa dari, Luthfi ia berikan. Serta tadi pagi saat hanya ada, Luthfi dan Syifa di dapur. Serta bagaimana perbincangannya dengan, Luthfi pagi tadi


"Kayaknya benar sih. Udah mau gejala-gejala menuju arah kesitu. Serius deh, Fi. Jangan sampai loh ngalamin hal itu" tutur, Vigo saat, Fahri sudah selesai bercerita


"Gue belum tau pasti" sahut, Luthfi


"Itu juga yang gue rasain dulu, Fi" cetus, Fahri


"Jangan menganggap itu hal yang biasa" nasehati, Vigo


Luthfi hanya mengangkat kedua bahunya meski kata-kata kedua temannya masih terngiang-ngiang dipikirannya.


"Pikirkan baik-baik kata gue", Fahri menepuk pelan pundak, Luthfi sebelum ia membaringkan tubuhnya diatas kasur tersebut


"Ingat baik-baik nasehat gue tadi", Vigo pun menyerukan hal yang sama lalu membaringkan tubuhnya


Luthfi hanya mengangguk lalu ditinggal tidur oleh kedua temannya. Luthfi bahkan tidak bisa tidur memikirkan perkataan keduanya. Otaknya terus berfikir jernih, mengingatkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa yang ditakutkan oleh, Fahri dan Vigo. Luthfi terus larut dalam pikirannya sendiri, hingga satu tangan menyentuh lengannya.


"Tidur bro. Besok kuliah pagi kalau loh ngga mau terlambat" ucap, Vigo yang masih memejamkan matanya


Luthfi pun akhirnya ikut tertidur bersama, Fahri dan Vigo. Jika tidak mempunyai kuliah besok, ia pasti tidak akan tidur semalaman


***/


"Tugas loh bareng, Luthfi gimana, Sa?" tanya, Syifa yang masih sibuk membereskan buku-bukunya ke dalam tas yang akan ia bawa ke kampus hari ini


"Gila sih, Fa. otak, Luthfi benar-benar cerdik. Ngga nyampe sejam, tugasnya sudah selesai. Padahal gue cuma ngerjain tiga aja. Benar-benar deh tuh orang, gimana ngga banyak fansnya coba. Udah ganteng, pintar lagi. Cocok banget deh sama loh, Fa. Ngga tau deh nanti secerdik apa anak kalian, punya orangtua yang otaknya benar-benar brillian" ujar, Syifa dengan membangga-banggakan, Luthfi


Syifa mengusap wajah, Risa yang mengatupkan kedua tangannya ke pipi. "Masih pagi. Ngga usah ngehayal" seru, Syifa


"Syifa" teriak, Risa kesal. "Gue capek-capek dandan. Loh malah ngerusak riasan gue" kesal, Risa yang memperbaiki riasan wajahnya


"Emang loh dandan cantik buat siapa?" goda, Syifa yang sudah menyelempang tasnya bersiap pergi


"Ya untuk semua lah" sewot, Risa


Syifa hanya terkekeh. "Ayo ah. Nanti telat kita" ajak, Syifa yang diikuti oleh, Risa.


Mereka berdua berjalan ke kampus. Saat sudah di depan kelas, Risa dan Syifa berhenti sejenak lalu kembali memasuki kelas. Viona sudah berada disana dan menyiapkan dua kursi kosong di samping kirinya. Syifa duduk di kursi tengah lalu, Risa mengikut di sampingnya


"Tumben cepat loh, Vi?" tanya, Risa menoleh ke, Viona


"Gimana ngga. Baru jam enam alarm udah manggil-manggil terus" gerutu, Viona


"Alarm? Loh pasang alarm?" kening, Syifa mengkerut yang juga menoleh kearah, Viona


"Ia. Padahal gue ngga pernah nyetel alarm. Alarmnya bikin gue emosi pagi-pagi" ujar, Viona dengan penuh penekanan lalu melirik kesal, Vigo


Syifa, Risa, Fahri, Luthfi dan Vigo langsung terbahak saat tau alarm siapa yang, Viona maksud. Viona yang setengah kesal juga ikut tertawa karna tawa kelima temannya begitu membuat rasa kesalnya berkurang


"Daripada alarm loh nganggur. Mending disetel biar ada fungsinya" ucap, Fahri dibarengi tawanya


"Bahaya loh kalau alarmnya ngilang, Vi. Bikin galau hati gak berenti nangis" seru, Syifa yang tertawa


Namun, Luthfi langsung terdiam saat ucapan, Syifa ia lontarkan. Pikirannya kembali kepercakapannya semalam dengan, Vigo dan Fahri. Ia menatap, Syifa yang berada di depannya dengan posisi, Syifa yang menyamping menghadap ke, Viona sambil tertawa


Fahri menepuk pundak, Luthfi yang menatap, Syifa. "Sekarang loh mulai ngerti yang gue maksud kan?" bisiknya


Syifa menoleh ke belakang yang menampilkan, Luthfi dan Fahri yang sedang berbincang. Syifa hanya tersenyum kearah mereka lalu membalikkan kembali tubuhnya. Reza kemudian datang dan langsung duduk tepat di depan, Syifa yang menampakkan senyum manisnya kepada, Syifa


"Istirahatnya cukup kan?" tanya, Reza yang membalikkan badannya menghadap, Syifa


"Istirahat?", Syifa mengeryit heran


Reza mengangguk. "Kemarin kan gue ngirim pesan ke IG loh" ucapnya dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya

__ADS_1


"Masa sih? Tapi kok gue ngga ngeliat ada notifikasi masuk?", Syifa semakin kebingungan.


Ia kemudian mengingat-ingat kejadian kemarin. Syifa membulatkan matanya saat mengingat kemarin, Luthfi sempat memegang ponselnya tatkala ada panggilan yang salah sambung. Syifa mulai dihujani detakan jantung yang tidak seirama. Bahkan untuk sekedar melirik kearah, Luthfi saja ia sudah tidak berani


'Jangan bilang kalau, Luthfi kemarin ngelihat semua isi percakapan gue sama, Reza. Mati gue' - batin, Syifa yang ingin sekali berteriak


"Syifa?" panggil, Reza memetikkan jarinya tepat di wajah, Syifa yang sedang melamun


"Ah? Oh. Ia. Sorry, Za. Kemarin gue langsung ngehapus semua notif yang masuk, soalnya banyak, jadinya pesan loh ngga kebaca" cengir, Syifa dengan gugup


"Ah masa sih? Tapi jelas-jelas loh ngeread kok pesan gue" tukas, Reza


'Tuh kan. Mati gue. Luthfi pasti ngebaca chat gue' - batin, Syifa


"Ia. Soalnya notifnya kan langsung ke read semua" bohong, Syifa kepada, Reza


"Oh gitu. Lain kali jangan langsung ngeread yah? Harus baca. Gimana kalau penting?" ucap, Reza dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya


Syifa hanya mengangguk dan memaksakan senyumnya. Reza membalikkan kembali posisinya. Syifa sudah mulai meremas jari-jari tangannya. Ia ingin sekali bertanya kepada, Luthfi tentang pesan, Reza. Sementara, Luthfi yang berada di belakang, Syifa terus menatapnya dengan raut wajah yang sangat cuek dan dingin


Beruntung, dosen sudah terlihat memasuki kelas. Semuanya berkumpul dengan para kelompoknya untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok mereka dua hari yang lalu


Satu persatu kelompok mulai mempresentasikan hasil kerja mereka. Luthfi dan Risa mendapat nilai tertinggi, itupun berkat, Luthfi yang pandai berbicara dengan teratur. Syifa dan Reza di urutan kedua dengan materi yang disampaikan, Reza cukup bagus. Vigo dan Celia diurutan kesebelas. Fahri dan Viona di urutan ketujuh


"Gue senang banget bisa dapat nilai tertinggi", Risa meloncat-loncat dengan riang saat dosen sudah keluar dari ruangan. "Loh emang benar-benar keren, Fi. Bangga gue sekelompok sama loh", Risa mengacungkan jempolnya


"Ia lohnya bangga. Tapi, Luthfi-nya yang kesiksa sekelompok sama loh" saut, Syifa


"Apaan sih. Sirik deh loh" ucap, Risa dengan gaya alaynya


"Dih. Songong", Syifa terkekeh dengan tingkah, Syifa


"Loh juga keren kok" seru, Reza mengacungkan jempolnya. "Gue senang bisa sekelompok sama loh" senyum, Reza benar-benar bisa membuat siapapun jatuh hati


"Gue mah apa. Loh yang keren. Tadi ngejelasinnya keren banget" ucap, Syifa dengan senyum yang penuh ketulusan


"Ngga apa-apa. Waktu itu kan udah" sahut, Syifa


"Ayo pindah ruangan" seru, Fahri kepada kelima temannya agar, Reza dan Syifa tidak berlama-lama berbicara di depan mereka terutama, Luthfi


"Ayo" seru yang lainnya


"Ayo, Za" ajak, Syifa kepada, Reza yang tidak bergeming dari tempatnya


Reza menggeleng dengan senyumnya. "Gue ngga ngambil kuliah itu, Fa. Gue ganti disemester berikutnya" tuturnya


"Emang bisa?" tanya, Viona


"He'em. Bukannya wajib yah?" timpal, Risa


"Emang wajib sih harusnya. Tapi gue punya kepentingan lain. Gue juga udah minta izin kok ke Rektor" jawab, Reza dengan santai


"Duluan yah, Za" Vigo menepuk pundak, Reza sambil berlalu


Mereka ber enam pun akhirnya keluar dari kelas dan masuk ke ruang selanjutnya sesuai jadwal mereka sebelum bangku perkuliahan dimulai


Syifa duduk ditengah, yang diapit oleh, Luthfi dan Risa. Sedang di depan mereka, Vigo juga berada ditengah diapit oleh, Viona dan Fahri. Celia tiba-tiba datang kehadapan, Luthfi


"Luthfi?" panggil, Celia dengan senyum yang mengembang sempurna di wajahnya


"Hmm", Luthfi hanya melirik, Celia.


"Gue mau minta tolong sama loh boleh ngga?" tanya, Celia dengan sejuta harapan


"Apa?", Luthfi bertanya kembali dengan malas

__ADS_1


"Ajarin gue dong tentang pelajaran tadi. Loh sendiri lihat kan, nilai gue diurutan kesebelas?" sautnya dengan memelas dengan dekikan tajam ia layangkan ke, Vigo


"Itu semua karna loh cuma ngerjain tiga. Sisanya yang ngerjain gue" ketus, Vigo yang melihat tatapan tidak suka, Celia kepadanya


Celia tidak menanggapinya. Ia membuang muka malas dari bersitatap dengan, Vigo. "Jadi gimana, Luthfi? bisa kan?" tanyanya


"Kenapa harus gue?", Luthfi memicingkan matanya


"Nilai loh kan diurutan pertama" jawab, Celia dengan lugas


"Risa juga", Luthfi melirikkan sekilas matanya kearah, Risa


"Gue tau, loh yang ngerjain semuanya" tukas, Celia dengan tegas


"Maksud loh apa?", Risa mulai dipenuhi dengan emosi


"Emang kenyataannya kan, Luthfi yang ngerjain semuanya?" seru, Celia dengan sinis


"Berani loh sama gue? Sini loh?" emosi, Risa benar-benar meledak


Seisi ruangan tidak ada yang berani berbicara, mereka hanya menonton tanpa ada yang mau menyahut. Syifa menarik-narik tangan, Risa untuk duduk kembali namun, Risa menepisnya


"Loh salah. Justru kalau bukan karna, Risa. Tugas kelompok gue ngga bakalan selesai dan dapat nilai tertinggi" ujar, Luthfi menghentikan perselisihan mereka


"Loh tuh kenapa sih? Doyan banget nyari ribut" seru, Viona yang tidak suka tingkah, Celia


"Diam loh" tunjuk, Celia kepada, Viona


"Stop" teriak, Syifa sambil berdiri sebelum, Viona membalas ucapan, Celia. "Bisa ngga sih jangan ribut soal ini? Kalian ngga malu apa diliatin banyak orang diruangan ini?" serunya yang membuat, Risa dan Celia mengedarkan pandangannya


"Ngga usah sok jagoan deh loh" ketus, Celia kepada, Syifa


"Gue ngga pernah sok jagoan. Gue cuma ngga suka ada keributan di kelas kita" seru, Syifa menatap, Celia


"Kalau bukan sok jagoan terus apa namanya?" tanya, Celia dengan melipat kedua tangannya di atas perut


"Benar-benar loh ya", Risa hendak menghampiri, Celia namun ditahan oleh, Syifa


"Ngga usah ladenin dia" cetus, Syifa melirik, Celia


"Emang dia ngga pantas buat diladenin. Ngga guna juga" ujar, Viona sinis


"Eh. Loh ngga usah sok jagoan deh disini" tunjuk, Celia kepada, Syifa. "Loh pikir loh siapa? Jangan mentang-mentang loh punya nilai tertinggi kedua, terus loh bisa berkuasa? Jangan mimpi loh" tunjuk, Celia dengan penuh penekanan. "Jangan sok cantik juga loh", Celia mendorong bahu, Syifa dengan telunjuknya


Viona langsung berdiri dengan geram diikuti, Vigo dan Fahri. Sedang, Risa sudah benar-benar ingin mencakar kedua pipi, Celia hingga berdarah. Saat mereka hendak bersuara, terdengar bantingan keras


Bruk!!!!


Luthfi memukul keras meja yang dihadapannya lalu berdiri menatap, Celia dengan tatapannya yang dingin memancarkan aura kemarahan dalam dirinya. Orang-orang yang berada dalam ruangan tersebut tersentak dibuatnya namun tidak ada yang bersuara.


"Diam loh" teriak, Luthfi menunjuk, Celia dengan tidak suka


"Siapa loh berani-berani ngehina mereka?" tunjuk, Luthfi kepada, Syifa dan Risa. "Siapa loh berani-berani ngatain mereka?" airmuka, Luthfi benar-benar menunjukkan kemarahan


"Luthfi" panggil, Celia dengan gemetar


"Diam" ucap, Luthfi dengan geram sambil menunjuk, Celia


"Pergi loh dari hadapan gue" perintah, Luthfi dengan dingin


"Tapi gue.... ", Celia merasa gugup


"Pergi" teriak, Luthfi hingga membuat, Celia pergi dari hadapannya dan berlari keluar kelas sambil menangis setelah meraih tasnya


Luthfi melirik, Syifa yang masih tertunduk dalam tangisnya. Ia seketika menghela napas dengan kasar dan melayangkan tinjunya ke udara. Vigo dan Fahri menenangkan, Luthfi yang merasa kacau. Sedang, Risa dan Viona berusaha menenangkan, Syifa yang menangis

__ADS_1


"Jangan nangis terus, Fa", Viona mengusap lembut punggung, Syifa


__ADS_2