
"Ngga ngomongin apa-apa tapi bisik-bisik" gerutu, Risa menatap, Syifa sinis
"Yah itu lain lagi. Namanya bisik-bisik bukan ngomong" seru, Syifa membalas tatapan sinis, Risa
"Ok Stop", Vigo menaikkan kedua tangannya melerai perdebatan mereka
"Lama nih kalau kalian debat" cetus, Fahri
"Nikmatin aja kenapa sih kalian para cowok? Ribet amat" tukas, Viona dengan sewot
Para lelaki hanya menghela napas lalu membungkam dan meratapi kediaman mereka sejak ujaran, Viona dilontarkan untuk mereka. Para lelaki hanya diam terus sepanjang jalan, berbeda dengan para gadis yang masih terus mengoceh hingga mobil tersebut sampai di depan rumah, Risa dan Syifa. Viona tidak ikut turun karna dirinya sudah dua hari ini menginap di rumah, Syifa dan Risa
"Terima kasih" ucap, Syifa dan Risa setelah mereka turun dari mobil tersebut
"Ayo masuk" ajak, Risa saat mobil milik, Fahri sudah tidak terlihat
Risa dan Syifa sudah memasuki rumah tersebut.
***/
"Maju loh, Fi sini. Masa gue di depan sendiri? Gue bukan supir kalian" seru, Fahri saat tidak ada yang duduk di samping kemudi setelah, Risa turun
"Emang dari tadi loh sebagai apa? Kan emang supir" saut, Viona dengan santai
"Itu tadi karna ada, Risa disini. Maju deh loh, Fi" Fahri menghentikan mobilnya dipinggir jalan
"Punya teman gini amat" guman, Luthfi namun tetap menuruti kemauan, Fahri untuk duduk di sampingnya
"Nah. Gini kan enak. Ngga berasa jadi supir gue" cetus, Fahri saat, Luthfi sudah berada di sampingnya
"Bilang aja loh ngga mau jauh-jauh dari, Luthfi" tukas, Vigo yang terkekeh
Fahri melirik tajam, Vigo dibalik spion tengah. Namun, Vigo hanya tetap pada gaya santainya, bahkan ia malah memainkan rambut, Viona tanpa menghiraukan lirikan tajam yang diberikan oleh, Fahri
"Viona? Kos loh dimana?" tanya, Fahri sambil melihat-lihat nama jalan yang ia lewati
"Masih jauh ngga?" tanya, Fahri lagi
"Ngga. Itu di depan ada bangunan bercat merah. Itu kos gue", Viona menunjuk rumah bercat merah
Fahri memarkirkan mobilnya tepat di depan bangunan rumah tersebut.
"Kalian ngga mau singgah dulu?" tanya, Viona sebelum turun dari mobil tersebut
"Ngga. Nanti aja" tolak, Vigo dengan lembut
"Ya udah. Hati-hati yah. Terima kasih juga" seru, Viona yang sudah keluar dari mobil tersebut
"Dahhh", Viona melambaikan tangan. Saat dirasa mobil tersebut sudah menghilang, ia bergegas masuk ke dalam kosnya
__ADS_1
***/
"Ke kafe dulu yuk?" ajak, Fahri saat hanya tinggal mereka bertiga
"Boleh tuh" saut, Vigo dari kursi belakang
"Ikut ngga loh, Fi?", Fahri melirik, Luthfi yang ada di sampingnya namun tidak bersuara
"Ikutlah dia. Ngga usah nanya juga udah ikut aja dia mah" seru, Vigo
Luthfi menghela napas. "Terserah loh deh"
Fahri dan Vigo hanya terkekeh dibuatnya. Fahri menepikan kendaraannya di tempat parkir di salah satu kafe langganan, Fahri dan Vigo saat mereka SMA dulu
"Ayo", Fahri membuka pintu mobil lalu mendorongnya untuk bisa keluar dari mobil tersebut yang sudah diikuti oleh, Luthfi dan Vigo
"Pilih tempat biasa, Ri" cetus, Vigo saat sudah mulai memasuki kafe tersebut
"Ok"
Merekapun memesan tempat duduk dekat jendela yang bisa membuat mereka lebih leluasa melihat orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan
"Mbak", Vigo mengangkat tangan lalu memetikkan jari memanggil pelayan
"Ini menunya kak" pelayan wanita tersebut memberikan buku menu kepada mereka bertiga
"Gue pesan Cappuccino Latte" cetus, Fahri menunjuk pesanannya pada buku menu tersebut
"Gue Ice coklat aja" saut, Luthfi
"Ada lagi kak?" tanya pelayan tersebut
"itu aja" jawab, Vigo
"Baik. ditunggu kak yah pesanannya" pelayan tersebut berlalu meninggalkan ketiga pemuda itu
"Luthfi?" panggil, Vigo
"Hmm" hanya dijawab deheman oleh, Luthfi sambil melirik, Vigo
"Loh pernah punya hubungan sama, Syifa?" tanya, Vigo
"Ngga pernah" jawab, Luthfi santai
"Jangan bohong loh, Fi" cetus, Fahri yang berada di sebelahnya
"Ngapain gue bohong. Emang ngga pernah ada hubungan apapun sama, Syifa" saut, Luthfi masih dengan nada santainya
"Tapi loh suka sama, Syifa kan?" tanya, Vigo menaikkan alisnya
__ADS_1
"Jujur sama perasaan loh sendiri, Fi" timpal, Fahri
"Kalian mau ngintrogasi gue?", Luthfi melirik, Vigo dan Fahri secara bergantian
"Bukan mau ngintrogasi. Cuma pengen tau aja emang salah?" tukas, Vigo dengan melipat kedua tangannya di atas meja
"Tapi kalau loh ngga cerita juga ngga apa-apa sih" cetus, Fahri
"Ngambek loh?", Luthfi menoleh kearah, Fahri
"Ngga gila. loh kira gue anak cewek ngambekkan" protes, Fahri setelah di ledek oleh, Luthfi
"Kali aja loh kayak ceweknya, Vigo", Luthfi melirik, Vigo sekilas sambil menahan tawanya
Vigo hanya tertawa. Karna sebelumnya, Luthfi dan Fahri memang sudah membicarakan hal seperti ini
"Tapi loh jangan ngomong ini depan, Vio. Ngambek beneran ntar tuh anak"
"Bocah emang sih, Viona. Gak ada beruba-berubahnya" tawa, Fahri meledak walau tidak terlalu besar karna menghormati beberapa orang yang ada disana.
"Jadi gimana, Fi?" tanya, Vigo setelah beberapa saat kemudian
"Apanya?" tanya, Luthfi
Saat, Vigo hendak bersuara. Pelayan datang membawa pesanan mereka
"Silahkan dinikmati kak minumannya" ucap pelayan tersebut lalu berlalu
"Tentang, Syifa dan loh di masa SMU" seru, Vigo saat pelayan sudah pergi
"Gue udah bilang. Gue ngga pernah punya hubungan apa-apa sama, Syifa. Sekelas aja ngga" ujar, Luthfi
"Jadi loh ngga sekelas sama, Syifa dulu?", Fahri ikut menimbrung pembicaraan mereka
Luthfi mengangguk. "Kelas kita sama-sama di ujung"
"Terus loh bisa kenal sama, Syifa dimana?", Vigo semakin penasaran
"Karna gue satu sekolah sama dia" jawab, Luthfi enteng
"Sejak kapan loh suka sama, Syifa?", Fahri memicingkan matanya
"Sejak kapan gue pernah bilang suka sama, Syifa?", Luthfi malah balas bertanya
"Kebiasaan deh loh, Fi. Ditanya malah nanya balik" jengah, Vigo
"Loh mau nutupin ini dari kita berdua?" tukas, Fahri menaikkan alisnya
"Gue nanya sama loh. sejak kapan gue pernah bilang suka sama, Syifa?" tanya, Luthfi yang sepertinya sengaja mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
"Loh mau ngalihin pembicaraan?", Fahri menatap dalam wajah, Luthfi