
Syafa terus cemberut sambil menonton televisi. Ia tidak tampak bersemangat karna baru saja kakak-kakaknya mengatakan tidak akan ke kampus hari ini. Diundur ke hari esok
"Syafa kenapa? Cemberut mulu dari tadi" seru, Viona
"Gimana ngga cemberut. Niatnya pengen ketemu gebetan eh malah ngga jadi" ledek, Risa
"Dek? Emang loh ngga trauma apa sama kisah cinta loh di SMA dulu?" peringat, Syifa sang kakak
"Apaan sih kakak. Kenapa jadi bawa-bawa yang lalu" ketus, Syafa
"Reza itu masih suka lo sama, Syifa. Masa loh mau ngejar-ngejar orang yang naksir kakak loh" sahut, Vigo
"Siapa yang mau ngejar-ngejar? Orang cuma pengen ketemu kok" bantah, Syafa
"Pengen ketemu kan mau ngejar-ngejar juga" cetus, Bian
"Diam loh" bentak, Syafa
"Galak banget dek" goda, Luthfi
"Adek kakak tuh. Aaaa. Ngeselin" seru, Syafa yang semakin merajuk
"Ngapain nyari yang jauh-jauh kalau ada yang dekat? Kayak, Bian misalnya" ledek, Fahri
"Bukan selera, Bian" tukas, Bian
"Emang loh pikir? Loh itu selera gue? Ngga yah. Ngga usah sok ganteng deh" protes, Syafa
"Ribuuuutttttt lagi" tegur, Risa, "Apaan selera-seleran. Emang loh pikir mie instan selera" lanjutnya
"Barangkali mereka berdua ini pengen makan mie instan kan" sahut, Syifa
"Syafa mah lebih cocok sama, Bian daripada sama, Reza" ujar, Viona
"Setuju" ucap, Vigo dan Fahri
"Cocok ributnya, ia" tukas, Luthfi
"Terserah kakak-kakak aja deh. Syafa lagi ngambek" ujar, Syafa yang memberitahu bahwa dirinya kini tengah merajuk
"Ada gitu orang ngambek sampai ngomong" ketus, Bian yang menggeleng
"Itu tandanya pengen dibujuk" ujar, Fahri
"Berpengalaman nih, Fahri. Soalnya kan, Risa suka ngambek ngga jelas" ledek, Syifa
"Mulai yah loh ngebawa-bawa nama gue" gerutu, Risa
__ADS_1
"Emang fakta tuh" sahut, Viona
"Udah deh. Ntar beneran gue tidur diluar" tegur, Fahri yang tidak ingin memperpanjang masalah tersebut
"Takut loh bro?" ledek, Vigo
"Emang loh berani sama, Viona?" goda, Luthfi
"Jangan mancing, Fi" ujar, Vigo
"Takut-takut" seru, Syifa lalu tertawa
"Makanya. Loh juga jangan mancing duluan" seru, Risa
"Kak. Nanti, Bian mau kuliah di tempat kakak juga" ucap, Bian pada, Luthfi
"Boleh. Jadi nanti kita kuliahnya barengan" sahut, Luthfi
"Syafa juga kak" cetus, Syafa dengan semangat
"Kuliah buat belajar yah. Bukan buat ngejar cowok" peringat, Syifa
"Kakak apaan sih. Kayak, Syafa murahan banget" ketus, Syafa
"Itu pengingat dek" ujar, Viona
"Itu sih mau loh" seru, Risa, "Tau ngga dek? Reza ngga naksir sama cewek kayak loh"
"Emangnya, Syafa kenapa? Syafa kurang cantik? Kurang menarik?" ujar, Syafa
"Karena cowok ngga suka model yang cewek kayak loh ngejar-ngejar duluan" telak, Bian
"Wah. Bian. Parah" tukas, Vigo
"Kebalikan sifat, Syafa nih sih, Bian" timpal, Fahri
"Bian. Ngga boleh ngomong gitu" tegur, Luthfi
"Bian nih kalau ngomong suka benar" sahut, Risa
"Nyelekit banget loh itu, Bian. Kata-kata loh bikin nusuk" ujar, Viona
"Tapi ada benarnya yang dibilang sama, Bian dek" Syifa mengelus pundak, Syafa yang terdiam dan menunduk, "Apalagi, Reza. Dia tuh ngga suka cewek yang terlalu nampakin kalau cewek itu suka sama dia"
"Tapi kan ngga harus ngomong kayak gitu juga" ucap, Syafa yang mendongak dan berlinang air mata, "Kesannya, Syafa kayak murahan banget. Padahal, Syafa kan cuma ngomong. Kalau ketemu belum tentu, Syafa nyapa juga" lanjutnya dengan terisak
"Hayo loh, Bian. Loh bikin, Syafa nangis tuh" seru, Risa
__ADS_1
"Gara-gara loh juga. Mancing-mancing dari tadi" protes, Viona
"Gue ngomong itu biar loh ngga nekat ngejar-ngejar cowok, takutnya cowok itu risih dan malah ngejauh. Tapi kalau gue salah ngomong maaf" cetus, Bian yang meminta maaf
"Jantan nih, Bian. Berani minta maaf kalau salah" tukas, Vigo yang mengacungkan jempolnya untuk, Bian
"Laki kan harus gitu" timpal, Fahri
"Karna gue selalu ngajarin adek gue buat selalu minta maaf kalau salah" ucap, Luthfi
"Sombong sekali bapak ini" ledek, Syifa menyenggol lengan, Luthfi
"Cantik sekali ibu ini" Luthfi mencubit pipi istrinya dengan gemas
"Mulai deh pamer kemesraan" ketus, Risa
"Loh kan udah ngga jomblo lagi. Ngapain masih sirik? Sana mesra-mesraan sama suami loh" tegur, Viona
"Angkut ke kamar aja deh si, Risa, Ri" ledek, Vigo
"Ntar malam aja" sahut, Fahri dan membuat ketiga laki-laki yang ada disana tertawa
"Mulai lagi yah kalian" geram, Viona
"Kan udah nikah sayang. Jadi ngga apa-apa" tukas, Vigo
"Hargai dong. Adek gue belum nikah woy" seru, Syifa
"Ntar juga, Syafa sama Bian ngerasain kok" cetus, Risa
"Jangan ngeracunin pikiran kedua adek gue ini yah" peringat, Syifa dengan kesal
"Siapa yang mau ngeracunin coba" bantah, Risa
"Syafa. Maaf yah kalau omongan gue tadi bikin loh sakit hati" cetus, Bian
"Ia" hanya itu yang diucapkan, Syafa yang masih tersisa beberapa tetes air di sudut matanya
"Ngga apa-apa, Bian. Ada benarnya juga kok loh ngomong itu. Cuma pesan kakak. Jangan ngomong itu di depan cewek lain. Mereka pasti akan sakit hati" tukas, Syifa
"Ia kak. Bian ngerti" ujar, Bian
"Nanti kita ke kampus dek. Sekalian lihat-lihat juga kan. Kalian bisa pilih jurusan disana" ujar, Luthfi
"Benar yah kak? Jangan janji-janji mulu. Syafa bosan dijanji terus tapi ngga ada kepastian" tukas, Syafa yang kini tampak kembali bersemangat
"Ia. Kakak janji" ucap, Luthfi
__ADS_1
Senyum, Syafa kembali terpancar dan melupakan kesedihan hatinya. Bian menghela napas dan memalingkan wajahnya.