Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Kegelisahan di matanya


__ADS_3

"Maaf, maaf" saut, Syifa di sela-sela tawanya. "Ayo masuk, kalian ngapain masih berdiri diluar" peritah, Syifa kepada keempat temannya yang masih berdiri diluar tenda.


"Ngga loh suruh juga udah pasti gue masuk", Celia menerobos masuk tanpa permisi dan melewati, Risa serta Viona begitu saja.


"Loh tau adab ngga sih?" seru, Viona setengah kesal.


"Apa?" tanya, Celia dengan santai yang langsung duduk di samping, Luthfi.


"Ngga usah ngeladenin dia. Dia masih sakit hati karna kekalahan dia" ucap, Risa dengan terkekeh.


"Kenapa?", Luthfi bertanya kepada, Celia tentang ucapan, Risa.


"Ah? Hmmm", Celia terlihat gugup, untuk menjelaskan kepada, Luthfi.


"Jawab loh? Makanya jangan songong sih jadi orang" cetus, Fahri yang memilih duduk di samping, Risa dan diikuti, Reza. Vigo sendiri duduk di samping, Viona.


"Kenapa loh jadi nyalahi gue? Ini semua gara-gara loh. Coba loh bisa lebih cepat dikit. Udah pasti kita yang menang" seru, Celia yang menyalahkan, Fahri.


"Ngga tau diri banget loh. Emang loh ngebantu, Fahri apa coba gue tanya? Loh cuma mondar mandir doang. Kalau bukan karna, Fahri juga ngga bakal masuk di tiga besar loh", Risa membela, Fahri.


"Diam loh. Emang gue ngomong sama loh? Ngga kan!" titah, Celia dengan lantang. Risa yang hendak membalas dipotong oleh, Syifa


"Stop. Kalau kalian masih mau disini, jangan berantem" perintah, Syifa dengan kesal.


"Emang siapa loh ngelarang-larang gue?" seru, Celia yang menantang.


"Nyari masalah lagi loh?", Vigo angkat bicara. "Loh diam dulu tuh kenapa sih?" bentak, Viona.


Celia tidak lagi membalas. Ia hanya mencibir menyumpah serapahi mereka dalam hatinya.


"Gimana keadaan loh?" tanya, Reza kepada, Syifa dengan lembut disertai senyumnya yang sangat manis.


"Udah lebih baik kok" jawab, Syifa yang membalas senyum, Reza, "Oh ia, jadi yang dapat nilai tertinggi kelompok siapa?" lanjut, Syifa.


"Kelompok gue dong" seru, Risa dengan semangat.


"Biasa aja dong" seru, Syifa yang menutup sebelah telinganya, "Telinga gue sampai berdengung". Risa hanya terkekeh mendengar ocehan, Syifa


"Selamat untuk kelompok kalian" ujar, Luthfi yang memberikan selamat kepada kelompok teman-temannya tersebut.


"Luthfi?" panggil, Celia dengan pelan. Luthfi hanya melirik dan berdehem.


"Temenin gue ke toilet dong" pinta, Celia kepada, Luthfi. "


Ngapain loh minta, Luthfi nemenin loh? Malu kali, loh nyuruh cowok buat nemenin loh" seru, Viona.

__ADS_1


Luthfi mengerutkan dahinya, "Kenapa harus gue?".


"Yah karna loh ketua kelompok gue" jawab, Celia yang masuk akal bagi, Luthfi.


"Loh kan bisa minta, Risa atau Viona buat menemin loh" ujar, Luthfi.


"Itu sih kalau loh mau dengar ada keributan sepanjang jalan" saut, Celia dengan santai.


"Licik" guman, Fahri yang membuat, Risa berusaha menahan tawanya.


"Kenapa loh ketawa?" tanya, Celia kepada, Risa. "Kenapa emang kalau gue ketawa? Suka-suka gue doang" jawab, Risa yang sewot.


Celia tidak lagi ingin membalas, ia malas jika harus selalu berurusan dengan mereka, "Jadi gimana, Fi? Loh mau nemenin gue kan?" tanya, Celia untuk memastikan.


"Ya udah, ayo. Tapi jangan lama-lama. Kalau loh lama gue tinggal" peringat, Luthfi dan, Celia langsung mengangguk penuh kegirangan.


Luthfi dan Celia berlalu menuju toilet. Syifa hanya memicingkan matanya melihat kepergian mereka namun masih bisa menguasai rautan wajahnya untuk terlihat biasa saja.


"Marcelia itu pintar banget yah nyari perhatian" ujar, Vigo yang menggeleng menatap kepergiannya.


"Dia licik" timpal, Fahri, Risa dan Viona membenarkannya.


"Kalian ini yah, malah ngegosipin orang" tegur, Syifa kepada ketiga temannya.


"Syifa?" panggil, Reza dengan pelan.


"Loh mau jalan-jalan ngga? Sekalian loh latihan jalan juga" tawar, Reza hingga membuat, Syifa berpikir keras


"Loh ngga capek emang? Kan loh baru aja selesai penelitian".


"Ngga kok. Gue ngga capek", Reza, menggeleng pelan,


"Loh mau?" imbuhnya. Syifa yang tidak ingin mengecewakan, Reza akhirnya menyetujuinya.


"Ngga apa-apa kan gue ngajak, Syifa jalan dulu?", Reza meminta izin kepada teman-teman, Syifa untuk membawa, Syifa jalan-jalan.


"Loh ngga ngembaliin, Syifa juga ngga apa-apa kok" ujar, Risa dan mendapatkan sentilan di keningnya dari, Syifa.


Risa meringis namun langsung tertawa. "Sembarangan loh kalau ngomong" tegur, Syifa. Reza hanya tersenyum


"Ayo. Sini gue bantuin", Reza membantu, Syifa berdiri dan membantu, Syifa untuk berjalan pelan.


"Jagain teman gue yah, Za" pinta, Viona. "Anaknya masih polos" timpal, Risa yang terkekeh. "Pokoknya jagain dia baik-baik" timpal, Vigo, "Dan jangan sampai dia kenapa-kenapa" sambung, Fahri


"Apasih kalian" ucap, Syifa yang menjadi terharu. "Ayo, Za" ajak, Syifa dan Reza mengangguk.

__ADS_1


Mereka berdua jalan-jalan di sekitar lapangan tenda mereka dan menyelusuri jalanan yang ditumbuhi banyak pohon disana. Syifa menghirup lekat-lekat udara yang masuk di indra penciumannya. Reza yang senantiasa selalu memegang punggung, Syifa untuk membantunya berjalan


"Loh suka?" tanya, Reza. Syifa memutar cepat bola matanya, "Apa?" tanyanya yang tidak mengerti. "Jalan-jalannya" jelas, Reza yang selalu berkata dengan lembut.


Syifa mengangguk dengan senyum yang menghiasi wajahnya


"Suka banget. Pemandangannya cantik, bersih, dan udaranya benar-benar segar banget".


"Syukurlah kalau loh suka" ucap, Reza yang terus membantu, Syifa berjalan mengelilingi jalan kecil.


"Reza kok, baik banget sih? Gue kan juga manusia biasa yang gampang khilaf. Kalau gue khilaf suka sama dia gimana coba" guman, Syifa dalam hati.


***/


Luthfi dan Celia yang sudah kembali, segera masuk ke dalam tenda. Luthfi mengedarkan pandangannya saat ia sudah duduk mendudukkan tubuhnya


"Syifa mana?" tanyanya, "Reza juga kemana?" lanjutnya saat tidak melihat dua orang tersebut berada di dalam tanda.


"Reza ngajak, Syifa jalan-jalan" cetus, Vigo. Luthfi melirik, Vigo dan membulatkan bibirnya, "Oh".


Mereka berempat mencari celah jika ada tanda-tanda kecemburuan di wajah, Luthfi. Namun hasilnya nihil karna, Luthfi memasang wajah seperti biasanya, cuek, dingin dan misterius.


"Ngapain juga loh nyari dia. Udah pasti dia lagi senang-senang sekarang sama, Reza. Lagian yah, kalau gue liat-liat, Reza kayaknya suka sama, Syifa deh" ujar, Celia namun tak berhasil menggoyahkan rautan wajah, Luthfi.


"Kenapa? Cemburu loh?" seru, Risa dengan sinis. "Dih. Ngapain juga gue cemburu. Ogah. Selama, Luthfi masih disini, gue sih ngga apa-apa" senyum sempurna milik, Celia terbit tatkala menatap, Luthfi.


"Jangan gatel loh jadi cewek" sindir, Viona yang terlihat sinis memandang, Celia.


"Lagi-lagi kalian. Bisa ngga sih jangan ikut campur masalah gue" jengah, Celia.


"Marcelia, banyak yang suka sama loh. Tapi kenapa loh ngejar-ngejar, Luthfi yang ngga ada suka-sukanya sama loh sama sekali" telak, Vigo hingga membuat, Viona dan Risa terkekeh.


"Loh jadi cewek harus punya harga diri" timpal, Fahri dan lagi-lagi membuat kedua wanita disana tertawa.


Marcelia memasang wajah merah padam miliknya. Aura kemarahan memuncak di dadanya. Sorotan matanya mengisyaratkan dirinya benar-benar sangat marah dengan perkataan mereka yang keterlaluan.


Keempat orang tersebut hanya tertawa melihat raut wajah, Celia yang merah padam. Berbeda dengan, Luthfi yang sedari tadi tidak memperdulikan ocehan teman-temannya. Pikirannya sibuk berkeliaran entah kemana, yang pasti, tersorot kegelisahan di matanya.


***


***


***


***

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote yah. Maaf upnya agak telat karena satu dan lain hal 🙏🏻


__ADS_2