Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Serapuh pasir pantai


__ADS_3

Syifa dan Risa sudah berada dirumah milik keluarga, Risa yang sudah lama ditinggal pemiliknya. Risa kemudian dipercayakan untuk mengurus rumah tersebut. Risa kemudian memanggil Syifa untuk tinggal bersamanya.


Mengingat jarak dari rumah mereka ke kampus berkisar 3-4 jam lamanya perjalanan. Daripada mereka harus harus mengontrak rumah atau ngekos yang akan membuat pengeluaran mereka bertambah


"Fa. Gimana perasaan loh tadi pas game 'Jika-Maka' bareng Luthfi?", Risa memulai percakapan setelah mereka makan malam


"Biasa aja" Syifa berdiri membawa piring kotor ke wastafel


"Alah... Sok-sok-an loh bilang biasa aja. Padahal dalam hati mah jingkrak-jingkrak saking senangnya. Ngga usah bohong deh sama gue. Kayak gue ngga tau sifat loh aja" Risa menghampiri Syifa yang sedang mencuci piring


"Kayak loh pernah ngerasain aja di posisi gue" balas Syifa acuh tak acuh


"Pernah lah. Udah pernah ngerasain sakit hati malah gue" Risa mendengus


"Ops... Maaf" Syifa menutup mulutnya sambil terkekeh


"Ketawa aja terus. Ntar juga pasti loh bakal ngerasain sakit hati yang kayak pernah gue alamin" cetus Risa dengan kesal


"Loh ngedoain gue? Jahat banget loh, Sa sama teman sendiri", Syifa akhirnya berbalik kearah Risa dengan kesal


"Gue bukan ngedoain Fa. Tapi dimana-mana yang namanya orang jatuh cinta, pasti bakal ngerasain yang namanya sakit hati" tutur Risa


"Tapi gue ngga lagi jatuh cinta Sa", Syifa melanjutkan aktivitasnya mencuci piring


"Kapan sih Fa loh bisa jujur sama perasaan loh sendiri" ujar Risa


"Apa sih Sa. Siapa juga yang lagi jatuh cinta coba", bantah Syifa tanpa menoleh


"Terserah loh deh Fa. Loh ngga pernah mau jujur tentang perasaan loh sendiri. Bahkan ke gue aja loh ngga pernah mau cerita. Loh ngga percaya sama gue, Fa?" tutur Risa sedikit kesal kepada Syifa


Syifa hanya diam. Risa pun langsung masuk ke kamarnya setelah tidak mendapat jawaban dari Syifa.


Syifa menarik nafas, lalu menghembuskannya dengan kasar


"Risa pasti marah lagi sama gue. Hufth" guman Syifa


Setelah Syifa mencuci piring. Ia segara menuju kamar, Risa untuk meminta maaf. Ia tau, saat ini Risa sedang kecewa kepadanya


Tok tok tok


"Gue masuk yah Sa" Syifa masuk ke dalam kamar Risa


Risa tengah duduk menselojorkan kakinya sambil membaca sebuah buku. Ia hanya melirik kearah Syifa yang baru masuk ke kamarnya


"Sa. Gue minta maaf. Gue ngga bermaksud buat ngga cerita apa-apa ke loh. Gue benar-benar ngga ada punya maksud gitu" Syifa duduk disamping Risa


Risa tetap diam dan membaca bukunya tanpa menghiraukan Syifa

__ADS_1


"Risa. Kok loh diam aja sih? Jahat banget loh diemin gue kayak gini. Tega banget sih loh, Sa" Syifa menarik-narik tangan Risa


"Apa sih Fa. Gue lagi baca buku tau ngga" ketus Risa


"Ya loh diemin gue gini. Sa, gue tuh juga ngga tau sama perasaan gue sendiri. Gue ngga pernah cerita, yah karna emang gue bingung sama perasaan gue sendiri. Gue sendiri ngga bisa menafsirkan perasaan gue itu seperti apa ke Luthfi"


Syifa akhirnya mengeluarkan segala uneg-uneg yang sudah sejak lama ia pendam sendiri dihadapan sahabatnya itu. Ia begitu frustasi. Syifa seketika langsung melemas


Risa yang mendengar pengakuan Syifa untuk pertama kalinya itu langsung prihatin dan menggenggam erat tangan Syifa


"Syifa, gue minta maaf. Gue bukan maksa loh buat ceritain ini semua ke gue. Gue cuma ngerasa, kalau gue tuh belum bisa jadi sahabat yang baik buat loh Fa. Gue minta maaf" Risa menatap Syifa dengan wajah memelas


Syifa menarik napas lalu membuangnya perlahan dengan lembut


"Ngga Sa. Loh ngga salah kok. Ya, wajar aja sih kalau loh ngerasa gitu. Karna, ya emang selama ini gue jarang cerita masalah gue ke loh. Tapi beneran Sa. Bukan karna gue ngga percaya sama loh. Gue cuma ngga mau berbagi kesedihan gue ke loh. Selama ini emang gue cuma cerita hal-hal yang buat gue senang. Gue ngga mau loh ikut kepikiran tentang masalah gue. Gue tau kok, loh juga punya banyak masalah, dan gue ngga mau nambah masalah loh lagi Sa. Karna gue sayang sama loh" turur Syifa yang sudah tidak bisa menahan uneg-unegnya lagi


Mata Syifa terlihat berkaca-kaca namun tetap ia tahan. Sedangkan Risa, ia terlihat sedih sekaligus terharu mendengar ucapan Syifa barusan


Risa tidak menyangka, bahwa sahabatnya ini melebihi tegarnya batu karang dari luar, dan serapuh pasir pantai dari dalam


"Fa. Segitunya loh perhatian ke gue? Loh sampai ngga mikirin diri loh sendiri. Fa, loh boleh cerita apapun masalah loh ke gue, gue siap dengerin loh kok. Loh jangan cuma cerita yang buat loh senang aja, tapi cerita yang buat loh sedih juga ke gue. Gue mau jadi sahabat yang berguna buat loh Fa?" Risa sudah mengeluarkan buliran kristal dari matanya


Syifa menyeka air mata Risa. Ia pun ikut menangis bersama Risa


"Kok loh nangis sih Sa" ujar Syifa


"Ya karna loh manis" Syifa menyeka air matanya sendiri


"Ya loh ngapain ikutan nangis coba" Risa sedikit terkekeh dalam tangisnya


"Ya loh bego sih. Udah tau gue ngga bisa lihat orang nangis. Masih aja nangis depan gue" Syifa juga terkekeh dalam tangisnya


Keduanya langsung tertawa sambil menyeka air mata yang masih menempel dipipi. Keduanya pun berpelukan dengan penuh haru


"Tapi loh harus janji. Loh harus cerita apapun masalah loh ke gue" ujar Risa setelah melepas pelukannya


"Ia. Gue janji" balas Syifa, ia merasa lega


"Ya udah. Loh tidur yah. Besok kita ada kuliah pagi. Gue juga udah mau balik ke kamar kok" imbuhnya


Risa hanya mengangguk tanpa bersuara. Syifa beranjak meninggalkan kamar Risa


***


Setelah mereka sarapan. Mereka pun bersiap untuk ke kampus. Jarak dari rumah mereka ke kampus hanya berkisar 200 M. Dan mereka lebih memilih untuk berjalan kaki agar lebih berhemat sekaligus berolahraga.


"Ha.... Gerah" Risa langsung duduk dan mengambil botol minum dari dalam tasnya

__ADS_1


Risa terlihat sangat lelah dan sedikit ngos-ngosan


"Makanya. Sering-sering jalan dong loh. Baru jalan 200 M aja udah berasa kek lari maraton loh" Syifa duduk dikursi samping Risa


"Cuaca hari ini gerah banget Fa. Kemarin-kemarin gue B aja tuh" bantah Risa


"Alasan loh aja itu mah" Syifa tidak menerima alasan Risa


"Masih pagi udah ngajak berantem aja deh lo" ketus Risa


"Siapa juga yang mau ngajak loh berantem. Hmm.... Btw Viona belum datang yah" Syifa celingak-celinguk mencari keberadaan Viona


"Kayaknya sih belum datang" Risa ikut mengedarkan pandangannya


"Taruh tas loh dikursi samping loh buat Viona" ujar, Risa


"Ok" Syifa menaruh tasnya ke kursi ada disampingnya


Mahasiswa/i lain sudah mulai memasuki kelas dan mengambil tempat duduk masing-masing


Reza terlihat masuk ke kelas, ia menatap Syifa sejenak lalu duduk dikursi belakang Syifa. Luthfi juga masuk ke kelas, ia memilih duduk di belakang Risa. Syifa bisa melihat Luthfi melalui sudut matanya tanpa melirik


Viona akhirnya datang. Ia menyapu pandangannya seperti mencari seseorang. Syifa dan Risa melambaikan tangan kepada Viona. Syifa langsung mengambil tasnya


"Sini Vi", Syifa menepuk-nepuk kursi yang ada disampingnya


"Wah.... Thanks yah. Gue pikir bakal dapat tempat duduk paling belakang" ujar Viona yang mengembangkan senyumnya dan langsung duduk


"Makanya, jangan telat datang" seru Risa saat Viona sudah duduk


"Gue bangunnya kesiangan tadi" balas Viona dengan memelas


Syifa hanya tersenyum kepada Viona. Terlihat Arvigo dan Marcelia masuk ke dalam kelas. Arvigo langsung duduk di belakang Viona dan Marcelia duduk di kursi depan Syifa


"Hai Vio" sapa Arvigo saat dirinya sudah duduk dikursi


Viona hanya tetap diam tanpa menghiraukan sapaan Arvigo. Syifa dan Risa hanya saling melirik tanpa bersuara


"Viona? Loh baik-baik aja kan?" tanya Syifa dengan suara rendah


"Ia. Gue baik-baik aja kok" Viona memaksa tersenyum kepada Syifa


"Gue ngerasa Viona punya hubungan yang lebih dari sekedar teman aja sih sama Arvigo deh Fa" Risa berbisik ke telinga Syifa


"Ssstttt..... " Syifa menempelkan jari telunjuk ke bibirnya


Risa hanya mengangguk mengerti. Sedangkan Luthfi dan juga Reza yang berada di belakang mereka terus memperhatikan mereka tanpa mereka sadari

__ADS_1


Dosen yang mengajar untuk kuliah di pagi ini pun sudah memasuki kelas. Mereka pun belajar dengan sangat tenang tanpa hambatan


__ADS_2