
Bus tersebut terus berjalan melewati banyak kota untuk menuju Pulau Lombok. Sebagian penumpangnya telihat terlelap karna perjalanan panjang yang terus mereka tempuh. Bahkan bus tersebut punya tiga sopir untuk bergantian dalam menyetir
Syifa, Risa, Viona, Vigo dan Fahri sudah telelap sejak tadi. Hanya, Luthfi lah yang belum tertidur. Ia masih berkelan dalam pikirannya yang ia cipta sendiri dalam ruang ingatan.
Syifa beberapa kali terlihat mengerjap lalu tidur kembali jika bus sedang melewati tikungan. Namun, Luthfi selalu menutup mata, Syifa jika tiba-tiba terbangun disaat bus yang mereka tumpangi sedang melewati tikungan hingga, Syifa tidak menyadarinya
Entah bagaimana, Luthfi bisa tau jika, Syifa sangat takut dengan ketinggian dan tikungan tajam. Yang jelas, dirinya sangat tau, Syifa takut keduanya hingga ia tidak ingin membiarkan, Syifa melihat bus melewati tikungan tajam. Bahkan, Luthfi pun sudah ikut tertidur di kepala, Syifa.
Setelah menempuh perjalanan hampir sepuluh jam. Pembina yang akan mengarahkan mereka disana nantinya terlihat memegang pengeras suara dan berjalan ke depan agar nantinya bisa terlihat oleh yang lain.
"Ayo anak-anak bangun. Beberapa menit lagi tujuan kita sudah sampai" paparnya hingga membuat para mahasiswa terbangun dan saling membangunkan temannya yang lain yang belum bangun "Perhatikan barang bawaan kalian ingat, jangan sampai terlupa" lanjutnya
Syifa mengerjap namun ia tidak bisa menggerakkan kepalanya, seperti ada sesuatu yang menumpunya. Syifa meraba-raba sesuatu yang berada di atas kepalanya dan berhasil memegang hidung, Luthfi yang tinggi. "Luthfi?" guman, Syifa. Syifa kembali meraba pipi, Luthfi dan menepuknya pelan, "Luthfi? Bangun"
Luthfi pun perlahan membuka matanya dan mengangkat kepalanya dengan setengah sadar. "Udah sampai?" tanyanya sambil mengucek kedua matanya. Dan, Syifa pun akhirnya mengangkat kepalanya dari bahu, Luthfi. "Bentar lagi sampai. Barang-barang jangan sampai lupa" saut, Syifa untuk mengingatkan, Luthfi. Dan, Luthfi hanya mengangguk pelan
Bus tersebut akhirnya berhenti dengan pelan. Aroma tanah bekas hujan sangat tercium di indra penciuman, Syifa. Ia begitu menikmati aroma yang keluar masuk dari nafasnya. Pemandangan di malam hari membuat suasananya tampak sunyi namun sangat nyaman. Deburan ombak yang beberapa meter jauhnya terdengar sesekali menghiasi sunyinya malam. Angin yang berhembus dingin namun sejuk seperti sedang menyambut kedatangan mereka. Hingga para mahasiswa harus memakai jaketnya dulu sebelum keluar dari bus tersebut
"Segar banget", Risa merapatkan jaketnya karna merasakan terpaan angin menjalar di kulitnya saat mereka sudah berkumpul di depan bus tersebut.
__ADS_1
"Loh bilang segar, tapi loh malah kedinginan" sindir, Fahri yang menggeleng.
"Kedinginan bukan berarti ngga segar" bantah, Risa yang terus merapatkan jaketnya. "Terserah loh deh" pasrah, Fahri yang tidak ingin berdebat
"Dua orang satu kamar yah?" tanya, Syifa saat para pembina telihat berdiskusi di ujung sana.
"Ngga tau juga. Tapi kayaknya ngga deh. Loh lihat aja kita sebanyak ini tapi cuma dua orang dalam satu lambat.Villa ini sih ngga seluas itu" saut, Viona lalu mengedarkan pandangannya mengikuti bangunan Villa yang berada di belakang mereka
"Tapi ngga mungkin juga kalau dalam satu kamar isinya ada lima orang" timpal, Vigo yang juga ikut mengedarkan pandangannya. "Villa ini khusus perempuan" cetus, Luthfi yang membuat kelima temannya menatapnya heran. "Tau dari mana loh?" seru, Risa yang mengerutkan keningnya. "Tuh", Luthfi menunjuk papan besar yang yang berada di depan Villa tersebut, lalu menunjuk satu Villa lagi dengan papan yang sama pula namun berbeda tulisannya yang diikuti oleh mereka
"Ohhhhh"
"Mata jeli banget" ujar, Syifa yang masih memperhatikan tulisan di kedua papan tersebut.
"Ayo anak-anak perhatikan kemari" seru salah satu pembina mereka yang membuat semuanya fokus menatap orang yang berdiri dihadapan mereka saat ini. "Setelah kami berdiskusi tadi untuk menentukan jumlah orang dalam satu kamar, kami memutuskan hanya tiga orang saja yang boleh menempati satu kamar. Jadi, kami harap pengertiannya, dan silahkan mencari tiga teman dalam satu kamar. Lalu catat nama temannya masing-masing dan kami akan memberikan satu kunci kamar beserta nomor kamarnya" tuturnya
"Untung tiga" seru, Risa yang menghela napas lega.
"Ya udah sana catat, terus kumpul, biar kita cepat dpt kamar" perintah, Syifa yang langsung diiakan oleh, Risa. Setelah mencatat, Viona yang membawa kertas berisi nama mereka itu ke pembina dan lngsung mendapatkan kunci kamar nomor dua
__ADS_1
"Kamar kita di nomor dua" seru, Viona saat ia sudah kembali dan membawa kunci.
"Ya udah ayo. Pengen istirahat gue" ajak, Syifa lalu, Viona dan Risa hanya mengikut karna memang tubuh mereka juga sudah sangat lelah.
"Kita duluan yah" Viona meminta izin pamit kepada ketiga lelaki tersebut yang juga sudah memiliki kunci nomor dua pula. Karna, Viona dan Vigo bersamaan mengumpulkan kertas yang berisi nama kelompok mereka.
"Kalian bisa bawa barangnya?" tanya, Fahri yang melihat ketiga gadis tersebut sedang membawa satu koper meski tidak terlalu besar. "Kami bisa kok" saut, Risa. Lalu mereka masing-masing menuju kamar yang sudah di tetapkan
"Lelah gue" ujar, Risa yang langsung membaringkan tubuhnya di kasur yang sangat empuk. "Gue juga" lalu diikuti, Viona. "Sama, gue juga" dan juga, Syifa.
Besok penelitian diadakan jam tujuh pagi" cetus, Viona yang masih tidak memindahkan posisi tubuhnya. "Cepat amat" saut, Risa dengan lemas. "Harus tidur sekarang nih. Besok bangunnya harus cepat" timpal, Syifa yang membuat, Viona dan Risa mengangguk. Mereka bertiga akhirnya terlelap tanpa sempat mengganti pakaian mereka atau sekedar mengeluarkan barang-barang mereka dari koper. Ditengah malam, ketiga gadis tersebut merengkuh tubuhnya sendiri melawan dinginnya malam karna tidak sempat mengeluarkan jaket atau selimut dari koper mereka.
Viona terbangun dan langsung mengambil selimut tebal dari koper miliknya dan segera membaluti tubuhnya dan kedua temannya yang sama-sama tidak memakai selimut dalam dinginnya malam. Mereka terlelap dengan begitu pula hingga suara debaran ombak memecah keheningan.
Syifa mencoba membuka pelan matanya, lalu mendapati dirinya dibaluti selimut bersama kedua temannya. Senyumnya terbit karna temannya tidak memakai selimutnya sendirian namun tetap memberikannya juga selimut agar tidak kedinginan Dan ia tau itu adalah selimut milik, Viona. Karna ia dan Risa tidak memiliki selimut yang seperti itu. Syifa mencoba meraih tasnya dan merogoh ponsel yang berada di dalam tas tersebut. Saat melihat jam yang tertera di ponselnya yang menunjukkan pukul lima pagi, ia beranjak turun dari kasur dan mengambil handuk di dalam kopernya lalu masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya yang ia rasa sudah sangat lengket.
Ditengah-tengah nyenyaknya tidur kedua gadis tersebut, suara keras tiba-tiba terdengar di balik toilet
"Aaaaaaaaaaaaaaaa" teriakan keras terdengar dibalik toilet hingga membuat, Risa dan Viona terbangun lalu panik dengan suara keras dibalik toilet.
__ADS_1
"Syifa?" seru, Risa dengan panik saat tak mendapati, Syifa di kasur yang sama dengan mereka. "Berarti tadi, Syifa yang teriak?" heboh, Viona yang juga ikut panik. "Syifa? Loh kenapa? Loh baik-baik aja kan di dalam?" kedua gadis tersebut mencoba mengetuk pintu toilet namun tidak ada suara.
"Jangan-jangan.. " perkataan, Risa menggantung lalu membulatkan kedua matanya yang diikuti kepanikan, Viona. "Syifa... " mereka terus menggedor-gedor, pintu namun tidak kunjung mendapatkan suara dibaliknya