Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Butuh pendamping


__ADS_3

"Ia gue tau gue so sweet. Makasih" seru, Vigo untuk menghalangi teman-teman kelasnya kepo dengan hubungan, Luthfi dan Syifa


Trik, Vigo berhasil. Teman-teman kelasnya memutar malas bola mata mereka ketika, Vigo bersua. Vigo memang tidak kalah tampan dari, Luthfi. Namun pesona, Luthfi tentu saja menjadi daya tarik baginya


Marcelia yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut, menyapu pandangannya keseisi ruangan, dan pandangannya terhenti tepat pada, Luthfi. Ia menghampiri, Luthfi disana


"Luthfi? Kita perlu bicara" seru, Celia yang kini sudah berdiri di hadapan, Luthfi


"Silahkan" jawab, Luthfi dengan cuek tanpa menoleh pada gadis itu


"Gue pengen bicara berdua sama loh" ujar, Celia


"Silahkan bicara disini" jelas, Luthfi yang masih tidak memperdulikan gadis di hadapannya saat ini


"Luthfi? Gue mohon" pinta, Celia


"Eh, Celia. Loh ngga dengar apa tadi, Luthfi bilang apa? Bicara disini. Ngga usah ngajak dia pergi" seru, Risa yang duduk di samping kursi, Syifa.


"Tau loh. Jadi cewek malu dikit dong" timpal, Viona


"Gue ngga punya urusan kalian" bentak, Celia yang menunjuk, Risa dan Viona


"Jelas ada urusannya lah. Luthfi kan teman gue" seru, Risa dengan kesal


"Lagian, loh ngga lihat postingan gue apa? Hargain, Syifa disini sebagai kekasih, Luthfi" cetus, Viona


Syifa membulatkan kedua matanya, "Viona" tegurnya


"Udah lah, Fa. Biarin aja. Biar dia tau, kalau sekarang, Luthfi mikik loh" seru, Viona


"Viona benar, Fa. Mereka harus tau kenyataannya. Termasuk orang yang bakal ngerusak hubungan kalian nanti" timpal, Risa melirik, Celia


Luthfi hanya dia menatap, Viona dan Risa. Sedangkan, Vigo dan Fahri terkagum-kagum pada, Viona dan Risa yang begitu melindungi sahabatnya. Begitu pun dengan teman-teman kelas mereka yang langsung mendapatkan jawaban dari mulut, Viona dan Risa


"Apa maksud loh?" teriak, Celia. "Luthfi! Tolong jelasin ini ke gue", Celia menarik tangan, Luthfi


Luthfi menarik tangannya, "Apa yang harus gue jelasin?" jawabnya


"Lut... Luthfi? Loh...? Loh? Beneran jadian sama dia?" ucap, Celia dengan terbata menunjuk, Syifa


"Kalau pendengaran loh masih berfungsi, loh pasti ngga salah dengar" titah, Fahri dengan cuek


"Mantap euy", Risa berbalik dan mengacungkan jempolnya pada, Fahri


"Luthfi?" panggil, Celia yang sudah kesal


"Apa!" ketus, Luthfi menatap malas, Celia


"Luthfi!" tegur, Syifa lalu menggeleng ketika, Luthfi menatap dirinya


Luthfi menghela napas kasar, "Ngga ada lagi yang harus kita bicarakan. Dan loh dengar sendiri dari, Viona sama Risa. Itu udah cukup jelas kan?" ujar, Luthfi sudah jengah dengan tingkah, Celia


Keempat temannya berusaha menahan tawa melihat, Celia yang pucat pasi mendengar penuturan langsung dari mulut, Luthfi. Orang yang ia suka


"Udahlah, Marcelia. Nyerah aja"


"Relain, Luthfi buat Syifa"


"Jangan ganggu hubungan mereka dong"


Ocehan teman-teman kelasnya membuat, Celia malu. Wajahnya merah padam dan seketika berlari keluar dari ruangan tersebut.


"Kamu sih. Kasar banget" tegur, Syifa kepada, Luthfi ketika, Celia berlari keluar


"Ngga usah pikirin dia" jawab, Luthfi


"Jangan terlalu baik deh, Fa. Apalagi sama cewek jadi-jadian kayak dia" ujar, Risa


"Kalian juga. Kenapa ngomongnya jadi kasar-kasar gitu?" kesal, Syifa kepada teman-temannya


"Loh aja yang terlalu baik" cetus, Viona


"Tap... " ucapan, Syifa terpotong ketika seseorang memanggil namanya


"Syifa?" panggi seseorang yang kini berdiri di hadapan, Syifa. Ia, tak lain adalah, Reza.


"Reza?" ucap, Syifa dengan gugup. Ia melirik, Luthfi yang tidak menatapnya


"Gue mau ngomong sama loh boleh ngga?" tanya, Reza dengan hati-hati


"Nyerah, Za"


"Ia benar. Ntar sakit hati loh"


Ucapan teman-temannya semakin membuat, Reza bingung dibuatnya. Ingin ia bertanya, namun ia urungkan karna harus mengajak, Syifa berbicara


"Reza yang ganteng banget. Tapi maaf yah, Syifa ngga boleh kemana-mana. Kalaupun mau ngajak, Syifa. Harus pamit dulu sama, Luthfi. Tapi kalau loh mau ngajak gue ngga apa-apa kok" ujar, Risa kepada, Reza. Ia tau bahwa pria tersebut menyukai temannya.


"Kenapa?" tanya, Reza lalu menatap, Luthfi


"Loh sih, Za. Kalah cepat sama, Luthfi" cetus, Viona agar, Reza bisa mengerti


"Sabar, Za. Diluar sana masih banyak cewek yang antri mau sama loh. Risa juga lagi antri" timpal, Vigo untuk mencairkan suasana

__ADS_1


"Loh bisa ngajak, Risa jalan. Mumpung dia jomblo" ledek, Fahri meski hanya bercanda


"Kalian!!!" teriak, Risa yang berbalik ke belakang mendekikan tatapannya kepada kedua pria tersebut. "Tapi boleh lah. Reza kan ganteng. Jadi ngga apa" ucap, Risa dengan santainya


"Kebiasaan loh. Trus, Fahri loh mau kemanain?" tukas, Viona menendang kursi, Risa


"Fahri mah ngeselin. Dia ngataian gue jomblo. Ya udah, sekalian aja gue cari laki yang mau sama gue" seru, Risa dengan bangganya


Fahri mendengus dan menggeleng dengan tingkah kekanak-kanakan, Risa. Tapi justru selalu membuat dirinya dan temannya tertawa


"Hmmm. Ya udah. Sorry gue ganggu" pamit, Reza dengan tidak enak hati


"Beneran, Za? Loh ngga mau ngajak jalan gitu?" goda, Risa yang melihat raut kecewa di wajah, Reza


Reza hanya duduk dan hanya menanggapi ocehan, Risa dengan tersenyum.


***


"Jantung gue selalu pengen copot kalau teman-teman nanya hubungan gue sama, Luthfi" ujar, Syifa yang baru saja meneguk minumannya ketika mereka berada di kantin kampus


"Ya elah. Gitu aja loh udah deg-degan. Gimana nanti pass mereka tau kalau kalian udah nikah" ucap, Risa


Syifa seketika menutup mulut, Risa. "Loh kalau ngomong bisa pelan dikit ngga sih? Kalau teman-teman dengar gimana?" kesalnya


"Berarti emang saatnya mereka udah tau" sahut, Viona dengan santai


"Ngga usah aneh-aneh yah" ketus, Syifa


"Emang kenapa sih, Fa kalau mereka tau? Bukannya bagus? Biar mereka ngga ngeganggu kalian lagi" seru, Vigo yang penasaran


"Ia. Gue juga sempat mikir itu" timpal, Fahri


"Karna emang belum saatnya" sahut, Syifa


"Kalian mau makan atau mau ngerumpi?" tegur, Luthfi yang baru saja bersua setelah diam beberapa saat yang lalu.


***


"Rumah loh gede banget, Fi" seru, Risa yang melihat-lihat isi rumah, Luthfi yang akan, Syifa dan Luthfi tinggali berdua.


"Ia. Rumah segede ini cuma bakal dihuni dua orang" sahut, Viona yang juga mengedarkan pandangannya


"Kan nanti akan ada anak-anak mereka" cetus, Vigo yang sudah duduk di sofa


"Ngga sabar gue pengen lihat anak-anak mereka" timpal, Fahri yang ikut duduk di sebelah, Vigo


"Masih jauh kali. Mereka aja belum berhubungan" seru, Risa yang kini ikut terduduk


"Kata gue lah. Loh ngga dengar apa?" ketus, Risa


"Emang mereka udah?" tanya, Viona kepada, Vigo dan Fahri yang terlihat menyembunyikan sesuatu


"Udah. Ngga usah ngegosip" tegur, Syifa. Ia berpikir jika, Fahri dan Vigo sudah mengetahuinya


"Siapa yang ngegosip?" ujar, Vigo. "Kita ngomong fakta" timpal, Fahri


"Ngga usah bertele-tele bisa ngga sih? Ngomong langsung aja kenapa? Susah banget?" kesal, Risa


"Tau nih mereka berdua. Jadi ngeselin" sahut, Viona


"Mereka berdua butuh pendamping. Kelamaan nikah jadi gitu" cetus, Luthfi yang santai


"Sudahlah. Kasian mereka berdua. Masih suci" seru, Vigo lalu tertawa bersama, Fahri dan Luthfi. Sedangkan, Syifa hanya diam saja karna tidak mengerti apapun


"Terserah deh. Kesal gue" teriak, Risa


"Nih buat kalian berdua", Viona melemparkan bantal sofa ke arah, Vigo dan Fahri yang masih tertawa


"Udah ah. Kesal mulu. Ayo kita masak. Buat makan malam. Kalian nginap disini kan?" ajak, Syifa sekalian bertanya pada sahabatnya


"Harus lah. Ini kan pertama kalinya kita kesini. Pamali kalau ngga nginap. Ntar sakit" seru, Risa


Syifa menjitak kepala, Risa. "Ngga usah mulai deh. Cuma loh doang yang percaya kek gituan. Udah kek nenek-nenek aja luh"


"Bilang aja loh ngga mau jauh-jauh dari gue" ledek, Fahri di seberang sofa mereka


"Ia deh Abang Fahri sayang. Risa ngga mau jauh-jauh" geram, Syifa yang mencoba bersikap lembut, "Puas?" teriaknya


"Galak benner" ujar, Fahri lalu tertawa


***


Kini, para gadis sudah berada di dapur untuk memasak makan malam mereka bersama. Sedangkan para pria tetap berada di ruang tamu untuk sekedar mengobrol seperti biasa. Setelah makanan selesai dibuat, mereka memindahkannya ke meja makan.


"Selesai" ucap, Viona yang kegirangan


"Tapi gue mau mandi dulu baru makan. Ngga apa-apa kan?" tanya, Syifa yang merasa badannya sangat bau keringat dan juga gerah


"Ngga apa-apa. Sekalian gue juga pengen bersih-bersih badan. Asem rasanya" sahut, Risa mencium aroma tubuhnya sendiri


"Bau dari ketek loh kali" goda, Viona


"Enak aja" sahut, Risa yang tidak terima

__ADS_1


"Udah-udah. Ayo, biar gue antar kalian ke kamar tamu. Kalian mandi disana" ajak, Syifa untuk menemui, Luthfi dan yang lainnya di ruang tamu


"Luthfi?" panggil, Syifa yang menghentikan pembicaraan ketiga pria tersebut


"Ia? Ada apa?" tanya, Luthfi


"Kamar, Viona sama Risa dimana?" tanya, Syifa


"Disana", Luthfi menunjuk sebuah kamar yang berada di dekat tangga lantai 2, "Dan itu kamar loh berdua" lanjutnya pada, Vigo dan Fahri yang menunjuk kamar satunya lagi yang tidak jauh dari mereka


"Terus kamar kita dimana?" tanya, Syifa


"Ada dilantai atas. Kamu mau mandi?" tanya, Luthfi. Syifa hanya mengangguk.


"Ya udah. Ayo, Sa. Gue duluan yah yang mandi" teriak, Viona yang sudah terlebih dahulu berlari sebelum, Risa


"Wah curang" teriak, Risa yang menyusul, Viona


"Benar-benar mereka", Fahri menggeleng


"Ayo" ajak, Vigo


"Ayo kita ke kamar" ajak, Luthfi yang membawa kopernya dan koper milik, Syifa ke kamar baru mereka


"Aku yang mandi dulu yah?", Syifa meraih sebuah handuk dari kopernya dan menuju kamar mandi


Setelah, Syifa masuk ke dalam kamar mandi, Luthfi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya yang sudah ia tinggalkan selama 2 bulan


Ia hanya terus saja menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya seakan melayang kemana-mana. Bahkan beberapa kali ia mendegus


Tidak sampai lima menit, Syifa keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terbalut sebuah handuk. Ia menghampiri, Luthfi yang tidak menyadari kehadirannya


"Luthfi?" Kok ngelamun? Sana mandi" seru, Syifa yang berdiri di hadapan, Luthfi


Luthfi terbangun. "Cepat banget mandinya"


"Udah sana. Ntar kita ditungguin sama teman-teman" ujar, Syifa yang mengambilkan sebuah handuk untuk, Luthfi pakai


"Ia ia", Luthfi meraih handuk dari, Syifa dan berusaha berdiri. Ia meraih kepala, Syifa dan mencium keningnya lalu masuk ke dalam kamar mandi


"Kenapa dia?" guman, Syifa yang heran


Syifa tidak mau ambil pusing. Ia segera memakai pakaiannya. Sembari menunggu, Luthfi, ia merapikan pakaiannya dan memasukkan semuanya ke dalam lemari pakaian yang berada disana.


Ketika sedang asik-asiknya menyusun pakaiannya dan juga pakain, Luthfi, sebuah tangan melingkar di perutnya dan membuatnya terkejut


"Luthfi! Aku kaget" seru, Syifa yang memukul pelan tangan, Luthfi yang melingkar di perutnya


"Sudah selesai?" tanya, Luthfi ketika, Syifa tidak lagi menyusun pakaiannya


"Sudah" jawab, Syifa


Luthfi memutar tubuh, Syifa untuk menghadap ke arahnya. Ia menarik tangan, Syifa dan melingkarkannya di pinggangnya yang tanpa pakaian. Lalu ia sendiri melingkarkan tangannya di kedua pundak, Syifa


"Luthfi. Pakai bajua dulu" ujar, Syifa dengan malu


"Kenapa? Tiap hari juga lihat" goda, Luthfi


"Jangan mesum", Syifa mencubit pinggang, Luthfi


"Bukan mesum. Tapi aku ngomong benar" sahut, Luthfi


"Terserah deh. Tapi aku mau nanya. Vigo sama Fahri tau kita udah berhubungan?" tanya, Syifa dengan pelan dan malu


"Tau" jawab, Luthfi denga. santai


Syifa membulatkan kedua matanya, "Kok bisa? Kamu kasih tau yah?" kesalnya


"Mereka tau sendiri. Ada banyak yang dilihat dari cewek yang sudah berhubungan. Vigo sama Fahri tau dari leher kamu" jelas, Luthfi


"Leher aku kenapa?" tanyanya dengan panik


"Itu sudah biasa. Karna kita sudah menikah" jawab, Luthfi menenangkan, Syifa


"Beneran?" tanya, Syifa lagi dan Luthfi hanya mengangguk, "Kok aku jadi kesal" ia mengerucutkan bibirnya hingga membuat, Luthfi gemas


Luthfi mencium bibir, Syifa dengan lembut. Syifa yang terkejut hanya mengeratkan pelukannya di pinggang, Luthfi yang tidak memakai pakaian itu


"Syifa. Ayo, lama ba....... Aaaaaaaa", Viona yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar, Syifa dan Luthfi tanpa mengetuk pintu, harus melihat adegan yang membuatnya terkejut setengah mati hingga ia berteriak begitu keras.


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa like dan vote yah 😊 Terima kasih yang sudah mendukung 🤗

__ADS_1


__ADS_2