
Setelah, Syifa tepat berada di depan pintu kamarnya, ia menghembuskan nafasnya dan berusaha tenang agar, Risa tidak merasa curiga padanya. Bukan tidak ingin memberi tahu, Risa. Hanya saja waktunya belum tepat baginya dan juga bagi, Luthfi.
Ceklek
Syifa memutar knop pintu dengan raut wajah datar seperti biasanya. "Cepat amat loh datangnya? Gue kira Pangeran loh bakal ngembailiin di jam 12 malam", Risa terkekeh sendiri dengan ucapannya
"Terserah loh. Viona belum keluar?"
"Belum. Tuh anak kalau udah masuk ke kamar mandi, bisa nyampe sejam di dalam"
"Sebenarnya tuh orang-orang kalau udah masuk ke kamar mandi, ngapain aja sih mereka di dalam selain mandi? Sampai lama banget. Heran gue"
"Perawatan dulu kali"
"Yakali perawatan di kamar mandi"
"Bisa aja dong. Orang kan beda-beda. Ok, lupain itu dulu. Kembali ke yang tadi. Luthti ngapain nyuruh loh keluar malam-malam? Ada hal penting apaan sih emang? Hmmm?"
Padahal, Syifa sudah berusaha mengalihkan perhatian, Risa agar gadis tersebut tidak lagi bertanya tentang, Luthfi yang tiba-tiba menyuruhnya keluar. Tidak mungkin juga, Syifa memberi tahu semuanya kepada, Risa saat ini juga. Ia tidak tau reaksi apa yang akan ia lihat dari sahabatnya tersebut.
Syifa terus memutar otaknya untuk berpikir keras menemukan jawaban yang tepat sehingga ia tidak harus berbohong.
"Kata, Luthfi. Kita disuruh ngumpul di rumah sepulang ini. Ada hal penting yang mau dia sampein ke kita" akhirnya ide tersebut keluar dari mulut, Syifa sehingga ia tidak perlu berbohong dan juga tidak perlu berbicara jujur, setidaknya untuk saat ini saja.
"Mau ngomong apaan?", Risa mengernyit heran. "Kalau gue tau dia mau ngomong apa nantinya, udah gue kasih tau loh tanpa tambahan dan pengurangan dari gue" dan memang benar. Pada intinya, Syifa tidak tau apa yang akan, Luthfi katakan nantinya.
"Ia juga sih", Risa menggaruk pelipisnya dengan telunjuknya. "Gue ngantuk. Gue tidur duluan yah", Syifa merangkak naik ke kasur dan mulai membaringkan tubuhnya dengan terlentang.
Punggungnya terasa nyaman saat bersentuhan dengan kasur. Baginya, ini adalah salah satu kenikmatan bagi mereka yang bekerja sampai larut malam.
__ADS_1
"Tunggu! Apa setelah gue nanti nikah, gue cuma akan tinggal berdua sama, Luthfi?" batin, Syifa.
Syifa terus menutup wajahnya dan menyentakkan kakinya membuat, Risa mengerutkan dahinya. Tidak biasanya gadis itu bertingkah aneh seperti ini.
"Eh", Risa memukul kaki, Syifa, "Loh kenapa sih? Kenapa jadi kek orang gila loh sekarang?" tegurnya. Syifa yang terkejut sontak membuka matanya lalu terduduk.
"Kenapa sih loh? Kesurupan?" lanjutnya. Syifa memukul lengan, Risa, "Ngaco. Gue cuma lagi kepikiran sesuatu" ucap, Syifa yang menatap kosong.
"Mikirin apaan emang loh? Mikir gimana nanti pangeran loh itu benar-benar jadi suami loh?", Risa tertawa begitu keras ketika melihat wajah terkejut, Syifa. "Apa sih? Bercanda doang gue", Risa menghentikan tawanya
"Ngga lucu" gerutu, Syifa padahal awalnya ia sudah sempat panik. Namun bisa terlihat biasa saja ketika, Risa mengatakan bahwa ia hanya sedang bercanda.
"Ini, Viona pingsan atau mati sih di dalam? Lama banget", Risa beberapa kali terus melihat pintuk kamar mandi berharap segera terbuka. Ia juga sudah sangat gerah dan sudah ingin membasuh seluruh tubuhnya
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka dengan sempurna dan keluarlah gadis yang berada di baliknya. "Loh mandi atau ngapain sih dalam? Lama banget" omel, Risa ketika, Viona sudah menghampiri mereka berdua.
"Emak loh lagi marah tuh", Viona meledek, Risa dan duduk di samping, Risa.
"Loh sih. Mandinya lama banget. Ngapain aja sih di dalam emang? Hmm?", Syifa yang begitu penasaran dengan orang-orang yang jika sudah berada di balik kamar mandi bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam lamanya.
"Ya mandi lah. Mau ngapain lagi emang", Viona merenggangkan otot-ototnya sebelum tidur.
"Harus banget sampe menghabiskan waktu berjam-jam?"
"Loh aja yang kalau mandi cepat banget. Malah bisa ngga nyampe semenit. Itu loh mandi atau ngebuang ludah doang di dalam?"
"Loh aja yang lama"
__ADS_1
***
Selama waktu yang tersisa dari penelitian mereka yang diadakan selama sepekan disana. Mereka menjalani penelitian dengan penuh semangat. Kelompok, Luthfi selalu berada diurutan pertama, sedang kelompok, Reza selalu berada diurutan kedua atau ketiga.
Selama itu pula mereka tidak diperkenankan mengaktifkan ponsel mereka selama masa penelitian berakhir. Sampai tiba hari terakhir mereka disana. Kini, mereka sudah berada di Bus yang akan mengantarkan mereka kembali ke kampus.
"Kita kumpul di rumah loh yah?" tanya, Luthfi pelan setelah melihat beberapa dari teman mereka tertidur.
Syifa mengangguk dan melihat, Luthfi,
"Gue juga udah bilang kok ke, Risa kalau loh mau ngomong sesuatu. Jadi kita bakal kumpul di rumah sepulang dari sini"
"Loh ngasih, Risa semuanya?"
"Ngga"
"Terus?"
"Gue cuma bilang loh mau ngomong sesuatu"
"Oh. Gue kira loh jujur sama, Risa"
"Ngga lah. Oh ia. Gue belum aktifin hp gue", Syifa merogoh tas kecil selempangnya, "Kalau orang tua gue nelpon gimana nih".
Syifa sibuk mengotak atik ponselnya. Beberapa pesan masuk terpampang dari layar ponsel tersebut. Syifa berusaha tenang sebelum menekan kotak pesan yang tertera dengan nama 'Mommy'.
Dengan mengumpulkan keberaniannya, Syifa membuka pesan dari Ibunya tersebut dan perlahan mulai membaca isinya
'Nak. Ibunya, Luthfi tadi sudah datang kemari. Dia meminta untuk melamar mu nak. Bagaimana pendapat mu? Kalau Mommy dan Ayah kamu hanya mengikuti apa kemauman mu. Mommy sudah mengatakan kepada orang tua, Luthfi untuk meminta persetujuan darimu nak. Jadi, semua keputusan berada di tanganmu. Pikirkan baik-baik karna kamu sudah dewasa dan sudah bisa menentukan jalan hidupmu sendiri meski kamu masih kuliah. Mommy juga akan senang jika kamu menikah, setidaknya ada yang akan menjagamu disana saat Mommy dan Ayah tidak berada di samping mu. Jika kamu sudah membaca pesan Mommy. Mommy harap kamu segera memberikan jawaban mu nak. Agar Mommy bisa memberita tahu orang tua, Luthfi secepatnya. Salam Dari Mommy dan Ayah. Kami mencintaimu nak' begitukah isi pesan dari Mommy yang dibaca oleh, Syifa
__ADS_1
Butiran kristal terjatuh dari pelupuk matanya mengenai pipinya ketika membaca setiap kata yang dikirim oleh Mommy nya. Ada rasa lega dalam dadanya, namun juga rasa aneh mengingat orang tuanya.
Luthfi meraih ponsel, Syifa dan mulai membaca isi pesan tersebut. Luthfi tersenyum tipis lalu kembali menyimpan ponsel, Syifa ditangan gadis itu. Luthfi meraih kepala, Syifa dan menyandarkannya di bahunya. Ia mengusap pelan rambut, Syifa untuk menenangkan gadis tersebut. Sebab gadis itu memanglah punya hati yang mudah rapuh. Ia sangat mudah menangis dalam hal apapun