
Luthfi menoleh kearah, Syifa. "Kenapa?" tanyanya dengan dingin
Syifa menggeleng enggan membalas pertanyaan, Luthfi. akhirnya ia menatap ke depan sembari memperhatikan, Risa dan Viona yang tengah bersenda gurau di hadapannya. Syifa juga enggan untuk menimpali gurauan kedua temannya itu
Luthfi melirik, Syifa yang tengah memainkan ponsel miliknya. "Chattingan sama siapa?" tanya, Luthfi dengan pelan kepada, Syifa
"Bukan siapa-siapa", Syifa hanya terus mengotak atik ponselnya tanpa menoleh kearah, Luthfi
Luthfi hanya menghela napas. Terlihat, Marcelia baru saja memasuki kelas hingga kelas tersebut menjadi riuh karna kedatangan dewi tercantik mereka di jurusan Sastra Indonesia. Syifa sejenak mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia pegang untuk melihat keributan apa yang terjadi di kelas mereka
"Tuh, Marcelia", Syifa menyenggol lengan, Luthfi dan menunjuk, Celia menggunakan dagunya
"Kenapa?" tanya, Luthfi polos
"Minta maaf, Luthfi" ucap, Syifa yang dibarengi raut cemberut di wajahnya hingga, Luthfi tidak bisa lagi untuk membalas
Luthfi akhirnya berdiri dan berjalan menghampiri, Celia tanpa mengucapkan apapun kepada temannya yang lain. Saat ia tiba di hadapan, Celia. Wanita itu mendongak dan mendapati, Luthfi berdiri berdiri di depannya
"Ada apa?" tanya, Celia
"Hmmm", Luthfi enggan untuk mengucapkan kata maaf
"Ada apa, Luthfi?" tanya, Celia dengan lebih lembut
"Gue mau minta maaf sama loh tentang kemarin" ujar, Luthfi yang mengucapkan kata maaf namun tidak sesuai dengan ekspresi wajahnya
"Oh yang kemarin? Ngga apa-apa kok. Gue udah maafin loh" tukas, Celia dengan senyumnya yang mengembang sempurna
"Luthfi keren banget. Mengakui kesalahannya padahal ngga benar-benar salah sih"
"So sweet banget sih, Luthfi"
"Apa mereka PDKT yah?"
"Kalau emang benar PDKT, bakalan jadi pasangan terfavorite. Luthfi ganteng, Celia cantik"
"Nyusul, Syifa sama Reza nih"
"Jadian aja kalian"
Teriakan dari teman-teman kelas mereka semakin membuat, Luthfi malas. Ia hanya menahan untuk tidak mengacaukan momen permintaan maafnya yang tidak tulus itu.
"Gue cuma mau ngomong itu", Luthfi hendak berlalu meninggalkan, Celia. "Luthfi" panggil, Celia yang memegang tangan, Luthfi
"Cieeeee"
"Swit-swit"
Sorakan penuh tanda keirian tercipta dari mereka tatkala, Celia memegang tangan, Luthfi saat, Luthfi hendak pergi dari sana.
"Ada apa?" tanya, Luthfi dingin
"Terima kasih sudah mau minta maaf sama gue" saut, Celia dengan terus tersenyum. Luthfi hanya mengangguk lalu kembali ke tempat duduknya
"Gosip baru bentar lagi terbit kayaknya nih" cetus, Fahri saat, Luthfi sudah duduk di tempatnya
"Banyak cewek yang bakal patah ini" goda, Vigo yang membalikkan tubuhnya menghadap, Luthfi
"Jangan ngomong gitu ih" tegur, Viona kepada, Vigo dan Fahri
"Tau loh berdua. Laki-laki kok suka banget ngegosip. Heran gue" timpal, Risa yang mendapat cubitan di lengannya dari, Syifa
"Kalau ngomong juga dijaga" tegur, Syifa yang masih menampilkan wajah cemberutnya
"Gue kan udah minta maaf" ucap, Luthfi menoleh kearah, Syifa
"Ia gue lihat kok. Gue ngga buta" ketus, Syifa yang hanya melirik, Luthfi tanpa berniat menoleh
__ADS_1
"Kenapa lagi sih loh? Kan, Luthfi udah minta maaf. Ngapain loh masih ngambek" tegur, Risa yang masih melihat wajah kekesalan, Syifa
"Siapa yang ngambek coba? Gue ngga ngambek" gerutu, Syifa yang menekuk wajahnya
"Udahlah", Viona memposisikan kembali duduknya tatkala melihat raut wajah, Syifa yang menyebalkan
"Vio jangan ikutan ngambek" tukas, Vigo yang mengikuti posisi duduk, Viona
"Udah-udah. Tuh dosen udah datang" lerai, Fahri saat dosen yang akan mengajar untuk kuliah kedua mereka sudah memasuki kelas
"Selamat siang anak-anak" sapa dosen tersebut
"Siang Ibu" semua menjawab dengan kompak
"Oh ia. Karena mata kuliah ibu adalah seni teater, jadi Ibu ingin kalian semua berpartisipasi untuk membuat pertunjukan dalam bentuk drama. Ibu akan membagi kelompok menjadi empat bagian, karna mahasiswa di kelas ini berjumlah 40 orang. Ibu akan memilih sesuai absen yah" tutur, dosen tersebut
"Baik bu" jawab mereka
"Yeayyyy. Kita sekelompok", Syifa dan Risa berteriak dengan senang karna mereka satu kelompok saat dosen mereka telah menyebut nama-nama setiap kelompok
"Senang deh kalian. Gue ngga" ketus, Viona
"Sabar. Kan ada, Vigo yang bareng sama loh" saut, Risa
"Tapi kan tetap aja. Gue pengennya bareng kalian juga" gerutu, Viona
"Segitu sayangnya loh sama kita, Vi sampai ngga mau pisah" goda, Syifa yang tersenyum jahil kepada, Viona
"Nyesel gue ngomong ini" ketus, Viona yang membuat mereka tertawa
"Gue cowok sendiri nih ceritanya" cetus, Fahri yang juga berada di kelompok, Syifa dan Risa. Berbeda dengan, Vigo dan Luthfi yang berada di kelompok yang sama dengan, Viona
"Kan ada, Reza juga" timpal saut, Syifa yang mendapat lirikan dari, Luthfi
"Ada teman cowok yang lain juga kok", Risa buru-buru menimpali saat melihat lirikan, Luthfi kepada, Syifa
"Syifa?" panggil, Reza yang sudah berada di antara mereka
"Eh, Reza? Ia kenapa?" tanya, Syifa
"Kapan mau mulai latihan?" tanya, Reza
"Tunggu, Ibu nentuin drama apa yang kelompok kita mainkan yah" ucap, Syifa dengan santai
"Ya udah. Nanti kabarin gue yah?" saut, Reza sebelum berlalu
"Ok", Syifa menaikkan jarinya membentuk huruf OK
"Tenang dulu anak-anak. Dengarkan Ibu sini. Jadi untuk kelompok pertama, mereka akan bercerita tentang hubungan jarak jauh dari kedua pasangan yang akhirnya harus berpisah. Kelompok kedua akan bercerita tentang sepasang kekasih yang saling mencintai dan saling berjanji untuk tidak akan berpisah selamanya. Untuk kelompok ketiga, akan bercerita tentang sepasang kekasih yang awalnya saling mencintai namun terpaksa harus berpisah karna si lelaki akan melanjutkan kehidupannya di negara lain. Dan kelompok empat, akan bercerita tentang sepasang kekasih yang tidak mendapat restu dari orangtua. Mengerti semuanya?" tutur dosen tersebut
"Mengerti bu" jawab mereka
"Kita kelompok tiga kan?" tanya, Risa kepada, Syifa dan Fahri
Fahri dan Syifa mengiakan
"Gue pikir ini bakal penuh emosi deh drama kita" saut, Syifa
"Adegan nangisnya harus banyak nih" cetus, Fahri
"Benar banget. Biar lebih dramastis gitu kan" timpal, Risa
"Kelompok gue kayaknya cuma butuh penghayatan dengan mimik wajah yang terus berseri deh. Menceritakan sepasang kekasih yang tidak, ingin berpisah selamanya kan" ucap, Viona
"Kalian kelompok dua kan?" tanya, Risa
Viona mengangguk.
__ADS_1
"Viona sama Vigo aja yang jadi pemeran utamanya" goda, Syifa
"Ngga perlu akting juga udah gue lakuin tuh" seru, Viona dengan sombong
"Sombong banget loh" ujar, Risa dengan malas
"Atau, Luthfi aja yang jadi pemeran utamanya" usul, Vigo
"Gue?", Luthfi terkejut dan menunjuk dirinya sendiri
Yang lain sejenak terdiam lalu saling memandang satu sama lain. "Ngga salah loh, Go?" tanya, Fahri
"Ngga lah. Semua cewek pada suka sama, Luthfi. Gue yakin sih, mereka akan lebih fokus ke, Luthfi. Bukan ke jalan ceritanya" lanjut, Vigo
"Eh ia sih. Itu ide yang bagus" seru, Viona
"Kalau gitu. Di kelompok kita biar, Syifa sama Reza yang jadi pemeran utamanya. Mereka juga ngga kalah banyak dikagumi sama teman kelas kita" usul, Fahri
"Setuju" timpal, Risa yang langsung menunjuk, Fahri
"Kok gue? Ngga mau ah. Gue ngga bisa akting" tolak, Syifa
"Ayolah, Fa. Demi kelompok kita yah" bujuk, Risa kepada, Syifa
"Kenapa ngga loh aja sana sama, Fahri" gerutu, Syifa
"Yah mana bisa. Udah terima aja ih" ujar, Risa
"Luthfi?" panggil seseorang hingga mengalihkan perdebatan mereka
"Ada apa?" tanya, Luthfi
"Nanti kita latihan di rumah gue yah" tawar, Celia
"Rumah loh ada halaman luasnya ngga? Biar kita bebas berekspresi disana" saut, Vigo
"Ada kok. makanya gue ngajak buat kalian latihan di rumah gue aja" usul, Celia
Viona mendengus kesal
"Kenapa loh?" tanya, Celia dengan sewot
"Emang loh liat gue kenapa?" jawab, Viona yang tidak kalah sewot
"Kalian ini yah. Satu kelompok malah berantem" tegur, Syifa
"Tau tuh" timpal, Risa
Seakan enggan membalas. Celia hanya terus merayu, Luthfi dan yang lainnya untuk latihan di rumahnya. Dan mau tidak mau, Luthfi dan Viona dengan berat hati menyetujuinya.
"Syifa?" panggil, Reza yang berdiri di samping, Celia
"Latihan di rumah gue yuk?" ajak, Reza
"Boleh tuh" saut, Risa
Akhirnya, Luthfi, Viona, Vigo dan teman kelompok mereka yang lain latihan bersama di rumah, Celia. Sedangkan untuk kelompok, Syifa dan kawan-kawan latihan di rumah, Reza.
Hari-hari mereka latihan seni teater ketika pulang dari kampus. Hingga mereka mengerjakan tugas bersama kelompok mereka. Syifa, Luthfi, Risa, Viona, Vigo dan Fahri hanya punya waktu berkumpul ketika sedang di kelas saja. Saat kelas berakhir atau sekedar istirahat sebentar, mereka lebih memilih untuk berkumpul bersama kelompok seni teater mereka, mengingat mereka hanya punya waktu seminggu untuk menampilkan drama mereka masing-masing. Waktu bersama untuk keenam teman yang sudah sangat dekat itu kini menjadi sangat berkurang hingga membuat mereka saling merindu satu sama lain. Untung saja, mereka dibagi hanya menjadi 3 3 hingga kesedihan mereka sedikit terobati karna masih bisa bersama yang lainnya
"Gila. Capek banget gue" seru, Syifa yang terduduk di kursi saat baru selesai latihan
"Jadi kangen, Viona gue. Udah empat hari ini kita ngga bisa ngumpul lama-lama sama tuh anak" lanjutnya
"He'em. Gue juga kangen dia. Ngga ada teman berantem" saut, Risa yang juga duduk di samping, Risa
"Sisa dua hari lagi kita latihan. Setelah itu kan kalian bisa ngumpul lagi" sahut, Reza yang juga ikut duduk di samping, Risa
__ADS_1