
"Gue seburuk itu di mata loh?" tanya, Luthfi dengan serius. Syifa menggeleng
"Ngga buruk juga sih. Tapi kan emang loh dari dulu cuek banget, diajak ngomong udah berasa kita ngomong sama es, dingin. Terus udah gitu, disapa sama teman-teman, cuma naikin alis doang ngga ada senyum-senyumnya, ngga ada ramah-ramahnya. Yah gitu deh, pokoknya temperamen loh itu misterius banget" ujar, Syifa panjang kali lebar menjelaskan sifat, Luthfi selama ini yang ia lihat.
"Gue ngga mau jadi diri orang lain cuma untuk disuka banyak orang" saut, Luthfi yang malas.
"Ya kan ngga mesti gitu juga. Yakali ada orang yang nyapa ngajak senyum, terus loh cuma balas anggukan doang tanpa ngebalas senyumnya. Hemat senyum banget loh. Ngga akan pudar kali bibir loh kalau cuma buat senyum doang" celoteh, Syifa lalu menghela napas.
Luthfi terkekeh mendengar penuturan, Syifa.
"Ngapain ketawa-ketawa? Ada yang salah sama omongan gue?" tanya, Syifa dengan polosnya.
"Ngga ada yang salah. Sejak kapan loh jadi cerewet?", Luthfi mengerutkan dahinya menatap, Syifa.
"Gue?", Syifa menunjuk dirinya sendiri, "Cerewet? Loh tuh orang pertama loh yang ngatain gue cerewet" imbuhnya.
"Ini juga pertama kalinya gue lihat loh banyak ngomong", Luthfi memicingkan matanya. "Masa sih?", Syifa menggaruk kepalanya
"Tapi emang ia sih. Apa mungkin karna cuma ada kita aja kali yah? Jadinya ngga tau mau ngomong sama siapa lagi", Syifa, memiringkan sedikit kepalanya.
"Mungkin" jawab, Luthfi dengan menaikkan kedua bahunya.
***/
"Yeay" teriakan, Risa dan Viona terdengar sangat keras saat kelompok mereka menduduki nilai pertama di penelitian kedua tersebut.
"Akhirnya menang juga. Senang banget gue" seru, Viona yang kegirangan.
"Benar-benar top deh ketua kelompok kita", Risa mengacungkan dua jempolnya kepada, Reza.
"Ini semua juga berkat kalian. Kalian kompak banget, saling membantu satu sama lain" jelas, Reza dengan senyumnya yang sangat manis dan ikhlas.
"Ini semua gara-gara loh. Harusnya kita yang dapat nilai tertinggi, bukan mereka" seru, Celia yang memaki, Fahri karna nilai kelompok mereka berada di urutan ketiga.
"Harusnya loh nyadar diri. Yang ngerjain semuanya tuh gue. Loh cuma mondar-mandir doang nyuruh gue cepat-cepat" pertengkaran pun kembali dimulai oleh dua insan tersebut.
__ADS_1
Selama proses penelitian, Fahri lah yang mengerjakan semuanya dan, Celia hanya terus menyuruh, Fahri untuk bisa lebih cepat karna kelompok, Reza terlebih dahulu selesai.
"Yah kalau loh bisa lebih cepat sedikit, kelompok kita yang bakal menang" seru, Celia yang lagi-lagi tidak ingin disalahkan atas kekalahan kelompok mereka.
"Loh ribet banget sih. Sukur-sukur loh bisa masuk tiga besar. Itu juga loh ngga guna disana. Kalau ngga ada, Fahri, bayangin loh bisa menang apa ngga" saut, Risa yang menyela perdebatan, Celia dan Fahri.
"Apa loh? Gue ngga ngomong sama loh. Lebih baik loh diam aja. Ngga usah ikut campur masalah gue" seru, Celia yang begitu kesal.
"Gue ngga akan ikut campur kalau loh ngga nyari masalah sama teman gue" balas, Risa yang menantang.
"Diam loh!" bentak, Celia.
"Apa loh?" bukannya takut, Risa malah menantangnya.
"Udahlah, Sa. Ngga usah ngeladenin dia. Ngga guna juga. Mending kita samperin, Syifa sama Luthfi sekarang" sergah, Viona.
"Malu sih gue ngadep ke, Luthfi sama Syifa setelah nih anak dengan songongnya bilang kita pasti bakal menang lagi kali ini. Boro-boro menang, masuk runner up aja ngga", Fahri menunjui, Celia yang berdiri di sampingnya dengan melipat kedua tangannya di atas perut.
"Tenang aja. Ada gue yang bakal bela loh. Kita semua juga ngeliat, siapa yang kerja siapa yang tinggal nunggu terima jadi" timpal, Vigo yang menenangkan, Fahri.
"Loh kesindir? Yah bagus sih. Artinya loh masih punya malu" titah, Vigo dengan santai.
"Good job beb", Viona menaikkan satu jempolnya untuk kekasihnya tersebut.
"Sudah-sudah. Jangan berantem terus. Ngga malu apa diliatin sama teman-teman kita yang lain" lerai, Reza dan semuanya melihat ke sekeliling mereka.
Benar saja, ada banyak pasang mata yang sedang memandang mereka, dan tidak sedikit ada yang saling berbisik memberikan tatapan aneh. Untung saja, mereka sudah berada agak jauh dari kerumunan setelah pengumuman tersebut.
"Ayo!" ajak, Reza yang sudah berdiri dari tempatnya.
"Mau kemana, Za?" tanya, Risa yang heran.
"Balik ke tenda. Bukannya kalian mau nyamperin, Syifa sama Luthfi?" jelas, Reza dan semuanya pun berdiri dengan semangat kecuali, Celia yang bermalas-malasan mengikut saja.
"Ayo", Viona mendahului mereka lalu diikuti, Risa yang merangkul, Viona. Mereka bersama-sama menuju tenda dimana, Luthfi dan Syifa berada. Dan seperti biasa, perjalanan mereka selalu dibumbui dengan perdebatan hingga makian terdengar dari mulut mereka kecuali, Reza.
__ADS_1
***/
"Itu kayaknya suara, Risa sama yang lain deh", Syifa memasang telinganya lekat-lekat mendengarkan suara yang menuju tenda mereka.
"Benar. Itu mereka" lanjutnya. "Kalau sudah ribut. Ngga salah lagi", Luthfi menggeleng mendengar ocehan dan keributan teman-temannya yang sedang menuju kemari.
Syifa tertawa, "Ia benar banget. Gue jadi ada ide, pengen ngerjain mereka ah", Syifa mendapatkan ide untuk mengerjai teman-temannya.
"Ide apa?", Luthfi menaikkan kedua alisnya. "Gue bakal ada di depan pintu tenda. Jadi kalau pass mereka ngebuka, muka gue langsung muncul biar mereka jadi kaget" tawa, Syifa meledak padahal ia baru membayangkannya.
"Ada-ada aja", Luthfi menggeleng dan tersenyum tipis.
"Itu mereka sudah dekat", Luthfi membantu, Syifa menggeser posisinya untuk berada tepat di depan pintu masuk tenda karna, Syifa masih harus butuh bantuan ketika ingin bergerak.
"Ssstttt", Syifa meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya, "Loh diam disitu aja" perintah, Syifa kepada, Luthfi dengan berbisik karna teman-teman mereka sudah berada di luar tenda.
Saat, Risa dan Viona membuka penutup tenda, wajah, Syifa tiba-tiba muncul hingga, Viona dan Risa terperanjak mundur dari tempatnya
"Aaaaaaaaaaaaa" teriakan keras, Risa dan Viona menggema hingga, Fahri membekap mulut, Risa dan Vigo membekap mulut, Viona agar suara mereka tidak lagi terdengar.
"Vio, jangan teriak-teriak" tegur, Vigo.
"Nih anak juga" timpal, Fahri kepada, Risa.
"Apaan sih kalian, lebay banget" timpal, Celia yang terus menggerutu, dan memang ia tidak melihat wajah, Syifa muncul dibalik tenda karna terhalang oleh, Viona dan Risa.
"Ada apa? Kenapa kalian teriak-teriak?" tanya, Reza yang selalu menenangkan suaranya.
Belum sempat dijawab oleh, Risa dan Viona setelah tangan yang membekap mulut mereka terlepas, suara tawa dibalik tenda begitu nyaring di telinga mereka.
Vigo, Fahri, Reza dan Celia mengernyit heran dan saling pandang. Berbeda dengan, Risa dan Viona yang sudah mengerti, mereka pun langsung masuk ke dalam tenda dan menemukan, Syifa sedang terbahak disana ditemani, Luthfi yang hanya berusaha menahan tawanya agar tidak pecah.
"Syifaaaaaaaaa" teriak, Viona dan Risa yang langsung menatap tajam, Syifa seperti hendak menerkamnya.
"Benar-benar yah loh. Dasar Jailangkung" seru, Risa yang begitu kesal.
__ADS_1