
Drrrrttttt drrrtttr. Suara ponsel milik, Syifa berdering di atas nakas membuat keduanya menoleh bersamaan. Syifa melepaskan tangan, Luthfi yang masih membekap di mulutnya lalu menghampiri ponselnya yang berdering
"Reza?" guman, Syifa setelah menatap layar ponselnya dengan panggilan kontak 'Reza"
Syifa tidak langsung menjawab panggilan tersebut, ia melirik ke arah, Luthfi yang sekarang sedang menghampirinya. Jantungnya seketika berdegup cepat
"Kenapa ngga dijawab?" tanya, Luthfi yang duduk di tepi tempat tidur tepat di hadapan, Syifa
"I... Ia. Ini baru mau jawab" ucap, Syifa dengan gugup lalu menggigit bibir bawahnya karna, Luthfi masih disana menunggunya
"Speaker" perintah, Luthfi dengan santainya
"Halo" ucap, Syifa dengan ragu setelah menggeser tombol hijau dan menakan tombol speaker lalu melirik, Luthfi dengan takut
"Hai, Syifa. Ini gue, Reza"
"Ia, gue tau kok. Hmmm, ada apa, Za?", Syifa memberanikan diri untuk bertanya
"Ngga apa-apa. Gue cuma pengen nanya kabar loh aja. Gue nge-DM loh di IG tapi ngga loh balas"
"Oh ia. Sorry gue lagi sibuk belakangan ini"
"Ia gue ngerti kok. Sekarang loh pasti lagi menikmati liburan bersama keluarga"
"Ia, Za" hanya untuk yang keluar dari mulut, Syifa agar, Reza tidak lagi bertanya dan segera menyudahi pembicaraan mereka.
Luthfi hanya mendengarkan tanpa ekspresi apapun, namun itu yang semakin membuat, Syifa takut
"Loh udah makan?"
"Ini baru mau makan. Hmm, udah dulu yah, gue mau bantu-bantu dulu nyiapin sarapan" ucap, Syifa
"Ia. Jaga kesehatan yah, Syifa"
"Ia. Makasih, Za", Syifa langsung menekan tombol merah dengan takut melihat wajah, Luthfi
"Tadi itu, Reza" jelas, Syifa dengan ragu-ragu dan takut jika, Luthfi marah padanya
"Loh kayak lagi ketahuan habis selingkuh" cetus, Luthfi yang hendak keluar dari kamar
"Tapi ini pertama kalinya kok dia nelpon gue", Syifa memegang tangan, Luthfi untuk menahannya
"Jadi loh berharap dia akan nelpon terus?", Luthfi memicingkan kedua matanya dengan dahi yang mengkerut
Syifa menggeleng dengan cepat. Luthfi melepaskan tangannya dengan pelan dan hendak kembali keluar, namun ia mengurungkannya tatkala ponselnya berbunyi di atas nakas
Ia segera meraih ponselnya di belakang, Syifa lalu menatap layar ponselnya yang menampilkan nama, 'Marcelia' disana
"Siapa?" tanya, Syifa yang berbalik dan menemukan, Luthfi yang hanya memegang dan menatap layar ponselnya tanpa mau menjawabnya
"Kok ngga dijawab sih?", Syifa semakin bingung dengan, Luthfi yang terlihat acuh pada panggilan itu
Luthfi menggeser tombol hijau dan menekan tombol speaker agar, Syifa juga bisa mendengarnya
"Halo" ucap, Luthfi dengan malas
"Halo, Luthfi" jawabnya diseberang sana dengan semangat
"Marcelia?" tanya, Syifa tanpa bersuara
Luthfi hanya mengangguk malas. "Ada apa? Kalau ngga ada yang penting gue matiin. Gue lagi sibuk"
"Galak banget sih. Kan gue cuma pengen tau kabar loh aja. Emangnya gue salah?"
"Gue lagi sibuk dan gue baik-baik aja" ujar, Luthfi
"Syukur deh. Ya udah. Gue matiin yah. Jaga kesehatan"
Tanpa membalas lagi, Luthfi segera menekan tombol merah dan menaruh ponselnya diatas nakas dengan keras hingga membuat, Syifa terkejut
"Hp loh nanti rusak, Fi" tegur, Syifa dengan lembut agar tidak menyakiti perasaan, Luthfi
__ADS_1
"Gue ngga suka dia sering nelpon" ketus, Luthfi yang duduk ditepi tempat tidur sambil memijat pelipisnya
"Dari dulu?" tanya, Syifa ikut duduk di samping, Luthfi
"Apanya yang dari dulu?" tanya balik, Luthfi
"Dari dulu, Marcelia sering nelpon loh?" tanya, Syifa
"Hmmm", Luthfi hanya berdehem dan menghempaskan tubuhnya dengan kaki yang masih bergelantung di lantai
"Kok malah tidur lagi? Ayo bangun, nanti Mommy, Ayah sama Syafa nungguin kita di luar", Syifa menarik tangan, Luthfi untuk bangun
"Nanti aja. Syafa bakal manggil kita" ujar, Luthfi yang tidak ingin bergeming
"Kok malah ngandalin, Syafa sih? Udah ah ayo", Syifa terus menarik tangan, Luthfi.
Syifa berdiri agar tenaganya lebih kuat untuk menarik, Luthfi namun sia-sia karna bahkan tubuhnya yang kini sudah tertarik oleh tangan, Luthfi yang kembali menariknya hanya dalam sekali hentakan
Deg
Jantung, Syifa rasanya benar-benar ingin melompat keluar dari persembunyiannya ketika tubuhnya menimpa tubuh, Luthfi. Bola matanya bahkan membulat sempurna di dekat telinga, Luthfi
Luthfi hanya tersenyum dan menahan tawanya mendengar detakan jantung, Syifa yang kencang, meskipun debaran jantungnya juga kini berlomba-lomba tak seirama
"Hmm. Lu... Lut.. Luthfi lepasin gue" ujar, Syifa yang gugup setengah mati menahan napasnya
Bukannya melepaskannya, Luthfi malah memeluknya erat hingga tubuh mereka benar-benar berdekatan tanpa jarak yang tersisa sama sekali.
Syifa benar-benar menahan napasnya, ia takut jika ia menghembuskan napasnya, itu akan mengenai leher, Luthfi dan tentu akan terasa panas
Luthfi melonggarkan pelukannya dan melirik, Syifa di bahunya, "Loh nahan napas lagi?" tanyanya
Syifa menelan ludahnya dengan susah payah lalu mengangguk pelan tanpa menoleh
Luthfi membenamkan wajah, Syifa dan menghadapkannya ke wajahnya agar, Syifa bisa bernafas dengan baik
Tapi bukannya bisa bernapas dengan baik, jantung, Syifa malah semakin membuatnya susah untuk bernapas dengan berdekatan seperti ini.
"Apa loh ngga dengar detakan jantung gue?" tanya, Luthfi yang mengusap kepala, Syifa
"Justru itu yang bikin jantung gue tambah berdebar" jawabnya dengan polos
"Baru begini tapi jantung loh udah mau copot. Padahal gue belum ngelakuin apa-apa" tukas, Luthfi yang tersenyum senang
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kamar terdengar samar-samar hingga membuat keduanya terkejut. Syifa mengambil kesempatan untuk langsung bangun dan disusul, Luthfi
"Mengganggu saja" umpat, Luthfi
Dengan wajah memerah berseri, Syifa membuka pintu kamarnya dan menampilkan, Syafa dibaliknya
"Ada apa?" tanya, Syifa yang kembali dengan wajah acuh tak acuhnya
"Tuh di depan ada teman-teman kakak. Sekalian panggil makan juga. Ayah sama Mommy udah nunggu di meja makan" ujar, Syafa yang kemudian berlalu
"Ayo keluar. Teman-teman lagi di luar. Ayah sama Mommy juga udah nunggu kita" ucap, Syifa yang tidak melihat, Luthfi karna masih malu
"Hay pengantin baru" teriak, Risa ketika melihat, Syifa dan Luthfi berjalan bersama langsung memeluk sahabatnya itu
"Udah rindu aja loh sama gue" celetuk, Syifa lalu tertawa membalas pelukan sahabatnya
"Gue juga rindu tau", Viona ikut berhambur memeluk kedua sahabat barunya itu
"Gue juga rindu" timpal, Vigo yang diselipi tawanya ketika mendapat tatapan tajam dari ketiga wanita itu
"Loh cuma boleh peluk, Viona. Kalau loh mau peluk, Syifa? Berhadapan dulu sama suaminya" tegur, Fahri yang langsung disambut tawanya olehnya dan Vigo
"Kalau mau peluk, Risa. Berhadapan dulu sama, Fahri" timpal, Luthfi dengan santai
"Ngaco" gerutu, Risa yang jengkel dengan, Luthfi
__ADS_1
"Udah ah. Ayo kita makan dulu" ajak, Syifa yang diikuti yang lainnya menuju meja makan
"Pagi, Ayah, Mommy" sapa, Risa yang ceria
"Pagi, Risa" balas, Ayah dan Mommy, Syifa
"Ceria amat loh, Sa" cetus, Syifa yang duduk di sebelah kursi, Luthfi
"Habis dapat restu dari Bang Rasya" ledek, Viona
"Serius?" tanya, Syifa dan Syafa bersamaan karna begitu mengenal Abangnya
"Ngaco loh. Ngga usah dengerin" perintah, Risa yang duduk di samping, Syafa adik, Syifa
"Restu apa?" tanya, Luthfi yang tidak mengerti
"Restu buat, Risa bisa jadian sama, Fahri" jawab, Vigo yang dihadiahi lemparan kerupuk dari, Risa
"Tumben, Rasya langsung setuju. Biasanya juga di introgasi dulu calon adik iparnya itu" cetus Mommy, Syifa yang mengambilkan makanan ke piring suaminya itu
"Abang cuma bercanda Mom" rengek, Risa yang kesal
"Sejak kapan Abang bisa bercanda kalau masalah cowok yang ngedeketin kita? Syafa aja yang ngga dekatnya kebangetan sama Abang kayak Kak Risa sama Kak Syifa, tetap aja tuh dilarang-larang sama Abang buat pacaran. Katanya masih kecil" celoteh, Syafa yang mengerucutkan bibirnya
"Itu Karna Abang Rasya sayang sama kalian" sahut, Mommy dengan lembut, "Ayo makan dulu"
"Masih kenyang tante. Tadi di rumah, Risa udah sempat sarapan" cetus, Fahri
"Sarapan di rumah calon mertua", Syifa tertawa keras
"Bisa diem ngga sih" gerutu, Risa yang semakin jengkel dengan tingkah teman-temannya
"Sudah-sudah. Ayo makan. Makan dikit saja nak, Fahri. Ngga baik menolak makanan yang sudah di depan kita" perintah, Mommy, Syifa dengan lembut
Mau tidak mau, Fahri, Viona, Vigo dan Risa menikmati makanan itu meski hanya sedikit untuk menghargai masakan Mommy, Syifa yang sudah dibuatnya
***
"Kak, buatin, Syafa ponakan yang banyak yah?" pinta, Syafa ketika mereka sudah berkumpul diruang keluarga menikmati secangkir teh dan menonton televisi bersama
Ayah, Syifa sudah berangkat bekerja. Sedangkan Mommynya pergi ke pasar untuk membeli keperluan bahan-bahan masakannya
Wajah, Syifa kian memerah mendengar permintaan adiknya itu. Luthfi bahkan memalingkan wajahnya.
"Jangan bilang kalian belum melakukan malam pertama yah?" selidik, Fahri yang mencari celah keduanya
"Gila. Tahan banget loh, Fi" timpal, Vigo yang tertawa diikuti yang lainnya termasuk, Syafa yang padahal ia tidak mengerti namun hanya ikut-ikutan saja tertawa
"Apaan sih" gerutu, Syifa dengan wajahnya yang semakin memerah oleh godaan teman-temannya
"Jangan gitu loh, Fa. Ngga kasian apa, Luthfi harus nahan selama dua malam kalian tidur bareng" seru, Risa disela-sela tawanya
"Jangan ngomong macam-macam, Risa" geram, Syifa yang menatap tajam, Risa
"Pantesan sih jalannya, Syifa masih baik-baik aja" timpal, Viona yang membuat semuanya semakin tertawa dibuatnya.
"Memangnya gitu kak?" tanya, Syafa dengan serius
"Bahkan juga bisa ngga sampai jalan loh dek" ledek, Risa yang ditanggapi serius oleh, Syafa
"Separah itu kak?" tanya, Syafa yang antusias
"Loh kalau ngga tau apa-apa diam aja", Syifa menoyor kepala adiknya yang masih polos itu
"Jadi, maksudnya loh sendiri udah paham?" goda, Viona yang masih tertawa
"Gimana rasanya harus nahan, Fi?" tanya, Fahri yang hanya ingin menggoda, Luthfi dan Syifa
"Nikahin, Risa dulu. Nanti loh akan tau sendiri gimana rasanya" telak, Luthfi. Kata-kata, Luthfi membungkam mulut, Fahri dan Risa tidak lagi tertawa
Kini giliran, Risa yang jengkel. Fahri sendiri hanya membung napas kasar. Niat menggoda pengantin baru, eh malah kena sendiri batunya
__ADS_1
"Kesal deh gue kalau udah gini. Selalu aja gue yang kena" gerutu, Risa memajukan sedikit bibirnya